
_____
Happy Reading...
__________________
Rico terus buru-buru untuk bisa sampai ke rumah, dia begitu sangat mengkhawatirkan Marno sang ayah yang katanya jatuh di kamar mandi. Hanya dengan motor yang biasa Rico akhirnya sudah sampai di depan rumah.
Rico melepaskan helm dua berlari tak sabar ingin melihat kearah dari Marno. "Bunda! " teriaknya.
Rico masuk ke dalam kamar bunda, dilihatnya Marno yang sudah terbaring di atas ranjang namun belum sadarkan diri. "Assalamu'alaikum, Bunda. Kenapa ayah bisa jatuh, Bun?" tanya Rico dengan begitu gelisah.
"Wa'alaikumsalam..., bunda juga tidak tau pastinya, Ric. Bunda hanya keluar dari kamar sebentar, setelah Bunda masuk lagi ternyata Ayah sudah ada di kamar mandi dan tak sadarkan diri." jawab Susan.
Rico duduk mengecek keadaan Marno, namun dia bukan seorang dokter jadi di tidak bisa memprediksi apapun, "Kita bawa ke rumah sakit, Bun. Kita tidak tau apa yang terjadi pada ayah, kalau di rumah sakit ayah pasti bisa langsung di periksa dan mendapatkan penanganan yang tepat."
"Tapi, Ric? " Bunda begitu ragu, dia tau kalau di rumah sakit pasti akan membutuhkan banyak uang, sementara Rico kini harus berjuang untuk mengumpulkan uang, bagaimana bisa? Nanti Susan dan Marno pasti akan menyusahkan Rico kan.
"Sudah bunda. Bunda jangan terlalu berfikir yang berlebihan. Yang penting Ayah harus cepat sembuh dulu." Ucap Rico yang seolah tau apa yang di pikirkan.
"Baiklah." Bunda hanya bisa pasrah.
Bagi Rico orang tua adalah segalanya, sebesar apapun harta yang dia punya jika tanpa ada restu dan doa dari orang tua dia juga tidak akan bahagia. Dan ya, Aisyah memang yang kini tengah di perjuangan kan, tapi dia juga tidak mungkin membiarkan orang tuanya sendiri sakit dan dia tidak mau berbuat apapun, Rico tidak se-egois itu.
Dengan pelan Rico mengangkat tubuh kurus Marno, membawanya keluar dan memasukkannya ke dalam mobil. Sementara Susan dia langsung berlari untuk berkemas barang-barang Marno lalu ikut keluar setelah itu.
Mobil yang melaju dengan cepat keluar dari gang itu menuju rumah sakit.
___
Iqbal terus menolak untuk di periksa, dia sama sekali tidak mau berurusan dengan dokter, ya meskipun dokternya adalah papa Shelvia sendiri, David.
"Nggak usah Via, aku beneran nggak apa-apa, serius, dua rius malahan. Ini hanya benjol kecil saja, nanti juga akan sembuh sendiri." ucap Iqbal terus merengek.
"Tidak kak, pokoknya kak Iqbal harus di periksa kalau semua baik-baik baru kakak bisa pulang," kekeuh Shelvia.
Iqbal merengut malas, dia tidak mau di periksa tapi dia juga tidak mau langsung pulang begitu saja sekarang, ingin kesempatan bukan? Kapan lagi Shelvia akan sangat perhatian padanya?.
__ADS_1
Iqbal dan Shelvia masuk ke dalam ruangan David, tempat itu masih kosong dengan pasien hanya ada David saja yang duduk manis sembari memeriksa beberapa laporan.
"Assalamu'alaikum, Pa." Sapa Shelvia seraya berjalan menghampiri David yang pasti di ikuti Iqbal yang ada di belakangnya.
"Wa'alaikumsalam, loh! Via, kenapa kamu kesini? Kamu tidak apa-apa Kan?" tanya David yang seketika khawatir dengan kedatangan Shelvia, tak bisa anak tunggalnya itu datang ke rumah sakit kalau saja tak ada masalah pada kesehatannya.
Shelvia duduk di kursi depan David, di ikuti juga Iqbal yang kini juga duduk di kursi samping Shelvia.
"Ini, Pa. Tadi Via dan Kak Iqbal jatuh terus kepala Kak Iqbal terbentur sampai benjol, Via hanya takut saja sampai kenapa-napa dengannya, " jawab Shelvia.
David langsung menoleh ke arah Iqbal, pria yang kini di liatnya hanya tersenyum kecil dengan begitu gagu karena merasa sangat gugup.
"Coba aku lihat," David langsung beranjak mendekati Iqbal, memeriksa kepala Iqbal yang benjol. "Apa kamu merasa pusing? " tanya David.
Iqbal menggeleng, ya karena memang tidak pusing sama sekali hanya sedikit mengganjal saja saat di sentuh. "Tidak, Om. Ini tidak apa-apa, dari tadi saya sudah bilang seperti itu dengan Via, tapi dianya saja yang ketakutan! Mungkin dia ketakutan kalau sampai aku kenapa-napa, "jawab Iqbal.
"Benar, Via. Ini tidak apa-apa. Papa kasih salep aja untuk menghilangkan rasa sakitnya dan supaya cepat kempes," David kembali duduk mengambil bolpoin dan juga kertas, menulis sesuatu di sana. Tebus obat ini di apotik. "
Iqbal langsung mengambil kertas yang di berikan oleh David, membacanya sekilas lalu menyimpannya. "Terima kasih, Om."
"Hem.. " David mengangguk lalu beralih memandang sangat putri yang terus diam, "Kamu tidak apa-apa, Kan? "tanya David.
"Alhamdulilah.. " Syukur David.
David kembali memandangi Iqbal, David mengernyit bingung karena melihat Iqbal yang begitu dekat dengan Shelvia, eh salah.., Iqbal yang begitu mengejar Shelvia lah yang benar.
"Kamu temannya Shelvia? " tanya David.
"Bukan teman sih, Om. Lebih tepatnya calon imamnya, Via. Kenalin om, saya Iqbal, "ucap Iqbal begitu percaya diri.
David tersenyum kecil, percaya dirinya Iqbal tak jauh-jauh dari dirinya dulu saat masih muda dan mengejar Airin ibunya Shelvia. Sepertinya mereka benar-benar sama.
" Sebelum kamu bilang seperti itu, kamu harus minta izin dengan orang tuanya dulu." Celetuk David.
"Oh begitu ya, ya sudah, Om saya mau minta izin untuk menjadi imam untuk Shelvia putri Om. Bahkan sekarang juga Iqbal sudah siap, kita tinggal Panggil penghulu saja."
"Jalannya tidak semudah itu, Iqbal. Kamu harus datang dengan orang tuamu untuk melamar anakku. Kalau dengan begini apa bisa saya percaya begitu saja? Siapa tau kamu hanya mau mempermainkan Shelvia."
__ADS_1
"Oh, oke calon papa mertua. Besok aku bakal ajak orang tua ku untuk datang." Iqbal menoleh ke arah Shelvia mengedipkan matanya genit karena akhirnya dia mendapatkan restu.
Sementara Shelvia begitu ternganga, bagaimana Papanya begitu cepat merestui Iqbal? Kenapa nggak di tanya-tanya dulu, apa pekerjaan? Di mana rumahnya? Orang tuanya siapa? Kenapa oh kenapa.
"Apa sih, Pa." Gerutunya.
Shelvia langsung beranjak ingin keluar, belum juga tangannya membuka pintu, pintu sudah terbuka dari luar. Seorang perawat datang untuk memanggil David.
"Dok, ada pasien darurat, "ucapnya.
David langsung beranjak dengan cepat, mengambil stetoskop lalu mengalungkan di lehernya. David berlari ini lebih penting daripada bergurau lagi dengan Iqbal yang mengaku sebagai calon mantunya.
" Aku akan kembali setelah selesai, "ucap David dengan Shelvia dan juga Iqbal.
Keduanya mengangguk cepat, keduanya juga keluar setelah David keluar, mereka berdua berjalan dengan beriringan.
" Loh! Itu kan Rico? Kenapa dia di sini? Dan, siapa yang sakit?"Iqbal mengernyit, langkahnya di percepat untuk segera menghampiri Rico yang tengah mondar-mandir di depan UGD.
Begitu juga dengan Shelvia, dia juga ikut dengan Iqbal dia juga sangat penasaran dengan apa yang dia lihat juga.
"Rico, kamu di sini? Siapa yang sakit?"tanya Iqbal setelah dia sampai di dekat Rico.
Rico yang tengah mondar-mandir frustasi langsung menoleh di lihatlah Iqbal dan Shelvia yang sudah ada di sana, "Ayah, ayah jatuh di kamar mandi." jawab Rico.
"Astaghfirullah..! Kok Bisa, Kak! " Pekik Shelvia.
"Aku juga nggak tau bagaimana kejadiannya, Via. Tadi aku masih di Resto,"jawab Rico lagi.
" Kamu yang sabar ya, Ric. Ayahmu pasti akan baik-baik saja."Ucap Iqbal menghibur.
Shelvia mendekati Susan yang duduk dengan tangis di kursi tunggu dia terus menunduk seolah dia menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga Marno dengan baik.
"Tante yang sabar ya, Om pasti akan baik-baik saja," ucap Shelvia sembari mengelus bahu Susan.
"Terima kasih, Nak." ucapnya masih dengan tersedu.
__
__ADS_1
Bersambung...
____________