
_____
Happy Reading...
___________________
Laki-laki berusia lanjut tengah membaca koran di ruang tengah sebuah rumah yang begitu mewah dan mewah.
Matanya begitu tajam, wajahnya bulat, dengan berewok tipis yang terlihatnya sangat berwibawa. Kegiatannya terhenti saat ada anak gadisnya kembali dari luar dengan wajah yang ditekuk tak bersemangat.
Gadis itu melangkah dengan kaki yang sedikit di hentak-hentakkan di lantai dan langsung mendudukkan diri di sofa dekat dengan sang Deddy.
"Hufff... " Terdengar helaan nafas yang begitu panjang membuat sang ayah langsung menatapnya.
"Sebel-sebel! Kenapa sih kak Rico selalu saja menolak ku! Kurang apa coba? Aku cantik, sempurna, dan dengan segala kualitas yang bisa di banggakan, tapi kenapa Kak Rico selalu saja menolak ku gara-gara wanita itu." Gerutunya.
Ari Setyawan ayah dari Felisha yang kini tengah menatap anak gadisnya itu dengan begitu intens. Anak tunggalnya yang selalu saja dia manjakan dan segala yang dia minta selalu di berikan, bagaimana Ari akan diam saja saat Felisha tengah merajuk seperti ini.
"Ada apa sih, Sayang? Apa ada yang kamu inginkan sekarang? Atau ada hal yang tengah ku perebutkan dengan seseorang? " Tanya Ari begitu pelan, dengan suara yang penuh dengan kasih sayang.
"Ded, Feli kesel! kak Rico menolak ku gara-gara cewek lain! Padahal Felisha lebih cantik daripada dia, Felisha juga terlihat sangat seksi, tapi kenapa Kak Rico lebih memilih wanita yang tidak ada apa-apanya itu, apa Kak Rico terkena guna-guna dari tuh cewek? " ucap Felisha yang benar-benar tengah merajuk saat ini.
Hati Felisha tengah kesal, keinginan untuk bisa memiliki Rico seutuhnya benar-benar telah meracuni akal sehatnya. Bahkan dengan tanpa bukti dan alasan yang jelas Felisha menuduh Aisyah telah mengguna-guna Rico.
Ari menaruh koran yang tadi dia baca di atas meja, mengeluarkan smirk sembari beranjak untuk menghampiri Felisha, Ari duduk di sebelah anak gadisnya itu merangkulnya deng begitu manja.
"Anak Deddy jangan merajuk seperti ini, nanti ilang loh cantiknya." Ucapnya. Ari menundukkan wajahnya memandangi wajah Felisha yang masih terlihat sangat kusut, "Kamu jawab dengan jujur pada, Deddy. Apa anak Deddy yang cantik ini begitu begitu sangat mencintai Rico?" tanya Ari.
Felisha mengangguk dengan cepat, Felisha bukan hanya mencintai Rico saja sekarang tapi dia ingin sekali bisa memiliki Rico seutuhnya tanpa dia harus berbagi hati dengan siapapun.
"Felisha sangat mencintai kak Rico, Ded. Felisha ingin bisa memiliki kak Rico seutuhnya." Felisha menoleh ke arah Ari dengan wajah yang memelas.
Apapun yang Felisha inginkan pasti selalu di wujudkan oleh Ari, Felisha berharap kali ini pun juga. Keinginan yang sangat susah untuk di wujudkan tapi Ari pasti bisa melakukan apapun untuk bisa membuat Felisha bahagia dengan bisa bersama-sama Rico.
"Kamu jangan khawatir, pokoknya kamu tenang saja. Serahkan semuanya kepada Deddy, aku yakin cara Deddy akan berhasil." Ucap Ari.
__ADS_1
"Emang Deddy punya rencana apa?"
"Ada lah, yang jelas kamu nunggu beres saja, oke." Ari menyeringai mungkin karena ada rencana terselubuk di kepala Ari yang dia sembunyikan dan tidak boleh di ketahui orang lain termasuk Felisha sendiri.
"Bener ya, Ded! Deddy nggak akan bohongin Feli ya?" Wajah Felisha langsung berbinar, dengan bantuan dari Ari Deddy nya sebentar lagi keinginannya pasti akan segera terwujud.
Ari mengangguk, apa sih yang tidak akan dia lakukan untuk anak gadis satu-satunya yang paling dia sayang itu, jangankan hanya bisa mendapatkan Rico saja seluruh dunia jika Felisha inginkan pasti akan doa berikan.
"Iya sayang, sekarang kamu bersih-bersih dan cepat tidur, ini sudah malam." Pinta Ari.
"Iya, Ded. Terima kasih ya.., muach... " Satu kecupan di pipi Ari, Felisha berikan.
"Iya sayang." Jawab Ari.
Felisha beranjak, dia sangat senang dengan janji yang Ari berikan. Felisha berlari meninggalkan Ari di sana, dan tentunya dengan wajah yang terus berbinar.
Satu persatu tangga di tapaki oleh kaki Felisha, setelah sampai di lantai dua, Felisha berhenti dia memandangi Ari dari atas sana dengan tangan yang memegangi pagar.
"I love you, Deddy! " Teriaknya.
Setelah mengatakan itu Felisha benar-benar pergi ke menuju kamar, sementara Ari terdiam, termenung sejenak dengan smirk yang tak biasa.
"Apapun yang kamu inginkan akan menjadi nyata Felisha. Siapapun yang menghalangi kebahagiaanmu harus tersingkir." Gumamnya.
____
Rico kembali lagi ke rumah sakit setelah memastikan keadaan Resto nya yang kini telah habis, meskipun hatinya tengah berduka dengan musibah ini tapi kali ini dia berusaha untuk tersenyum.
Apa yang Rico perlihatkan di depan kedua orang tuanya pasti akan sangat mempengaruhi mereka. Rico tidak mau kalau kedua orang tuanya kepikiran dan penyakit Marno akan semakin parah nantinya.
"Assalamu'alaikum.." Tangan Rico mendorong handle pintu, setelah dia berhasil masuk pintu kembali dia tutup.
Jam sudah menunjukkan 12 malam, Marno maupun Susan sudah terlelap dalam tidurnya. Marno berasa di ranjang rumah sakit, sementara Susan tidur di atas tikar di bawah.
Sejenak Rico menatap keduanya dengan bergantian, sekarang apa yang harus bagaimana dia lakukan untuk bisa memenuhi semua kebutuhan mereka. Memang masih ada gaji dari kampus juga penghasilan dari bengkel, tapi itu tidak seberapa.
__ADS_1
Belum untuk biaya kebutuhan mereka sehari-hari, biaya rumah sakit, dan modal untuk bisa mendirikan lagi Resto Nusantara, itu semua tidak akan cukup.
Meskipun ada teman-teman yang sedia menolongnya tapi tetap saja dia tidak bisa berdiam diri dan hanya berpangku tangan mengharapkan belas kasih dari mereka kan? Dulu Rico membangun Resto Nusantara dari nol dan dengan hasil jerit payahnya sendiri, seperti itu juga yang Rico inginkan sekarang, membangun kembali dari nol.
"Aku pasti bisa, semua tidak akan pernah sulit jika aku bisa menerima dan menjalaninya dengan ikhlas," gumamnya.
Rico berjalan dengan sangat pelan, bahkan sama sekali tak ada bunyi dari langkahnya. Rico duduk di kursi samping Marno, Rico meletakkan kepalanya di sana dengan tangan meraih tangan Marno dan dia menaruhnya di bawah pipinya.
Rico berusaha untuk bisa terpejam saat itu juga, meskipun pikirannya tengah kalut namun dia harus bisa mengistirahatkan otak dan hatinya supaya dia tidak sakit nantinya.
Setengah jam mata Rico terus berkedip-kedip tak bisa tidur bahkan sesekali butiran bening berhasil lolos dengan diam daripada sudut matanya, namun di menit tiga puluh tiga akhirnya dia bisa memejamkan matanya dan tidur dengan damai.
Tangan basah membuat Marno akhirnya terbangun dari tidurnya, sejenak dia bingung karena tangannya terasa sangat berat namun saat wajahnya berhasil menoleh akhirnya dia tau apa penyebabnya, tangannya berada di bawah pipi Rico dan terus dia pegang dengan sangat erat.
Ayah mana yang tidak sakit melihat anaknya yang sangat menderita seperti ini, di tengah-tengah penderitaan sang anak dia tidak bisa membantunya dan malah menambah bebannya.
"Maafin ayah, Rico. Maafin ayah," Ucapnya langsung tersedu saat itu juga.
"Seandainya ayah tidak sakit seperti ini, mungkin kamu tidak akan begitu menderita, maafin ayah." Marno terus menyalahkan dirinya sendiri menyesalkan keadaannya yang kini harus terbaring di rumah sakit dengan tak berdaya.
"Ayah hanya bisa berdoa, Nak. Semoga kamu kuat menjalani semua ini. Dan kamu bisa ikhlas."
_____
Aisyah, Shelvia, juga Faisal sudah turun dari mobil. Karena sudah sangat malam mereka bergegas masuk ke kamar mereka masing-masing, namun baru saja kaki mereka naik tangga untuk sampai di emperan Rayyan datang dan mengejutkan mereka.
"Dari mana kalian! " ucapnya dengan sinis.
"Ka-kami...?"
"Dari Resto Nusantara yang terbakar! Bukan begitu?" Ucap Rayyan yang semakin sinis.
__
Bersambung...
__ADS_1
_______________