Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
181. Kehangatan


__ADS_3

Happy Reading....


...****************...


Semakin manja Aisyah sekarang, apalagi setelah dia di nyatakan hamil. Hatinya terus berbunga-bunga dan kini tau kenapa selama ini Rico selalu manis padanya. Bahkan Rico menjadi posesif yang sangat berlebihan.


Aisyah tidak boleh ini itu, semuanya begitu di batasi oleh Rico dan Aisyah harus menurutinya. Aisyah juga tak terlalu pergi kemana-mana, dia lebih sering di rumah sementara Rico juga lebih mengurangi pekerjaan di luar saat ini.


Semua Rico yang lakukan, dengan di bantu oleh Bundanya. Sementara Aisyah tidak di perbolehkan untuk ngapa-ngapain dan hanya duduk manis saja seperti seorang tuan putri.


Seperti sekarang ini, Rico tengah sibuk di dapur dengan semua masakan. Tentu ada bundanya yang membantunya sementara Aisyah kini hanya duduk di menunggu keduanya dan terus melihat pergerakan suami juga mertuanya.


"Sayang, coba cicipi ini," pinta Rico seraya mendekati Aisyah juga menyodorkan kuah sup yang ada di sendok.


Rico berhenti di hadapan Aisyah, menyuapi Aisyah apa yang ada di sendok. Meski hanya kuah saja tapi Aisyah menerimanya.


"Hem," Aisyah benar menuruti permintaan Rico dia terlihat menikmati akan rasanya.


"Bagaimana?" tanya Rico dengan menatap Aisyah lekat. Begitu tak sabar Rico untuk mendengar penilaian dari Aisyah akan masakannya.


Menu terakhir setelah tadi membuat beberapa menu makanan juga ada sambal seperti kesukaan Aisyah akhir-akhir ini.


Dulu memang Aisyah tidak menyukai Sambal tapi kali ini seakan sambal adalah menu keharusan di setiap makannya.


Meski tak begitu pedas yang penting ada sambal,


kalau tidak selera makan Aisyah akan berkurang. Bahkan dia tidak mau makan saat itu.


"Bagaimana?" tanya Rico lagi. Dia begitu tak sabar mendengar kritikan dari Aisyah. Entah enak atau bagaimana dia semakin tak sabar menunggu saat Aisyah belum bersuara dan masih terlihat mencecap-cecap akan rasanya, "hem?"


"Enak, hanya kurang garam," jawab Aisyah dengan senyum lagunya dan membuat Rico percaya.


Rico mencicipi juga. Memastikan sendiri bagaimana rasa yang sebenarnya. Entah benar kurang garam atau bagaimana.

__ADS_1


"Kamu yakin ini kurang garam?" Rico mengernyit setelah merasakan hasil dari masakannya. Dengan polosnya Aisyah mengangguk.


"Ta_tapi ini udah asin loh," ucap Rico. Entah lidah siapa yang benar atau yang bermasalah. Aisyah mengatakan kurang asin sementara Rico sendiri sudah merasakan keasinan.


"Tambah sedikit, Bang. setelah itu akan benar-benar sempurna rasanya." jawab Aisyah.


"Ta_tapi?" Rico begitu ragu. Kalau dia menambahkannya itu berarti sup itu akan semakin asin lagi. Bukan hanya lidah saja yang akan bermasalah nantinya, tapi bisa jadi tensi kedua orang tuanya juga akan bertambah.


"Itu kurang sedikit, Bang," kekeuh Aisyah lagi.


"Biar Aisyah aja yang nambahin garamnya." Aisyah handak beranjak karena melihat Rico yang malah termenung tak bergerak juga tak berkedip. Aisyah sudah tidak sabar untuk itu.


"Ti_tidak usah, Yang. Biar aku saja," cegah Rico setelah tersadar, "sekarang kamu kembali duduk saja, biar aku yang melakukannya."


"Baiklah," Aisyah begitu pasrah menyerahkan keinginannya pada Rico.


Aisyah terus melihat langkah ragu Rico, begitu pelan dan sangat pelan membuat Rico sangat lama sampai di depan kompor.


"Bang, ayo cepat. Aku sudah lapar," Aisyah tak sabar. Pergerakan Rico begitu lama menurutnya. Ya karena memang seperti itu.


"Bun, katanya sup_nya kurang asin padahal jelas-jelas ini sudah asin," jawab Rico berbisik dengan bundanya, "bagaimana?" tanya Rico setelahnya.


"Sini, biar bunda yang mengakalinya. Kamu itu aneh, kamu itu seorang chef tapi masalah seperti ini aja kamu bingung," bunda mengambil alih pekerjaan Rico, berdiri menggantikan Rico di tempatnya dan diam-diam menambahkan sesuatu pada sup itu.


Setelahnya Bunda mencicipinya, rasa asin sudah berhasil di samarkan dengan tambahan dari apa yang bunda tambahkan barusan.


"Bagaimana, Bun?" tanya Rico.


"Sudah," dielusnya pundak Rico sebentar lalu Bunda beralih untuk mengambil mangkuk untuk wadah sup. Sementara Rico hanya melihat setelah dia juga ikut mencicipinya.


"Bunda paling luar biasa," ucap Rico.


...****************...

__ADS_1


Semua makanan sudah tersaji di atas meja. Asap masih mengepul dari sup yang baru saja di angkat dari panci.


Sudah gak sabar Aisyah untuk makan, dia terus mengelus perut nya yang benar-benar sudah kelaparan.


"Biar Aisyah yang ambilkan," Aisyah berdiri, berinisiatif mengambilkan nasi kepada semua anggota keluarga. Bunda, Ayah juga Rico dan dirinya sendiri.


"Terima kasih, Sayang," Rico tersenyum. Jika yang lain bisa dia yang lakukan, tapi jika untuk pekerjaan satu ini Aisyah tak pernah mau di halangi. Dia selalu ingin dan sangat senang melakukannya.


"Sama-sama, Bang," Aisyah kembali duduk setelah semuanya sudah dia ambilkan.


"Terima kasih, Nak," bersamaan Bunda dan Ayah berkata. Keduanya lalu saling lempar pandang dan tertawa.


"Romantisnya, benar-benar sehati," Rico cengengesan melihat bunda dan ayahnya seperti itu.


"Apa sih, Ric," jelas Bunda merasa malu meskipun yang menggoda adalah anaknya sendiri. Bahkan pipinya sudah memerah seperti seseorang yang tengah di landa jatuh cinta.


"Ih, pipinya merah. Kenapa, Bun?" Rico semakin senang menggoda.


"Rico," rajuk bundanya.


"Udahlah, Bang. Aisyah udah laper. Jangan bercanda terus," tegur Aisyah.


Bunda mengangguk membenarkan, sementara Ayah hanya diam sok acuh sementara Rico langsung kicep. Dia tak akan lagi bicara kalau istrinya sudah mengatakan lapar.


"Makan yang banyak ya, Sayang. Biar kamu dan anak kita sehat," tangan Rico cekatan mengambilkan sup, sambal juga lauk untuk Aisyah dan setelahnya untuk dirinya sendiri.


"Terima kasih, Bang." Aisyah begitu senang karena Rico selalu memanjakannya. Dia merasa menjadi wanita paling beruntung sekarang.


Mendapatkan suami yang sangat di cintai juga keluarga baru yang sangat menyayangi. Bahkan hubungan mereka bukan selayaknya mertua dan menantu, melainkan seperti anak dan orang tua.


Begitu menikmati mereka semua. Menikmati makanan rumahan yang di masak sendiri. Tidak pernah mereka beli makanan dan di bawa pulang, kalau mereka ingin makanan dari luar mereka akan mendatangi tempatnya langsung dan makana ditempat. Katanya makanan yang sudah dibungkus selalu aneh rasanya. Itu kata Aisyah. Mungkin karena pengaruh kehamilannya.


Rico melihat Aisyah, dia pikir istrinya itu akan kembali berkomentar akan masakannya. Tapi Alhamdulillah, itu tidak terjadi. Lega rasanya dan sekarang Rico bisa ikut menikmatinya juga dengan hati senang juga puas.

__ADS_1


...****************...


Bersambung....


__ADS_2