
"Alodie kenapa Bi?" tanya Aka setelah dilakukan pemerikasaan oleh dokter Biya.
"Kayaknya Alodie banyak pikiran, makanya lonjakan hormon jadi nggak stabil. Jadinya efek samping obat hormonal yang di konsumsinya muncul."
"Gue udah duga! dia pasti tertekan karena program hamilnya gagal terus." Aka menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Bisa jadi! dan sebaiknya kita stop dulu proses inseminasi."
Aka setuju. "Gue balik keruangan Alodie dulu."
"Ok. Usahakan Alodie jangan sampai stres kalau ia tau inseminasi kali ini harus di stop."
Aka mengangguk meninggalkan ruangan dokter Biya.
ππππ
"Gimana kata Biya Ka?" tanya Mama Alia.
Aka tersenyum. "Nggak kenapa-kenapa, cuma emang efek samping dari obat hormon aja. Mah, kita bicara di taman yuk."
"Kenapa nggak di sini aja?"
"Alodie harus banyak istirahat dulu kata Biya."
"Ok deh."
"Aku tinggal bentar ya, mau ngobrol sama Mama," izin Aka mencium kening Fathia.
"Jangan lama-lama," angguknya.
Tujuan Aka membawa sang Mama ke taman ia ingin memberikan pengertian pada sang Mama agar tak membahas lagi program hamil sang istri. Aka tak mau Alodie palsu semakin tertekan sebab takut mamanya akan kecewa jika ia masih belum dapat memberikan cucu.
"Mah, proses inseminasi nya Alodie harus di stop. Alodie nggak bisa lagi minum obat hormonal itu," jelas Aka duduk berdua di bangku taman bersama sang Mama.
"Loh, kenapa?"
"Kan Mama lihat gimana tadi pagi. Alodie muntah hebat loh, dia sampai pingsan dua kali. Itu efek samping dari obat hormon yang di minumnya di tambah Alodie itu udah tertekan gara-gara hasil inseminasi nya gagal terus."
"Yyyaaahh...Mama kecewa!"
"Mah, aku tau Mama udah pppppeeeenngeen banget nimang cucu, ya tapi Mama harus ingat dong, segala sesuatunya sudah di tentukan oleh Allah. Kalau Allah belum bilang jadi, ya maka Alodie nggak akan hamil."
"Ia Mama tau, tapi kan kita sebagai manusia harus usaha, Aka."
"Mah, udah deh! Jangan terlalu memaksakan kemauan kita sama Allah. Mama nggak kasian sama istri aku? atau Mama sayang sama Alodie cuma hanya kepingin cepat-cepat dia hamil anak aku?"
"Bukan gitu Aka! Mama sayang lah sama Alodie, udah kayak anak sendiri malah. Mama cuma takut nanti nggak bisa ketemu cucu, itu aja kok."
"Sekarang lebih baik Mama banyak doa aja deh. Kalau cucu nanti biar aku kerja keras, kalau perlu tiap malam!"
"Ih, apa an sih kamu!" kesal Alia menepuk lengan anaknya.
"Habis Mama ngebet banget nimang cucu. Pokoknya nggak usah bahas-bahas program hamil lagi sama Alodie. Aku nggak mau dia stres!"
"Ia deh, kalau gitu Mama pasrah aja sama Allah."
"Sebaiknya emang gitu. Semakin Alodie tertekan akan semakin sulit untuk dia hamil. Jadi sekarang tugas kita ya bikin dia happy, nggak ada beban."
"Ok, terus gimana kamu nyampeinnya soal ini sama Alodie?"
"Nanti di rumah aku coba jelaskan pelan-pelan. Semoga dia nggak sedih, aku tau dia masih berharap banget yaa tapi mau gimana. Resiko kali ini berat, aku nggak mau itu!"
__ADS_1
ππππ
"Eekkhem, ada yang sakit habis ketemu gue!"
Galen tiba-tiba saja sudah berada di samping ranjang Fathia.
"Hah, ngapain kamu?" kaget Fathia heran.
"Kenapa? lo bingung gue bisa di sini?"
"Keluar nggak! atau saya panggil Mas Aka!" bangkitnya mengusir.
"Panggil aja! gue nggak takut. Atau gue tungguin aja dia kesini?"
"Apa mau kamu hah?" tanya Fathia tak mau basa-basi.
"Gue kesini cuma mau ingetin lo untuk nggak usah melanjutkan program hamil itu!"
Alis Fathia bertaut, kenapa Galen ngomong seperti itu?
"Gue nggak mau rencana Alodie kembali nanti harus gagal gara-gara lo hamil! Secepat mungkin lo harus siap-siap buat ninggalin Aka. Karena sebentar lagi Alodie asli akan mengambil kembali tempatnya yaitu menjadi istri Aka yang asli."
"Aku mau ketemu dia dulu untuk memastikan apakah itu benar dia!" tantang Fathia.
Galen mendekati Fathia meremas rahangnya. "Apakah vidio kemaren nggak cukup sebagai bukti?" tanyanya melempar kasar rahang Fathia.
"Bisa aja kan itu vidio lama atau diedit!"
"Hahaha... jangan ngaco, jangan cari-cari alasan! dan satu lagi, jangan coba-coba untuk bicara jujur sama Aka!"
"Emang kenapa hah? Lebih baik saya berterus terang agar saya dan dia sama-sama di benci oleh Mas Aka!"
"Kurang aja! Kenapa kamu menganggu hidup saya hah?"
"Saya nggak pernah menganggu hidup kamu! saya hanya meminta hidup orang yang saya cintai di kembalikan, itu saja. Jadi ingat, bersiaplah sebelum Aka membenci kamu, kamu sudah pergi jauh dari hidupnya!" Galen meninggalkan ruang rawat Fathia. Ia berjalan santai dengan tangan yang berada di dalam saku jaketnya. Bahkan sampai berpapasan dengan Aka yang sedang asik berbicara dengan beberapa dokter.
Fathia terduduk lemas di lantai ruang rawat. Tak menyangka Galen akan semakin menekan dan mendesaknya. Bahkan ancamannya tak main-main. Bagaimana ini?
Ia takut, Galen bisa membuat Aka membenci dirinya.
Kembali ia mempertimbangkan untuk jujur pada sang suami. Tapi ia sangat takut jika di saat itu juga Aka malah mengusirnya pergi.
AAAHHH... semakin di pikirkan ia semakin menemui jalan buntu. Rasa takutnya berpisah dari Aka begitu besar. Mengalahkan keberanian dirinya untuk mengungkapkan fakta yang sebenarnya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Alia khawatir menemukan Alodie palsu di lantai. "Aka, Aka," panggil Alia cemas.
Aka bergegas kembali ke ruang rawat istrinya, sama dengan sang mama ia juga kaget menemukan Alodie palsu terduduk lemas di atas lantai. "Alodie kenapa Ma?" tanya Aka mengangkat istrinya membawa kembali ke atas hospital bed.
"Mama nggak tau! pas datang Alodie udah di lantai dan nggak sadar," jelas Alia khawatir. "Mama panggil dokter Indra ya."
Aka semakin khawatir dengan kondisi istrinya. Ia berfikir kalau masalah kehamilan yang membuat Alodie palsu semakin tertekan. Padahal ia tak tau saja kalau ada hal lain yang membuat istrinya bisa seperti ini. Fathia layaknya sedang menjaga sebuah bom waktu yang akan siap meledak kapan saja, maka dari itu ia merasa begitu ketakutan sebelum bom waktu itu menghancurkan dirinya.
ππππ
2 hari di rawat di RS Fathia sudah di perbolehkan pulang. Aka juga sudah menjelaskan soal proses inseminasi atau program hamil yang sedang di jalaninya harus di hentikan.
"Jangan ngelamun, nggak baik," ucapan Aka membawa kembali kesadaran Fathia ke dunia nyata.
Senyum tipis terbit di wajah pucatnya. "Aku boleh kerja lagi nggak Mas?"
"Kenapa, hhhemm?"
__ADS_1
Menghembuskan nafas. "Aku butuh kesibukan Mas!"
"Tapi kamu belum sehat loh, gimana kalau kita tunggu kamu sembuh total baru kita bicarakan lagi keinginan kamu ini!?"
"Mas, please. Kalau aku tetap di rumah bisa-bisa aku gila," ucapnya mulai resah.
"Ia, ia ok. Nanti aku minta Jio untuk cari management baru buat kamu." Aka harus mengalah kali ini, sebab sudah 5 hari di rumah istrinya hanya melamun dan bermenung. Ia sendiri juga bingung hal apa yang begitu mengusik pikiran sang istri sampai-sampai kehadirannya kadang tak di anggap.
"Nggak usah, tadi aku udah telpon mbak Rike buat siapkan kontrak baru!"
"Kenapa nggak ngomong dulu sama aku?"
"Ini aku kan sudah bicara!"
Baiklah, kali ini Aka harus sabar. Kalau istrinya kembali bekerja dan itu dapat melupakan masalah yang menganggu pikirannya tak apa, ia akan mengizinkan. Jujur ia kangen dengan perhatian sang istri, Aka tak sanggup jika Alodie palsu terus-terusan bersikap layaknya orang depresi.
"Ok, baik. Bilang sama Rike untuk besok datang kerumah, sekalian kamu minta Mita kembali jadi asisten kamu ya," ujarnya menggenggam jari-jemari Fathia.
"Maaf kan aku Mas, maaf kalau akhirnya aku harus mengambil jalan lain. Hanya ini satu-satunya cara agar kamu nggak membenci aku, hanya ini satu-satunya cara yang aku pikir jauh lebih baik dari pada aku harus menerima tawaran Galen." Batin Fathia menangis.
π₯π₯π₯π₯
"Ah, senangnya kamu kembali Al. Kebetulan kamu masuk nominasi beberapa penghargaan, jadi kami sangat berharap kamu bisa mempertahankan eksistensi kamu selama voting sedang berlangsung," seru Rike bertamu di rumah Alodie palsu.
Fathia tersenyum sekilas.
"Aku belum bisa ambil job sinetron sama film ya Mbak, mungkin hanya syuting iklan dan pemotretan," jelasnya tentang pekerjaan yang akan di jalani.
"It's ok. Aku ngerti kok, kamu lagi butuh waktu untuk menenangkan dirikan!"
"Maksud Mbak?" tanya Fathia menautkan alis.
"Maksud saya, kamu kan habis menjalani program hamil yang ternyata gagal semua. Jadi kamu pasti butuh waktu untuk bisa menerimanya, gitu loh. Jangan sensi dong Al, santai aja!"
Fathia hanya mengangguk.
"Seperti biasa kan! saya akan memberikan jadwal kamu pada Mita?"
"Ia, nomornya masih sama kok. Bentar lagi Mita juga sampai."
"Kayaknya Mbak langsung ke kantor deh, nggak perlu nunggu Mita datang. Besok kalau udah ada job buat kamu langsung Mbak kabari lewat Mita." Rike segera pamit.
"Makasi Mbak, sudah mau datang," pinta Fathia mengantar Rike sampai depan pintu.
"Your welcome!"
ππππ
Hari ini Fathia kembali melakukan kegiatannya seperti biasa. Menyiapkan sarapan untuk Aka dan membantu suaminya bersiap-siap sebelum berangkat ke kantor.
Aka senang, Alodie palsu sudah kembali seperti bisa. Penuh semangat di pagi hari "Mas, nanti makan siang aku nyusul ke kantor ya, soalnya pagi ini aku ada pemotretan," jelasnya sambil memakaikan dasi di krah baju suaminya.
"ia sayang, aku tunggu!"
"Udah, yuk kita ke meja makan!" ajaknya mengandeng Aka. Tak lupa juga ia mengantar kepergian Aka sampai depan rumah dan melambaikan tangan saat mobil suaminya bergerak menuju jalanan.
Di lokasi Fathia sudah berpose di depan lensa. Dengan penuh semangat ia mengeluarkan segala kemampuan dan kehebatannya dalam bergaya.
"Ok Al, ganti baju dan kita langsung ke set yang ke 2," ujar fotografer.
Sampai 4 look pemotretan pun siap tepat jam makan siang. Fathia dan Mita meluncur ke kantor Aka tapi sebelumnya ia singgah dulu di sebuah restoran membeli makan siang.
__ADS_1