
Happy Reading....
____
Semua keluarga sudah keluar dari masjid rutinitas seperti biasa sudah selesai di jalankan. Tapi kali ini tidak ada ceramah karena masih dalam suasana yang penuh dengan kebahagiaan, semua santri di berikan libur dua hari dalam urusan yang di wajibkan.
"Mana nih pengantin barunya, nggak ikut berjamaah juga?" tanya Ikhsan penasaran.
"Sudah lah, Dek. Kayak situ belum pernah rasain pengantin baru saja," ujar Akhsan yang seakan membela adik dan adik iparnya.
"Iya pernah lah, Bang," Jawab Ikhsan dengan malas.
"Abi, om Ikhsan kok bawel sih?" tanya anak kecil berusia tiga tahun lebih beberapa bulan itu pada Akhsan. Dia adalah Alvaro yang kini ada di gendongan sang Abi, "Oh iya, Abi? pengantin baru itu apa sih? kok Alvaro tidak tahu?! " tanyanya lagi dengan suara kecilnya yang sudah jelas, ya meski usianya masih kecil sih.
"Om bukannya bawel, Alvaro. Tapi aktif bicara, " jawab Ikhsan tak terima jika di bilang bawel oleh Alvaro.
"Bawel itu apa, Om?" tanyanya penasaran.
"Bawel itu banyak bicara, Alvaro sayang. Ihh.., gemes deh," Ikhsan mencubit pipi gembul Alvaro karena sangat gemas, tapi anak itu hanya memalingkan wajah cepat.
"Berarti sama aja dong, Om. Bawel sama aktif bicara! Kan sama-sama cerewet!" Pinter juga ternyata nih anak. Dia bertanya karena dia ingin menjebak Ikhsan dan dia berhasil.
"Wah, anak mu benar-benar nggak ada bedanya sama kamu, Bang. Sama-sama nyebelin,"
Akhsan hanya terkekeh mendengar keluhan dari Ikhsan. Alhamdulillah kan kalau Alvaro pinter sama seperti dirinya, kalau bawel seperti Ikhsan bisa bahaya kan.
__
Meyka juga Shelvia sudah bersiap-siap untuk ke kampus pagi ini, mereka sudah rapi bahkan tas juga sudah mereka bawa.
Semua yang tengah sarapan seketika menoleh melihat keduanya dengan mengernyit. Pasalnya mereka berdua bilang kalau hati ini tidak ada kelas tapi kenapa mereka berangkat? apa ada pengumuman mendadak.
__ADS_1
"Loh! kalian mau berangkat ke kampus? katanya tidak ada kelas," tanya Keisha.
"Kemarin sih gitu, Tan. Tapi tadi ada pengumuman mendadak dan harus berangkat ke kampus pagi-pagi," jawab Shelvia mewakili.
"Oh begitu, ya sudah! sini sarapan dulu," ajak Keisha.
"Maaf, Tan. Tapi kami buru-buru, kami akan sarapan di kantin saja," kali ini yang menjawab Meyka.
Bukan hanya mereka berdua saja yang menjadi pusat perhatian, tapi sang pengantin baru juga langsung menjadi pusat perhatian karena baru keluar dari kamar.
"Assalamu'alaikum," sapa Aisyah.
"Wa'alaikumsalam," jawab semuanya serentak, begitu juga dengan kedua gadis yang sedang buru-buru. Meyka juga Shelvia langsung menoleh ke arah keduanya, sepertinya akan sedikit asyik jika ada keusilan di pagi hari.
"Wih.. wih..., pengantin baru lagi nongol nih? pasti kesiangan ya karena habis begadang main bola," celetuk Shelvia.
Semua orang menoleh ke arah Shelvia, termasuk Rayyan juga yang langsung menghentikan sarapan. Meringis deh Shelvia, niatnya mau mengejek mereka berdua kenapa sekarang dia seperti orang yang ingin di hakimi?
"Hehehe.. , kalau begitu Shelvia berangkat ke kampus dulu ya, Assalamu'alaikum..," tanpa menyalami semuanya Shelvia langsung menarik tangan Meyka. Dia harus cepat-cepat pergi sebelum Rayyan mengintimidasinya.
Shelvia lari terbirit-birit dengan terus menarik Meyka dia sangat menyesal karena mengatakan itu tadi, tapi niatnya kan tidak seperti itu? tapi dia tak menyangka kalau ekspresi semuanya akan seperti itu. Padahal semua yang di katakan juga benar.
Setelah kepergian Shelvia juga Meyka semua orang malah jadi menertawakannya, begitu juga dengan Rayyan yang akhirnya bisa tersenyum juga setelah sekian lama.
Bahkan semua yang melihat merasa terpana melihat senyum yang begitu lepas seperti sekarang itu. Entah sejak kapan Rayyan tersenyum lepas seperti sekarang ini. Bahkan semuanya sampai lupa.
Kini semuanya beralih memandangi Rayyan yang terus tersenyum. Terpana lah semuanya melihat keajaiban ini.
"Kenapa? apa ada yang aneh? apa aku makannya belepotan?" tanya Rayyan yang sangat bingung.
"Opa, Opa tampan sekali kalau tersenyum! sama seperti Alvaro," ucapan Alvaro.
__ADS_1
"Benarkah?" Rayyan mengernyit. Benarkah yang di katakan oleh cucunya itu. Bukannya Alvaro kemarin juga melihatnya saat terus tersenyum, kenapa batu kali ini dia memujinya?.
"Iya, Opa. Opa tampan sekali," jawabnya lagi.
Rayyan tersenyum, mungkin kali ini memang berbeda karena dia tersenyum begitu lepas dan pasti dari dalam hatinya. Bukan seperti kemarin yang tersenyum karena ada rasa was-was.
"Hem..., bagaimana keadaanmu sekarang, Ric? apa kamu baik-baik saja?" tanya Rayyan. Ya meski Rico diam tak menjelaskan tapi terlihat jelas kalau dia tengah mengalami luka. Entah seberapa parah yang ada di sekujur tubuhnya, karena yang terlihat di luar saja begitu banyak.
"Rico, tidak apa-apa, Om. Eh.. Papa maksud Rico," Jawab Rico.
"Syukurlah. Oh iya, apa kamu mengenalinya orang-orang itu? apakah mereka benar-benar para musuh?" tanya Rayyan yang sangat penasaran.
"Rico tidak mengenalnya dengan pasti, Pa. Tapi mereka dari kelompok Ateez."
"Ateez? kenapa belum pernah dengar nama itu? sebenarnya siapa mereka?" Rayyan semakin bingung karena dia benar-benar belum pernah mendengar nama itu.
"Rico juga tidak tau pasti, Pa,"
Meskipun pikiran mereka semua terus berkelana masing-masing, namun mereka tetap meneruskan sarapan mereka. Kediaman mulut mereka ternyata tidak diam di dalam hati mereka juga.
"𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪, " 𝘉𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘙𝘢𝘺𝘺𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱.
Kini pandangan Rayyan tertuju pada Aisyah juga Rico. Meskipun mereka tak mengatakan tapi terlihat jelas kebahagiaan mereka.
"𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘣𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩-𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘵 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘩 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘪𝘴𝘢𝘩. "
Harap Rayyan.
__
Bersambung
__ADS_1
"""""