Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
121. Belum Mahram


__ADS_3

Happy Reading...


____


Semua orang berdiri, memandangi kedatangan pengantin baru yang beberapa menit yang lalu telah sah. Tak sedikit yang mengambil ponsel mereka, dan mengabadikan momen kali ini. Di mana Aisyah juga Rico berjalan berdampingan dengan saling bergandengan menuju altar.


Senyum mereka berdua terus berbinar, meskipun mata mereka masih terlihat sembab dan juga masih ada bekas air mata mereka yang tadi tumpah di dalam kamar. Semua menyambut baik dan tentunya penuh kebahagiaan.


Bukan hanya Aisyah juga Rico saja yang terlihat Bahagia, tapi semua keluarga besar mereka. Keduanya di iring untuk duduk di atas altar, menjadi pajangan meskipun waktunya juga tidak akan lama karena waktu yang sudah malam dan juga keadaan Rico yang gak memungkinkan untuk berlama-lama.


Satu persatu semua tamu naik ke altar, mengucapkan selamat pada mereka berdua. Berbagai doa untuk kebaikan keduanya dapatkan dari semuanya bahkan banyak yang mendoakan mereka berdua supaya secepatnya di berikan momongan.


"Selama ya, Syah. Akhirnya kamu bisa menikah dengan kak Rico, selamat ya," Shelvia memeluk Aisyah dengan sangat erat, dia ikut bahagia sekarang.


"Terima kasih Kak," jawab Aisyah yang membalas pelukan pada Shelvia.


Bukan hanya Shelvia, Meyka pun sama dia juga memeluk Aisyah seraya mengucapkan selamat padanya, "selamat yang, Syah. "


"Terima kasih, Mey," Jawab Aisyah.


Ketiga abang Aisyah juga sudah ada di sana, memeluk Rico dan juga tentunya memeluk Aisyah juga, "Selamat ya, Dek. Mulai sekarang jangan nangis-nangis lagi," Ucap Akhsan.


"Dan kamu Ric, tolong jangan bikin Aisyah nangis ya, awas kalau sampai dia nangis gara-gara kamu, " Ancam Akhsan.


"Mana mungkin, Bang. Yang ada Rico pasti akan membuat bakpao kita ini menangis di malam pertama nanti. Kalau Bakpao kita tidak menangis, aku malah jadi meragukan Rico," Celetuk Ikhsan.


"Maksudnya?" Akhsan dan yang lain tentunya akan mengernyit dengan apa yang Ikhsan katakan.


"Astaga, Bang. Kayak situ nggak pernah malam pertama saja. Apa abang nggak membuat Kak Khairi menangis di malam itu?"


"Astaghfirullah.. " Keluh Akhsan.


"Hahaha... " Tawa Ikhsan, "Oh iya, Dek. Nanti kalau nangis jangan keras-keras ya, masih ada yang jomblo di sini," Bisik Ikhsan namun matanya melirik ke arah Faisal.


"Kenapa, Bang?" tanya Faisal bingung.


"Buruan cari pendamping, Sal. Masak kalah sama Aisyah. Awas loh, nanti keburu kehabisan kuota," jawab Ikhsan.


"Apa sih, Bang?! " Sungut Faisal.


"Sudah sudah! Jangan lama-lama di sini. Kasian pengantin barunya tuh, wajahnya sudah merah putih gitu! " Akhsan mendorong Ikhsan yang ada di depannya.


"Bendera kali merah putih.. Hahaha!! " Tawa Ikhsan semakin pecah, namun godaan para abangnya itu berhadapan membuat Aisyah tertunduk malu dengan pipi yang benar-benar sudah merah.

__ADS_1


"Sudah lah, Mas. Jangan menggoda mereka terus," Ucapan Fatma akhirnya membuat Ikhsan langsung kicep begitu saja, bisa bahaya kalau sampai rem nya terus blong.


"Iya sayang, yuk! " Ikhsan langsung merangkul pinggang istrinya itu dengan mesra, "Sayang, sepertinya malam ini kita juga tidak boleh kalah dengan dengan pengantin baru. Meskipun kita sudah lama, tapi malam-malam kita harus seperti malam pertama, semangat! " Serunya.


"Beneran ya kayak malam pertama," Fatma menyeringai. Sepertinya suaminya lupa bagaimana malam pertama mereka dulu setelah menikah. Sama sekali tak ngapa-ngapain dan Fatma tidur juga memunggungi Ikhsan.


"Kenapa kamu seperti itu? "


"Apa Mas lupa bagaimana malam pertama kita?"


"Astaghfirullah..! Nggak deh, nggak! Aku nggak mau seperti malam pertama kita yang adem ayem tanpa ngapa-ngapain. "


"Bodo! " Fatma melaju meninggalkan Ikhsan begitu saja.


"Yang! Astaga.. Beneran adem ayem nih malam ku." Ikhsan pun berlari mengejar Fatma.


Sementara Akhsan juga Khairi hanya bisa menggeleng dengan kelakuan mereka berdua, dunia selalu ramai kalau ad mereka.


"Sekali lagi, selamat ya, Dek." Ucap Khairi pada Aisyah.


"Terima kasih, Kak," Jawab Aisyah.


Akhsan dan Khairi berjalan juga dengan bergandengan, dan hanya tinggal Faisal saja yang di sana sendiri tanpa pasangan, "Selamat ya, Dek. Selamat ya, Ric! Tolong bahagiakan adek ku."


"Pasti, Bang." Jawab Rico.


Acara yang paling di tunggu-tunggu oleh para jomblowan dan jomblowati telah tiba, karena acara kali ini adalah lempar bunga dari kedua mempelai.


"Semua yang jomblo akut silahkan menempati posisi yang sudah di tentukan! " Gurau dari pembawa acara.


"Sudah! " Teriak semua bersamaan.


Semua nampak antusias untuk mendapatkan bunga dari kedua mempelai, namun tidak dengan Meyka juga Aisyah. Mereka berdua memang berdiri di tempat itu namun mereka ada di paling ujung.


"Kak Via nggak ikutan berebut bunga juga?" Tanya Meyka.


"Tidak, lah kamu sendiri? Kenapa tidak ikutan?"


"Tidak," jawab Meyka singkat.


SATU... DUA... TI-GA....


Bunga berhasil di lempar oleh Aisyah juga Rico, para jomblowan dan Jomblowati sudah berteriak dan melompat untuk mendapatkan bunga tersebut. Tapi apalah daya, bunga itu terbang jauh di belakang.

__ADS_1


𝘊𝘦𝘬... π˜‰π˜³π˜Άπ˜¬...


"Akk...!" Teriak Shelvia yang berhasil mendapatkan bunga tersebut, bukan teriak karena berhasil mendapatkan bunga melainkan Shelvia teriak karena dia tergelincir dan akhirnya jatuh.


π˜—π˜­π˜°π˜¬.... π˜—π˜­π˜°π˜¬.... π˜—π˜­π˜°π˜¬....


𝘊π˜ͺ𝘦.. 𝘊π˜ͺ𝘦... 𝘊π˜ͺ𝘦...!!


Shelvia bingung, dia terjatuh tapi kenapa tubuhnya tak kunjung mencium lantai? Shelvia yang barusan menutup mata perlahan membuka mata perlahan.


Dua pasang netra coklat saling bertubrukan di kala Shelvia sudah berhasil membuka mata, pantesan Shelvia tidak terjatuh, itu karena ada tangan kekar yang melingkar di punggungnya.


"K-kak... Iq- Iqbal... " ucap Shelvia.


Ciee ciee ciee...


"Uhuk..., wah wah, nyusul ke pelaminan nih! " Seru Dante.


Ya, ternyata Iqbal juga Dante baru saja datang karena mendapatkan undangan langsung dari Rico. Iqbal yang melihat Shelvia hampir jatuh langsung berlari dan tak membiarkan itu terjadi pada gadisnya.


Detak jantung keduanya terpacu dengan cepat, melodi cinta terus berseru di dalam sana membuat posisi itu berlangsung cukup lama.


"Kalian belum mahram, jangan pegang-pegang itu dosa," David yang bertindak, dia langsung menarik telinga Iqbal dengan cepat.


"Aw.. Aw.., sakit, Om! Nanti telinga ku copot!" Teriak Iqbal yang langsung melepaskan Shelvia dengan pelan.


"Makanya, jaga mata dan jaga tuh tangan! Jangan sembarangan pegang-pegang anak orang! "


"Maaf, Om. Kan Iqbal hanya mau menyelamatkan Calon bini saja. Kan nggak rela kalau tuh punggungnya mencium lantai, kalau mencium Iqbal mah nggak masalah."


"Oh,, beneran mau di copot nih telinganya. "


"Tidak tidak! Iya-iya maaf. " Menyesal Iqbal.


"Jangan ulangi lagi! " Ketus David.


"Nggak, Om. Kalau nggak khilaf."


"Iqbal."


"Hehehe..., iya iya. " Meringis Iqbal.


_____

__ADS_1


Bersambung..


___________


__ADS_2