Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
89.Tawaran Ari


__ADS_3

___


Happy Reading...


___________________


Rico yang memang di tempat yang sangat jauh dari Dante juga Iqbal tak mengetahui akan kedatangan ketiga gadis itu. Bahkan Rico tidak tau kalau sekarang Aisyah sudah semakin dekat dengannya.


Rico terus fokus dengan pekerjaannya, dia hanya menginginkan semuanya bisa beres dan dia bisa kembali membuka Restonya meskipun dengan dana yang seadanya, dan mungkin menunya juga tidak akan komplit lagi seperti sebelumnya. Ya, bisa di bilang menyesuaikan kantong daripada Rico harus mencari hutang kemana-mana.


Berkali-kali Rico mengucap keringat dengan punggung tangan yang menghitam, membuat wajahnya juga ikutan hitam karena itu. Tapi tak masalah untuk Rico dia bisa mencucinya nanti setelah selesai.


Rico mengurungkan niatnya yang ingin mengangkat kayu lagi, saat dia melihat ada orang yang mengulurkan tangan dan terdapat sapu tangan dia tas telapak tangan itu.


Rico cepat-cepat menoleh dan pastinya dia akan melihat Aisyah yang tengah tersenyum kecil ke arahnya.


"Assalamu'alaikum, Bang." Sapa Aisyah.


"Wa'alaikumsalam," Jawab Rico.


"Hem.. " Aisyah kembali mengulurkan tangan nya dia berniat ingin memberikan sapu tangannya untuk Rico pakai dan bisa mengeringkan keringatnya.


Ingin sekali Aisyah sendiri yang mengusapnya tapi itu belum pantas dia lakukan sekarang, mungkin suatu hari nanti jika Tuhan mengizinkan.


"Bagaimana kalau sampai kotor? Dan berubah warnanya menjadi hitam, itu berwarna putih loh, Syah! " Rico sangat enggan untuk mengambil sapu tangan milik Aisyah itu, sapu tangan yang sangat putih itu bisa menjadi hitam jika sudah tersentuh oleh tangannya.


"Tidak apa-apa, Bang. Hanya sapu tangan saja. Kalau kotor masih bisa di cuci." Kekeuh Aisyah.


"Bener? "


"Iya, Bang." Jawab Aisyah yakin.


"Baiklah, terima kasih," Rico mengambil sapu tangan itu dari tangan Aisyah namun sama sekali tidak menyentuh tanganya. Rico juga tau kalau mereka masih di haramkan untuk saling bersentuhan.


"Bang Rico pasti belum makan siang kan? Ini Aisyah bawain bekal untuk Bang Rico." Aisyah kembali menyodorkan tangan dan sekarang sudah berganti dengan kotak bekal yang berwarna ungu dan tutupnya berwarna putih.


"Kenapa jadi repot-repot, Syah. Abang bisa makan nanti, Syah." ucap Rico.


"Nggak kok, Bang. Nggak repot sama sekali."


"Ya sudah, makasih ya. Kita duduk di sana.. " Tangan Rico menunjukkan tempat yang bersih dan bisa mereka gunakan untuk duduk-duduk.


Sebelum sampai di tempat itu Rico berhenti saat sampai di depan keran air, Rico mencuci tangannya hingga bersih lalu kembali berjalan.


"Duduk sini." Ajak Rico setelah sampai di bangku panjang yang ada dua sana. Untung saja bangku itu ada di luar Resto jadi masih tersisa dan tidak ikut terbakar juga.

__ADS_1


Rico duduk di ujung kanan sementara Aisyah ada di ujung Kiri, keduanya sangat berjauhan meski ada dalam satu tempat.


Pelan-pelan Rico membuka kotak dari Aisyah, kotak bekal yang hanya dari namun ada di bagi dalam dua kotak kecil yang berisi lauk-pauk dan satu persegi panjang yang berisikan nasi putih juga terdapat dua sendok yang ada di atasnya.


"Kamu belum makan?" Tanya Rico.


Aisyah menoleh dengan cepat, "Sudah." Jawabnya.


"Bukankah kamu memang berniat ingin makan bersama dengan ku dalam satu wadah?" Tanya Rico lagi.


Aisyah mengernyit, bagaimana bisa Rico beranggapan seperti itu. Dia sama sekali tidak berniat untuk makan dalam satu wadah dengan Rico.


"Kenapa bang Rico bisa menyimpulkan seperti itu?" Bingung Aisyah.


Tangan Rico terangkat dengan dua sendok yang dia pegang, "Ada dua sendok di sini."


"Tapi Aisyah tidak..."


"Karena tidak mungkin aku memakai dua sendok sekaligus jadi aku mau kamu juga makan."


"Kata orang tua dulu kalau kita makan menggunakan dua sendok sekaligus itu ibarat kita membagi satu hati untuk dia orang. Tapi kalau dua orang berbagi makan di satu wadah itu katanya hubungan mereka akan kekal, dan sama saja dua orang yang menginginkan menjadi satu hati juga satu pemikiran. Apa kamu tidak menginginkan itu? " tanya Rico.


"Itu takhayul, Bang. Jangan percaya yang kayak begituan, nanti ujungnya musyrik loh."


"Kata-kata dari orang tua itu seperti sebuah nasehat, Syah. Bukan berarti kita harus percaya begitu juga. Tidak ada salahnya kan kalau itung-itung kita menghormati nasehat orang tua."


"Tapi, Bang? "


"Aku tau kamu juga lapar, Hem.. " Rico menyodorkan sendok satunya untuk Aisyah sementara yang satunya untuk dirinya sendiri.


"Hemm.. " Aisyah mengangguk kecil sembari tangannya meraih tutup kotak itu, "Aisyah pakai ini saja." Imbuhnya.


Tak bisa berucap lagi Rico hanya menghela nafas dengan pasrah. "Baiklah." Rico mengangkat kotak itu, mengambilkan nasi putih dan lauk-pauknya untuk Aisyah yang dia letakan di atas tutup putih itu.


"Makan yang banyak biar gendut! " Celetuk Rico.


"Sudah, Bang. Nanti bang Rico nggak kenyang!" Protes Aisyah.


"Selama ada kamu di sini aku akan kenyang, Syah, hehehe... " Ucap Rico yang di sambung dengan cengengesan. "Oh iya, kamu sudah nggak puasa lagi kan?"


Aisyah menggeleng, wajahnya menunduk menyembunyikan pipinya yang memerah.


"Kenapa? " Tanya Rico kepo.


"Aisyah..., Aisyah..., Aisyah kedatangan tamu bulanan, Bang." Jawab Aisyah yang benar-benar sangat malu.

__ADS_1


"Apa sakit? Dulu bunda saat datang bulan selalu mengadu kesakitan."


"Tidak."


"Jadi, semua wanita tidak sama ya keluhannya? Syukur deh kalau kamu tidak sakit."


"𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘩𝘧𝘪𝘳𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩..., 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘰 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩. 𝘙𝘪𝘤𝘰..., 𝘙𝘪𝘤𝘰, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶. 𝘗𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘶. 𝘏𝘢𝘥𝘦𝘶𝘩.. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘶-𝘮𝘢𝘭𝘶𝘪𝘯, 𝘙𝘪𝘤𝘰.. " Batin Rico yang memarahi dirinya sendiri karena begitu kepo.


"Yuk makan! " ucap Rico yang mencoba mencairkan kecanggungan yang seketika terjadi.


Dari kejauhan Ari mengepalkan tangannya melihat kedekatan Aisyah juga Rico, hatinya begitu panas melihat Aisyah yang menjadi pilihan Rico dan mencampakkan Felisha putri kesayangannya.


Ari menghela nafas panjang, mengatur emosinya sebelum dia menghampiri Rico. "Aku harus bisa menahan semuanya, ada waktunya sendiri untuk menjauhkan mereka berdua. Sekarang aku harus mengambil hatinya Rico terlebih dahulu." gumamnya.


Ari melangkah dengan cepat dan berhenti setelah sampai di hadapan Rico juga Aisyah. "Assalamu'alaikum..., " Sapa nya.


"Wa'alaikumsalam.. " Jawab mereka dengan kompak.


"Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat, kalau begitu saya pergi saja. Nggak enak mengganggu kalian berdua."


"Tidak kok, Om. Tidak ganggu sama sekali, " jawab Rico. "Ada apa ya, Om? Apa D yang bisa Rico bantu? "


"Bukan aku yang membutuhkan bantuan, Ric. Tapi kamu. Hemm..., sekarang Om harus bantu apa nih? Kamu kan selalu baik dan selalu menjaga Felisha saat Om pergi, nggak enak lah kalau Om diam saja saat kamu ada masalah seperti ini," Ucap Ari.


"Hemm..? Bagaimana kalau Om saja yang kasih kamu modal lagi? Jadi kamu bisa cepat membangun Resto mu lagi, bagaimana?."


Aisyah hanya diam saja, dia hanya berfikir apa mungkin Rico akan menerima tawaran dari ayahnya Felisha? Padahal Aisyah juga sudah menawarkan bantuan kemarin tapi di tolak oleh Rico.


"𝘈𝘱𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘪𝘤𝘰 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢? "


Terima kasih Om, tapi tidak usah Rico masih ada dana untuk mengembalikan Resto seperti semula." jawab Rico begitu sopan.


"Please lah, Rico. Jangan kamu tolak bantuan dari Om, terima ya! "


"Sekali lagi terima kasih Om. Tapi tidak usah. Jika suatu saat Rico butuh biar Rico sendiri yang datang ke tempat Om. " Ucapnya.


"Ya, ya sudah kalau begitu. Om tidak bisa memaksa mu juga."


Belum selesai dengan percakapan Rico dan juga Ari, tempat itu kedatangan satu orang lagi.


"Aisyah... " Panggil nya, siapa lagi kalau bukan Rayyan Sang papa.


"Papa.. "


__

__ADS_1


Bersambung...


________________


__ADS_2