
Happy Reading...
________
POV Rico...
Di sinilah Rico sekarang, di sebuah pondok pesantren di desa terpencil yang sangat jauh akan keramaian kota dan segala aktivitasnya. Sudah dua hari Rico mengasingkan diri dari semua orang yang sangat dia sayang.
Hatinya yang kacau tak akan bisa dia sembuhkan hanya dengan diam dan meratapi nasib di daerahnya sendiri, dia harus benar-benar bisa menjauh dan belajar untuk lebih ikhlas untuk menerima semua yang telah menjadi Ketentuan-Nya.
Hanya dalam dua hari Rico sudah lebih ikhlas dan bisa menata hatinya dengan benar semua ini tidak akan dia dapatkan jika dirinya hanya berdiam diri. Bukan hanya bisa ikhlas saja yang Rico dapatkan tapi dia juga mendapatkan pelajaran yang selama ini ingin dipelajari.
Malam ini adalah malam terakhir Rico ada di sana dan besok pagi dia harus kembali untuk memperjuangkan sesuatu yang mungkin masih bisa dia perjuangkan dan itu adalah yang terakhir kali.
Di keheningan malam di bawah sinar rembulan Rico duduk seorang diri duka dari gadisnya akan selalu menjadi dukanya juga meskipun dalam jarak yang sama sekali tidak dekat.
Setetes kristal berhasil lolos tanpa diinginkan oleh Rico, melihat gadisnya yang mengurung diri karena kepergiannya yang tak ada alasan itu sungguh menyayat hatinya di malam sunyi ini.
Bukan hanya dari Aisyah saja Rico tidak pamit dan memberikan alasan akan kepergiannya melainkan dari semua orang, bahkan pada kedua orang tuanya saja Rico hanya pamit kalau dia hanya akan pergi mengurus pekerjaannya dan tidak menjelaskan di mana tempatnya.
"Maafkan bang Rico, Syah. Bukan maksud abang untuk pergi meninggalkanmu, abang hanya ingin menenangkan hati, memantapkan nya yang sempat ragu."
Gumam Rico, wajahnya terus mendongak menatap langit yang di penuhi bintang-bintang dan juga bulan yang hampir bulat sempurna. Lebih tepatnya Rico berusaha untuk menahan air matanya supaya tidak terus meluncur bebas sesuka hatinya.
"Kenapa jalan kita begitu berat, Syah. Apa sebenarnya kesalahan kita?"
Sebuah tangan menyentuh baju Rico, membuatnya langsung menoleh melihat siapa yang datang.
"Pak kyai.. "
Laki-laki yang penuh wibawa yang di panggil pak Kyai oleh Rico itu tersenyum kecil, melepaskan tangannya lalu duduk di sebelah Rico.
Pak Kyai menatap Rico sejenak, dia lihat jelas bahwa begitu banyak yang masalah yang ada di pikiran Rico. Tak Rico ketahui kalau ternyata Pak Kyai juga sama seperti dirinya, seseorang yang memiliki kelebihan yang tak semua orang miliki.
Pikiran Rico pastilah dengan mudah bisa di ketahui oleh Pak Kyai, apalagi ilmunya lebih tinggi daripada Rico, pastilah Pak Kyai lebih bisa memanfaatkannya dengan baik dan benar.
Pak kyai beralih memandang jauh ke depan, menghela nafas panjang sebelum doa memberikan petuah untuk Rico yang kini tengah gelisah.
"Kadang-kadang kita merasa Allah itu tidak adil dengan kita, semua yang kita inginkan selalu berbanding terbalik dengan semua yang menjadi ketentuannya. Tapi yakinlah Nak, Allah akan selalu memberikan yang terbaik," ujar Pak Kyai.
__ADS_1
Rico hanya bisa tersenyum kecil menanggapi ucapan dari Pak Kyai, mungkin yang di katakan adalah benar dan dia juga harus terus belajar untuk bisa ikhlas menerimanya.
"Allah itu maha baik, apapun yang kau alami, itu pasti yang terbaik. Mungkin sekarang kamu merasa semuanya melelahkan, tapi yakinlah pada saatnya nanti, kamu akan berkata 'ternyata ini alasan Allah memberikan cobaan'. Kamu harus bisa ikhlas, karena itu adalah hal yang seharusnya kamu lakukan sekarang,"
"Iya, Pak Kyai, " jawab Rico dengan wajah yang tertunduk.
"Apa yang kamu perjuangkan hari ini, tidak luput dari Qodarullah. Prosesnya lah yang mengajarkan banyak hal, sementara hasilnya sudah di tetapkan oleh yang Maha Pengatur, "
"Pak Kyai... " Rico melirik ke arah pak Kyai, dia bingung dengan semua yang di katakan oleh Pak Kyai, seolah dia mengetahui semua yang di alami olehnya.
Pak Kyai menoleh juga ke arahnya sehingga pandangan mereka langsung bertemu, Pak Kyai tersenyum melihat Rico yang berwajah bingung, "perjuangkan lah jika masih bisa di perjuangkan, jika sudah tidak bisa di perjuangkan maka lepaskan dengan hati yang ikhlas. Jika bukan dia berarti ada yang lebih baik yang sudah Allah sediakan untuk mu, Nak,"
"Pak Kyai, tau? " Rico mengernyit.
Pak Kyai hanya mengangguk keduanya saling memiliki kelebihan namun mereka tidak mengetahui dengan apa yang di miliki dari iri yang ada di hadapan mereka.
"Jika besok kamu pulang, jangan pernah lupakan tempat ini. Anak-anak sangat senang dengan kedatangan mu. Dan, ya! Tolong sampaikan salam ku dengan gadis yang beruntung itu, jika kalian sudah bersama ajaklah dia ke sini, kenalkan pada ku."
"I- iya Pak Kyai," jawab Rico gugup.
"Dan, ya! Sampaikan salam ku juga untuk Ustadz Rayyan, katakan padanya kalau Ahmad ingin bertemu padanya," ucapnya.
"Apa? Pak Kyai mengenal Om Rayyan? " tanya Rico.
Kyai Ahmad menepuk bahu Rico, dia hampir saja tertawa jika mengingat kenakalan mereka berdua dulu. Namun Kyai Ahmad tidak mengira kalau Rayyan akan menjadi seperti sekarang ini, orang yang sangat keras dan juga Egois. Padahal Kyai Ahmad tau kalau Rayyan sangat baik dan juga berhati lembut, hanya saat muda saha dia sedikit dingin namun setelah menikah kedinginan itu telah berubah.
"Beliau adalah teman masa kecil," jawab Kyai Ahmad.
Tak menyangka kalau Rico akan bertemu dengan teman masa kecil dari Rayyan, dunia rasanya sungguh sempit hingga Rico bertemu dengan orang yang juga dekat dengan keluarga Aisyah.
"Oh.. " Rico mengangguk, nnamun dia masih tetap penasaran. Kalau Kyai Ahmad teman masa kecil Rayyan kenapa sekarang dia berada di tempat yang begitu jauh hingga di pelosok seperti ini.
"Tidak usah bingung, suatu saat kamu pasti akan tau," Ucapan Kyai Ahmad membuat Rico tersenyum malu, "sekarang istirahatlah, dan jemput kebahagiaanmu besok. Jangan sampai kamu terlambat."
"Iya, Pak Kyai, " Rico mengangguk, sebelum pergi Rico memberikan salam takzim terlebih dahulu pada Kyai Ahmad, dia pejamkan matanya di saat dia menunduk.
Seperti sebuah kaset semua masa-masa yang ingin Rico ketahui langsung berputar di otaknya. Rico bisa mengetahui sebenarnya Kyai Ahmad siapa orang tuanya, kakek-neneknya, dan akhirnya Rico bisa tau saat itu juga.
"Nak, kamu tidak tertidur di sini kan?" Kyai Ahmad bingung karena Rico begitu lama menunduk dan masih menyalami tangannya, "nak."
__ADS_1
"I- iya!" Rico gelagapan saat Kyai Ahmad memanggilnya.
"Tidurlah..., kalau kamu kesiangan maka gadismu akan segera naik ke pelaminan dengan orang lain,"gurau Kyai Ahmad.
" Iya, pak Kyai. Assalamu'alaikum," Rico beranjak dan segera pergi ke kamarnya selama dia ada di sana.
Kyai Ahmad terus memandangi punggung Rico, tak dia sangka juga dia kedatangan pemuda yang tengah berjuang untuk mendapatkan anak ari teman masa kecilnya dulu.
"Ray, kenapa kamu menjadi seperti ini. Kasian Abi jika kamu lama-lama seperti ini," gumam Kyai Ahmad yang juga memanggil Fahmi dengan panggilan Abi juga.
__
Setelah pamit dengan para penghuni pondok pesantren Kyai Ahmad, Rico langsung oergo dengan mengendarai motornya untuk kembali menuju kota.
Ketenangan benar-benar sudah dia dapatkan sekarang, dia lebih bisa ikhlas untuk menerima semua kenyataan terburuk pun yang mungkin akan dia dapatkan.
"Aku akan datang, Syah. Aku datang," Hatinya sudah mantap untuk kembali berjuang untuk gadisnya, soal hasil biarkanlah Allah yang menentukan.
Kepergian Rico juga tidak hanya untuk ilmunya saja melainkan dia juga tetap mewujudkan keinginan Rayyan. Rico rela melakukan segalanya demi berlian yang di anggap oleh Rayyan, yaitu Aisyah. Dan Rico akan berjuang untuk mendapatkan berlian itu, dia tidak peduli meskipun dia hanya di anggap bagi kerikil hitam yang tak berguna.
Meskipun dengan menjual bengkel satu-satunya yang di miliki, Rico rela bahkan Rico juga menjual rumahnya yang beberapa lalu sudah dia gadaikan.
Sebelum benar-benar kembali Rico harus mengambil surat-surat juga kunci rumah yang berhasil dia beli, ya meskipun rumah itu tidak begitu besar namun sudah bisa dia sebut dengan rumah yang layak untuk membawa Aisyah pulang dan menjadi nyonya di rumah itu.
Sebuah rumah mewah sudah ada di depan mata, namun itu bukanlah rumah yang di belum oleh Rico melainkan rumah dari pemilik rumah yang dia beli.
"Alhamdulillah.. " Rico turun, bergegas untuk segera masuk ke rumah itu dan segera datang ke rumah Aisyah untuk menyampaikan kabar bahagia ini bahwa dia telah berhasil.
𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬...
"Assalamu'alaikum.. " Seru Rico sembari tangan mengetuk pintu rumah mewah tersebut.
Tak lama pintu terbuka lebar, terlihat wajah seorang perempuan yang menggendong anak kecil yang kiranya baru berumur tiga tahun.
Perempuan itu terdiam, memandangi Rico penuh tanda tanya, "Rico! Kamu Rico kan?! " Pekik perempuan muda itu.
__
Bersambung...
__ADS_1
__________