Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
46. Usaha Rico


__ADS_3

___


Happy Reading...


___________________


Rayyan terus mondar-mandir di depan pintu, ini sudah sangat terlambat untuk Aisyah dan juga Farel. Hanya membeli buku saja seharusnya tak selama ini sampai berjam-jam , udah tiga jam dari waktu biasanya mereka berdua pulang tapi sampai sekarang mereka belum juga terlihat.


Sebenernya kepergian mereka berdua di toko buku itu adalah rencana dari Rayyan sendiri, Rayyan ingin Aisyah terbiasa dengan Farel dan menjadikannya semakin akrab dengan itu Aisyah mungkin akan menerima perjodohan itu tanpa perlawanan. Awaling tresno jalaran seko kulino, ( awal suka terjadi karena terbiasa bersama) itulah pepatah Jawa mengatakan.Rayyan terlihat cemas namun dia juga sedikit senang, mungkin mereka berdua berlama-lama karena memang mereka ingin bersama.


" Ini akan semakin membuat mereka berdua dekat, dan setelah itu perjodohan ini akan berjalan dengan lancar. Dan jalannya sampai pernikahan mereka akan semakin mudah. " Gumam Rayyan.


Meskipun tidak sabar menunggu namun ada semburat senyum yang keluar dari wajah Rayyan. Sampai-sampai dia tak sadar kalau sedari tadi Faisal sudah ada di sana dan menyapanya dengan mengucapkan salam.


" Assalamu'alaikum, Pa. " Sapa Faisal namun Rayyan sama sekali tak mendengar nya, itu semua karena dia begitu fokus dengan rencananya yang mulai dia jalankan untuk mendekatkan Aisyah dan juga Farel.


" Pa, Papa. " Faisal menyentuh pundak Rayyan dan kali ini dia langsung tersadar dan menoleh. Saat Rayyan menoleh Faisal menarik senyum kecil meskipun Faisal heran dengan yang terjadi pada Rayyan, Papa.


" Eh.. Kamu di sini?. " Bukannya Faisal yang seharusnya bertanya namun Rayyan malah yang bertanya padanya.


Jam segini biasanya Faisal akan berada di dalam masjid dan mengajarkan ilmu-ilmu agama pada anak didiknya namun kenapa malah ada di sana menemuinya.


" Iya, Pa. " Jawab Faisal singkat.


Faisal mengernyit tak mengerti saat Rayyan berkali-kali menoleh ke arah gerbang, sebenarnya siapa yang di tunggu oleh Rayyan hingga dia begitu fokus dan tak tau kedatangannya, bahkan tak mendengarkan salam darinya.


" Papa menunggu seseorang?. " Tanya Faisal yang ikut mengikuti arah pandang dari Rayyan yaitu di arah gerbang yang tak jauh di sana.


" Aisyah dan Farel, kenapa sampai sekarang mereka belum pulang juga, padahal papa hanya minta Farel untuk mencarikan buku di Toko. " Jawab Rayyan.


" Benarkah?. " Faisal sedikit tersentak, jarak toko dan juga pesantren tidak jauh-jauh amat seharusnya mereka sudah sampai sekarang. " Kenapa Papa tidak menelfon nya. "


" Kamu benar. " Rayyan langsung mengambil ponselnya yang ada di sakunya. Belum juga Rayyan menghubungi Farel, ponselnya berbunyi dan itu dari Farel sendiri. " Panjang umur. " Rayyan menyeringai senang dan menoleh sejenak ke arah Faisal sebelum dia mengangkatnya.


" Assalamu'alaikum, Rel. Bagaimana udah dapat bukunya?. " Tanya Rayyan.


" Wa'alaikumsalam, om. Om, Aisyah Om, Aisyah. " Jawab Farel yang terlihat gusar dan tak tenang.


Seketika Rayyan langsung panik, dia belum tau sebenarnya tapi mendengar suara Farel seperti terjadi sesuatu pada Aisyah.


" Ada apa dengan Aisyah!. " Tanya Rayyan.


Faisal yang ada di sana langsung ikutan khawatir " Ada apa dengan Aisyah, Pa?." Tanya Faisal.

__ADS_1


Rayyan menggeleng namun terlihat jelas rasa khawatir yang keluar dari wajahnya.


" Di mana Aisyah sekarang?. " Tanya Rayyan.


" Rico, Rico membawanya Om. "


" Rico! Kenapa harus dia lagi dan dia lagi. Sebenarnya apa yang dia inginkan! Dia bawa Aisyah kemana?. " Nada suara Rayyan sudah berubah menjadi kesal dan sepertinya dia sudah salam paham sebelum mendengarkan penjelasan dari Farel.


" Ke rumah sakit, Om. " Jawab Farel.


" Kirim alamat rumah sakit nya, biarkan Om ke sana sekarang juga. "


" Om.. Sebenarnya.. "


" Cepat beri tau Om, kemana Rico membawa Aisyah, rumah sakit mana!. " Ucap Rayyan memutus kata yang belum selesai yang ingin menjelaskan.


" Sepertinya ini arah rumah sakit Natas Hospital, Om. " Jawab Farel.


" Assalamu'alaikum.. " Baru saja Farel mengatakan kemana Rico membawa Aisyah, Rayyan langsung menutup telfonnya sepihak dan jawaban salam dari Farel tak lagi terdengar.


" Faisal, ke rumah sakit Natas Hospital sekarang. " Ajak Rayyan yang sudah terbawa amarah nya. Tangannya mencengkram telfonnya tadi dengan kuat, seakan itu adalah Rico yang ingin dia hancurkan.


" Iya, Pa. " Jawab Faisal.


___________


Sampai di rumah sakit, Rico langsung keluar dia membuka pintu mobil dimana Aisyah berada. Rico kembali menggendong Aisyah yang masih belum sadarkan diri, dia langsung berlari masuk rumah sakit dengan menanggung beban Aisyah yang tak sadar.


Rico sama sekali tak menghiraukan sakitnya sendiri, luka-luka dari pukulan brandal tadi dia abaikan bahkan kakinya sendiri kini kembali lagi terbuka lukanya dan darahnya menjadi cap di lantai yang berwarna putih bersih itu.


Rico terus teriak memanggil dokter, dia tidak bisa tenang karena keadaan Aisyah yang belum bisa di pastikan bagaimana. Entah baik-baik atau mungkin sebaliknya. Sakit nya tak seberapa dua rasakan, tapi rasa sakit yang Aisyah derita itu lah yang seakan menusuk seluruh tubuhnya.


" Ya Allah, tolong selamatkan Aisyah ku. " Gumamnya sembari terus berlari.


" Dokter! Dokter!. " Teriak Rico tiada henti. Dia terus memanggil para medis untuk memeriksa keadaan Aisyah.


Belum juga sampai di dalam Rico terjatuh karena kakinya terasa sakit tiba-tiba, dengan sekuat tenaga Rico menahan Aisyah supaya tidak terjatuh di lantai dia semakin erat memegangi Aisyah, melindungi nya sesuai dengan janjinya.


" Aww.. Sial! Kenapa harus sekarang. " Desisnya. Rasa sakitnya sendiri ini bukan waktunya yang pas untuk datang sekarang, sekarang yang penting adalah keselamatan Aisyah.


" Dokter! Suster!. " Teriak Rico semakin keras.


Rico berusaha berdiri, dengan sekuat tenaga akhirnya dia mampu berdiri tegak lagi dan menahan rasa sakitnya sendiri.

__ADS_1


Dan saat itu satu dokter dan juga dua suster berlari ke arah nya dengan mendorong brangkar. Rico menurunkan Aisyah di atasnya dan ikut mendorong Aisyah untuk di bawa ke ruang UGD.


Brukk...


Rico terjatuh karena kakinya tak mampu berjalan mengejar cepatnya brankar itu berjalan, sontak satu suster membantu Rico untuk berdiri.


" Mas juga terluka, sebaiknya Mas juga harus di periksa. " Ucapnya.


" Tidak, utamakan Aisyah dulu aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. " Jawab Rico dan berusaha berdiri dengan bantuan suster itu.


" Tapi, Mas?. "


" Utamakan dia, Sus. Aku mohon, pastikan dia baik-baik saja. " Ucap Rico yang terus mengabaikan keadaannya dirinya sendiri.


" Baik , Mas. " Suster itu berlari setelah Rico bisa berdiri dengan tegak.


Rico kini hanya bisa berjalan dengan pelan untuk sampai dimana Aisyah dibawa, dengan langkahnya yang tak beraturan, dan dengan kaki satunya yang seperti di seret-seret.


Cukup lama Rico bisa sampai di tempat Aisyah, Rico mengintip dari balik kaca buram yang hanya samar-samar. Aisyah sudah mulai di tangani di dalam sama akhirnya Rico bisa lega.


Terlihat Farel yang berlari mendekat matanya langsung mengarah ke Rico yang berdiri di depan pintu menunggu Aisyah, Farel juga bisa melihat betapa parahnya kakinya Rico sekarang, begitu besar perjuangan Rico untuk bisa membawa Aisyah ke sana, sedangkan dirinya? Apa yang dia lakukan, dia tak bisa melakukan apapun?.


" Rico, bagaimana dengan Aisyah?." Tanya Farel.


Rico tak berniat untuk menjawab dia masih malas untuk bicara mungkin karena rasa sakitnya juga yang ada di bagian wajahnya yang dia tahan.


Farel melihat sendiri dari balik kaca, dia juga bisa melihat Aisyah yang masik tak sadar kalo diri.


Rico berjalan pelan duduk di kursi karena dia tak sanggup lagi untuk berdiri terlalu lama. Farel mendekati Rico dan menawari Rico untuk di periksa namun Rico menolak dia masih ingin di sana untuk memastikan keadaan Aisyah.


" Kamu terluka, Rico. Kamu juga harus di periksa. Aku akan mengantarkan mu, ayo." Ajak Farel.


Rico tersenyum hambar dia tak membutuhkan obat sekarang, dia hanya ingin melihat Aisyah baik-baik saja, itu sudah lebih cukup.


" Tidak usah repot-repot, aku akan baik-baik saja. Aku tak selemah itu hingga luka begini saja harus di obati. " Jawab Rico.


" Rico! Kurang ajar kamu ya!."


Tangan kekar langsung mencengkram kerah baju Rico dan membuat nya terkejut, Rico berdiri karena mereka ingin tercekik, baru saja dia bisa berdiri pukulan keras mendarat di pipinya hingga Rico kembali terduduk.


____


Bersambung....

__ADS_1


_______________


__ADS_2