
Happy Reading
_____
Sudah satu hari dua malam Felisha berada di rumah Farel, dia masih sangat malas untuk pulang ke rumah. Kalau di rumah dia akan sendiri tanpa ada siapapun yang menemaninya apalagi ngobrol dengannya, sementara kalau di rumah Farel ini ada bi Nilam yang selalu memperhatikannya.
Sudah waktunya makan malam tapi Felisha masih bermalas-malasan di kamar tamu, bahkan dia seharian tak keluar dari sana dan hanya bi Nilam yang akan datang mengantarkan makanan untuknya.
Kemarin Felisha menolak untuk di ajak ke rumah Farel tapi sekarang dia malah enakan dan rasanya tak mau pulang, rumah Farel terasa sangat adem.
Hati Felisha masih sakit, dia belum bisa melupakan dan merelakan Rico untuk Aisyah hingga akhirnya dia tetap menetap di sana karena mendapatkan tempat untuk bercerita dan bisa sedikit mengurangi rasa sakitnya, yaitu dengan bi Nilam.
"Sudah malam, apakah aku harus pulang sekarang? tapi...?" bingung Felisha.
Matanya menatap langit-langit, seketika hatinya kembali sedih saat mengingat semuanya.
"Kenapa takdir begitu jahat pada Feli, hiks.. hiks.. hiks... " akhirnya Felisha kembali menangis karena mengingat semuanya.
Hati Felisha tak sebesar milik Farel yang bisa menerima semuanya dengan mudah dan cepat. Karena Felisha sudah benar-benar mencintai Rico sementara Farel? Felisha meragukan kalau Farel mencintai Aisyah.
Jika Farel menyukai Aisyah mungkin dia akan sama seperti dirinya, sedih dan terus mengurung diri di dalam kamar. Namun Farel? bahkan pria itu terlihat biasa-biasa saja bahkan sekarang dia sudah berangkat ke kantornya dan sekarang entah sudah pulang atau belum, Felisha tak tau akan hal itu.
Sementara di luar, Farel baru saja pulang dari kantornya, wajahnya terlihat sangat lelah, seharian full dia terus bekerja. Tak akan ada waktu untuknya meratapi nasib sama seperti yang Felisha lakukan.
"Assalamu'alaikum," sapanya
Bi Nilam yang ada di dapur dan mendengarkan salam dari Farel langsung datang untuk menghampirinya, yang pasti Bi Nilam juga saja menjawab salam dari Farel karena dia juga seorang muslim, "Wa'alaikumsalam, Tuan. Tuan baru pulang? apa Tuan butuh sesuatu?" tanya bi Nilam.
"Tidak, Bi. Saya mau ke kamar dulu untuk bersih-bersih setelah itu baru makan malam. Oh iya, Bi! apa Felisha sudah pulang?" tanya balik Farel.
Dengan gerakan cepat Bi Nilam menggeleng, "belum Tuan. Bahkan dari pagi Non Felisha tidak keluar kamar." jawab bi Nilam.
"Apa dia juga tidak makan? "
"Makan kok, Tuan. Setiap waktu makan bibi bawa makanan ke kamarnya." jawab bi Nilam menjelaskan.
"šš¦šÆš¢š±š¢ lš¢šØšŖ š„š¦šÆšØš¢šÆ šµš¶š© š¢šÆš¢š¬. šš¦š®š¢š³šŖšÆ šÆšØšØš¢š¬ š®š¢š¶ š„šŖ š¢š«š¢š¬ š¬š¦ š“šŖšÆšŖ šµš¢š±šŖ š“š¦š¬š¢š³š¢šÆšØ? š£š¢š©š¬š¢šÆ š„šŖš¢ š£š¦šµš¢š© š£š¢šÆšØš¦šµ š„šŖ š¬š¢š®š¢š³. šš“šµš¢šØš©š§šŖš³š¶ššš¢š©..., š«šŖš¬š¢ š“š¢š®š±š¢šŖ š¬š¢š¬ šš¢š³š¤š° šµš¢š¶ š£šŖš“š¢ š¢š£šŖš“ š¢š¬š¶ š¬š¦šÆš¢ š°š®š¦šš¢šÆ šÆšŗš¢. " š£š¢šµšŖšÆ šš¢š³š¦š.
Farel masih cukup sabar sekarang menghadap Felisha, dia juga tak bisa melakukan apapun, mana mungkin juga dia akan mengusirnya dari rumahnya, apalagi Farel sendiri kemarin yang mengajaknya.
"Bi, Saya akan ke kamar dulu. Tolong panggil Felisha untuk makan malam. Jika dia tak mau keluar dari kamar jangan kasih makan apapun." ucap Farel.
"Baik Tuan." jawab Bi Nilam patuh.
Setelah kepergian Farel bi Nilam langsung menjalankan tugasnya, memanggil Felisha di kamar tamu di mana dia berada sekarang. Bi Nilam juga bingung, sebenarnya ada hubungan apa tuannya dengan Felisha hingga Farel membawanya pulang.
__ADS_1
šš°š¬... šµš°š¬... šµš°š¬...
"Non, non Felisha! Non di tunggu tuan Farel untuk makan malam! " panggil bi Nilam, tangannya kembali mengetuk berkali-kali hingga terdengar ada jawaban dari Felisha.
Bi Nilam menghentikan teriakan dan juga gerakan tangannya setelah Felisha bersuara dari dalam, bahkan suara langkahnya juga terdengar mendekat ke arah pintu.
"Ya, Bi! sebentar! " jawab Felisha.
ššš¦š¬š¬..
Pintu terbuka dan wajah Felisha langsung menyembul dari dalam. Nilam merasa lega, dia tersenyum melihat Felisha yang akhirnya akan keluar setelah seharian mengurung diri di kamar itu. Entah sakit hati seperti apa yang Felisha alami sekarang, Bi Nilam tidak tau pasti, "ššÆšµš¶šÆšØ š“š¢šŗš¢ šµšŖš„š¢š¬ š±š¦š³šÆš¢š© š±š¢šµš¢š© š©š¢šµšŖ," batin bi Nilam.
Terlihat lingkar mata Felisha sedikit membengkak, bahkan matanya juga masih sembab dan merah mungkin itu karena Felisha masih terus menangis.
"šš¦š±š¦š³šµšŖšÆšŗš¢ š±š¢šµš¢š© š©š¢šµšŖ šŖšµš¶ š“š¢šÆšØš¢šµ š®š¦šÆšØš¦š³šŖš¬š¢šÆ, " batin bi Nilam lagi setelah melihat wajah Felisha.
"Apa kak Farel sudah pulang, Bi? " tanya Felisha.
Bi Nilam gelagapan, baru juga dia melihat dan meneliti wajah Felisha sang empu mengejutkannya.
"Sudah, Non. Bahkan tuan sendiri yang meminta untuk Non datang ke meja makan untuk makan malam. Mari Non," ajak Bi Nilam
Felisha menurut kali ini, dia sadar dia adalah tamu dia harus menjaga sikap dan menghargai permintaan tuan rumah. Felisha mulai melangkah mengikuti bi Nilam. Meja makan persegi panjang dengan enam kursi sudah ada di depan matanya, semua makanan juga sudah tertata rapi dan terlihat begitu enak, bahkan aromanya langsung menggelitik hidung Felisha.
Sepertinya Felisha akan makan besar malam ini, aroma makanannya begitu menggugah selera makannya, kini perutnya juga sudah mulai keroncongan.
Felisha duduk pelan, matanya terus melihat semua makanan itu. Mulutnya mulai berkecamuk dan berkali-kali dia menelan ludahnya sendiri. Sampai kapan dia harus menunggu Farel? dia sudah sangat tak sabar ingin menikmati semua makanan itu.
"Itu makanan untuk di makan tidak untuk di jadikan tontonan, ambillah jika kamu sudah menginginkannya," ucap Farel yang tiba-tiba datang. Farel langsung duduk setelah sampai di tempat itu.
Sejenak Felisha memandangi Farel yang hanya mengenakan baju rumahan itu, wajahnya yang segar dan rambut yang masih basah dan tertata rapi membuatnya sedikit terpana, tampan juga Farel kenapa Felisha baru menyadarinya sekarang? apakah karena dia tengah patah hati jadi saat melihat pria dia akan mudah terpana, ah tidak mungkin seperti ini itu kan?
"Kenapa belum makan juga?" ucap Farel mengejutkan Felisha.
"Saya ini tamu, bukan tuan rumah! " seru Felisha yang langsung mengalihkan pandangannya bahkan jawaban Felisha terdengar sedikit kesal. Seandainya dia tak menghargai tuan rumah pasti dia sudah memulainya dan memakan semua makanan itu untuk mengenyangkan perutnya.
Heran juga Farel pada gadis itu, ucapannya selalu bernada kesal, sepertinya Farel juga tak melakukan kesalahan padanya.
Sejenak Farel menarik senyum, meski Felisha yang kadang-kadang kesal, marah dan selalu melakukan kekonyolan tapi dia juga mengetahui etika dengan baik saat bertamu. Ya meskipun kumat-kumatan sih.
"Sekarang makanlah," pinta Farel.
Felisha masih diam, Farel memintanya untuk makan tapi kenapa Farel sendiri masih duduk anteng di tempatnya, bahkan dia tak bergerak sama sekali.
"Kenapa belum ambil juga? apa kamu belum lapar? " ucap Farel lagi.
__ADS_1
Bagaimana Felisha akan mengambil makan kalau tuan rumahnya sendiri belum melakukan itu.
"Kak Farel nggak makan? " tanya balik Felisha.
"Aku juga akan makan. Ambillah dulu! " pinta Farel lagi.
Felisha beranjak, mengambil piring, sendok dan langsung mengisi piringnya dengan nasi. "Nih untuk kak Farel! " suaranya terdengar ketus namun tangannya sembari menaruh piring itu di hadapan Farel lalu kembali mengambil piring lagi untuk dirinya sendiri.
Tak pernah terfikir kalau Felisha akan melakukan itu, padahal Farel juga tak mengharapkan Felisha akan mengambilkan makan untuknya juga.
"Terima kasih," ucap Farel yang tak mungkin dia akan diam saja apalagi menolak semua yang sudah terjadi.
Felisha kembali duduk, tangannya mulai mengambil lauk pauk di hadapannya. "Mau di ambilkan juga? " tanyanya karena Farel masih diam.
"Tidak usah, aku bisa sendiri." jawab Farel.
"Baguslah,"
Setelah penuh dengan nasi juga lauk pauk Felisha langsung makan begitu saja dan sepertinya dia juga belum berdoa.
"Berdoa dulu, Fel. Biar menjadi berkah," ucap Farel.
Felisha yang sudah mengunyah terpaksa menghentikannya, mulut yang sudah penuh harus terpaksa berhenti menggiling. Felisha memandangi Farel dengan bingung, "Berdoa? Feli tak pernah berdoa." ucapnya dan setelah itu kembali mengunyah.
"Lagian berdoa dan tidak kelihatannya sama saja. Sama-sama kenyang juga kan?" ucapnya lagi.
"Semua yang kita lakukan ada adatnya,Fel. Contohnya berdoa sebelum makan. Semua aktivitas lebih baik di dahului dengan doa, supaya di mudahkan dan menjadi keberkahan."
"Ahh ribet.., makan ya tinggal makan saja,"
Sepertinya akan susah untuk memberikan pelajaran dan pengetahuan pada orang yang tidak pernah melakukan atau percaya akan semua itu.
Farel hanya bisa menghela nafas panjang, "Kamu sudah solat? " tanya Farel lagi dan menghentikan Felisha lagi.
"Felisha tidak pernah sholat. Deddy tidak pernah mengajarkanku." jawabnya.
"Belajarlah sholat dari sekarang, dengan itu hatimu akan lebih tenang," ucap Farel.
"Besok kalau lagi nggak malas, Felisha pasti akan belajar," jawaban yang bikin geleng-geleng kepala.
"šš¢š„š¶š© šÆšŖš© š¢šÆš¢š¬.. "
____
Bersambung...
__ADS_1
_____