
________ _________
Happy Reading
__________________________________
Aisyah berjalan dengan ragu masuk ke rumahnya dengan langkah yang sangat pelan. Tak lupa Aisyah juga mengucapkan salam saat masuk ke sana.
" Assalamu'alaikum " ucapnya.
Baru saja masuk Aisyah langsung di buat terkejut dengan tatapan mata yang membunuh dari Rayyan. Ya, Rayyan tengah menunggu Aisyah pulang dan duduk di ruang tengah bersama Keisha.
" Wa'alaikumsalam.! " jawab Rayyan dengan ketus.
Rayyan beranjak dia berdiri dan terus menatap tajam Aisyah yang semakin mendekat dan ingin memberikan salam takzim nya kepada kedua orang tuanya.
Plakkkk....
Tamparan keras mendarat di pipi Aisyah sebelum dia benar-benar meraih tangan Rayyan. Sontak Aisyah langsung terhuyung ke samping dan tangannya memegangi pipinya yang terasa sangat panas akibat tamparan dari Rayyan barusan.
" Puas kamu, puas sekarang!! kau coreng muka Papa, kau lempar kotoran ke wajah Papa dan kau permalukan Papa, hah!! puas sekarang!! Puas!!" bentak Rayyan tanpa ampun lagi.
" Papa kira kamu benar-benar sudah berubah, Papa kira kamu akan menjadi kebanggaan Papa! tapi apa sekarang! kau buat harapan Papa ini hancur karena perbuatan mu!! "
" Sebenarnya terbuat dari apa kamu ini! kau orang yang pintar dan kau juga terpelajar! Papa sekolahkan kamu ke tempat yang jauh karena Papa pikir kamu bisa lebih dewasa dan bisa mandiri, tapi ternyata Papa salah, Papa salah karena telah mengirim mu ke luar.! "
Rayyan terus menerus mengeluarkan unek-uneknya yang begitu banyak di dalam kepalanya, kekecewaan nya begitu besar kepada Aisyah karena dia tak bisa menjadi anak yang benar-benar sesuai dengan harapannya.
Aisyah masih diam mendengarkan, dia sama sekali tak mengeluarkan air mata sama sekali dia terus belajar untuk menjadi kuat dari segala masalah yang seperti apapun.
Mungkin memang Aisyah tidak bisa menjadi seperti yang Rayyan inginkan, Aisyah sama sekali tak bisa, karena pemikiran Aisyah dan juga Rayyan pasti akan selalu berbanding terbalik, dan pendapat nya pun akan selalu bertolak belakang.
__ADS_1
" Papa tak tau lagi harus bagaimana sekarang. Papa harus bagaimana menghadapi sikap kamu yang masih kekanak-kanakan seperti ini.! kau sudah dewasa Aisyah! seharusnya kau lebih bisa dewasa dan bijak dalam mengambil keputusan " ucapan Rayyan mulai lirih.
Rayyan duduk di tempat yang semula dengan sangat frustasi, dia mengusap wajah nya dengan kasar berulang-ulang kali.
" Jika keputusan ku salah dan tidak bijak, lalu keputusan yang seperti apa yang benar dan bijak, Pa? apa dengan cara mengabaikan orang yang menyelamatkan nyawa kita itu adalah keputusan yang bijak? apa dengan membiarkan orang yang rela mempertaruhkan nyawa untuk kita dalam keadaan buruk itu bijak? apa itu keputusan yang Papa maksud? maaf Pa, mungkin Aisyah memang tidak sebijak Papa dalam mengambil sebuah keputusan. "
" Dan mungkin Aisyah juga tidak akan bisa menjadi seperti yang Papa inginkan, Aisyah tidak bisa, Pa. Tidak akan bisa " jawab Aisyah yang akhirnya menjawab juga apa yang Rayyan katakan.
Rayyan mendongak, matanya melotot tajam ke arah Aisyah. Rayyan karena Aisyah berani menjawab semua perkataan nya.
Rayyan pun kembali beranjak dan hendak memukul Aisyah lagi, namun tangannya di tahan oleh Keisha.
" jangan Pa, jangan. Mama mohon jangan lakukan lagi, Pa. Kasian Aisyah " ucap Keisha memohon.
" buat apa kasihan dengan anak yang berani melawan orang tua seperti ini,Ma! Buat apa!" teriak Rayyan emosi.
" sudah pa, sudah! " Keisha pu terus memohon pada Rayyan untuk menghentikan kemarahan nya pada Aisyah.
" Dari dulu Papa memang tak pernah sayang pada Aisyah, Papa tak pernah mendukung Aisyah! sebenarnya Aisyah anak Papa bukan sih? " pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Aisyah.
Semua abang nya bisa menentukan dengan siapa dia akan hidup, semuanya bisa memilih pasangannya sendiri yang mereka sukai dan mereka cintai tapi kenapa tidak bisa dengan Aisyah? Aisyah hanya ingin di perlakuan sama seperti ketiga Abangnya hanya itu saja tidak lebih. Bahkan Aisyah tidak akan pernah mengharapkan harta atau apapun dari Rayyan ataupun Keisha, hanya dukungan dan juga restu sajalah yang Aisyah ingin dari mereka.
Aisyah melemparkan tasnya dengan asal di ranjang nya, dan menjatuhkan tubuhnya sendiri di ranjang yang sana setelah itu. Matanya menatap langit-langit berfikir dengan keras apakah Papa nya yang terlalu ikut campur dengan kehidupan nya atau dia yang keterlaluan karena telah berani menentang Papa nya.
" Ya Allah, apa aku salah kalau aku hanya ingin bahagia? apa aku salah kalau aku hanya ingin bisa hidup selamanya dengan orang yang aku sukai, apa itu salah? " gumam Aisyah.
Aisyah kembali beranjak dia keluar dari kamarnya dan saat dia keluar dia sudah tidak melihat Rayyan maupun Keisha di sana. Aisyah berlari dia pergi ke tempat yang benar-benar ingin dia datangi sekarang, kamar sang Oma, dan ingin menemuinya di sana.
" Assalamu'alaikum, Oma " salam Aisyah lalu berjalan mendekat ke wanita tua yang sudah sangat berkeriput.
Wanita itu bangun perlahan dari tidurnya setelah melihat kedatangannya, Aisyah pun langsung membantu sang Oma untuk bangun.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam, Aisyah. " senyum terurai begitu manis untuk Aisyah yang kini hatinya tengah kacau. " kenapa, apa ada masalah? "
" Aku sangat merindukan Oma " ucap Aisyah dengan begitu lirih, Aisyah merebahkan tubuhnya dan menaruh kepalanya di paha Tasya dan memeluk kakinya.
Tasya pun langsung membelai puncak kepala Aisyah, dia sangat tau betul dengan apa yang di alami cucu perempuannya ini.
" Denger-denger kamu pergi dari pertunangan, kenapa? apa kamu tidak menghendaki pertunangan ini. Dan katanya kamu pergi ke rumah sakit, siapa yang sakit?" tanya Tasya, karena Tasya memang tidak tahu menahu akan kejadian di acara pertunangan Aisyah tadi.
Tasya memang tidak ikut bergabung menyaksikan acara karena Tasya sedang tidak enak badan jadi dia harus banyak istirahat.
"aku tidak tau Oma. Aku juga bingung harus bagaimana. Oma, sebenarnya Aisyah ke rumah sakit karena yang sakit adalah Bang Rico, dan Bang Rico sakit karena menyelamatkan Aisyah yang hampir tertimpa lampu hias di acara pertunangan tadi, dan sekarang kaki Bang Rico harus sakit karena menolong Aisyah. " terang Aisyah.
" Oma.. apa Aisyah salah kalau Aisyah pergi ke rumah sakit dan melihat keadaan Bang Rico? " tanya Aisyah.
Tasya terdiam, kenapa selalu Rico yang menjadi pahlawan untuk keluarga nya, bukan hanya Aisyah saja namun dirinya dulu juga telah di selamatkan oleh nya dan hingga kini Tasya pun belum bisa membalas semua itu pada Rico.
" Apa kamu menyukainya. " tanya Tasya.
Bukannya menjawab, Aisyah malah tersenyum namun menatap ke lain arah membuat Tasya yakin dan percaya kalau Aisyah sangat menyukai Rico.
" Rico adalah anak yang baik. Meskipun dia tidak begitu pintar akan agama dan sedikit ceroboh, tapi hatinya sangat tulus. Seandainya Oma tidak malu sama umur Oma yang akan melamar Bang Rico untuk menggantikan Opa, hehehe.. " gurau Tasya.
Aisyah beranjak, dia ternganga mendengar gurauan dari Tasya barusan.
" ihh... Oma genit. Kalau Bang Rico sama Oma terus Aisyah sama siapa dong! " jawab Aisyah namun seketika langsung menutup mulutnya karena telah keceplosan. " Upss.. "
" ya terserah kamu mau sama siapa? yang terpenting Bang Rico harus sama Oma. " tukas Tasya semakin terkekeh.
" ihh... Oma.. " rengek Aisyah dan kembali lagi membaringkan tubuhnya seperti semula.
________
__ADS_1
BERSAMBUNG...
____________________