
____
Happy Reading..
______________
Lima hari Rico terus berjuang, begitu kalang kabut dia bekerja dari satu tempat ke tempat lain. Pagi-pagi buta dia pergi ke bengkel, menghadang rezeki yang mungkin akan singgah di tengah keramaian pagi.
Sedikit siang setelah pekerjanya datang dia pergi bersih-bersih diri lalu pergi ke kampus untuk menjalankan kewajibannya di sana hingga siang hari, dan selesai di kampus dia akan pergi untuk mengurus Restonya hingga larut malam.
Karena malam hari begitu banyak yang nongkrong, itu menjadi kesempatan Rico untuk tetap membuka Restonya bahkan tak jarang dia akan sampai tengah malam di sana hingga dia begitu lelah dan berakhir tidak pulang , memilih tidur di Resto saja.
Bukan hanya itu saja yang Rico lakukan, dia juga terus mengumpulkan buku-buku dari berbagai sumber untuk dia pelajari, dia benar-benar sudah punya tekat kuat untuk bisa mewujudkan semua permintaan dari Rayyan.
Tubuh yang terasa sangat lemah karena berlalu di vorsir hanya bisa Rico sogok dengan beberapa kapsul vitamin saja bahkan kadang dia sampai lupa untuk makan.
Dalam waktu lima hari ini Rico benar-benar begitu fokus dengan tujuannya, bahkan dia tak sempat meski sekedar menyapa Aisyah saja, keduanya seakan memiliki jarak sehingga membuat Aisyah merasa sedih dan iba, Aisyah begitu kasihan melihat Rico yang banting tulang meskipun untuk membahagiakannya meskipun dia belum sah menjadi pasangan halalnya.
Saat ini Rico tengah berjalan dengan langkah yang buru-buru di Koridor kampus, waktu sudah siang dan dia harus segera pergi ke Resto, seperti mendapatkan dukungan dari sang Tuhan, dalam lima hari ini pengunjung begitu banyak, sehingga omset Rico terus naik.
Rico akhirnya memperlambat laju langkahnya di saat dia berpapasan dengan Aisyah yang tengah berjalan dengan Shelvia juga Meyka. Keduanya sama-sama berhenti setelah tepat saling berhadapan, namun berbeda dengan Shelvia juga Meyka keduanya terus berjalan setelah minta izin pada Aisyah.
"Syah, kita duluan ya! Kita tunggu di perpustakaan." Teriak Shelvia sembari melambaikan tangan.
"Hemm." Aisyah hanya mengangguk kecil, menatap keduanya yang semakin jauh lalu kembali ke arah Rico.
"Bagaimana kabarmu, Syah? Kenapa kamu terlihat sangat kurus haru ini. Apa kamu tidak menjaga dirimu dengan benar?" tanya Rico.
Ternyata bukan hanya Rico yang terlihat kurus karena tidak memperhatikan kebutuhan asupannya, tapi ternyata Aisyah juga demikian. Bahkan demi bisa menahan amarahnya Aisyah terus berpuasa sedari pertemuan terakhir mereka di rumah Aisyah hingga sampai sekarang.
"Bang Rico juga terlihat sangat kurus, apa bang Rico tidak menjaga diri abang juga? " Aisyah malah balik bertanya pada Rico.
"Tidak, aku sangat menjaga diriku dengan baik, aku makan, istirahat semuanya cukup, bahkan aku juga tidak lupa minum Vitamin. Terus kamu? Kenapa kamu terus berpuasa? Jangan terlalu di paksakan jika itu akan menyiksamu, Syah. " Tegur Rico.
"Tidak ada puasa yang dapat menyiksa, Bang. Semua itu akan terasa menyiksa kalau kita sendiri tidak menghendakinya atau mungkin melakukannya dengan terpaksa." jawab Aisyah.
"Syukurlah kalau begitu. Secara itu bisa menahan amarahmu, itu juga sebagai ladang pahalamu jika ku melakukannya dengan niat karena Allah, bukan karena ciptaan-Nya."
"Hem..., iya, Bang. Terima kasih. Bagaimana dengan... " Aisyah berhenti dua tak sampai hari untuk menanyakan sudah sejauh mana Rico berjuang.
"Kamu sabar ya, jika Allah menghendaki semuanya akan berjalan dengan sangat mudah. Bang Rico hanya minta, Aisyah bantu doain Abang ya, semoga semuanya di lancarkan." Ucap Rico.
__ADS_1
"Hem..., itu pasti, Bang. Aisyah akan selalu do'ain yang terbaik untuk bang Rico." jawab Aisyah.
"Maaf, bang Rico harus segera pergi, maaf bang Rico tidak bisa lama-lama ngobrol sama Aisyah. "
"Iya, Bang. Aisyah ngerti. Bang, Aisyah minta maaf ya, kalau seandainya papa tidak... "
"Sudah, tidak apa-apa mungkin jalannya harus seperti ini. Pesan bang Rico, seperti apapun papa Aisyah, Aisyah tidak boleh kasar padanya Aisyah tidak boleh membencinya, karena Aisyah tidak akan ada jika buka karena papa Aisyah, kamu paham itu kan? "
Aisyah mengangguk, Aisyah heran kenapa Rico bisa setegar dan sesabar ini menghadapi problema kehidupan yang di buat oleh Rayyan, kenapa Rico mampu sedangkan Aisyah sungguh susah untuk bisa menerimanya.
"Hem..., iya, Bang." Aisyah menunduk dia merasa malu sendiri dengan Rico, padahal Aisyah yang anaknya Rayyan tapi malah dia sendiri yang tidak bisa menerima semua perbuatan dari Rayyan.
"Ingat, jaga kesehatanmu jangan sampai kamu sakit karena jika anda kami sakit aku tidak akan bisa merawat mu. " Gurau Rico.
"Terus, bagaimana jika bang Rico yang sakit? Apakah Aisyah bisa merawat bang Rico? "
"Bisa, tapi tidak untuk sekarang, suatu saat nanti setelah kita halal. Dan saat itu juga banh Rico serahkan semua yang abang punya hanya untuk Aisyah.. "
Aisyah tertunduk malu, Rico selalu bisa membuat pipinya merona karena kata-katanya. "Aisyah akan menunggu saat itu tiba, bang." ucapnya namun tak berani memandang Rico yang kini tersenyum manis.
"Assalamu'alaikum." Pamit Rico segera bergegas.
Rico benar-benar pergi setelah mengucapkan salam sebagai perpisahan mereka berdua. Meskipun setiap hari Aisyah bisa melihat Rico tapi dia merasa begitu jauh, mungkin karena Rico memang membatasi pertemuan dengannya.
_____
"Via, aku sangat kasihan dengan Aisyah dan juga kak Rico, apa kita sama sekali tidak bisa membantunya ya? Rencana kita saja belum kita lakukan tapi masalahnya sudah runyam begini, sekarang apa yang harus kita lakukan? " Meyka begitu bingung.
Ujian Aisyah dan juga Rico begitu sangat besar, jika ini terjadi padanya mungkin saja dia tidak akan mampu memikul nya, untung saja kedua orang tua Meyka tidak terlalu mengengkang nya, jadi dia bisa melakukan apapun yang terpenting tidak melewati jalur yang benar.
Shelvia sendiri juga sangat bingung, mau bagaimana sekarang apa yang harus dia lakukan. Apa mereka harus membantu Rico mewujudkan semua permintaan Rayyan? Tapi mana mungkin Rico akan menerimanya, Ikhsan saja yang menawarkan bantuan langsung di tolak oleh Rico bagaimana dengan mereka.
"Hem..., apa ya yang harus kita lakukan? " Shelvia harus berfikir keras untuk itu.
"Tidak usah melakukan apapun, aku yakin bang Rico akan bisa melalui ujian ini." Seru Aisyah yang baru saja datang.
"Bagaimana kamu bisa seyakin ini, Syah. Bagaimana kalau kak Rico gagal apa kamu tidak akan menyesal karena kamu tidak melakukan apapun? " Shelvia mengernyit.
"Karena aku yakin pada nya." Aisyah tersenyum simpul setelah mengatakan itu.
"Amin...! Semoga saja keyakinan mu benar, Syah. "
__ADS_1
"Hem.. "
_______
"Siang, Kak Rico! " Felisha melangkah dengan semangat masuk ke dapur Resto Rico, Felisha begitu senang melihat Rico yang tengah memasak dengan memakai celemek, entah kenapa Felisha sangat menyukai seorang pria yang pintar memasak.
Tak hanya Rico saja yang ada di sana, ada Dante juga yang tengah melakukan pekerjaan yang sama seperti yang Rico kerjakan. Namun dengan sengaja nya Felisha hanya menyapa Rico dan tidak menghiraukan keberadaan Dante.
Kesal itu pasti, tapi Dante hanya bisa berdecak kesal sembari menggeleng kasar tak habis pikir.
"Dasar cewek ganjen! " gerutu Dante.
"Biarin." Felisha hanya menyungging sinis karena perkataan Dante barusan. Dia mana peduli dengan kata-kata tak bermakna dari Dante.
"Kak Rico, Felisha pesen ayam spesialnya dong! Tapi yang masak harus Kak Rico ya, bukan kak Dante. " ucap Felisha nyinyir saat menyebut nama Dante.
"Asteroid luh cewek ganjen! " Sungut Dante yang terus tak terima.
"Wek.., biarin, terserah gue lah." Felisha menjulurkan lidahnya begitu panjang.
Rico harus ekstra sabar jika berada di antara Tom and Jerry ini. Kalau sampai Rico kehilangan kesabaran pastilah dia akan botak muda dan dahinya akan lebih cepat mengkerut.
"Kak Rico, ayamnya harus yang paling enak ya. No keasinan, no gosong, no keras pokoknya harus lumer." Celetuk Felisha namun saat kata-katanya sampai di gosong matanya langsung melirik ke arah Dante, seakan dia tengah menyindir Dante yang memang lebih gelap sedikit daripada Rico.
"Weh.., nih cewek! Aku sumpahin semoga loh tergila-gila sama gue! Dan loh tidak akan bisa hidup tanpa gue." ucap Dante menegaskan.
"AMIIIINNNNN....!!" teriak Rico begitu menggema memadati dapur itu.
Terlihat Dante menyeringai senang karena mendapatkan dukungan sementara Felisha? Dia langsung merenggut sebel karena kata-kata Dante yang Rico amin kan.
"Kak Rico, bawa ayam ku ke tempat biasa. Aku nek lihat tuh orang! " Felisha berlalu pergi.
"Ayam mu? Emang kamu kesini bawa ayam?" celetuk Dante tetap semangat menggoda Felisha.
"Serah!! " Felisha lebih mempercepat laju nya dia sudah tidak tahan untuk pergi dari sana, Felisha benar-benar sudah sangat sangat kesal dan itu semua gara-gara satu orang saja, DANTE.
___
Bersambung...
_______________
__ADS_1