
Happy Reading...
_______
𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬...
"Assalamu'alaikum.. " Seru Rico sembari tangan mengetuk pintu rumah mewah tersebut.
Tak lama pintu terbuka lebar, terlihat wajah seorang perempuan yang menggendong anak kecil yang kiranya baru berumur tiga tahun.
Perempuan itu terdiam, memandangi Rico dengan mengingat-ingat sesuatu, "Rico! Kamu Rico,kan?! " Pekik perempuan muda itu.
Sama seperti perempuan itu Rico juga terkejut, tak dia sangka dia akan bertemu dengan teman SMA nya dulu, "Mirna! Ini beneran Mirna! "
"Ya, aku Mirna. Ya Allah, tak ku sangka kita bisa bertemu lagi setelah lama. Kamu...? "
"Saya mencari Pak Adhi,"
"Jadi kamu yang di tunggu mas Adhi! astaga, yuk masuk-masuk!" Ajak Mirna antusias.
"Terima kasih, Mir. Pak Adhi itu? "
"Dia suamiku." Jawab Mirna dan menuntun Rico masuk ke dalam rumahnya.
"Wah, nasib kamu benar-benar beruntung, Mir, " Mata Rico mengamati semua titik rumah mewah itu, rumah yang sangat bagus dan tertata rapi.
"Ya beginilah. Silakan duduk biar aku panggilkan mas Adhi, "
Tak lama Rico menunggu, laki-laki yang bernama Adhi itu datang dengan membawa amplop coklat besar, laki-laki itu tersenyum begitu ramah menyambut kedatangan Rico dan tak ketinggalan Mirna yang berjalan di belakangnya.
"Selamat datang pak Rico," Adhi langsung mengulurkan tangannya dan pastinya langsung di sambut baik oleh Rico yang kembali berdiri, "silakan duduk. "
"Terima kasih pak Adhi," jawab Rico yang juga kembali duduk bersamaan dengan Adhi dan juga Mirna.
"Jadi anda teman istri saya, ya? Tak menyangka bisa bertemu dengan orang yang membuatku selalu cemburu, "
"Maksudnya? " Rico mengernyit.
"Apa sih, Pa, " Protes Mirna.
"Apa pak Rico tau? sering sekali istri saya menceritakan Anda pada saya. Bagaimana persahabatan kalian dan juga kebaikan Anda padanya, bagaimana tidak membuat saya cemburu coba, bahkan saya yang menjadi suaminya tidak pernah di puji olehnya sama sekali, apa bisa pak Rico bayangkan betapa buruknya nasib saya, " ucap Adhi yang mengeluhkan tentang istrinya.
"Ah, Pak Adhi ada-ada saja. Saya rasa nasib anda benar-benar tidak beruntung dengan mendapatkannya, bagaimana bisa laki-laki tampan seperti Anda mendapat istri yang berwajah pas-pasan seperti dia," Gurau Rico menimpali.
"Anda benar, saya tidak beruntung." Adhi menyunggingkan bibirnya.
"Benar, papa memang tidak beruntung tapi aku yang paling beruntung karena mendapatkan suami yang bisa aku pelototin setiap saat," Ucapan Mirna akhirnya membuat semua tertawa, ternyata tak banyak yang berubah dari Mirna, tetap si ceplas-ceplos.
__ADS_1
"Hahaha..! Tuh kan, "
____
Waktu berjalan begitu cepat, meskipun Rico sudah buru-buru untuk mengurus semuanya namun tetap saja semuanya begitu menyita waktu. Waktu sudah berganti petang namun Rico belum juga sampai di kota, membuat Rico harus melajukan motornya dengan cepat.
"Aku harus cepat sampai di kota, kalau tidak aku pasti akan terlambat, " ujarnya.
Medan yang tak mulus membuat perjalanan Rico menjadi terhambat, namun dia sama sekali tak menyesalkan kenapa dia pergi ke pelosok. Sebenarnya rumah Mirna tidak terlalu jauh juga dari kota, namun jalan utama yang biasanya di lalui sedang ada perbaikan membuat Rico harus mencari jalan lain.
Jalan yang berliku-liku dan juga naik turun membuat Rico harus ekstra hati-hati, dia tidak mau sampai terjadi apa-apa pada dirinya meskipun keadaan jalanan halus.
"Tunggu abang datang, Syah. Dan kita akan wujudkan mimpi kita bersama-sama, " Mimpinya sudah ada di depan mata, dia sangat bahagia meskipun penuh dengan rintangan dan juga harus mengorbankan bengkel juga rumahnya namun dia bisa mendapatkan yang lebih baik.
"Maafkan Rico, Bun, Ayah..., Rico belum sempat bicara tentang rumah yang aku jual. Ini akan menjadi kejutan juga untuk kalian karena kita akan pindah ke rumah yang lebih baik setelah aku sampai rumah."
Demi membuat kejutan untuk semuanya Rico harus merahasiakan semuanya bahkan tetang rumah dan bengkel yang dia jual, mungkin cara Rico salah, namun dia hanya berniat untuk memberikan kejutan itu untuk mereka.
Hampir saja sampai di kota semua kendaraan yang melintasi jalan yang sama dengan Rico semuanya berhenti hingga membuat Rico juga berhenti, "Pak, ada apa ya, kok semuanya berhenti? " tanya Rico kepada orang yang melintas dengan jalan kaki.
"Ada longsor, Mas. Dan semuanya harus menunggu sampai material selesai di singkirkan, " Jawabnya.
"Longsor ya? " Rico menjadi gusar, waktu sudah hampir isya namun dia belum sampai di kota padahal tinggal beberapa menit saja untuk dia sampai, tapi sekarang? Tak mungkin juga dia akan mencari jalan lain karena itu adalah jalan satu-satunya menuju kota.
"Astaghfirullah, bagaimana ini? " Rico begitu bingung namun dia terus beristighfar untuk menangkan hatinya.
"Aku datang, Syah. Aku datang. "
Rico sudah tidak sabar, meskipun waktunya sudah terlambat namun ini masih bisa di hitung dalam hari yang sama karena belum sampai jam dua belas malam.
Pukul setengah sembilan malam, dan sebentar lagi Rico akan sampai di kediaman Aisyah, mungkin tidak sampai sepuluh puluh menit dia akan sampai.
Senyum Rico terus mengembang, kebahagiaannya ada di depan mata sekarang, dia akan segera bisa bersama dengan Aisyah tanpa hambatan lagi.
Namun Rico yang melajukan motornya dengan cepat itu tidak berujung baik untuknya, kebahagiaan yang sudah di depan mata kembali terhalang dengan sebuah truk yang melintas berlawanan dengan Rico dan menyelip tanpa melihat.
"Akkkk...."
𝘉𝘳𝘢𝘬𝘬𝘬.....
___
𝘕𝘰𝘳𝘮𝘢𝘭...
Di kediaman Aisyah.
Aisyah yang selesai bicara dengan Farel langsung pergi ke kamarnya, tanpa mengatakan sesuatu pada siapapun. Hatinya begitu gelisah tanpa adanya alasan sedikitpun. Dia sendiri juga bingung dengan apa yang terjadi padanya.
__ADS_1
Dia hanya pikir semua itu hanya karena dia terlalu putus asa dengan jalan takdirnya. Sesampainya di kamar Aisyah langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur berusaha untuk bisa memejamkan matanya.
Meskipun begitu susah Aisyah terus berusaha mungkin dengan memejamkan mata dia akan bisa menghilangkan rasa sakit itu setelah dia bangun besok.
Dia sudah pasrah dengan jalan ini, menangis pun tidak akan bisa mengubah semuanya. Keputusan papanya tidak akan bisa di rubah lagi dan perjodohan tidak akan berakhir hanya karena dia menangis.
Aisyah hanya kecewa karena sampai sekarang Rico sama sekali tak memberi kabar kenapa dia pergi dan apa alasannya, Aisyah juga sedih karena Rico telah mengkhianati janji yang telah dia buat sendiri untuk bisa bersama-sama.
"Ya Allah, hapus lah bang Rico dari ingatanku jika dia memang bukan tercipta untuk ku, " Gumamnya.
"Jangan kau beri aku harapan palsu dan kebahagiaan semu yang akhirnya tidak bisa aku dapatkan, ya Allah maafkan aku."
Matanya perlahan-lahan mulai terpejam hingga akhirnya dia benar-benar bisa pergi ke alam tidurnya dengan damai dan mengabaikan semua masalah yang menimpanya.
Namun kedamaian tidur Aisyah tidak berlangsung lama, baru beberapa menit saja dia bisa tidur, mimpi buruk datang padanya, Rico yang mengalami kecelakaan sampai juga di mimpi Aisyah.
"Bang Rico.. Bang Rico!! "
Aisyah terperanjat, seketika tubuhnya gemetar, matanya menatap kosong ke arah depan dan air mata itu langsung mengalir deras deras.
"Tidak, tidak mungkin bang Rico...? Tidak mungkin, " Aisyah menggeleng tak percaya.
Suara teriakan Aisyah yang begitu keras membuat shelvia dan juga Meyka yang kamarnya berdampingan langsung berlari menghampirinya, mereka berdua sama sekali belum tidur jadi mereka langsung mendengar.
"Aisyah! " Shelvia masuk lebih dahulu di ikuti Meyka di belakangnya.
Keduanya begitu terkejut melihat kearah Aisyah yang begitu syok, wajahnya terlihat tegang, air matanya terus mengalir deras dan tubuhnya gemetar hebat.
Meyka dan Shelvia duduk di kedua sisi Aisyah mencoba menyadarkan Aisyah yang seperti patung hidup.
"Syah, Aisyah..., ada apa? " tanya Shelvia namun Aisyah tidak menjawab.
"Syah.. " Meyka pun menyentuh bahu Aisyah namun hasilnya tetap sama.
"Tidak mungkin, tidak mungkin.. " Hanya dua kata itu yang terus keluar dari mulut Aisyah.
__
Bersambung...
_________
Hueeeeeeee
Hueeeeeeee....
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
__ADS_1