Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
40. Hadiah kejutan


__ADS_3

____


Happy Reading..


__________________


" Assalamu'alaikum.. " Sapanya dengan dingin.


" Wa'alaikumsalam, Bakpao. Gimana, suka tidak dengan kejutan Abang. " Ucap seorang dengan heboh di seberang sana.


Ternyata kejutan itu memang sudah sangat di rencanakan oleh Abang Aisyah. Meskipun Aisyah tidak memintanya namun apa sih yang tidak bisa mereka lakukan untuk kebahagiaan adik gadis satu-satunya itu.


" Aku nggak butuh hadiah dari Bang Akhsan. Aku hanya mau Abang pulang, Aisyah sangat merindukan Abang kembar. Pulanglah, Bang. Jangan bikin Aisyah kurus karena memikirkan kalian berdua. " Jawab Aisyah.


" Maaf Dek, dalam waktu dekat ini kami belum bisa pulang, tapi mungkin satu bulan lagi kita pulang. " Jawab Akhsan.


" Mungkin?, bilang saja kalau Abang memang nggak mau pulang! Dan kalian memang tak sayang kan sama Aisyah. Aisyah nggak pulang kalian berdua terus ngoceh kayak burung beo supaya Aisyah pulang, lah sekarang setelah Aisyah pulang kalian malah pergi. " Kesal Aisyah.


" Ya maaf, Dek. Abang janji akan usahakan secepatnya pulang. "


" Assalamu'alaikum, Bakpao Abang!. " Terdengar suara lain dari ponsel yang sama, dan itu pasti Ikhsan, Abang satunya lagi.


" Wa'alaikumsalam. " Jawab Aisyah.


" Kenapa suaranya gini amat sih, ini beneran Bakpao kan?."


" Iya lah, siapa lagi. "


" Motornya di pakai ya, ingat jangan ngebut-ngebut. Jaga keselamatan, jangan lupa pakai helm, jangan lupa bawa SIM, jangan lupa patuhi peraturan. " Ucap Ikhsan begitu banyak.


" Iya bawel!." Kesal Aisyah yang mendengarkan kata-kata panjang dari Ikhsan selayaknya ibu-ibu yang sedang menasehati anaknya.


" Udah ya, Bakpao. Abang sedang sibuk nih, kamu akan usahakan cepat pulang, doakan saja urusan kami cepat selesai, Assalamu'alaikum. "


" Wa'alaikumsalam. " Jawab Aisyah seraya menghela nafas yang begitu panjang.


Aisyah menoleh dan motor tersebut sudah ada di bawah, sementara Shelvia dan juga Meyka begitu mengagumi motor tersebut.


" Wah... Aku mau juga lah yang seperti ini. Aku akan minta sama Mama nanti. " Ucap Shelvia heboh dan terlihat begitu menginginkan motor yang sama seperti hadiah dari Abang kembar untuk Aisyah.


" Aku nggak ingin, soalnya aku juga nggak bisa naik motor. " Saut Meyka lirih.

__ADS_1


" Kan bisa belajar, Mey. Masak gitu aja loyo gitu sih. "


" Aku nggak berani, Via. " Jawab Meyka.


Shelvia dan Meyka terus melihat motor tersebut, dari atas bawah, kanan kiri, depan belakang semuanya tak ada yang terlewat dari mata mereka. Shelvia yang begitu menginginkan tapi Meyka yang hanya kepo dengan bentuk dari motor tersebut.


Sedangkan Aisyah menatapnya tak semangat, itu adalah motor yang di idam-idamkan oleh dia sebelum dia pulang ke tanah kelahiran, tapi sekarang tidak lagi. Buat apa dia mempunyai nya kalau Rayyan saja tak akan mengizinkan dia memakainya.


" Sayang, itu motor dari siapa?. " Tanya Keisha seraya membelai lembut bahu Aisyah.


" Dari Abang kembar, Ma. " Jawab Aisyah sama sekali tak ada semangat. Wajahnya terus di tekuk dan terlihat dengan jelas olahraga kedua orang tuanya.


" Tapi kenapa kamu seperti tidak senang seperti itu?. " Tanya Rayyan.


" Buat apa aku senang, Pa. Sebagus apapun motor itu Papa juga tidak akan mengizinkan Aisyah memakainya untuk pergi ke kampus kan, Pa. Jadi buat apa Abang kembar susah-susah untuk membahagiakan Aisyah, Aisyah juga tidak akan bahagia. Semuanya hanya palsu kan, Pa. " Jawab Aisyah.


Aisyah berjalan angkuh setelah mengatakan itu pada Rayyan. Itulah Aisyah, dia jarang bicara dengan Rayyan, tapi sekali dia bicara kata-kata seperti itulah yang akan muncul.


Semuanya memang benar adanya, Aisyah sangat bahagia dengan hadiah itu, tapi buat apa dia bahagia jika hadiah itu hanya akan menjadi pajangan saja.


" Aisyah!. " Panggil Rayyan, namun Aisyah tetap berlalu pergi.


" Pa, sudahlah Pa. Jangan Papa mengengkang Aisyah terus. Kalau ini terus berlanjut hubungan Papa dan Aisyah akan semakin jauh. " Ucap Keisha.


" Ya Allah, jangan Kau beri jarak di antara mereka berdua. Dekatkanlah hubungan mereka sebagaimana semestinya. " Doa Keisha yang benar-benar memohon.


_____


Kamar sang Oma lah yang menjadi tempat pelarian Aisyah, dimana dia harus pergi, dan siapa lagi yang bisa mengerti akan dirinya kalau bukan Oma yang kini semakin tua.


Saat Aisyah datang Tasya tengah tidur di kasurnya, matanya sepertinya terpejam tapi entah dengan hatinya.


" Assalamu'alaikum, Oma. " Sapa Aisyah, dia lansung berjalan menuju kasur sang Oma dan ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Tasya.


" Wa'alaikumsalam.. " Tasya membuka matanya lebar menatap Aisyah yang kini sudah ada di sebelahnya dan juga memeluk dirinya begitu hangat, " Kenapa, hem?. "


" Aisyah hanya mau tidur dengan Oma saja. " Jawab Aisyah berbohong.


Tasya duduk, menyadarkan tumbuhnya di kepala ranjang sedangkan Aisyah kini beralih tidur di pangkuan Oma. " Ada apa, coba cerita sama Oma. " Perlahan Tasya mengelus kepala Aisyah dan sesekali berusaha melihat ekspresi wajah Aisyah.


" Nggak ada apa-apa Oma, Aisyah hanya merindukan Oma saja. " Jawab Aisyah yang tetap kekeuh tak mau menceritakan kekesalan apapun yang terus bersarang didalam hatinya.

__ADS_1


" Jadi kamu mengadu dengan Oma, Syah! Apa kamu mau membuat Oma kepikiran dan sakit, iya?. " Ucap Rayyan yang tiba-tiba masuk tampa mengucapkan salam dan juga mengetuk pintu.


" Ray, dimana adat yang Bunda ajarkan padamu, apa semuanya sudah terkalahkan dengan ego-mu?. " Kecam Tasya.


" Assalamu'alaikum Bunda, maaf. " Ucap Rayyan menyesal.


" Wa'alaikumsalam!," Jawab Tasya dengan ketus sedangkan Aisyah kuga menjawab namun dengan sangat lirih. " Mengadu apa maksudmu, Ray? Bahkan Aisyah tak mengatakan apapun pada Bunda. Apa kamu kembali mengutamakan ego-mu?. " Imbuh Tasya.


" Bukan begitu, Bun. " Rayyan duduk di sebelah Aisyah yang masih terdiam. " Ray hanya...?. "


" Hanya apa, Ray. Aisyah ini anak kamu Ray, jangan kamu kengkang terus menerus menggunakan ego-mu, dia juga ingin bahagia dia ingin seperti yang lainnya. "


" Tapi, Bun. Aisyah itu seorang perempuan, aku takut Bun."


" Apa adikmu bukan perempuan? Apa Bunda dan Abi pernah mengekangnya? Tidak! Biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri, Ray. Dia sudah dewasa. "


" Dia tidak akan bisa, Bun. "


Setetes demi setetes air mata Aisyah mulai berjatuhan, dia berusaha menyembunyikannya dengan menutupinya dengan hijab yang ia kenakan. Sakit itulah yang dia rasakan sekarang, Bahkan karenanya papanya berani menjawab setiap kata-kata dari Tasya sang Oma nya.


Aisyah semakin merasa sakit karena tak ada sedikitpun kepercayaan di hati Rayyan untuk Aisyah, semuanya seolah tak bermakna dan tiada arti sama sekali.


" Lebih baik sekarang kamu pergi dari kamar Bunda, Ray. Dan perbanyaklah istighfar, mohon maaf kepada sang pemberi hidup. " Seru Tasya.


" Tapi Bun, Ray mau bicara dengan Aisyah. "


" Tidak, Aisyah biar di sini bersamaku. Pergilah sekarang. " Ucap Tasya dengan lirih.


Tak lagi berani melawan Tasya akhirnya Rayyan pergi keluar sesuai perintah Tasya. Dia kecewa karena dia tak di beri kesempatan untuk bicara dengan Aisyah.


Tasya membungkuk, membuka hijab yang menutupi wajah Aisyah, " Sstttt... Jangan nangis, Harimau Oma bagaimana bisa cengeng seperti ini. " Ucap Tasya menghibur.


" Oma, Aisyah tidak kuat lagi. Apa Aisyah pergi saja dari sini? Atau Aisyah lebih baik mati saja. " Jawab Aisyah yang seakan kehilangan jalan.


" Ssttt.. Semua pasti akan berakhir, kamu yang sabar. "


Tasya terus menghibur Aisyah, mengelus kepala Aisyah hingga tak terasa Aisyah tidur dengan lelap di pangkuannya.


Tasya sungguh menyesalkan dengan perubahan sifat dari Rayyan, dulu dia tak seperti ini, bahkan kedua Abang kembar Aisyah menikah dengan landasan cinta dan mereka menikah juga dengan wanita pilihan mereka sendiri, tapi kenapa sekarang Aisyah tidak bisa.


___

__ADS_1


Bersambung...


________________


__ADS_2