
Apa yang selalu Rico katakan pasti akan selalu nyata. Semua keluarga baik-baik saja tapi kini berada di tempat yang tidak semestinya, di bawah jembatan yang hanya tertutup dengan tatanan kardus saja.
Tak ada tempat lain bagi sang penyelamat menyembunyikan mereka kecuali tempat yang tidak akan pernah di sangka-sangka oleh orang yang tak punya hati seperti Ateez.
Ya, Anastasya yang menolong mereka dengan di bantu oleh beberapa teman brandal nya. Di detik-detik terakhir di saat yang sangat menegangkan akhirnya mereka semua bisa di selamatkan.
"Ana, sekarang apa yang harus kita lakukan pada orang-orang asing itu? kita tidak mengenal mereka sepertinya mereka juga tidak mengenal kita. Apa kita harus tetap melindungi mereka di sini?" tanya salah satu teman.
*Pletakkk*...
"Kamu pikir untuk menolong orang harus orang yang kita kenal! ish..., dasar kau ini." Anastasya begitu kesal mendengar penuturan dari temannya itu.
"Ya nggak gitu juga sih. Hemm..., apa kita akan mendapatkan imbalan dari mereka? ya, hitung-hitung uang lelah gitu. Kita kan juga butuh isi perut untuk bertahan hidup." ucap temannya lagi.
"Kamu mau makan? mau isi perut? nih buat isi perut karet mu!" dua bungkus permen karet di ambil oleh Anastasya dari kantongnya dengan cepat dia memberikannya di tangan temannya itu yang jelas membuat teman berdecak.
"Bagaimana nggak perut karet? setiap hari makannya kayak gini mulu!" jawabnya kesal.
Tak peduli lagi si Anastasya, dia diam namun mulutnya terus berkecamuk karena mengunyah permen karet bahkan dia juga sesekali membuatnya menggembung dia juga sesekali membunyikannya.
Anastasya masuk ke dalam persembunyian semua keluarga Aisyah, melihat keadaan mereka yang ada beberapa luka kecil pada mereka.
__ADS_1
"Maaf, saya tidak bisa membawa kalian ke tempat yang lebih pantas. Tapi saya akan usahakan untuk mencari tumpangan mobil yang akan mengantarkan kalian pulang." ucap Ana dengan begitu judes.
Maklumlah, setiap hari Anastasya hanya hidup di jalanan tak akan ada lembut-lembut perilakunya. Semua itu demi bisa menahan kerasnya perjalanan hidup di jalanan yang jelas untuk melindungi diri sendiri.
"Terimakasih, Nak. Duduklah sini bersama kami, kamu pasti juga sangat lelah karena menolong kami," Tasya menarik pergelangan tangan Anastasya, dan membuatnya duduk di sebelahnya.
"Siapa namamu?" tanya Tasya dengan sangat lembut.
"Ana, Anastasya." suaranya selalu terdengar begitu tebal akan keangkuhan.
Tasya tersenyum, dia menoleh ke anak-anak dan menantunya yang juga tersenyum mendengar nama Anastasya yang sama persis dengan Tasya.
"Kenapa? apa namaku sangat buruk?" Anastasya mengernyit.
Meskipun hanya hidup di jalanan tapi Anastasya sangat pintar menjaga apa yang dia punya, dia tetap terlihat bersih dan cantik juga tidak neko-neko.
"Oh!" Anastasya memang tidak terlalu banyak bicara dengan orang asing, dia hanya akan menjawab apa berkata seperlunya saja.
Anastasya melihat tangan satunya Tasya yang terluka, dilihatnya dengan teliti, "Apa sangat sakit?" tanyanya. Tasya hanya tersenyum kecil menanggapi.
Tak mengatakan apapun lagi Anastasya mengambil sapu tangan merah yang dia ikatkan di saku celananya dia gunakan untuk membungkus luka Tasya.
__ADS_1
"Dengan ini darahnya tidak akan keluar lagi. Tapi Nyonya harus menjaganya supaya tidak terkena air. Jangan sampai nanti infeksi." bibirnya terus berucap tapi tangannya terus bergerak membungkus tangan Tasya.
Anak jalanan gak semuanya nakal, tak semuanya selalu membuat masalah. Pasti akan ada salah satu di antara mereka yang baik meski penampilannya juga terlihat sangat buruk.
"Ana, terimakasih. Kalau saja tidak ada kamu dan teman-temanmu mungkin kami semua tidak akan pernah selamat." ucap Rayyan.
"Kami semua berhutang budi padamu, Nak." Keisha menambahi.
"Tidak, ini juga bentuk balas budi Anastasya. Beberapa hari yang lalu anak kalian juga membantuku, jadi kita impas." jawab Ana tanpa melihat siapa yang dia ajak bicara.
"Anak?" mereka semua mengernyit bingung.
"Iya, anak! Anak kalian yang mengisi pengajian di Desa Mawar beberapa hari yang lalu."
"Faisal?"
"Mungkin?"
"Ana, Bimo sudah berangkat ke tempat kejadian, dia bilang mau mengatakan kalau mereka semua selamat kepada anak-anak mereka yang tadi datang."
"Bagus, kita tunggu saja mereka datang. Dan kamu, Gus! tidak usah cari mobil keluarga mereka pasti akan kesini dengan mobil." Ana beranjak dia menjauh dari semua dan berjalan keluar.
Bersambung.
__ADS_1
...