Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
134.Cerita Dante


__ADS_3

Happy Reading..


_______


Bukannya pulang ke rumahnya sendiri namun Dante kini pulang ke rumah Rico. Alasannya dia ingin mengantarkan Susan juga Sumarno, padahal itu hanya alasan semata supaya dia bisa datang ke rumah Rico tanpa adanya celotehan dari Rico nantinya.


"Assalamu'alaikum, " ucap Susan saat masuk ke dalam rumah.


Dante kini juga ikutan masuk ke dalam rumah itu setelah dengan sedikit drama. Dante harus sedikit akting tanpa dia yang masuk ke sana karena keinginannya sendiri melainkan di ajak oleh Sumarno.


"Wa'alaikumsalam, Bun, Ayah. Kalian baru pulang? " tanya Aisyah menyambut kedatangan mereka berdua. Aisyah melirik kearah belakang Sumarno dan ada Dante di sana, "ada kak Dante juga, masuk Kak! " pintanya.


Dante mengangguk, dia langsung duduk di sofa setelah di minta oleh Aisyah," Hemm."


"Nak, bagaimana keadaan Rico? apa dia baik-baik saja?" tanya Susan.


Aisyah mengangguk, Rico sudah baik-baik saja bahkan tak ada demam lagi seperti semalam, "bang Rico sudah baik-baik saja kok, Bun. tak perlu di khawatirkan," jawab Aisyah.


Dante yang mendengar langsung terbelalak, benarkah Rico sakit sekarang? "Rico sakit apa, Bun? " tanya Dante penasaran.


"Dia demam, Dan," kali ini Sumarno yang menjawab.


"Boleh Dante menjenguknya? " ucapnya minta izin.


Aisyah mengangguk mengizinkan begitu juga dengan kedua orang tuanya. Setelah kepergian Dante ke kamar Rico Susan juga Sumarno pamit juga untuk ke kamar dan bersih-bersih dulu.


"Kami bersih-bersih dulu ya, Nak," pamit Susan mewakili Sumarno juga.


Aisyah mengangguk, Susan juga Sumarno terlihat begitu lelah mungkin mereka juga butuh istirahat setelah itu, "Iya, Bun. Kalau begitu Aisyah bikinin teh hangat untuk kalian,"


"Terima kasih, Nak," Susan mengelus pipi Aisyah sejenak sebelum dia benar-benar pergi ke kamar. Aisyah hanya mengangguk sebagai jawabannya lalu bergegas juga setelah keduanya pergi.


////


"Assalamu'alaikum, Bos!" Dante masuk ke dalam kamar Rico, di lihatnya Rico yang duduk bersandar dengan tangan asyik dengan ponsel.


"Wa'alaikumsalam, Dan! kamu? " Rico terkejut, dia tak tau kalau Dante datang bahkan cukup berani juga Dante masuk ke kamarnya sekarang. Kalau dulu tak masalah sih, tapi sekarang? Rico sudah menikah kan? "kenapa kamu kesini? " tanyanya.


"Mau jenguk kamulah, Bos! iya kali mau jadi penonton Bos yang bermesraan, nggak banget kan. Lagian ya,Bos! Bos ini aneh,biasanya yang sakit setelah malam pertama itu perempuan tapi kenapa malah jadi Bos yang sakit,apa Aisyah begitu ganas?" tanya Dante.


Dante terus berjalan mendekat dia duduk setelah di depan Rico. Namun belum juga bokongnya sampai di kasur Rico sudah melemparkan bantal ke arah Dante sontak dia juga sigap menangkapnya.


"Apa sih, Bos!" protes Dante tak terima.

__ADS_1


Bukan marah karena Dante datang dan masuk ke dalam kamarnya, melainkan karena perkataan Dante yang selalu tidak di saring terlebih dahulu.


"Sepertinya kamu membutuhkannya jaring supaya omonganmu bisa di kendalikan, Dan. Setelah itu bisa di lempar ke laut sana beserta orangnya juga, " jawab Rico dengan sangat kesal.


"Hahaha...! jangan marah, Bos! baru juga selesai malam pertama. Kalau marah mulu besok punya anak udah botak tuh kepala, " ucap Dante. Sepertinya tak ada habis-habisnya tuh anak selalu nyinyir omongannya, seandainya saja tidak dalam keadaan seperti sekarang mungkin Dante akan di jadikan perkedel untuk lauk makan malam.


"Pulang sana! jangan bawa-bawa kesini kalau lagi galon!" sungut Rico.


"Siapa juga yang galon? ngga ada kali, Bos! Bos ini kalau ngomong... "


"Selalu benar! " ucap Rico menyela perkataan Dante, "aku tau kamu lagi galon, ngga usah di tutup-tutupi segala, apa lagi ngga mau ngaku begini. Cepat katakan apa maumu! lalu cepat pergi! "


"Ya Allah, Bos. Tega amat sama aku, mentang-mentang ada bini muda yang tua di dzolimi... Lagian baru saja datang nih, udah di usir saja.... Aku ngga galon, Bos! beneran! " Dante tetap tak mau mengaku kalau dia benar-benar lagi galau sekarang.


Dante ingin sekali minta pendapat Rico, tapi dia sangat malu untuk mengatakannya. Yang jelas dia takut kalau di ejek oleh Rico seperti dirinya yang selalu mengejek Rico.


"Cepat katakan, aku mau istirahat! " desak Rico.


"Apa sih, Bos! ngga ada apapun, sungguh! aku datang ke sini hanya ingin melihat keadaan Bos, " Dante tetap belum mau mengaku.


"Sekarang sudah lihat kan? kalau kamu benar-benar nggak ada apapun untuk di bicarakan lebih baik kamu pergi deh, aku mau istirahat, pusing," ucap Rico yang terus mendesak.


Sebenarnya Rico yang mengusir Dante bukanlah hal yang benar, dia mana tega melakukan itu padanya yang sudah seperti saudaranya sendiri. Rico hanya ingin Dante menceritakan apa yang kini tengah berseru di dalam hatinya yang sebenarnya sudah Rico ketahui, tapi Rico hanya ingin mendengar dengan langsung dari mulut Dante sendiri


"Bos, sebenarnya aku...? aku sudah mulai jatuh cinta pada seorang gadis," ucap Dante yang masih terus menunduk seperti seorang gadis yang malu untuk bercerita.


"Bagus dong! akhirnya kamu menentukan pilihanmu juga setelah sekian lama," jawab Rico.


"Maka dari itu, Bos! aku datang ke sini. Aku sangat bingung," ucap Dante yang benar-benar sangat bingung dengan apa yang akan dia lakukan.


"Terus, apakah aku harus melamarkannya untukmu," tanya Rico dengan serius.


Dante tersentak dia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Rico. Dia sangat ingin tapi tidak secepat itu juga kali? Rico benar-benar pintar membuat Dante jantungan dengan sutu kalimat saja.


Dante bingung bagaimana dia akan menjelaskan kepada Rico yang belum apa-apa sudah langsung ingin melamarkan untuk dirinya, "tidak secepat itu juga kali, Bos! kau ini, " jawab Dante dengan tak habis pikir," maksudku bukan seperti itu bos, "sambung Dante.


"Terus bagaimana maksudmu?" tanya Rico dengan mengernyit bingung.


"Masalahnya, gadis itu menyukai pria lain? " Dante semakin tertunduk, lidahnya seakan kelu setelah mengatakan itu pada Rico. Hatinya sedikit sakit, ya meskipun belum seberapa sih.


Rico malah tersenyum melihat Dante yang seperti ini soalnya tak seperti biasanya Dante merasa sakit saat menyukai seorang gadis, biasanya yang menyakiti kan Dante bukan gadisnya, mungkin dia tengah menuai apa yang dia tanam.


"Kenapa kau malah menertawakan ku? apakah itu lucu bagimu!? " Dante merengut kesal karena Rico, bisa-bisanya dia malah tertawa di atas rasa sakitnya.

__ADS_1


"Hahaha..., terus aku harus bagaimana? menangis begitu? kamu ada-ada saja," tawa Rico terpingkal.


Dante semakin kesal sakit dan semakin sakit sekarang. Seandainya bukan Bos nya mungkin udah dia getok tuh kepalanya pakai sepatu.


"Nggak lucu! "


Kini Rico terdiam, dia terlihat serius dengan apa yang ingin dia katakan pada Dante,"apa pria itu juga menyukainya? " tanya Rico yang benar-benar sangat serius, bahkan tatapan matanya begitu fokus ke arah Dante.


"Mana aku tau," jawab Dante dengan menaikan kedua bahunya, ya dia benar-benar tidak mengetahui sebenarnya. Semua yang dia katakan baru perkiraannya saja, dan mungkin itu bisa salah.


"Sepertinya tidak! kamu maju saja terus pantang mundur. Apalagi menyerah sebelum bertanding? kamu harus berjuang untuk bisa berhasil dan menang," ucap Rico memberikan saran.


"Benarkah itu yang harus aku lakukan? bagaimana jika suatu saat pria itu membalas cintanya?"


"Kalau memang benar berarti dia bukan jodohmu. Aku pikir kalau kamu benar-benar tulus mencintainya dia akan melihat nya, dan suatu saat dia akan mengerti dan akan menerimamu. Berdoa dan berusaha adalah langkah yang beriringan yang harus kamu lalui. Kamu tidak boleh meninggalkan salah satunya harus bersama-sama," ucap Rico lagi.


"Baiklah, akan aku coba. Semoga saran darimu benar."


"Assalamu'alaikum.., kak Dante, itu tehnya Aisyah taruh di depan," ucap Aisyah yang tiba-tiba datang.


"Wa'alaikumsalam, " jawab keduanya serentak.


"Ya makasih, Syah." imbuh Dante.


Aisyah tersenyum lalu kembali keluar setelah mengatakan itu, meskipun tidak tau jelasnya tapi Aisyah yakin ada hal penting yang di bicarakan oleh Rico juga Dante yang tidak harus dia ikut campur.


"Dan, siapa gadis itu? " tanya Rico.


"Dia..., dia..., Mey... " ucapan Dante terhenti, dia sangat ragu mengatakannya.


"Dia Meyka," tebak Rico. Dante mengangguk, dia tak bisa sembunyikan apapun lagi pada Rico.


"Berusahalah, dan ingat baik-baik, jangan kamu menyakitinya kalau kamu melakukan itu kamu harus berhadapan padaku. Kamu adalah sahabatku, dan dia sekarang adalah keluargaku juga jadi kalau kamu hanya mau bermain-main seperti dulu lagi maka kamu akan tau akibatnya,"


"Aku benar-benar menyukainya, Bos. Aku tidak ada niatan untuk mempermainkannya. Yang ada aku ingin sekali bisa melamarnya,"


"Baik kalau begitu, aku percaya padamu."


"Terima kasih, Bos." ucap Dante benar-benar berterima kasih pada Rico, sekarang dia lebih tenang dia lebih mantap untuk mengambil langkah yang akan dia lakukan.


____


Bersambung...

__ADS_1


_____


__ADS_2