
Happy Reading...
_____________
Iqbal begitu semangat berjalan di sebelah Shelvia, langkah keduanya sedikit cepat saat ingin masuk ke salah satu ruangan di rumah sakit.
"Yuk, Mama pasti senang bertemu dengan calon mantu." Celetuk Iqbal dengan begitu semangat.
Shelvia langsung berhenti mendadak, menatap jengah Iqbal yang selalu saja ngomong sembarangan. "Apa sih! Bisa ngomong bener nggak? Atau aku pulang lagi seperti kemarin? " Ancam Shelvia.
Ya sebenarnya kemarin Shelvia sudah mau mengunjungi Mama Iqbal di rumah sakit, namun di karenakan ada urusan mendadak jadi dia tidak jadi.
"Jangan dong! Iya deh iya, aku minta maaf. " Sesal Iqbal.
"Sekarang masuk yuk, mama pasti sudah menunggu." Ajak Iqbal semangat.
Shelvia baru melanjutkan langkahnya setelah dia berhasil menghela nafas panjang, dia menetralkan sebentar mood di dalam hatinya setelah benar-benar tenang dia baru masuk.
Pintu di buka perlahan oleh satu tangan milik Shelvia, sementara yang satunya lagi membawa sebuah parsel buah sebagai buah tangan.
Kedatangan mereka berdua memang benar sudah di tunggu oleh mamanya Iqbal, perempuan yang mungkin berumur empat puluh lima tahunan itu langsung tersenyum setelah melihat kedatangan Iqbal juga Shelvia.
"Kalian sudah datang?" Tanyanya dengan wajah yang sangat berbinar.
"Assalamu'alaikum, Tan. " Sapa Shelvia dengan ramah, tak lupa dia juga menyalami mama Iqbal tersebut.
"Wa'alaikumsalam, kamu yang namanya Shelvia?" Shelvia mengangguk sambil tersenyum tipis, "Ternyata kamu benar-benar cantik, pantesan anak tante selalu memuji mu terus." Imbuhnya, dengan mata sedikit melirik ke arah Iqbal.
"Apa sih, Ma! Jangan suka gunjing deh," Protes Iqbal.
Shelvia tampak malu-malu dengan perkataan mama Iqbal, apalagi di tambah wanita yang masih terlihat sangat cantik itu membelai lembut dagunya. "Iqbal benar-benar tidak salah pilih. Hemm..., kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian? Mama harap bisa secepatnya, ya mumpung mama masih sehat." Ucapnya yang penuh harap.
𝘜𝘩𝘶𝘬... 𝘜𝘩𝘶𝘬...
"Kamu kenapa, Nak? Apa kamu sakit? Iqbal jangan lupa nanti periksakan Shelvia juga sebelum pulang, mama takut dia sakit." Ucapnya setelah mendengar Shelvia yang tersedak ludahnya sendiri karena mendengar kata peresmian hubungan mereka.
Apanya yang harus di resmikan, hubungan mereka belum sejauh itu. Lagian Shelvia juga sama sekali belum merasakan apapun terhadap Iqbal, hanya saja dia sudah tidak sedingin dulu lagi mungil esnya sudah mulai mencair.
Shelvia hanya bisa tersenyum menanggapi kesalahpahaman ini, dia juga tak enak hati jika mengatakan kalau dirinya juga Iqbal tidak ada hubungan apapun sekarang, Shelvia takut kalau sampai Mama Iqbal syok dan akan berpengaruh pada kesehatannya.
"Sini duduk dengan, Tante." Mama Iqbal menarik tangan Shelvia memintanya duduk di atas ranjang di sebelahnya, dan tanpa ragu Shelvia pun mengikutinya.
Sementara Iqbal duduk di kursi di sebelah nya, menatap kedua wanita yang sangat berharga bagi dirinya itu secara bergantian.
__ADS_1
"Mama senang, akhirnya Iqbal sudah menemukan pujaannya. Semoga secepatnya kalian berdua benar-benar bisa menikah ya."
"Apa sih, Ma! Semuanya butuh proses! " Seru Iqbal.
"Buat apa harus lama-lama, kalian sudah saling menyukai kan? Besok kalau mama sudah sembuh mama ingin secepatnya bisa melamarnya untukmu, kita akan pergi ke rumahnya dan menemui orang tuanya, menurut kamu gimana, Shelvia? " Mata mama Iqbal langsung tertuju pada Shelvia yang masih terus tercengang, bingung kenapa harus ini yang terjadi.
"Shelvia..., Tan, sebenarnya Shelvia dan juga kak Iqbal..? "
"Kami berdua belum siap, Ma! Kita masih ada beberapa hal yang harus di lakukan terlebih dahulu, kami juga masih ingin benar-benar mempersiapkan untuk semuanya sebelum terjadi pernikahan." Sela Iqbal dan menghentikan perkataan Shelvia.
"Oh, begitu. Tapi jangan lama-lama ya, takutnya kalian khilaf nantinya kalau kelamaan pacaran."
"Tidak, Ma." Jawab Iqbal.
"𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘩𝘪𝘭𝘢𝘧, 𝘐𝘲𝘣𝘢𝘭 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘴𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘐𝘲𝘣𝘢𝘭, 𝘥𝘢𝘯 𝘚𝘩𝘦𝘭𝘷𝘪𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘬𝘶, "batin Iqbal.
____
Gadis berhijab biru laut dengan gamis yang berwarna hampir senada itu terus menunggu di samping jalan raya, dia adalah Meyka yang menunggu di jemput oleh Fikri.
Sudah sangat lama dia menunggu namun Fikri belum juga sampai di sana entah apa yang menghalangi Fikri untuk bisa menjemput anak gadisnya itu.
Meyka terus menerus menoleh ke arah jalan, berharap akan ada mobil abi nya yang akan datang, namun sampai sekarang belum juga dia lihat.
Di saat Meyka masih terus di sana, dia melihat Farel yang sudah ada di tempat parkir dekat dengan mobilnya, sejenak dia mengamati hatinya terus bertanya-tanya apakah Farel akan mengajaknya bareng jika dia melihatnya? Tapi mana mungkin kan? Farel harus pergi ke perusahaannya setelah itu.
Pandangannya masih terus tertuju pada Farel, pria itu sepertinya tidak sadar kali ada dirinya yang mengamatinya dari jauh, dan Farel juga tidak sadar kalau ada gadis bergaun lebih sopan dari biasanya telah menghampirinya, dia adalah Felisha.
"Felisha? Untuk apa dia mendekati kak Farel ? " Meyka mengernyit bingung.
Terlihat Felisha mengatakan sesuatu dan membuat Farel langsung menoleh, mungkin Felisha telah memanggilnya karena ingin mengatakan sesuatu pada Farel.
Begitu fokusnya Meyka mengamati mereka berdua sampai-sampai dia tidak sadar kalau di belakangnya sudah ada mobil hitam berhenti. Dan orangnya kini sudah berjalan menuju ke arah Meyka.
"Kamu lihat apa? Sampai-sampai tidak mendengar aku membunyikan klakson mobilku? " Tanya orang itu yang tak lain adalah Dante.
Ya, berkali-kali Dante membunyikan klakson namun Meyka sama sekali tidak mendengarnya, dan akhirnya Dante memutuskan untuk turun dan ikut melihat apa yang Meyka lihat.
Meyka masih diam tak bergeming sepertinya kedua orang yang ada di jauh sana lebih menarik untuknya daripada Dante yang kini ada di sebelahnya dan ikut menatap kedua orang itu.
Terlihat dengan jelas wajah sedih dari Meyka oleh Dante, meskipun Dante belum paham benar namun dia bisa pastikan kalau Meyka tengah cemburu melihat Farel yang bersama dengan Felisha.
"Assalamu'alaikum, Mey." Dante mendekatkan wajahnya di dekat telinga Meyka mungkin dengan cara seperti itu dia bisa menyadari akan kedatangannya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam." Seketika Meyka menoleh, "kak Dante! Kenapa kakak di sini? " Cepat-cepat Meyka memalingkan wajahnya dari Farel dan Felisha dia tidak mau sampai Dante bisa tau akan hal itu.
"Aku kebetulan lewat saja, dan melihat mu sendiri di sini jadi aku ke sini? Kamu kenapa masih di sini, kenapa belum pulang? " Tanya Dante.
"Mey, Mey menunggu abi." Jawab Meyka.
Sesekali Meyka masih memandangi Farel yang masih saja bicara dengan Felisha, yang mana membuat Dante mengernyit.
"𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘯 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘫𝘰𝘥𝘰𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘔𝘦𝘺𝘬𝘢...? 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘔𝘦𝘺𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘬𝘢𝘯? 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘵𝘢𝘵𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶..? 𝘐𝘴𝘩, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪? "
Tidak tau dengan apa yang ada di hati Dante, namun dia merasa tidak nyaman saja melihat Meyka terus memandang Farel, padahal dia juga tidak menyukai Meyka.
"Mey, bagaimana kalau aku antar kami pulang saja? Kebetulan aku juga mau ke arah tempatmu tinggal." Tawar Dante.
"Tidak usah, Kak! Selamat sebentar lagi Abi datang." Jawab Meyka.
𝘛𝘪𝘯𝘨..
Baru saja Dante selesai bicara ponsel Meyka berbunyi dan ada pesan masuk.
"𝘈𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶'𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮, 𝘔𝘦𝘺 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨. 𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘈𝘣𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘫𝘦𝘮𝘱𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘈𝘣𝘪 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘥𝘢𝘬. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘯𝘢𝘪𝘬 𝘵𝘢𝘬𝘴𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘺𝘢.. 𝘊𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘵𝘪-𝘩𝘢𝘵𝘪.. 𝘈𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮... "
Wajah Meyka seketika berubah.
"Kenapa?" Tanya Dante bingung.
"Abi tidak jadi jemput, Mey. "
"Ya sudah, yuk Kak Dante antar kamu pulang." Ujar Dante.
"Nanti, nanti ngerepotin Kak Dante. "
"Tidak, yuk! " Ajak Dante, Dante berjalan dulu untuk membukakan pintu mobil untuk Meyka.
Tanpa pikir panjang lagi Meyka masuk ke mobil Dante dan menerima tawarannya, "Terima kasih, Kak. "
"Hem.. "
__
Bersambung...
__________
__ADS_1