
Happy Reading...
___________________
Aisyah baru saja pulang bersama dengan Shelvia juga Meyka. Mereka bertiga baru saja melangkah untuk memasuki pendopo yang mereka tinggali.
Belum juga sampai di ruang tengah kedatangan mereka bertiga sudah di sambut dengan keberadaan Rayyan yang kini menatap ketiganya dengan tajam.
"Darimana kalian?! " Tanyanya dengan suara yang sangat menekankan.
Suara berat dan juga tegas dari Rayyan berhasil mengejutkan mereka bertiga, mereka langsung berhenti, berdiam diri sejenak sembari melihat Rayyan sekejap kemudian mereka menundukkan wajah.
Tatapan Rayyan semakin garang di kala pertanyaan tidak di jawab oleh mereka bertiga, Rayyan yang sedari tadi duduk kini mulai berdiri, "Kenapa kalian tidak menjawab pertanyaan ku, dari mana kalian?! "
"Dari Resto Nusantara, Pa."
Kedua gadis di sebelah Aisyah langsung terbelalak memandangi Aisyah yang berkata jujur apa adanya tanpa ada sedikit saja yang di tutup-tutupi.
"ππ΄π΅π’π¨π’, ππͺπ΄πΊπ’π©... " ππ©π¦ππ·πͺπ’.
"ππ’π£πͺπ΄ ππ’π© π¬πͺπ΅π’.. " ππ’π΅πͺπ― ππ¦πΊπ¬π’ π«πΆπ¨π’.
"Untuk apa kalian ke sana? Bukankah resto sudah baik-baik saja sekarang?" Tanya Rayyan dengan suara yang kian sinis.
Ketiganya terdiam menunduk juga bukan berarti karena mereka takut hanya saja mereka menghormati saja.
"Aisyah, resto milik Rico sudah baik-baik saja jadi papa minta kamu sudah tak lagi berurusan dengannya, sudah cukup sampai di sini hubungan kalian. Jika dua minggu lagi Rico tidak bisa membuktikan dirinya pantas, maka kamu harus benar-benar menjauhi dia. " Ucap Rayyan.
Nah kan, Rayyan mulai kumat lagi. Baru beberapa hari ini Aisyah merasa tersanjung dan berbunga-bunga karena Rayyan baik-baik dengan Rico ternyata itu hanya sebuah harapan palsu saja untuknya.
"Aisyah, sebentar lagi papa bisa mendapatkan bukti kalau bukan Papa yang telah membakar resto milik Rico. Saat nanti papa bisa membuktikannya kamu harus minta maaf sama papa karena kamu telah menuduh papa."
Rasanya ingin tertawa terpingkal dengan sangat keras saat itu juga, bagaimana bisa Rayyan mengatakan itu sekarang? Bahkan pelaku yang telah melakukan itu sudah ada di kantor polisi, apalagi yang harus di buktikan?.
Shelvia dan Meyka saling lempar pandang, mereka tersenyum karena Rayyan yang sama sekali tak tau.
Aisyah berdiri di hadapan Rayyan menatap sang Papa dengan senyum yang lebar, tapi bukan berarti Aisyah mengejek Rayyan karena dia terlambat membuktikannya, Aisyah hanya merasa lucu saja.
"Ais minta maaf, Pa. Ais tau kalau Papa tidak bersalah. Untuk semua itu tidak perlu di buktikan lagi, karena semuanya sudah terungkap." Tukas Aisyah.
"Terungkap? Apa maksudmu? Apa pelakunya sudah tertangkap begitu? " Aisyah hanya mengangguk dengan wajah datar menanggapi keterkejutan dari Rayyan yang seketika pandangannya menubruk wajah Aisyah.
"Siapa pelakunya? Dan siapa yang telah berhasil menangkap orang itu! "
Mata Rayyan terus menatap Aisyah, menunggu jawaban darinya.
"Om Ari. " Aisyah melenggang pergi setelah mengatakan itu pada Rayyan, dia sama sekali tidak berniat untuk memberi tau siapa yang telah berhasil menguak identitas pelaku utamanya.
__ADS_1
"Permisi, Om. " Shelvia juga Meyka pun sama, dia pergi dari sana menyusul Aisyah yang sudah lebih dahulu pergi.
Rayyan termangu mendengar siapa yang telah melakukan itu, dia sudah curiga sejak awal pertama melihat Ari di resto Nusantara saat menawarkan bantuan untuk Rico, dan ternyata kecurigaannya itu benar.
"Sudah aku duga, Ari belum juga berubah dia masih menghalalkan berbagai cara untuk bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan, tapi masalahnya, apa yang menjadi tujuannya sekarang?"
Mata Rayyan mengedar ke segala ruangan, dia bingung apa kali ini yang telah menjadi tujuan dari Ari. "Kalau Ari pelakunya, apa itu artinya sekarang dia sudah ada di penjara? Bagus kalau begitu, biar dia bisa berfikir kalau segalanya itu tidak bisa di beli dengan uang. "
Rayyan menghembuskan nafas yang lega, dia merasa senang saja sekarang tak akan ada lagi yang mengganggu Rico.
"Kalau Ari di penjara berarti Rico sekarang lebih aman." Gumamnya.
Senyum simpul keluar saat mengatakan itu. Hello..., ada apa dengan hati Rayyan sekarang? Apa dia tengah kesambet sekarang?.
"Kenapa aku jadi mikirin dia? " Bingungnya sendiri lalu menggeleng tak habis pikir dengan jalan pikirannya. "Astaghfirullah.. "
____
Kecewa, sedih, hancur dan juga pusing semua menyatu pada Felisha. Akalnya tak bisa bekerja dengan baik saat badai besar telah menerjangnya.
Felisha teringat akan apa yang pernah di katakan oleh salah satu temannya bahwa semua masalah akan hilang dengan cepat jika mereka mau pergi ke salah satu tempat yang menjadi surga dunia.
Ya, Felisha begitu mempercayai akan hal itu sekarang. Dia kini berada di salah satu πππΆπ± malam dan tengah meneguk sebuah minuman haram yang terasa sangat nikmat untuk nya.
Felisha yang tidak pernah minum langsung mabuk dengan cepat, akal kesadarannya perlahan hilang namun dia tetap sadar hanya akalnya saja yang tak berfungsi dengan baik.
"Deddy jahat, " Kicaunya.
Felisha terus berkicau tak jelas, Felisha sudah benar-benar mabuk sekarang. Meskipun hanya beberapa teguk saja namun itu tetap membuatnya hilang akal.
"Lagi, Mas! Aku mau minum lagi.." Gelas kembali di sodorkan oleh Felisha ke arah pelayan di sana, dan dengan ragu pelayan itu kembali menuangkannya lagi meskipun dia sudah melihat kalau Felisha sudah mabuk berat.
Setelah gelasnya penuh Felisha langsung meneguknya hingga tuntas tak bersisa. Dia semakin mengicau tidak jelas, kadang dia menangis kadang dia akan tertawa terbahak-bahak seorang diri.
Segitunya hati Felisha terluka dan kecewa hingga akhirnya dia tidak bisa membedakan mana luka atau bahagia.
Kenapa harus jalan itu yang Felisha pilih. Kenapa juga harus berfoya-foya dengan minuman haram yang hanya bisa menghilangkan dukanya sesaat.
Tak mau sampai Felisha benar-benar hilang kesadaran pihak πππΆπ± meminta Felisha untuk pulang, tapi itu tidak di indahkan oleh Felisha yang malah memaki tanpa kesadaran.
"Mbak, seharusnya anda pulang. Jangan sampai sesuatu yang buruk akan terjadi kepada Anda." Saran yang bisa di dapatkan untuk Felisha.
Benar saja, penampilan Felisha yang benar-benar sempurna dengan gaun di atas lutut yang memperlihatkan kulitnya yang putih para laki-laki hidung belang di sana pasti akan ngiler ingin menikmatinya.
Sejak pertama Felisha datang memang sudah ada dua laki-laki yang terus meliriknya dengan tatapan mesum dan penuh dengan gairah, siapa yang tidak akan menyukai barang bagus apalagi masih di segel dengan rapat, pasti akan sangat menyenangkan kalau mereka bisa menjadi orang yang pertama bisa membuka segel itu meskipun dengan cara paksa.
Felisha terus berontak, dia sama sekali tak mau di usir dari sana, dia masih asyik dan masih ingin menikmati minuman yang terasa sangat lezat di lidahnya.
__ADS_1
"Tidak! Saya tidak mau pergi, saya masih ingin menikmati minuman itu. " Ucapnya.
"Sudah, mbak. Mbak sudah mabuk. "
"Aku tidak mabuk, aku sadar, hahaha.. Aku tidak akan mabuk." Kicaunya.
Beberapa orang tetap memaksa Felisha untuk keluar dari tempat itu, menarik kedua lengannya dengan dua orang yang berbeda.
"Tidak mau, aku tidak mau pergi." Felisha berjalan sempoyongan meski di tuntun oleh dia orang, hingga sampai di luar kedua orang itu melepaskan Felisha tepat di pinggir jalan.
"Sebaiknya, mbak segera pulang. Sebelum sesuatu terjadi pada Mbak! " Pinta pelayan itu.
"Apa yang akan terjadi padaku, aku tidak peduli aku mau masuk lagi, biarkan aku masuk." Tangan Felisha melambai-lambai ingin menyingkirkan kedua orang yang gelang menghadangnya, dia masih berdiri keras untuk bisa masuk lagi di sana dan menikmati lezatnya minuman yang baru kali ini di rasakan.
"Pergi, Mbak. Pergi! " Teriak pelayan itu.
Sudah bal yang biasa bagi mereka menangani perempuan yang tengah ada masalah seperti Felisha, bahkan setiap hari mereka akan berhadapan dengan wanita yang seperti ini.
"Nggak mau, aku nggak mau pergi." Kekeuh Felisha.
Dua laki-laki datang menghampiri mereka, keduanya langsung memegangi lengan Felisha seraya mengeluarkan senyum manis mereka di hadapan para pelayan.
"Maaf tuan-tuan, dia adalah keponakan saya. Biarkan saya saja yang membawanya pulang." Ucapnya.
Ucapan yang benar-benar tulus membuat para pelayan itu percaya, mereka meninggalkan Felisha di tangan mereka berdua yang mengakui bahwa Felisha adalah keponakannya.
"Kalau begitu urus keponakannya dengan baik Pak, dan pastikan doa pulang dalam keadaan selamat." Kedua pelayan itu melenggang pergi meninggalkan Felisha di tangan kedua pria yang kini menyeringai.
Keduanya masih setia memegangi lengan Felisha namun matanya sudah jelalatan memandangi kaki jenjang Felisha yang begitu putih.
"Malam ini kita akan puas dengan makanan enak sobat. Sepertinya makanan kali ini masih baru." Ucapnya dengan dua hiasi wajah yang sudah penuh dengan gairah.
"Kamu benar, aku tak apa bisa menjadi yang nomor dua, yang asalkan aku lebih lama darimu." Jawabnya.
"Siap.. "
Keduanya langsung menarik Felisha, namun Felisha yang dalam keadaan mabuk itu tetap berontak dia masih ingin ada di sana.
"Ayo sayang, kita pulang." Salah satunya menarik dengan keras, tak peduli hingga lengan Felisha yang memerah.
"Kalian siapa! lepasin Felisha, Felisha tidak mau pulang! Felisha mau masuk ke sana,, hehehe... " Felisha terkekeh dengan tangan menunjuk ke arah tempat yang yang menjadi persinggahannya tadi.
Kekuatan yang terlampau lemah membuat Felisha tak bisa masuk lagi, kedua orang itu sudah menarik paksa Felisha. Di bawanya Felisha ke sebuah mobil berwarna putih, tak akan susah untuk bisa memasukkannya ke dalam mobil tersebut.
Dari kejauhan sepasang mata tengah mengernyit, memastikan apakah benar apa yang telah dia lihat. "Bukannya itu Felisha? Astaghfirullah, sepertinya anak itu dalam bahaya, kedua orang itu bukanlah orang baik-baik. "
____
__ADS_1
Bersambung...
______________