Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
39. Nasib Jomblo


__ADS_3

______


Happy Reading..


_________________


Aisyah mengernyit saat dia melihat Shelvia yang berjalan mendekatinya dengan mulut yang terus cengengesan, sepertinya ada yang salah dengan Shelvia, tapi apa? Aisyah sama sekali belum mengerti.


" Hehehe.. " Shelvia meringis dengan tangan terus memainkan tapi tasnya, dan berjalannya pun sedikit ragu untuk mendekat.


Aisyah yang tadinya hendak pergi ke ruang para ustazah terpaksa menghentikan langkahnya dan menatap Shelvia dengan bingung.


" Kak Via kenapa?. " Tanya Aisyah bingung.


" Hehehe.. Maaf, Syah. Aku... Aku... " Ragu-ragu Shelvia menjawab bahkan dia tergagap. Ucapannya pun terputus sebelum Shelvia melanjutkannya.


" Gagal?. " Tebak Aisyah dan langsung ngena, " Kenapa?. " Tanya Aisyah dengan dingin juga.


" Semua ini terjadi karena Kak Iqbal, Syah. Aku nggak tau kalau Kak Iqbal ternyata ada di sana juga, dan aku melihat dia begitu akrab dengan orang itu, Syah. " Jawab Shelvia.


" Orang itu beneran di sana?." Tanya Aisyah yang terperangah.


Shelvia mengangguk bukan hanya di sana saja, melainkan orang itu memang pemilik dari resto itu bagaimana mungkin dia tidak ada di sana, kan?.


" Iya, dia pemilik resto itu. " Jawab Shelvia.


" Siapa yang pemilik Resto?. "


Keduanya langsung menoleh, mereka terkejut sekaligus bagaimana mereka akan menjelaskan semua itu pada Rayyan, sampai kapan dia akan berbohong lagi.


" Emmm..? " Shelvia terlihat bingung, dia menunduk menghitung ubin putih yang ada di bawah sana. " Hemm.. Itu Om, temen Shelvia yang memiliki resto. Dia baru beberapa hati ini membangun resto itu dan langsung rame begitu, makanya kami berdua begitu salut, iyakan, Syah. " Shelvia menoleh, mengedipkan matanya.


"𝘏𝘦𝘮..𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘨𝘪. " Batin Aisyah.


" Iya kan, Syah!. " Shelvia menyikut lengan Aisyah dan mengejutkan dia dari penyesalan yang terus bergema di dalam hatinya.


" Iya, Pa. " Jawab Aisyah dengan cepat, meskipun dalam hatinya dia terus menyerukan istighfar. " 𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘩𝘧𝘪𝘳𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩. " Seru Aisyah dalam harinya.


" Kalian tidak menyembunyikan sesuatu padaku, kan? Apa aku bisa mempercayainya. " Ucap Rayyan yang tak bisa percaya begitu saja. Apalagi ada gelagat-gelagat aneh kepada kedua gadis yang ada di hadapannya.

__ADS_1


" Bisa Om, bisa bisa. " Shelvia mengangguk, tapi dia juga terus menyerukan istighfar di dalam hatinya. Senyum palsu pun menjadi hiasan untuk wajah Shelvia, biar lebih meyakinkan Rayyan.


" Baik, saya akan percaya. " Jawab Rayyan.


______


" Gimana bos, udah enakan kakinya? Apa perlu aku bantu untuk jalan nya. " Dante melangkah masuk ruangan Rico sembari membawa nampan untuk makan siangnya. " Ini untuk makan siang mu. "


Rico yang awalnya tengah rebahan langsung bangun, menyandarkan tubuhnya dan menerima nampan yang di sodorkan oleh Dante. " Terima kasih, Dan. Untung ada kamu, kalau tidak entah apa yang akan terjadi dengan Resto ku." Ucap Rico benar-benar beruntung bisa memiliki Dante sebagai temannya sekaligus sebagai koki cadangan untuknya.


" Apa sih, Bos. Udah ah.. Nggak usah melow melow gitu. Aku nek lihatnya jadi mual lihat wajah asem seperti itu. " Jawab Dante.


" Gimana, Kira-kira mau aku bantu ke mana?. " Tanya Dante lagi karena pertanyaannya tadi belum juga mendapat jawaban oleh Rico.


Untuk sekarang Rico tidak mau kemanapun, dia hanya ingin benar-benar istirahat supaya lukanya bisa secepatnya sembuh. Seharusnya Rico lebih baik pulang ke rumah saja, namun dia bersikeras untuk ke resto karena ayah dan bundanya juga tengah tidak ada di rumah.


" Aku tidak mau kemanapun, Dan. Aku hanya ingin istirahat." Jawab Rico.


" Baiklah, ini di makan dan di habiskan. Jangan lupakan obatnya, aku tidak bisa di sini terus dan melayani mu seperti istri jadi aku pergi dulu, " Dante hendak beranjak namun dia kembali duduk lagi. " Hanya saran ya, Bos. Cepatlah cari istri, supaya ada yang melayani dan merawat mu saat sakit seperti ini. " Ujarnya lagi dan kali ini dia benar-benar beranjak.


Rico hanya bisa berdecak dengan sahabat sekaligus pekerjanya itu, dia bicara seolah dirinya sudah menjalani apa yang dia katakan sendiri.


" Kalau mau ngomong itu ngaca dulu ngapa. " Ketus Rico seraya mengambil makan yang Dante bawa.


Sudah ada di depan pintu Dante kembali menoleh dan hanya menampilkan cengiran tanpa rasa malu sama sekali.


" Aku mengalah, Bos. Aku akan ngebut mencarinya setelah Bos sudah mendapatkannya. "


" Alesan!. " Nyinyir Rico.


" Gitu amat, Bos. Awas tambah acem tuh muka, hehehe.. " Dante cepat-cepat keluar, tak akan ada habisnya kalau dia terus ngoceh di sana karena Rico pasti akan terus menjawabnya.


Sesuap demi sesuap Rico memakan makanan yang dari Dante, enak tak enak dia harus tetap menghabiskan. Sebenarnya makanannya enak dan lebih kerasa daripada makanan rumah sakit, tapi tetap saja lidahnya merasakan pahit.


" Nasib seorang jomblo begini nih. " Gumamnya.


Rico tersenyum tipis saat dia mengingat saat saat kebersamaan dengan Aisyah di rumah sakit kemarin, betapa indahnya dan menyenangkannya waktu itu, bisa saling menyuapi dan merebut makanan dalam satu wadah.


Namun senyum itu langsung pudar saat dia mengingat akan ucapan Rayyan yang memintanya untuk menjauhinya. Dia bingung, sebenarnya kesalahan apa yang membuat dirinya begitu di benci oleh Rayyan, masalah yang dulu sebenarnya masalah yang tak pantas di bawa hingga waktu yang begitu lama hingga sekarang, tapi kenapa?.

__ADS_1


Apa mungkin karena Rico tak sepadan dengan mereka, Keluarga Aisyah adalah keluarga yang terhormat, bergelimang harta, berpendidikan tinggi dan juga kuat akan ilmu agamanya, tapi dia?. Kalau di pikir-pikir memang tak sepadan dan tak ada pantas, tapi apa cinta tidak bisa di pertimbangkan.


" Seandainya Aisyah benar-benar hanya menyukaiku apa dia mau berjuang bersama denganku untuk bisa merakit benang-benang yang terputus ini. Apa dia mau?. " Tanya Rico pada dirinya sendiri.


" Tapi, bagaimana kalau aku juga tak bisa membahagiakannya kelak? Aisyah sangat kaya raya, sedangkan aku?. " Rico terlihat sangat pusing sendiri dengan masalah ini. Dia ingin berjuang tapi langkahnya seakan di hadang badai sebelum dia mulai melangkah nya.


______


Semua keluarga Aisyah terdiam dan terus menatap lapangan saat di pesantren kedatangan mobil dari dealer yang membawa sebuah motor matic berwarna silver.


Motor itu berhiaskan dua pita pink di dua stang nya, mereka tau pasti itu adalah sebuah hadiah kejutan. Tapi permasalahannya, dari siapa dan untuk siapa hadiah itu di peruntukkan tak ada yang tau akan hal itu.


" Wihh.. Mantap bener ya. Dari siapa tuh!. " Ucap Shelvia begitu kepo.


" Tau. " Aisyah menjentikkan kedua bahunya tak tau, namun dia juga sangat penasaran.


" Untuk ku mungkin, hehehe.." Ucap Meyka kepedean.


" Alhamdulillah!. " Seru Aisyah dan Shelvia kompak.


" Wow.. Kompak bener kayak paduan suara. " Meyka terkekeh mendengar kekompakan antara Aisyah dan Shelvia.


Ke-tiganya melangkah maju, menghampiri orang yang mengantarkan motor tersebut dan hendak bertanya. Sedangkan yang lain juga turut menyusul.


" Pak... "


𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨... 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨... 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨...


Belum juga selesai bertanya dan baru sepatah kata saja keluar dari mulut Aisyah, HPnya yang ada di tangan berbunyi, sontak dia melihat siapa yang telah menghubunginya.


" Hemm... " Aisyah mengernyit namun dia langsung mengangkatnya.


" Assalamu'alaikum.. " Sapanya dengan dingin.


" Wa'alaikumsalam Bakpao.. Gimana, suka tidak dengan kejutan Abang. "


____


Bersambung...

__ADS_1


_______________


__ADS_2