Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
82.Biarkan sesuai Takdir


__ADS_3

____


Happy Reading...


__________________


Adzan subuh berkumandang, bunyinya begitu sangat nyaring sehingga membangunkan Rico yang tidur dengan keadaan duduk dengan membungkukkan badannya ke ranjang Marno.


Mata Rico perlahan terbuka, padangan nya masih terlihat sayu-sayu. Rico mengucek matanya berkali-kali untuk bisa membuatnya lebih jelas untuk dia melihat hari baru yang telah tiba.


Rico duduk dengan tegak, sekejap memandangi Marno yang masih menutup mata dan dengan bantuan oksigen yang masih melekat di hidungnya. Melihat Marno belum membuka mata Rico beralih menoleh ke belakang di lihatlah sang Bunda yang masih begitu nyenyak dalam tidurnya di atas tikar yang sederhana.


Rico beranjak lalu mendekati Susan, berlutut di sana dan membangunkan Susan dengan begitu pelan. "Bunda, sudah subuh. Bangun yuk." Rico begitu pelan membangunkan Susan, dia tidak mau sampai Susan kaget nantinya.


Mendengar suara dari Rico seketika Susan membuka matanya lalu beranjak dengan sangat pelan, "sudah adzan?" tanyanya.


Rico mengangguk dia berdiri dengan pelan juga. "Sudah, Bun."


Keduanya langsung bergantian masuk ke kamar mandi sekedar bersih-bersih kecil dan juga mengambil wudhu. Rico meminta Susan terlebih dahulu yang masuk dan setelah Susan keluar baru Rico yang masuk.


Keduanya membentangkan sajadah di sebelah ranjang Marno, sholat subuh berjamaah dengan sangat khusuk. Meskipun ilmu agamanya Rico tidak terlalu tinggi, tapi bisalah sekedar menjadi imam untuk keluarganya sendiri, kalau untuk orang lain mah Rico belum sanggup katanya.


Selesai solat keduanya berdoa, doa yang paling utama untuk sekarang adalah kesembuhan dari Marno, Rico maupun Susan tak berfikir apapun lagi kecuali kesembuhan ayahnya.


Kedua telapak tangan masing-masing sudah mengusap sempurna di wajah mereka masing-masing setelah selesai berdoa. Rico membalikkan tubuhnya meraih tangan Susan dan memberikan salaman takzim padanya.


"Bun, seandainya Rico pergi ke bengkel tidak apa-apa kan?" tanya Rico.


Kali ini bukan tujuannya pada Aisyah yang menjadi tujuan Rico, melainkan dia harus mencari uang yang banyak untuk membiayai kesembuhan Marno.


"Maafkan Bunda dan Ayah ya, Nak. Kami berdua telah menyusahkan mu, gara-gara kami mungkin tujuanmu untuk mewujudkan keinginan papanya Aisyah akan gagal," ucap Susan begitu sendu, Susan sangat menyesalkan semua itu, jika saja Marno tidak sakit mungkin tabungan Rico tidak akan habis, bahkan sekarang dia masih harus mencari uang yang belum dia bayarkan.


"Jangan bicara seperti itu, Bun. Bunda dan Ayah adalah harta terbesar Rico, bagaimana mungkin Rico akan membiarkan Ayah sakit, apapun akan Rico lakukan untuk bisa membuat Ayah sembuh, Bun."


"Lalu, bagaimana dengan Aisyah? Bagaimana jika dalam sebulan ini kamu tidak bisa mewujudkannya? "


Senyum, senyum dan senyum hanya itu lah yang bisa Rico tampakkan di hadapan Susan, dia tidak akan egois demi cinta dan mengorbankan orang tuanya, jika Aisyah memanglah jodohnya meskipun dia tidak memiliki satu sen saja uang mereka pasti akan tetap bersatu. Namun sebaliknya, jika mereka tidak berjodoh, sebanyak apapun harta yang berhasil Rico kumpulkan tidak akan bisa membeli Aisyah.

__ADS_1


"Bunda tidak usah memikirkan itu, semua yang akan terjadi akan sesuai dengan ketentuan takdir. Rico percaya itu, Bun. Jika orang tua Aisyah benar-benar mau menerima Rico, beliau harus menerima segala kekurangan Rico. Namun jika beliau tidak bisa menerima itu meskipun apa yang dia ingin bisa Rico dapatkan suatu saat beliau pasti akan menuntut sesuatu hal lagi. "


"Pernikahan bukankah taruhan, bukan juga permainan antara si miskin dan si kaya, pernikahan bukan seperti itu, Bun. Aku ingin bisa menikah seperti Bunda dan Ayah saat menikah dulu. Kedua keluarga yang saling menerima, saling mendukung, dan niatnya hanya karena Allah, bukan hanya karena Cinta."


Kini Rico hanya bisa pasrah, jika keadaan memang tidak memungkinkan mungkin dia akan mundur dan akan merelakan kebahagiaannya untuk orang lain. Jika tidak dengan Aisyah mungkin suatu saat akan ada gadis yang benar-benar bisa menerimanya termasuk keluarga gadis itu juga.


Butir-butir air mata berhasil lolos dari mata Susan, dia sangat bangga terhadap anak semata wayangnya itu. Kedewasaan benar-benar membuat nya sangat bahagia.


Susan merengkuh tubuh Rico, memeluknya begitu hangat sampai-sampai Rico begitu terbuai akan kasih sayang itu dan rasanya tidak ingin dia lepaskan.


"Maafkan Bunda, Nak. Maafkan Bunda." ucapnya hingga berkali-kali.


Rico menata hati sebelum dia melepaskan pelukannya dari Susan, dan setelah benar-benar tenang dia baru melepaskan diri, "jangan bicara seperti itu, Bun. Jangan pernah berfikir apapun lagi, yang terpenting sekarang Bunda harus tetap sehat, masalah biaya ayah, biar menjadi urusan Rico."


"Tapi, Nak. Dari mana kamu bisa mendapatkan uang segitu banyak?"


"Tenang, Bun. Rico ada sedikit tabungan, jika masih kurang Rico bisa pinjem sama teman-teman Rico. Yang terpenting Ayah harus sembuh."


"Meskipun bekerja, kamu jangan lupa tetap jaga kesehatan juga ya, jangan sampai kamu sakit." Susan membelai lembut dagu Rico dengan mata yang terus berkaca-kaca.


"Iya, Bun. Kalau begitu Rico siap-siap dulu ya, Bun. Untuk sarapan Bunda, biar nanti Rico pesan lewat online, pokoknya jangan pikirkan untuk makan Bunda, sebelum waktu makan tiba akan ada orang yang mengantarkan nantinya untuk Bunda. " ucap Rico.


"Hem."


________


Pagi-pagi buta Aisyah sudah keluar dari rumah seorang diri, dia sudah rapi dan lengkap dengan perlengkapan kuliahnya. Meskipun dia berangkat pagi-pagi namun dia tetap sudah izin terlebih dahulu pada Keisha jadi tidak akan masalah.


Tujuannya bukan kampus, melainkan sebuah restoran yang belum di buka. Ya, Restoran itu adalah aset rahasia milik Aisyah sendiri. Aisyah masuk dan tempat yang menjadi tujuannya adalah dapur.


Aisyah meletakkan tas dan juga buku-bukunya di kursi, dia langsung membuka pintu kulkas mengambil sesuatu yang akan dia masak. Kali ini Aisyah berniat untuk membuat bubur dan beberapa menu untuk sarapan, dia berniat mau menjenguk Marno yang ada di rumah sakit.


Aisyah begitu fokus membuat nya, bahkan dia tak tolah-toleh karena dia ingin memastikan semuanya dalam rasa yang sempurna.


Satu jam berkutat di dapur akhirnya empat wadah sudah penuh dengan masakannya, Aisyah menyusunnya dan cepat-cepat untuk pergi, dia hanya sedikit membereskan dapur itu saja namun dia tidak mencuci perabotan yang kotor karena dia tidak mau sampai terlambat ke kampus nantinya.


Sebelum Aisyah benar-benar pergi, Aisyah lebih dulu berpesan kepada penjaga untuk menyampaikan pada salah satu karyawannya nanti untuk mencuci perabotan yang dia buat kotor.

__ADS_1


"Pak, tolong nanti salah satu karyawan untuk mencuci perabotan yang kotor ya. Maaf, soalnya saya sedang buru-buru." Ucapnya.


"Baik, Bu." jawab penjaga.


Motor Aisyah pun langsung melaju dengan kecepatan tinggi maklum ini masih terlalu pagi dan jalanan juga masih sangat sepi, jadi Dia bisa mempercepat laju motornya.


Sepuluh menit dalam perjalanan, dan Aisyah sampai juga di pelataran rumah sakit. Aisyah yang sudah tau keberadaan Marno di mana dia langsung menuju ke tempat itu.


Aisyah mengetuk pintu sebelum dia masuk.


𝘛𝘰𝘬.... 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬... "Assalamu'alaikum.. " Sapa Aisyah.


"Wa'alaikumsalam.. " Jawab orang yang ada di dalam namun suaranya terdengar sangat minim.


Aisyah masuk meskipun pintu tidak di buka, matanya langsung melihat Marno yang masih menutup mata, dan juga Susan yang menatap kedatangannya.


"Nak, Aisyah! " Susan langsung beranjak setelah dia tau siapa yang datang.


Aisyah mempercepat lajunya, mendekati Susan tak lupa dia juga menyalami Susan. "Maaf tante, Aisyah baru bisa jenguk sekarang. Aisyah benar-benar tidak tau kalau Om sakit." Ucap Aisyah menyesalkan.


"Tidak apa-apa, Nak. Justru tante berterima kasih karena kamu sudah mau jenguk Om." Senyum kecil Susan keluarkan.


Gadis di hadapannya Susan sekarang, dia sangat baik, dan juga sangat sopan. Susan sudah sangat cocok jika Rico dan Aisyah bisa bersama-sama menjalin sebuah ikatan yang suci, tapi Susan hanya bisa menyesalkan karena semua perbedaannya dan juga keluarga Aisyah yang tak memungkinkan untuk itu bisa terwujud.


"Tante, ini Aisyah bawakan sarapan untuk tante dan juga bubur untuk Om. Tapi jangan di nilai dari bentuknya yang, Tan. Aisyah tidak sepintar bang Rico dalam hal makanan." Ucap Aisyah sembari memberikan kotak-kotak itu pada Susan.


"Kok malah repot-repot? Kamu sudah kesini saja tante sudah seneng banget loh." Susan pun langsung menerimanya dengan senang hati.


"Nggak repot kok, Tan..... Oh iya, bagaimana keadaan Om sekarang, Tan? Apa sudah ada perkembangan?" tanya Aisyah.


Susan menggeleng, karena sedari masuk hingga sekarang sama sekali belum ada perkembangan apapun. "Belum."


"Tante yang sabar ya, Om pasti akan segera sembuh," ucap Aisyah menghibur.


"Amin.... "


_____

__ADS_1


Bersambung..


____________


__ADS_2