Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
152.Mencari Kebenaran


__ADS_3

Happy Reading....


______


Baru saja masuk ke dalam rumah Iqbal sudah di sambut dengan wajah tak mengenakkan satu Siska sang mama. Entah ada apa lagi dengan mamanya itu, sudah beberapa hari dia selalu mengikuti apa yang di katakan, berharap dengan Iqbal yang menurut lama-lama hati Siska akan luluh tapi rasanya tak semudah itu.


Tatapan Siska terlihat mengintimidasi Iqbal, padahal Iqbal juga gak menemui gadis pujaan saat dia pergi, kenapa terlihat marah seperti itu mamanya.


"Iqbal, dari mana kamu?!" tanyanya. Suaranya terdengar begitu angkuh, tak ada sisi lembutnya sama sekali seperti saat dia belum bertemu dengan keluarga Shelvia. Segitu bencinya Siska pada orang tuanya Shelvia sehingga bisa mengubah kelembutan menjadi keras seperti sekarang.


Helaan nafas panjang keluar dari hidung Iqbal. Dia sangat lelah sebenarnya harus terus menurut seperti ini. Iqbal sudah berusaha untuk mengerti hati Siska tapi sepertinya dia tak mendapatkan balasan baik darinya.


Iqbal punya rasa, punya emosi, punya kesabaran yang terkadang ingin habis. Tapi semua itu dia kendalikan dengan kuat, dengan mencengkram kuat supaya bisa membuat mamanya sadar, tapi tidak.


"Ma, Iqbal hanya pergi ke resto Nusantara, Ma! Hanya bertemu dengan Rico juga Dante saja," jawab Iqbal.


Hatinya mulai dongkol namun dia masih memendamnya dan berharap tidak akan meledak meskipun sudah di puncaknya.


"Apa mama bisa mempercayainya?" Pertanyaan Siska terdengar sangat sinis juga meragukan. Sepertinya dia tak mudah untuk percaya meski itu dengan anaknya sendiri.


"Terserah mama mau percaya atau tidak. Yang terpenting Iqbal sudah mengatakannya dengan jujur." ucapan Iqbal terjeda.


"Lagian ya, Ma. Iqbal heran sama mama, kenapa mama tidak bisa berdamai dengan hati mama, melupakan semua kebencian, juga dendam mama. Bukankah dengan itu mama akan bahagia!? " lanjut Iqbal.


"Mereka tidak pantas mendapatkan itu, Iqbal. Mereka tidak pantas mendapat kebahagiaan sedikitpun! " ucapan Siska begitu tinggi dia tak peduli dengan apa yang anaknya pikir dan rasakan, Siska terlalu egois karena hanya mementingkan isi hatinya sendiri.


Iqbal ingin sekali meledak amarahnya tapi dia tak boleh melakukan itu, seperti apapun Siska dia tetap mamanya yang harus di hormati.


"Terus apakah dengan ini mama akan bahagia? mama juga tidak akan bahagia. Mama akan terus di hantui dengan kebencian juga dengan dendam yang tak pernah ada habisnya."


"Jika mereka bersalah aku yakin mereka tidak akan malu untuk meminta maaf pada mama. Tapi kalau mama yang bersalah kenapa mama tidak mau meminta maaf dengan mereka. Hiduplah dengan kedamaian, Ma! tidak ada kebencian juga tidak ada dendam! "


"Dan..., dan biarkan Iqbal bahagia dengan Shelvia, Ma. Iqbal sangat mencintainya! Iqbal hanya menginginkan Shelvia saja, Ma! "

__ADS_1


Iqbal terduduk di kursi mengusap wajahnya dengan kasar, dia juga membungkuk memandangi lantai, dia begitu frustasi dia lelah dengan keadaan ini.


Emosinya ingin sekali meledak tapi dia duduk untuk bisa meredakannya, sebisa mungkin dia akan mengontrolnya.


"Iqbal tidak tau sebenarnya ada masalah apapun mama dengan mereka, tapi Iqbal akan cari tau sendiri. Jika mama yang terbukti bersalah jangan menyesal jika mama akan kehilangan Iqbal untuk selamanya,"


Iqbal kembali beranjak, dia berlalu begitu saja untuk pergi. Tekatnya sudah sangat bulat dia ingin mencari kebenaran yang sangat dia inginkan.


Mata Siska begitu memerah juga melotot tajam mengiringi kepergian anaknya. Dia sungguh tak bisa menghentikannya, dia juga sangat takut kalau Iqbal akan menemukan kebenarannya, yang jelas Iqbal akan sangat membencinya.


"Iqbal..! Iqbal..! Kembali kamu, mama mau bicara...! " teriak Siska tapi Iqbal sudah tak peduli lagi dengan teriakannya.


Siska tertunduk lesu dia begitu ingin menjauhkan Iqbal dari Shelvia juga keluarganya tapi dia yakin tak akan bisa. Cinta Iqbal sepertinya sudah sangat besar, jika kesalahan terdapat di keluarga Shelvia dia pasti akan tetap menantangnya apalagi ini adalah kesalahan Siska.


"Apa yang harus aku lakukan? tidak mungkin tidak mungkin aku akan melupakan semuanya begitu saja. Aku juga tidak mungkin akan menerima mereka untuk menjadi keluarga di masa depan, tidak akan mungkin," gumam Siska.


___________


Rona bahagia begitu jelas keluar dari Rico juga Aisyah yang baru pulang dari acara makan malam mereka. Mereka juga pulang dari tempat yang paling indah yang Rico tunjukkan pada Aisyah.


"Loh, kok di... " Rico mendekat mengangkat jari telunjuknya dan dia tempelkan ke bibir Aisyah.


Aisyah terdiam, matanya menatap intens wajah Rico dan berpusat pada matanya.


"Apakah kamu senang untuk hari ini? " ucapan Rico terdengar begitu lembut. Sepertinya ada sesuatu yang dia inginkan karena suaranya terdengar begitu aneh.


Rico mencondongkan wajahnya dekat ke wajah Aisyah. Melepaskan jari telunjuknya dan beralih merangkul pinggangnya.


Rico melangkah mengikis jarak di antara keduanya sembari menarik pinggang Aisyah hingga akhirnya bisa saling menyatu tanpa ada jarak.


Tatapan mata kedua saling beradu, ini bukan kali pertama untuk Aisyah berjarak begitu dengan dengan Rico tapi kenapa jantungnya masih saja terus berdetak cepat.


Begitu susah untuk Aisyah menelan saliva nya sendiri, dia begitu malu bahkan sekarang wajahnya semakin merona bagaikan tomat matang yang baru di petik dan terlihat sangat segar dan akan menggugah selera.

__ADS_1


"Kenapa? " pertanyaan dari Rico yang membuat Aisyah semakin malu. Kenapa harus di tanya? Aisyah yakin Rico sudah tau akan jawabannya.


Aisyah hanya menggeleng sebagai jawaban di hiasi senyuman kecil lalu menundukkan wajahnya.


"Bisa kita mulai? " tanya lagi Rico.


Aisyah mengangkat wajahnya memandangi Rico dengan dengan bingung, emang apanya yang harus di mulai bahkan Rico tidak mengatakan apapun kegiatan yang akan mereka lakukan.


Aisyah yang terlihat bingung membuat Rico menyeringai. Entah benar-benar tidak tau atau Aisyah hanya mengujinya saja.


Rico membuka hijab Aisyah pelan dari depan, menaruhnya di kasur yang memang tidak jauh dari keduanya berdiri.


Rico juga melepaskan ciput berwarna putih yang menutupi rambut Aisyah lalu dia juga melepaskan rambut Aisyah dari gelungannya. Rambut yang terurai panjang sangat indah di mata Rico, dia sangat menyukai itu.


Sekarang Aisyah baru sadar kalau suaminya tengah menginginkan atas dirinya.


"Bisa mulai sekarang? " tanya Rico sekali lagi dan kali ini Aisyah mengangguk.


Memang sudah semestinya mereka melakukannya, mereka sudah sah sekarang, sudah halal dan dengan penyatuan cinta mereka yang di lakukan lebih sering akan menambah cinta dari mereka berdua.


Ikatan mereka pastilah akan semakin besar dan kuat lagi. Bukan hanya itu saja yang menjadi keinginan pasangan ini, tapi hadirnya buah hati yang akan menyempurnakan kebahagiaan mereka.


Aisyah mengangguk kecil, setelah Rico membahagiakannya tidak ada salahnya kan dia juga membahagiakan Rico dengan memberikan apa yang Rico inginkan?


Rico membungkuk, mengelus lembut perut Aisyah dan berbisik di sana.


"Semoga, Allah secepatnya memberikan kepercayaan untuk kita menjadi orang tua. Cepatlah datang jagoan Papa."


Matanya melirik kepada Aisyah yang sama berharapnya.


______


Bersambung.....

__ADS_1


____________


__ADS_2