ISTRI PALSU

ISTRI PALSU
S2 bab 35


__ADS_3

Sebuah mobil memasuki area parkir rumah saki. Keluarlah sesosok laki-laki dan melangkahkan kakinya di koridor menuju salah satu kamar rawat. Di tangan kanannya ada serangkaian bunga mawar merah yang dibungkus rapi dan cantik dengan kertas berwarna hitam berlilitkan pita emas. Sedangkan tangan kirinya berayun melenggang kosong. Dia datang hari ini untuk menemui seorang wanita yang berhasil sembuh dari kelumpuhan membuat dirinya segera datang untuk memberikan ucapan selamat.


"Morning," sapanya mendorong daun pintu. Tampak seorang wanita sedang terduduk di atas hospital bed. Wajahnya terlihat lebih segar dari sebelum ia tinggalkan beberapa bulan yang lalu.


"Terimakasih," pinta si wanita menyambut rangkaian bunga tadi dari si laki-laki.


"Selamat ya, akhirnya perjuangan kamu nggak sia-sia."


Wajah wanita itu tersenyum mekar di iringi rona bahagia. "Tapi aku belum bisa jalan normal, masih di bantu pakai walker."


"It's ok. Semua butuh proses."


"Gimana keadaan di sana?"


"Bagus! semua dalam kendali aku. Ada orang yang mengawasinya jadi kamu nggak perlu khawatir!"


"Aku nggak sabar untuk bisa berjalan normal dan kembali sama Mas Aka!" ucap si wanita membayangkan.


"Makanya harus semangat terapi!"


Wanita yang di datangi Galen itu adalah Alodie. Dia berhasil di selamatkan oleh seorang warga saat menemukannya tubuhnya yang tak sadarkan diri berada di antara celah batu. Singkat cerita ia pun tersadar ketika sudah berada di sebuah RS. Mengetahui keadaannya yang lumpuh Alodie berusaha untuk menghubungi Aka sang suami. Tapi ia tersadar kalau ponsel nya mungkin saja sudah hangus di dalam mobil. Bahkan ia tak ingat nomor ponsel Aka. Alodie bingung, bahkan ia tak tau ada di daerah mana saat itu sebab RS tempatnya di rawat begitu sederhana. Hanya ada satu ruang rawat besar berbataskan tirai-tirai berwarna putih. Ranjangnya hanya brankar biasa, tak semewah hospital bed yang bisa di atur posisinya. Toilet hanya ada satu untuk semua. Pasien dengan berbagai penyakit berbaur di dalam satu ruangan bersamanya.


Tak seperti RS yang di miliki suaminya pikir Alodie. Bahkan dokter dan peralatan medis pun tak memadai. Tak ada dokter spesial di sini yang dapat membantu menangani kelumpuhannya. Ia di sarankan untuk menjalani pengobatan di rumah sakit yang lebih lengkap jika ingin tau tentang kondisi kakinya apakah kelumpuhannya bersifat permanen atau sementara. Alodie stres, tak ada yang bisa ia lakukan. Untung saja warga yang menemukannya masih mau merawat dan menjaganya di RS.


Karena hanya mengalami luka ringan, 2 hari di RS ia diperbolehkan pulang. Terpaksa ia ikut dengan warga yang menolongnya itu.


"Maaf ya neng, rumah Mak hanya gubuk biasa," ujar Mak inang membaringkan Alodie di kasur kapuk.


"Ia Mak, nggak masalah," jawabnya dengan berat hati. Mau bagaiman lagi, syukur masih ada orang yang mau menampungnya di sini. Tak masalah kalau badannya akan sakit-sakitan tidur di atas kasur yang rasanya sekeras batu.


"Mak, disini ada warga yang punya ponsel?"


"Setau Mak ada neng, pak lurah. Coba nanti Mak tanya kesana."


Sedikit senyum di sungging kan Alodie ternyata ia masih punya harapan.


4 hari di daerah antah berantah, Alodie berhasil menghubungi satu-satunya nomor yang ada dalam otaknya. Lewat ponsel pak Lurah yang di pinjamkan Alodie mengabari Galen tentang kondisinya serta mengatakan di mana ia berada sekarang. Meski di awal Galen merasa ragu, tapi akhirnya ia percaya kalau yang menghubunginya benarlah Alodie, wanita yang ia cintai. Esok hari Galen datang ke alamat yang di sebutkan Alodie. Lalu mendengarkan wanita itu bercerita tentang kronologis kecelakaan yang di alaminya sampai bagaimana ia bisa terdampar di sini.


Galen memberikan segepok lembaran merah sebagai tanda rasa terimakasih pada mak Inang yang sudah menyelamatkan dan merawat Alodie. Segera Galen membawa Alodie meninggalkan daerah terpencil itu menuju kota terdekat untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait kondisi kaki Alodie yang mati rasa.

__ADS_1


Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menentukan bagian tubuh mana yang mengalami kelumpuhan dan mengetahui tipenya. Pemeriksaan penunjang juga dilakukan seperti sinar X, CT-scan, MRI, dan lainnya saat mereka sampai di salah satu RS terbesar di kota itu.


"Ibu mengalami cidera otak traumatis yang disebabkan oleh ledakan atau benturan dan itu mengakibatkan cedera atau terganggunya fungsi otak. Ini bisa memicu kelumpuhan pada bagian tubuh," jelas seorang dokter pada Alodie dan Galen.


"Apakah saya bisa sembuh dokter?" tanya Alodie cemas.


"Tidak semua kasus cedera otak traumatis mendapatkan penanganan yang sama. Penyebab dan tingkat keparahan jelas memainkan peran penting terhadap pengobatan yang dijalani. Jadi, dibutuhkan kesabaran dari ibu maupun pihak keluarga, karena pemulihan dari kondisi ini bisa memakan waktu hingga beberapa minggu, bulan, bahkan tahun. Jadi kalau ingin tau lebih spesifiknya lagi sebaiknya ibu lakukan pemeriksaan di rumah sakit yang jauh lebih memadai dan melakukan perawatan di sana, misalnya saja di RS terbesar di Jakarta atau luar negri."


Galen dan Alodie saling berhadapan. Mereka tau, satu-satunya RS yang dapat menangani kondisi Alodie adalah RS milik Aka.


"Ok dokter, kalau begitu terimakasih," pamit mereka meninggalkan RS itu.


"Kita nggak mungkin ke RS nya milik Aka, Al," ucap Galen memegang kepalanya saat mereka di dalam mobil.


"Loh kenapa?" tanya Alodie memutar kepala menatap Galen.


"Wanita yang di temukan dalam mobil kamu saat kecelakaan, itu dikira polisi adalah kamu!


"Maksudnya? kok bisa?" heran.


"Mereka menemukan wanita itu di sisi kemudi di tambah cincin pernikahan kamu di temukan di sana, itu yang meyakinkan Aka kalau wanita itu adalah kamu."


"Itu dia masalahnya, wajah wanita itu penuh luka bakar, nggak bisa di kenali."


Alodie menghembuskan nafas dan mengusap wajahnya. "Lalu sekarang bagaimana? aku juga nggak mungkin muncul di hadapan mas Aka dengan keadaan lumpuh begini, aku malu di tambah nanti pasti karir aku akan hancur karena aku lumpuh nggak bisa lagi kerja, syuting," frustasi Alodie.


"Tenang Al, tenang," bujuk Galen.


Mereka berada di dalam mobil yang masih terparkir di halaman RS.


"Gimana aku bisa tenang Gal? ok kalau wajah aku rusak masih bisa operasi plastik. Ini kaki aku nggak bisa jalan, juga nggak tau kapan bisa sembuhnya," isak Alodie memukul-mukul kakinya.


"Hey, hey," Galen menangkup pipi Alodie. "Kamu pasti bisa sembuh! Kita cari rumah sakit yang paling bagus dari RS miliknya keluarga Aka. Kalau perlu kita ke luar negri agar kamu bisa jalan lagi."


Alodie tampak ragu, tapi hanya ini satu-satunya cara agar orang-orang tak tau kalau ia kini cacat dan lumpuh. "Terus sekarang kita kemana?" tanya Alodie menyusut air matanya.


"Kita ke tempat mama kamu dulu, kita jelaskan semuanya dan jangan sampai beliau kasih tau Aka soal kondisi kamu yang sekarang," saran Galen.


🍖🍖🍖🍖

__ADS_1


Sebelum berangkat keluar negri Galen mencari beberapa rekomendasi RS yang terbaik untuk kesembuhan Alodie dari teman-temannya sekaligus informasi lewat internet. Ia juga menjual semua aset yang pernah di berikan Alodie dulu, seperti mobil, rumah dan apartment untuk biaya perawatan Alodie di luar negri nanti.


Hampir 7 bulan lamanya menunggu Alodie hanya bersembunyi di tempat tinggal orang tuanya. Ia tak berani muncul di depan orang banyak. Rasa takut dan malu jika nanti di olok dan di cemooh kan membuat Alodie mengurung diri di kamar. Ia juga belum bisa menerima kondisinya yang harus menghabiskan waktu di atas kursi roda.


Selama itu juga Galen pernah mendatangi Alodie palsu dan juga menemui ibu Julanar. Ia hendak membongkar identitas Alodie palsu karena tak sanggup melihat Alodie asli yang frustasi dengan keadaannya. Galen hanya ingin Aka tau kalau istri sah nya sedang mengalami kesulitan sekarang dan butuh bantuan darinya.


Tapi Alodie melarang Galen, bahkan saat bu Julanar hendak memenuhi permintaannya untuk melakukan tindakan tes DNA. Alodie memutus jalur komunikasi antar Galen dan bu Julanar.


"Aku nggak mau ketemu Mas Aka di saat aku lumpuh begini! kata Alodie dengan nada tinggi membanting ponsel Galen.


"Ya terus gimana Al? kamu tau kan kalau biaya kita ke Singapur cuma cukup untuk beberapa bulan saja. Sedangkan aku nggak punya penghasilan lain lagi kalau harus ikut kamu kesana," jelas Galen mendudukkan diri di kasur samping Alodie.


"Minta aja uang sama Aka!" timpal Mama angkat Alodie.


Alodie menggelengkan kepalanya cepat, lalu memohon pada sang Mama. "Aku mohon Mah, jangan kasih tau mas Aka kalau aku lumpuh dan cacat. Aku takut Mah, mas Aka kan ninggalin aku dan cari wanita lain."


Rina membawa Alodie kedalam pangkuannya. "Kamu tenang aja, Mama nggak akan kasih tau Aka masalah ini. Begini, biar Mama hubungi Aka minta uang bulanan tambahan darinya. Jadi kamu dan Galen bisa berangkat ke Singapur untuk menjalani pengobatan di sana sampai kamu sembuh. Uang yang di kirim Aka nanti Mama transfer untuk tambahan biaya kamu selama di sana."


Alodie mendongakkan wajah menatap sang mama. "Mama serius? Mama yakin mas Aka kan kasih Mama uang belanja tambahan?"


Rina mengangguk membelai wajah Alodie yang sudah tampak kurus dan tak terawat. "Akan Mama usahakan!"


Galen juga setuju dengan usul Mama Rina. Akhirnya Mama Rina mencoba menghubungi Aka. Mengatakan kalau sejak Alodie kecelakaan uang bulanan yang di kirim Aka sudah tak cukup lagi untuk biaya hidupnya di tambah beberapa anak-anak panti.


📱Biasanya Mama juga di kirimin uang bulanan sama Alodie, tapi sekarang nggak lagi.


Katanya pada Aka lewat sambungan telpon.


📱Berapa pun Mama minta akan aku kasih. Tapi Mama nggak usah ganggu Alodie lagi.


📱Ok, nggak masalah, toh Alodie lagi amnesia kan. Jadi dia nggak akan ingat sama Mama.


📱Baik, nanti tiap bulannya akan aku kirim.


📱500 juta!


📱Nggak masalah!


Ternyata semuanya begitu mudah, Aka percaya akan ucapannya. Alodie senang secercah harapan ia dapatkan untuk bisa sembuh dari kelumpuhan ini. Galen pun merasakan hal yang sama, ia tak perlu lagi memikirkan uang tambahan untuk biaya hidup mereka di sana nantinya karena sudah ada uang kiriman dari Aka yang akan menjamin.

__ADS_1


__ADS_2