Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
126. Belum tahu pasti


__ADS_3

Happy Reading..


____


"Kamu kenapa, Via? Daru tadi diam terus. Apa kamu ada masalah?" tanya Meyka. Keduanya baru saja sampai di kampus dan dengan biasa mereka akan datang ke sana dengan mengendarai motor milik Shelvia dengan berboncengan.


Shelvia masih diam, entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang. Segitu rahasia kah masalahnya sampai-sampai di tanya tak di jawab. Atau mungkin karena Shelvia memang tak mau sampai-sampai Meyka mengetahuinya.


"Rahasia ya?" tanya Meyka memastikan.


Kali ini membuat Shelvia menghentikan langkahnya, menoleh padanya dengan raut wajah yang bingung.


"Mey..., " Shelvia kembali diam, membuat Meyka semakin penasaran. Meyka terus menunggu meskipun entah sampai kapan Shelvia akan benar-benar mengatakan semuanya dengan jelas.


"Nanti sajalah aku ceritanya. Sepertinya kelas juga akan segerakan di mulai, Yuk!" ajak Shelvia. Seketika Shelvia menggandeng tanya Meyka. Kata-kata yang yang belum selesai membuat Meyka bingung dan juga sangat penasaran. Sebenarnya apa yang Shelvia sembunyikan.


"Hem.. " Meyka hanya mengangguk dan nurut begitu saja. mungkin Shelvia belum siap untuk bercerita padanya.


"𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯, " 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘚𝘩𝘦𝘭𝘷𝘪𝘢.


Sebenarnya yang ingin Shelvia katakan adalah ada perasaan apa Meyka kepada Farel. kemarin saat pernikahan Aisyah akan di mulai Meyka terus diam dan sedih, namun setelah yang menikahi Aisyah adalah Rico Meyka bisa tersenyum kembali, bukankah itu aneh, iya kan?.


Setelah sampai di persimpangan mereka berdua pergi ke arah yang berbeda, ya karena kelas mereka memang berbeda sih. Bukan hanya karena beda satu semester tapi jurusan merek juga berbeda.


____


Shelvia yang sudah ada di kelas sama sekali tak bisa fokus, dia pikir Meyka menyukai Dante karena mereka selalu bersama tapi sepertinya pikirannya itu salah dan Meyka menyukai Farel.


"Kalau Meyka benar-benar menyukai kak Farel apakah mereka bisa bersama ya? sepertinya mereka juga sangat cocok jika bisa bersama. Hem..., kenapa aku jadi mikirin mereka?" gumam Shelvia yang akhirnya bingung sendiri.


"Shelvia!!! "


Suara teriakan dari dosen yang ada di depan mengejutkan Shelvia, yang jelas langsung membuat dia memandang dosen yang wajahnya terlihat sangat garing itu. Tak ada senyum tak ada cerah-cerah sama sekali hanya mendung saja.

__ADS_1


"Saya, Pak! " jawab Shelvia.


"Coba kamu jelaskan apa yang tadi saya katakan! sepertinya kamu hanya asyik dengan pikiranmu sendiri, cepatlah! " pintanya.


Shelvia menelan ludahnya sendiri dengan susah, dia benar-benar tidak tau apa yang dlu katakan oleh dosen Damar itu.


"Sa-saya...?" Shelvia kembali terdiam apa yang akan dia jelaskan coba? dia sama sekali tidak mendengarkan apapun tadi. Sungguh sial dirinya hari ini, semua yang dia rencanakan tadi malam semuanya gagal total dan sekarang? sepertinya dia akan mendapatkan hukuman dari dosennya.


Pak Damar hanya menggeleng kasar, "rangkum ulang semula yang akhir jelaskan tadi, dan sebelum pulang harus sudah selesai," ucapnya dengan tegas.


"Apa yang harus saya tulis, Pak? saya kan tidak tau? " tanya Shelvia pada pak Damar. Bagaimana dia akan tau kalau doa memang tak mendengarkan semua yang di katakan dan malah melamun.


"Ya semua yang saya sampaikan barusan, kerjakan tugasmu dan jangan banyak protes lagi."


"Baik, Pak," jawab Shelvia pasrah.


_____


"Bang, sebenarnya Bang Rico tau kelompok Ateez itu dari mana sih? perasaan tak ada desas-desus tentang mereka deh selama ini? apa mereka benar-benar ada? apakah mereka juga sangat kuat?" tanya Aisyah.


Rico menoleh, memandangi Aisyah yang begitu penasaran dengan kelompok yang bernama Ateez.


"Mereka benar-benar ada, Aisyah. Daan kalau kuat dan tidaknya aku juga belum tau pasti tapi sepertinya sih mereka sangat kuat, kalau tidak mana mungkin mereka akan berani memiliki keinginan untuk menghancurkan kelurga Saputra."


Aisyah termenung dengan pikiran yang langsung berkelana, siapa sebenarnya Ateez itu.


"Kenapa harus nama Saputra yang menjadi incaran mereka? kenapa tidak nama papa atau abang ataupun Aisyah, kenapa harus Saputra? apa mungkin mereka adalah musuh lama?" ucap Aisyah yang merasa sangat heran.


"benar juga sih, kenapa harus Saputra? aku pernah dengar dulu Oma melindungi opa dari musuh yang ingin menghancurkannya dan ingin merebut semua kekayaan keluarga Saputra, apakah semua ini ada hubungannya dengan itu? "


Rico ikutan bingung sebenarnya musuh dari pihak siapa coba?


"Aisyah akan cari tau. Oh iya, Bang! katanya Bang Rico kemarin di bantuin pak Jon sama om Danu kan? berarti ada lah salah satu orang dari Ateez yang menjadi tahanan?" tanya Aisyah.

__ADS_1


"Kayaknya ada," jawab Rico.


Aisyah tersenyum, ini akan lebih mudah untuk menjadi penyelidikannya, meskipun hanya satu orang saja akan sangat mudah untuk mencari informasi tentang Ateez.Aisyah hanya berharap semoga saja orang itu bisa mengatakan sebuah informasi, kalau tidak mungkin ya harus dengan cara Aisyah sendiri.


"Aisyah, seandainya kamu berhenti dengan pekerjaanmu itu bagaimana sih? aku hanya khawatir dengan keselamatanmu. Pekerjaanmu itu sangat berbahaya, Syah! aku tak mau sampai kamu kenapa-napa,"


"Semoga saja suatu saat nanti bisa, Bang. Tapi untuk sekarang? sepertinya tidak. Apalagi keadaan sekarang seperti ini, Aisyah ingin melindungi semuanya," jawab Aisyah.


"Baiklah. Tapi kamu harus tetap berhati-hati, Syah. Meskipun mereka sudah tertangkap tapi aku yakin masih ada pihak di belakang mereka yang lebih kuat."


"Darimana Bang Rico tau?"


"itu tidak penting." jawab Rico, "sekarang kita mulai packing, sore nanti kita harus pindah ke rumah kita, rumah yang aku janjikan untuk mu."


"Kenapa harus buru-buru sih, Bang! kan bisa besok-besok lagi kita pindahnya. lagian baru kemarin kita menikah," ucap Aisyah.


"Bukannya abang tak mau berlama-lama di sini, Syah. Tapi abang juga tak bisa meninggalkan ayah dan bunda lama-lama, ayah juga baru sembuh juga kan?"


Aisyah mengangguk mengerti, benar juga sih. Sekarang tugas untuk menjaga orang tua Rico juga menjadi tanggung jawab Aisyah juga.


"Baiklah," senyum mengembang di bibir Aisyah membuat Rico ingin sekali melahap nya.


"Apa kamu berniat menggodaku, Sayang?"


"Ti-tidak! Aisyah tidak berniat seperti itu,"


"Menggoda juga boleh, kan sudah halal. Jadi kita mau apapun lagi juga tidak masalah," mata Rico berkedip genit membuat Aisyah malu karenanya.


"apa sih, Bang!" Aisyah cepat beranjak, lebih baik dia mulai packing daripada nanti ujung-ujungnya di lahap oleh Rico, ini masih sangat pagi menurutnya takut saja kalau sampai keponakannya mencarinya.


Rico tak mau tinggal diam, dia juga beranjak untuk mengikuti Aisyah untuk membantunya packing, "biar aku bantu,"


__

__ADS_1


Bersambung...


_____


__ADS_2