Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
69. Tak sengaja bertemu


__ADS_3

___


Happy Reading...


__________________


Aisyah terus tersenyum, dia tengah sembunyi di balik tanaman pagar yang ada di taman. Matanya terus mengikuti kemana Shelvia pergi mencarinya yang di ikuti oleh Iqbal.


"Astaghfirullah... Astaghfirullah... " Ucapnya terus beristighfar, karena apa yang dia lakukan sebenarnya tidak benar, membiarkan Shelvia hanya berdua saja dengan Iqbal bukanlah hal yang terpuji. Tapi tak masalah sebenarnya karena mereka ada di sana tidak hanya berdua saja, tapi ada banyak orang ya meskipun mereka tidak saling mengenal.


"Maafkan Aisyah, Kak. Aku hanya mau tau saja sih, seberapa kerasnya hatimu, dan seberapa kokohnya hatimu untuk mempertahankan semuanya. Semoga saja jika cinta itu bisa muncul pada kalian, kalian bisa mewujudkannya dengan mudah. " Ucap Aisyah dalam harapannya.


Aisyah bangun dari tempat itu ketika Shelvia sudah pergi jauh dan sudah tak terlihat. Entah kenapa tapi dia ingin sendiri sekarang, dia ingin menikmati harinya sendiri saja, memanjakan matanya tanpa gangguan dari siapapun termasuk Shelvia, yang akan selalu menghilangkan ke- fokusan nya, karena kecerewetan Shelvia itulah yang menjadi penyebabnya.


Aisyah berjalan seorang diri, berkeliling tempat itu dengan perasaan yang sangat tenang.


"Kak Aisyah. " Sapa seorang anak perempuan kecil saat melihat Aisyah, wajahnya berbinar terang dia sangat bahagia bisa kembali bertemu dengan Aisyah.


"Kamu..?" Sepertinya Aisyah lupa, dia bingung mengingat siapa anak kecil yang cantik namun dengan baju yang tak layak itu.


"Ana, Kak. Aku Ana, yang saat itu kakak belikan makan dengan teman-teman. " Ceritanya.


"Subhanallah, Ana. " Akhirnya Aisyah tersenyum senang, dia mengingat gadis kecil ini. Dia dan teman-temannya dulu yang pernah Aisyah belikan makan di testo Rico hingga akhirnya dia menjadi tukang cuci piring dalam sehari.


Aisyah memandang dari laki hingga ujung kepala Ana. Kaki yang hanya memakai sendal jepit, rok pendek dan juga kaos oblong yang berwarna abu-abu namun sudah begitu banyak noda di sana.


Ana juga tengah memegangi beberapa koran di tangannya, mungkinkah gadis kecil itu tengah bekerja dengan berjuang koran? "Kamu sedang ngapain di sini? " Tanya Aisyah dengan membungkukkan tubuhnya dan menatap Ana, menunggu bibir mungil itu akan berucap.


"Ana sedang bekerja, Kak. Nih.. " Ana mengangkat koran itu, menunjukkan pada Aisyah.


Anak berumur enam tahun harus bekerja dengan berjualan koran, melawan panas atau dinginnya cuaca yang tak pasti, siapa yang tega melihat itu, bahkan Aisyah pun juga tidak akan tega.


Aisyah menjadi teringat akan cerita dari perjalanan sang Oma Tasya, beliau juga sama seperti anak kecil di hadapannya ini, Tasya kecil juga harus berjuang untuk bisa hidup di tengah kerasnya persaingan di ibukota.


Setiap perjalanan seseorang pasti akan berbeda, mereka juga memiliki masalah yang berbeda juga. Perjalanan Aisyah terasa begitu mudah, dia bisa makan enak mendapatkan apapun yang dia inginkan, tapi tidak untuk kebebasan, dia tidak bisa hidup bebas seperti Ana.


Sementara Ana, dia tak bisa mendapatkan apapun secara materi, tapi dia bisa mendapatkan kebebasan, dia juga bahagia meskipun dalam penghasilan terbatas.


"Apa Ana tidak sekolah? " Tanya Aisyah.


Ana menggeleng, dia dan semua teman-teman nya satu pun tak ada yang bersekolah, semuanya fokus untuk mencari uang untuk makan mereka sehari-hari, bahkan terkadang mereka tak makan karena tak mendapatkan penghasilan.


"Tidak, Kak. Ana dan semua teman-teman tidak ada yang sekolah." Jawab Ana sedih. Siapa yang tak mau bersekolah dan menjadi pandai semuanya pasti menginginkan itu begitu juga dengan Ana, dia sangat ingin sekolah tapi dia bisa apa?.


"Apa Ana sudah makan? " Tanya Aisyah, dan Ana menggeleng. " Bagaimana kalau kita cari makan di dekat-dekat sini. Kita bisa makan bersama lagi. " Sejenak Aisyah mengedarkan pandangannya mencari penjual makanan yang bisa mengenyangkan perut mereka, setelah melihat warung kecil di pinggir jalan Aisyah kembali memandangi Ana.


Ana sangat bahagia, lagi-lagi dia akan makan enak itu pikirnya. Dulu dia bisa makan ayam goreng saat pertama kali dengan Aisyah, dan kira-kira sekarang apa lagi yang bisa dia makan.


"Kita ke sana, yuk. " Ajak Aisyah sembari meraih tangan kecil Ana dan menuntunnya.

__ADS_1


Ana mengikuti saja ajakan dari Aisyah, dan mereka berdua pun berjalan bersama-sama.


Sampai di warung sederhana itu mereka berdua berhenti dan mereka juga masuk. Tak pernah Aisyah sangka kalau dia akan bertemu dengan Rico di sana.


"Bang Rico? " Lirih Aisyah.


Rico masih tak melihat kedatangan Aisyah dan juga Ana, Rico begitu serius memainkan ponselnya dan sesekali dia akan meminum jus jeruk yang menjadi pesanannya.


Aisyah ragu untuk mendekat, di tempat itu sangat ramai dan tinggal bangku di depan Rico saja yang masih kosong.


"Bismillah, ini tidak akan kenapa-napa, Syah. " Gumamnya.


Aisyah berjalan dengan pelan dengan terus menarik tangan Ana.


"Dasar Iqbal keterlaluan! Aku kesini karena dia minta untuk menemaninya, ehh..., sekarang dia malah pergi entah kemana. " Kesal Rico.


Ternyata Rico dan Iqbal data ke sana memang bersama-sama, dan sekarang Rico malah di tinggal oleh Iqbal, siapa yang tidak kesal kan?.


"Assalamu'alaikum, Bang. " Sapa Aisyah pelan. Aisyah menarik kursi untuk Ana duduk lalu dia menarik kursi yang lain setelah itu untuk duduk dirinya sendiri


Rico mengangkat wajahnya dan langsung mendapati Aisyah yang duduk di hadapannya.


"Aisyah, kamu? " Pekik Rico tak percaya.


Rico menoleh ke arah belakang Aisyah, dia pikir Aisyah datang dengan seseorang dan ternyata Aisyah hanya berdua saja tapi dengan anak kecil yang Rico tidak mengenalnya.


Aisyah tersenyum kecil. "Hem.. "


"Dia, dia Ana, Bang. " Jawab Aisyah. "Ana, kenalin. Kakak ini adalah Kak Rico. " Ucap Aisyah begitu lembut.


Ana turun lagi bangku, menghampiri Rico dan menyalaminya " Kenalin kak, aku Ana." Ucapnya dengan polos. Ana menyambut tangan yang sudah di ulurkan oleh Rico, dan tak lupa mencium punggung tangan Rico.


Aisyah terharu melihat itu, meskipun Ana hanya anak jalanan namun dia bisa bagaimana menghargai dan menghormati orang yang lebih dewasa.


Sementara Rico pun juga sama, dia sangat senang bisa bertemu dan berkenalan dengan Ana. "Aku, Kak Rico. " Jawab Rico.


Setelah kenalan mereka berdua selesai Ana kembali berlari dan duduk lagi ke tempat yang tadi, di sebelah Aisyah.


Tak mengira Rico bisa bertemu dengan Aisyah di sana. Dia hanya di ajak oleh Iqbal, tak tau kalau akan kebetulan seperti ini.


"Kalian mau makan apa? " Tanya Rico.


"Ka- kami...? "


"Kak, Ana boleh makan ikan nggak? " Ana yang melihat orang yang di sebelahnya makan dengan ikan, dia pun tergiur juga ingin memakannya, bahkan dia sudah beberapa kali menelan ludahnya sendiri saking kepingannya.


"Ana mau makan ikan? Bentar Kak Rico pesenin, ya. Kalau kamu, Syah? " Tanya Rico.


"Hem..? Aisyah sudah makan, Bang." Jawab Aisyah, sebenarnya dia lapar juga tapi dia seakan tak punya nyali untuk makan di depan Rico, jadi dia berbohong.

__ADS_1


"Hem.. " Rico mengangguk dan langsung beranjak.


" Kak, Kak Rico baik ya, dia juga tampan. Apa kak Rico pacar kakak? " Celetuk Ana.


Sontak Aisyah terkejut, bagaimana bisa Ana berasumsi seperti itu? Mungkin jika anak-anak muda yang modern mereka bisa di sebut seperti pacar karena memang Rico pernah menyatakan isi hatinya pada Aisyah sedangkan Aisyah juga menerimanya, tapi di dalam agama tidak ada istilah pacaran jadi mereka hanya menjalani semuanya saja seperti biasa.


"Hemm? "


"Pasti iya kan, Kak. Kak Rico dan Kak Aisyah sama-sama baik kalian juga sangat cocok. " Ucap Ana seraya menoleh ke arah Aisyah.


Aisyah hanya mampu tersenyum kecil sebagai jawabannya, dia juga hanya mengelus kedua pundak Ana saja.


Tak berapa lama Rico datang dengan di ikuti dua orang, satu membawa nampan berisi tiga piring yang sudah berisi nasi, dan satu lagi membawa nampan juga membawa piring yang sedikit besar berisi ikan beserta lalapan juga sambel.


"Makanan sudah datang. " Ucap Rico yang langsung duduk di tempat yang tadi.


Kedua pelayan itu menaruh nasi di depan mereka bertiga, menaruh dua macam olahan ikan beserta lalapan dan juga sambel di sana. Baru saja semuanya yang di pesan Rico sudah ada di atas meja, satu orang lagi datang dan membawa dua minuman untuk Aisyah dan juga Ana.


Aisyah begitu terkejut, bagaimana bisa Rico juga memesan makanan untuknya juga, padahal dia sendiri sudah bilang kalau dia sudah makan tadinya.


"Loh, Bang! Kok Aisyah juga? " Ucap Aisyah.


"Sudah nggak usah protes lebih baik kita makan, kasian Ana tuh, sepertinya dia sudah tidak sabar untuk makan." Jawab Rico.


"Tapi, Bang? "


" Makan, Aisyah. " Ucap Rico menegaskan. "Atau perlu aku suapin? " Guraunya.


"Tidak, tidak! " Tolak Aisyah.


Bisa bahaya kalau sampai Rico beneran menyuapi dirinya. Hadeuh....


"Kak, Ana sudah boleh makan kan? " Tanya Ana.


"Bentar, kamu cuci tanganmu dulu di sini ya." Aisyah menyodorkan mangkok putih yang berisi air kobokan, dengan cepat Ana pun mencuci tangannya di sana.


Setelah mereka saling cuci tangan acara makan bersama pun di mulai, Aisyah nampak canggung tapi tidak dengan Rico, dia makan dengan biasa-biasa saja, mungkin seperti itulah kalau seorang pria, meskipun berasa di hadapan gadisnya dia tetap bisa makan tanpa ada rasa grogi atau apapun tidak seperti wanita.


"Cepatlah di makan, Aisyah. Kalau tidak aku aku akan menyuapi mu. " Ucap Rico yang menatap Aisyah masih belum juga memakan nasinya.


"I- iya, Bang. " Pelan-pelan Aisyah mengambil nasinya dengan tangan, ya mereka bertiga memang makan dengan tangan kosong tidak memakai bantuan sendok, karena mereka makan dengan ikan, takut sampai ada duri yang akan ikut kemakan nantinya.


Rico tersenyum senang melihat Aisyah yang mau makan juga, meskipun Aisyah sendiri mengatakan dia sudah makan tapi Rico tau kalau sebenarnya Aisyah sama sekali belum makan dan akhirnya dia memesan tiga makan untuk mereka bertiga.


Tadi Rico tidak memesan makan karena tak enak jika harus makan sendiri tapi setelah ada Aisyah dan Ana dia jadi semangat untuk makan juga. "𝘈𝘩𝘩..., 𝘴𝘢π˜₯𝘒𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘡π˜ͺ 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘒𝘳𝘨𝘒 𝘣𝘒𝘩𝘒𝘨π˜ͺ𝘒 𝘴𝘒𝘫𝘒. " Batin Rico sembari memandangi Aisyah dan Ana secara bergantian.


"Lah...! Aku cari di mana-mana ternyata orangnya lagi asyik makan di sini! Dasar kamu ya.. "


___

__ADS_1


Bersambung...


_______________


__ADS_2