Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
66.Tak asyik


__ADS_3

__


Happy Reading...


__________________


Ketiga gadis berjalan bersamaan di Koridor kampus. Pakaian mereka hampir sama, semua memakai gamis dan warnanya juga hampir sama hanya modelnya saja yang berbeda.


Meyka mengernyit, melihat kedua sepupunya yang sama sekali tak semangat dan jangan lupakan mata mereka berdua.


Lingkaran hitam begitu terlihat dengan jelas di pinggir mata Shelvia dan juga Aisyah, semalam mereka tak tidur karena terus bergurau, hingga akhirnya mereka tidur saat hampir jam dua dini hari, dan mereka berdua bangun setelah jam tiganya, satu jam mereka tidur.


"Astaga, kenapa dengan mata kalian berdua? " Tanya Meyka bingung, melihat mata kedua sepupunya.


"Emang kenapa dengan mata kami? " Shelvia balik tanya.


"Iya, kayaknya baik-baik saja. " Imbuh Aisyah.


"Kalian nggak tidur? " Meyka kembali bertanya.


"Dasar cerewet. " Seru keduanya langsung melaju meninggalkan Meyka.


"Ehh..., kok di tinggal! " Meyka berlari mengejar keduanya yang berjalan dengan cepat dan saling berangkulan.


Dari jauh sepasang mata menatap mereka dengan tersenyum tipis, namun bukan mereka semua yang menjadi pusat perhatiannya, melainkan Aisyah seorang. Dia adalah Rico, ya, siapa lagi kalau bukan dirinya.


Rico senang bisa melihat senyum Aisyah, sesuai dengan kata-katanya dia akan reset saat gadisnya itu tersenyum, namun juga sebaliknya jika gadisnya menangis dan mengeluarkan air mata makan dia akan sama seperti itu juga.


"Tetaplah bahagia seperti ini, Syah. Senyummu lebih berarti. Hidupmu tak pantas hanya di hiasi dengan air mata terus. Tersenyumlah, dan buatlah hidupmu menjadi berarti. " Gumam Rico.


Rico ingin menghampiri mereka, meskipun untuk sekedar menyapa saja tak lebih.


"Assalamualaikum." Sapa Rico tepat di hadapan mereka bertiga.


Ketiganya menghentikan langkahnya, Shelvia tersenyum melihat Rico yang sudah ada di sana lalu menoleh ke arah Aisyah yang terkejut dengan kedatangan Rico.


"Tuh kenapa dengan mata kalian? " Tanya Rico.


Shelvia menatap Rico dengan begitu intens.


"Itu kenapa juga dengan mata kak Rico? " Tanya balik Shelvia yang ternyata mata Rico pun sama.


"I- ini..,, ini tidak kenapa-napa, emangnya kenapa? " Tanya balik Rico dan menjawab dengan gelagapan.


"Kak Rico nggak bisa tidur juga?" Tebak Shelvia.


"Semalam aku lembur jadi nggak sempat untuk tidur. "

__ADS_1


"Ohh lembur. " Jawab Shelvia pelan sembari menganggukkan kepalanya. "Lembur apa, Kak! Mikirin dia ya? " Jari telunjuk Shelvia mengarah ke arah Aisyah.


Aisyah menganga, mulut Shelvia kenapa sangat ember sekali sih? Membuat Aisyah menggerutu kesal. "Apa sih Kak! Bang Rico mungkin benar-benar lembur karena pekerjaan, emangnya kita! " Sungutnya.


"Cie... Cie., ada yang nggak ikhlas nih. " Goda Shelvia.


"Apa sih, Kak! "


Shelvia terus mengatakan kata-kata untuk menggoda Aisyah dan juga Rico, dia ingt melihat senyum malu-malu dari mereka berdua, tapi ternyata juga gak dia dapatkan karena Aisyah malah cemberut kesal sedangkan Rutin hanya biasa-biasa saja dan berwajah datar saja.


"Udah ah! Kalian tidak asikk! " Shelvia menarik lengan Meyka dan membawanya pergi menjauh dari Aisyah dan juga Rico.


"Ehh..., jangan tarik-tarik dong! " Protes Meyka namun Shelvia tetap acuh tak perduli.


"Ehh..., kalian mau kemana? " Tanya Aisyah sedikit berteriak.


"Terserah kita lah! Yang penting kita tidak pergi ke surga, karena itu belum saatnya." Shelvia menoleh sekejap melirik kecil lalu kembali berjalan pergi.


Sepertinya Shelvia memang sengaja melakukan itu dan membuat Aisyah dab Rico berdua bersama tampa ada yang mengganggu.


"Jangan sering-sering begadang, menghibur diri tidak masalah tapi tetap, jangan abaikan kesehatan mu. " Ucap Rico.


"Aku..., aku tidak begadang kok, Bang! "


"Kamu tak akan pernah bisa membohongiku, Syah. Meskipun tak yang mengatakannya aku akan tetap mengetahuinya. Jadi jangan coba-coba kamu berbohong. "


" Bukan. "


"Terus? "


"Bukan apa-apa."


Keduanya berjalan bersebelahan tanpa ada rasa canggung atau malu, tempat itu sangat ramai berarti tak masalah kan?.


"Syah." Panggil Rico dan Aisyah menoleh namun tetap berjalan. "Apakah masih ada keraguan di hati kamu, tentang hubungan kita?"


"Maksudnya? "


"Aku tau kamu bingung, dan aku setuju dengan yang di katakan Shelvia. Kita serahkan saja semua pada Sang Pencipta. Allah lah yang bisa membantu kita. " Ucap Rico.


Aisyah terhenyak, darimana Rico bisa tau akan kata-kata dari Shelvia? Kemarin hanya ada dua dan juga Shelvia saja di sana dan tak ada siapapun bahkan nyamuk pun sepertinya tak ada di sana.


"Bang Rico. "


"Tetaplah semangat ,Syah. Hidup, mati, rizki, jodoh, maut, semua ada dua Tangan-Nya kita serahkan saja semuanya. Aku yakin semua akan berjalan dengan benar dan akan sesuai ketentuannya. " Ucap Rico.


Kenapa Rico menjadi seperti ini? pa dia sudah terlalu lelah untuk berjuang, apakah Rico sudah tak kuat lagi menanggung semua hinaan yang selalu terlontar dari Rayyan, dan mungkinkah Rico akan melepaskan Aisyah? Akankah Rico merelakan Aisyah begitu saja?.

__ADS_1


"Apakah bang Rico menyerah? "


"Tidak, aku tidak akan menyerah. Siapa bilang menyerahkan semuanya pada Sang Pencipta di anggap menyerah? Meskipun kita menyerahkan semuanya, bukan berarti kita berhenti untuk berjuang. Perjuangan kita tak akan mudah, di samping berusaha kita juga harus minta tolong Pada-Nya, Kan? " Jawab Rico.


Aisyah percaya, hubungan mereka tidak akan mudah untuk di lanjutkan. Semuanya membutuhkan perjuangan keras untuk bisa mewujudkan nya.


"Bang Rico benar. " Jawab Aisyah.


"Oh, iya. Bagaimana kabar Nyonya Tasya, dia baik-baik saja kan? " Tanya Rico mengalihkan pembicaraan.


"Oma baik-baik saja. Oh iya, Oma mengirim pesan untuk bang Rico, katanya dia ingin sekali bisa bertemu dengan Bang Rico. Tapi dia sedih karena dia tak akan mungkin bisa, bang Rico tau sendiri kan? Papa tak akan mungkin mengizinkan itu. " Ucap Aisyah.


"Bilang sama Nyonya Tasya, aku juga ingin sekali bisa menemuinya. Ada hal yang ingin sekali aku katakan padanya. Sebenarnya sudah lama sih aku ingin mengatakannya, tapi tak ada kesempatan. "


"Emang bang Rico mau bicara apa? "


"Bukan apa-apa, bukan masalah besar juga. " Ucapnya seraya tersenyum untuk menyembunyikan sesuatu yang ingin dia katakan pada Tasya.


"Oh.., padahal Aisyah pikir Aisyah bisa mengetahuinya dan bisa membantu bang Rico untuk mengatakannya. Tapi ya sudah lah, mungkin itu sebuah rahasia antara bang Rico dan juga oma. " Pasrah Aisyah.


"Bukan rahasia, Syah. Hanya saja? "


"Hem? "


"Bilang saja pada Oma mu, bahwa semuanya akan baik-baik saja, jangan terlalu menghawatirkan hal yang tidak penting. Semuanya pasti akan berakhir dengan baik. " Jawab Rico.


"Hanya itu? "


"Iya, hanya itu saja. Semoga kamu mau mengatakannya pada oma mu. Sepertinya Beliau terlalu memikirkan sesuatu yang tidak penting sekarang, jangan sampai semua itu mempengaruhi kesehatannya. " Ucapnya lagi.


"Baik lah, Aku akan katakan pada Oma. Aisyah pergi dulu, Bang. Assalamu'alaikum... " Pamit Aisyah.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Rico.


Rico terus memandangi punggung Aisyah yang semakin jauh, ingin sekali dia memeluk tubuh kecil itu dan selalu ada dan menguatkan hatinya saat dia sedang sedih.


"Semua akan baik-baik saja, Syah. Aku akan selalu pastikan itu semua. " Gumamnya.


"Saya tau semuanya akan baik-baik saja, karena aku tidak akan pernah meninggalkan mereka semua. Dan aku akan selalu ada untuk mereka. "


Rico menoleh menatap seseorang yang datang. "Anda lagi. " Ucap Rico malas.


____


Bersambung...


________________

__ADS_1


__ADS_2