
Happy Reading....
_____
Rasa cinta tak akan ada yang tau kapan dia akan datang, tak akan ada yang memaksanya untuk pergi setelah dia sudah hinggap di segumpal darah yang bernama hati.
Jiwa-jiwa kosong akan mudah terpenuhi jika rasa itu sudah datang. Akan mendapatkan warna baru yang sebelumnya tanpa warna atau hanya terdapat warna yang gelap.
Seperti Rico, Iqbal juga Dante yang kini sudah menemukan orang yang akan memberikan warna untuk kehidupan mereka, ya meski hanya Rico yang sudah jelas sementara keduanya belum pasti karena masih harus melalui proses perjalanan yang berliku tajam dan mungkin sangat panjang.
Ketiga pemuda yang usianya tak beda jauh itu tengah duduk di kursi di Resto Nusantara. Satu lingkar meja yang terdapat empat kursi hanya tiga saja yang terisi sementara yang satu kosong melompong tak berpenghuni.
Iqbal juga Dante terus terdiam. Pikiran mereka berkelana jauh meskipun tubuh mereka ada di sana. Susah untuk di jelaskan dengan kata isi hati mereka, kacau balau, penuh harap-harap cemas juga tak sabaran ada juga rasa geregetan.
Rico juga mengikuti diam, memandangi keduanya bergantian dengan satu tangan menjadi tiang untuk dagunya.
Memang susah jika sudah berurusan dengan hati, akan selalu sensitif.
"Kalian meminta ku kesini hanya untuk melihat kalian berdua melamun?" Pertanyaan Rico terdengar sangat kesal. Jelaslah dia kesal waktu yang seharusnya di gunakan untuk berdua-duaan dengan Aisyah kini malah berada di sana tanpa ada kejelasan apapun, iya kali jadi penonton saja.
Keduanya masih saja diam, suara dari Rico benar-benar seperti angin lalu yang hanya masuk lewat telinga kanan dan keluar dari telinga kiri, alias bablas.
"Mending aku pulang saja kalau begitu. Mau ngomong seperti apapun juga tidak di dengar apalagi di jawab," Kedua tangan Rico sudah berpindah memegangi meja dia siap beranjak untuk pergi dari sana.
Rico benar-benar berdiri dari kursinya, siap melangkah karena tetap tak ada reaksi dari keduanya. Entah mereka benar tidak tau karena keasyikan melamun atau mungkin karena memang lagi malas.
Tapi sepertinya tidak, saat Iqbal menyadari pergerakan dari Rico dia langsung menoleh, matanya langsung membulat sempurna dan berteriak untuk mencegah kepergian Rico, "Ric! beneran mau pergi ninggalin kita yang lagi galon?"
Akhirnya suara itu Rico dengar setelah satu setengah jam menunggu di sana. Rico menoleh kembali memutar balikkan tubuhnya.
"Beneran masih butuh?" ucapan Rico membuat Iqbal berdecak kesal. Kenapa juga harus kata seperti itu yang terlontar sudah seperti sebuah tamparan saja, untung Iqbal bukan cowok yang sensian kalau iya mungkin dia akan langsung mengusir Rico tanpa kasihan.
Helaan nafas panjang keluar dari Iqbal, duduknya juga sudah tegak dan fokus untuk sebuah pembicaraan.
__ADS_1
Rico kembali duduk, melipat kedua tangan di atas meja menjadi pemersatu untuk mendengarkan isi hati dari kedua sahabatnya.
"Apa yang mau kamu katakan padaku? Aku tak punya banyak waktu lagi untuk menunda-nunda kegiatanku. Sudah ada hal yang menunggu ku di rumah,"
Ucapan Rico benar-benar membuat Iqbal juga Dante merasa iri saja. Itu juga salah mereka berdua yang terlalu lambat dalam berusaha seandainya saja mereka juga sudah sejak lama berusaha mungkin juga sudah bahagia. Tapi itulah jalan hidup, semua ada waktunya dan tak bisa ikut sesuai keinginan.
ππΆπ¨π©...
"Hentikan lamunan mu, Dan. Kalau tidak senior kita akan pergi meninggalkan junior yang lagi nelangsa," pukulan di bahu Dante berhasil membubarkan lamunannya. Dia langsung tersadar dan menoleh.
Memang enak sih berkhayal itu. Semua terlihat manis dan indah karena semua bisa sesuai dengan apa yang kita mau tapi sekalinya sadar semua kemanisan yang membuahkan kebahagiaan itu akan hilang dan menyisakan kekecewaan.
"Siapa yang melamun, aku hanya berdiam diri saja," tak akan di terima dengan lapang dada begitu saja untuk Dante.
"Iya, bukan melamun tapi meratapi nasib," wajah Iqbal terlihat begitu kesal karena jawaban dari Dante apa susahnya sih bilang saja iya! nggak usah banyak alasan.
"Rico, saya tau kamu banyak pengalaman dalam mengahadapi masalah, apakah kamu tidak berniat untuk membagi resep untuk kami supaya kami juga bisa sabar dan lebih tegar seperti mu hingga kebahagiaan itu datang? "
Soal pengalaman Rico memang lebih berpengalaman dari mereka berdua, ya meski umur Rico lebih kecil di timbang mereka. Sebenarnya susah gampang menghadapi masalah yang terus saja datang seiring dengan nafas yang masih terus berhembus, tapi memang sudah kodratnya kan? setiap masih ada nafas pasti ujian akan selalu datang meski tanpa permisi.
"Terus, aku juga harus ngapain?" Dante pun tak mau kalah. Sebenarnya kalau Dante tak banyak sih masalahnya, hanya hati Meyka saja yang sudah ada penghuninya, sekali penghuni tak jelas itu pergi maka Dante bisa langsung masuk dan menduduki posisinya.
"Benar-benar kayak mentor hati nih, Gue," celetuk Rico.
Ya memang bisa sih di anggap seperti itu soalnya Rico yang selalu tau akan apapun, bahkan dia bisa tau apa yang tidak di ketahui siapapun.
"Ya, sesekali lah jadi mentor hati siapa tau kamu akan viral setelah ini," Jawaban Iqbal tentunya tidak akan di terima oleh Rico, dia tidak mau viral atau tenar. Nggak akan enak menjadi orang terkenal pasti akan ada gangguan serius dalam kesehariannya.
"Ogah gue, enak jadi suami sukses saja. Yang bisa menjadi imam yang baik, menjadi kepala keluarga yang bisa menuntun istri dan anak-anaknya kelak sampai surga. Jadi kan bisa bahagia dunia akhirat." jawab Rico.
Keinginan yang simpel tapi akan sangat susah di jalankan, tapi tak ada yang mustahil dih selama tekat kuat dan kemauan besar untuk bisa mewujudkannya, bukankah semuanya tidak ada yang tidak mungkin?
Meski tak pandai-pandai akan ilmu agama tapi tak menutup kemungkinan kan untuk bisa bahagia dunia hingga akhirat, belajar juga masih bisa di lakukan.
__ADS_1
"Ayo lah, Ric! Berikan petuah mu kepada kita. Kita benar-benar membutuhkan pencerahan ini," Iqbal begitu ngeyel, dia ingin mendapatkan sedikit wejangan dari Rico sebagai bekal untuk perjalanan cintanya.
"Iya, Ric! aku juga sangat membutuhkannya. Jangan pelit-pelit napa sih jadi orang, entar rezekinya sempit kalau pelit," sosor Dante.
Bingung juga bagi Rico, dia lebih bocil dari kedua sahabatnya itu tapi kenapa mereka lebih memilih untuk minta wejangan darinya, bukankah itu kebalik ya?
"Yang harus kalian lakukan adalah, berdoa dan berusaha. Jangan pantang menyerah meskipun badai menerjang. Jika segala upaya sudah kita lakukan tapi masih saja terasa susah untuk di wujudkan maka serahkan pada Allah. Biarkan Allah yang menunjukan jalannya," jawab Rico.
Meski tak panjang tapi bisa lah membuat hati keduanya sedikit terisi dengan tekat. Meski sedikit tapi jika di jabarkan itu akan sangat panjang, yang pasti juga akan susah untuk bisa menjalaninya apalagi mewujudkannya.
"Hem..., mungkin memang harus seperti itu sih. Tapi kenapa rasanya begitu susah," ucap Iqbal.
"Mudah, jangan pernah berfikir itu susah sebelum kita mencobanya. Semangat, itu adalah kuncinya,"
"Iya iya, gue semangat,"
"Iya dong, kalau tidak semangat maka akan kehilangan apa yang menjadi tujuan kita,bukan begitu kan? "
"Iya, kamu benar-benar,"
"Sudah kan? Sekarang aku mau pulang," Rico kembali beranjak.
" Buru-buru amat sih? Mau ngapain coba."
"Jangan tanya, nanti kalau aku jawab pada iri lagi. Udah ya para jomblo, saya mau pulang dulu ada my hany yang menunggu," Rico tersenyum lebar dia sungguh senang menggoda kedua sahabatnya.
Kata-kata Rico yang di tinggalkan sungguh membuat keduanya iri. Mereka juga sangat ingin secepatnya mendapatkan pasangan halal dan ketika mereka pulang sudah langsung di sambut dengan mesra.
"Hufff..., dasar Rico," gerutu Dante.
____
Bersambung...
__ADS_1
_______