
_____
Happy Reading...
___________________
Faisal dan Aisyah duduk dalam satu bangku namun di dua ujung yang berjauhan, mereka berdua terlihat canggung dan malu-malu, sementara kedua teman Aira kini tengah meninggalkan dirinya.
Sesekali keduanya melirik sudah lama juga mereka tidak saling bertemu dan menyapa, Faisal yang pergi menimba ilmu di Negeri orang, dan Aira ikut dengan Kakaknya Fatma dan kakak iparnya Ikhsan setelah dua tahun kepergian Faisal.
Setelah Faisal pulang Aira juga belum pernah berkunjung di pesantren lagi jadi mereka tidak saling bertemu.
"Bagaimana kabar mu? " Tanya Faisal melirik sekejap ke arah Aira yang duduk sangat jauh darinya.
"Aira baik, bagaimana dengan Kak Faisal, baik juga kan? " tanyanya dengan pelan dan terkesan malu-malu.
"Alhamdulillah, selalu dalam perlindungan-Nya." jawab Faisal.
"Alhamdulillah." Jawab Aira juga.
"Bagaimana dengan Bang Ikhsan dan kakak ipar, kapan mereka akan pulang? " tanya nya.
"Katanya, kurang lebih satu bulan lagi mereka akan pulang. " jawab Aira.
"Hem... kapan kamu akan bermain ke pesantren lagi? Apa kamu tidak merindukan papa dan mama? Mereka selalu bertanya tentang kamu dan selalu merindukan mu. "
"InsyaAllah Kak, aku pasti akan bermain lagi ke sana. Aira juga sangat merindukan mereka. " Jawab Aira.
Keisha dan juga Rayyan sudah seperti orang tua bagi Aira, bahkan perlakuan mereka ke Aira juga sama seperti mereka memperlakukan pada anaknya sendiri jadi bagaimana mungkin Aira tidak akan merindukannya.
"Mereka pasti akan senang kalau kamu datang." sebenarnya bukan hanya Rayyan dan Keisha yang akan senang dengan kedatangan Aira, tapi Faisal lah yang akan lebih bahagia apalagi kalau Aira mau kembali menetap di sana.
"I- iya Kak, akan Aira usahain. " Jawab Aira.
Dari kejauhan Aisyah terdiam menatap mereka berdua, Aisyah yang berjalan beriringan dengan Rico terpaksa menghentikan langkah nya. "Oh.. jadi bang Faisal toh yang memang mau ke sini, pakai acara cari alesan saja. " gumam Aisyah .
"Aisyah Rahma Saputri! Ini sudah malam cepat pulang kalau tidak aku akan membawa mu pulang ke rumah ku! " ancam Rico.
"Apa sih, Bang! Aisyah hanya memastikan itu bang Faisal atau bukan. " jawab Aisyah.
"Itu memang Bang Faisal, apa kamu mau pulang dengannya? "
__ADS_1
"Tidak ah! Aisyah lagi malas dengan bang Faisal. " Aisyah kembali berjalan pergi bersama Rico.
Sebenarnya Aisyah ingin pulang dengan taksi atau ojol namun Rico bersikeras akan mengantarkannya dan Aisyah tak bisa menolak begitu saja. Kali ini Rico pergi dengan mobil bututnya jadi mereka tidak akan saling berdempetan seperti di atas motor.
_____
Aisyah terus tersenyum melihat cincin bunga pemberian dari Rico, dia begitu bahagia kali ini seenggaknya dia bisa tau yang sebenarnya isi hati Rico padanya.
Aisyah duduk pelan di kasur meletakkan tas selempang nya di sebelahnya namun matanya tak pernah lepas dari cincin itu. Tak pernah Aisyah mengira akan secepat ini dia mengetahui isi hati ati seorang Rico, dan tak percaya juga bahwa dirinya langsung menjawabnya dengan kata persetujuan menerima awal komitmen yang Rico ungkapkan padanya.
"Benarkah aku telah menerima bang Rico? " gumam Aisyah, pipinya langsung merah padan saat mengingat kata-kata yang keluar dari bibirnya sendiri tadi.
Aisyah begitu malu dengan dirinya sendiri, bagaimana dia begitu cepat menerimanya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu, sihir apa yang dia dapatkan tadi.
"Apakah aku sudah gila? Akkk... " Aisyah menghempaskan tubuhnya di atas kasur menarik bantal dan dia gunakan untuk menutupi wajahnya yang begitu merona meskipun dia hanya seorang diri di sana.
"Ya Allah Aisyah, sepertinya kamu benar-benar telah gila sekarang, akk... " Lagi-lagi aidu hanya bisa berteriak, dan terus tersenyum tiada henti.
𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬...
Pintu di ketuk sontak Aisyah langsung gelagapan, dia duduk kembali menaruh bantal namun di sembarang arah.
Aisyah beranjak, kakinya mulai melangkah mendekati pintu tangannya langsung meraih handle pintu dan membukanya. Wajah Aisyah langsung malas melihat siapa yang datang.
"Apalagi sih, Bang! " tanya Aisyah judes.
Aisyah berjalan masuk di ikuti Faisal yang juga ikutan masuk. "Kamu pulang dengan siapa, Dek? " tanya Faisal.
Faisal terus berputar-putar di pasar malam tadinya mencari Aisyah yang sama sekali tak dapat dia ketemukan. Ponsel Aisyah pun tak bisa di hubungi membuat Faisal semakin kebingungan, dan karena sudah sangat malam dia putuskan untuk pulang dan ternyata Aisyah sudah terlebih dahulu pulang dan meninggalkan nya.
"Apa urusan Bang Faisal? " Aisyah semakin sewot, dia sudah duduk di sofa.
Faisal pun menyusulnya, duduk di samping Aisyah yang terus berwajah jutek padanya. Faisal sadar dia salah makanya dia datang ke kamar Aisyah untuk memastikan kepulangan Aisyah dan minta maaf padanya.
"Kamu berangkat sama abang, Shah! Jadi bagaimana mungkin Abang akan tenang sebelum melihat kamu benar-benar pulang dengan selamat. " jawab Faisal.
"Aku sudah besar, Bang. Aku bisa jaga diri sendiri. "
"Kamu memang sudah besar, tapi kamu tetap tanggung jawab Bang Faisal karena kamu pergi dengan Abang. " jawab Faisal.
"Iya iya, sekarang udah puas kan udah lihat Aisyah pulang dengan selamat. " Aisyah masih saja acuh dengan Faisal, sepertinya dia begitu kesal dengannya.
__ADS_1
"Dek, abang mau minta maaf, abang tidak bermaksud untuk mencampuri urusanmu. "
"Abang tidak mau mencampuri urusan ku tapi bang Faisal tetap bertanya selayaknya reporter apa itu tidak termasuk mengurusi urusan ku? " jawab Aisyah.
"Dek, bang Faisal tidak bermaksud seperti itu, Dek. " Faisal berusaha sabar menghadapi Aisyah, dia terus berkata dengan lembut meskipun Aisyah bersuara sedikit keras.
Faisal tau benar adiknya ini begitu gampang marah, apalagi kalau ada yang ikut campur dengan urusannya. Sebenarnya Aisyah marah pun juga tanpa adanya alasan yang jelas, kalau tidak ada yang memancingnya dia juga tidak akan marah.
Tapi hari-hari ini ada-ada saja masalah yang sepertinya menguras emosi dari Aisyah sehingga sering mengalahkan sifat lemah lembutnya.
Aisyah memalingkan wajahnya kesal, dia juga menghindar dari Faisal. Faisal beralih duduk menghadap Aisyah menatapnya dengan intens wajah kesal adiknya itu.
"Bang Faisal minta maaf, Bang Faisal janji tidak akan ikut campur lagi. " ucap Faisal.
Aisyah masih acuh tak menjawab, hatinya begitu terbawa dalam kendali buruk.
"Dek, please. " Faisal terus memohon pada Aisyah, dia tidak akan tenang kalau Aisyah belum bisa memaafkan nya.
"Dek.. "
"Hemm.. Iya iya! Aisyah maafin. " Jawab Aisyah dengan menarik senyum dengan terpaksa, " Oh iya bang, tadi aku lihat Bang Faisal bertemu dengan Kak Aira, atau jangan-jangan Bang Faisal mengajakku keluar karena memang mau bertemu dengan Kak Aira? " tebak Aisyah.
"Hem.. eng-enggak! Siapa berniat menemuinya, Bang Faisal tidak sengaja saja bertemu dengannya. " Jawab Faisal dengan gelagapan.
"Cie cie... Ketemu dengan bidadari hatinya nih, ciee.. " goda Aisyah dengan menekuk dan meluruskan lagi jari telunjuknya di sebelah wajah Faisal yang terlihat menghindar.
"Sudah sana istirahat, ini sudah malam bang Faisal juga mau istirahat. " Faisal beranjak berjalan keluar meninggalkan Aisyah, dia berusaha kabur dari godaan Aisyah yang akan membuat nya mati kutu nantinya.
Sifat jail nya kalau udah mulai kumat harus segera di hindari kalau tidak akan semakin tumbuh subur dan mengerikan.
"Hahaha..., kenapa bang Faisal pergi! Aisyah belum selesai bicara! " teriak Aisyah namun sudah tidak di hiraukan lagi oleh Faisal.
Aisyah menggeleng, dia geli sendiri melihat Faisal yang malu-malu meong saat dua menggodanya. Namun kebahagiaan Aisyah itu tak berlangsung lama, dia teringat lagi, kalau Faisal menemukan Aira dan hubungan mereka akan segera ke pelaminan terus bagaimana dengan nasibnya? Dia tidak mau di paksa dengan perjodohannya lagi, dia sudah sepakat dan setuju untuk berkomitmen dengan Rico bukan dengan Farel.
"Sial." gerutunya.
_____
Bersambung...
_________________
__ADS_1