Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
54. Ada hubungan apa?


__ADS_3

____


Happy Reading..


___________________


Motor berhenti di sebuah Resto yang Shelvia datangi kemarin, suasana masih sangat sepi karena ini juga masih pagi. Bahkan Resto juga belum di buka dan masih ada tulisan 'Close ' di sana, yang menggantung manis di depan pintu.


"Nah sudah sampai, mau ikutan turun juga nggak? " Ajak Iqbal begitu semangat. Iqbal turun dari motor Shelvia, dan langsung menyerahkan stang kepadanya.


Yang pasti Shelvia akan langsung menggeleng dan juga menolak, buat apa dia ada di sana? Meskipun tugasnya belum beres namun sekarang dia harus pergi ke kampus untuk kuliahnya yang juga sangat penting untuk masa depannya.


"Tidak, buat apa aku ikut. Aku kan harus ke kampus. " Jawab Shelvia begitu cuek-cuek bebek.


"Turun ya, please turun... " Iqbal bersikeras untuk mengajak Shelvia turun namun sepertinya itu tak akan membuahkan hasil sama sekali karena Shelvia tetap menggeleng kekeuh.


"Tidak."


Kecewa, loyo itu yang Iqbal rasakan. Tapi mau apa di kata dia tidak ada hal untuk memaksa Shelvia dengan cara apapun juga.


Iqbal mengangguk pelan nan kecewa, menghembuskan nafas beratnya dengan pasrah. "Baiklah. " Iqbal mengulurkan tangannya di hadapan Shelvia dengan begitu percaya diri.


Shelvia mengernyit melihat tangan Iqbal yang sudah ada di hadapannya dengan begitu kokoh. Untuk apa Iqbal melakukan itu yang pasti membuat Shelvia bingung dan malah terdiam dengan kaku.


"Jangan dilihatin terus, di sambut dong lalu di cium. " Ucap Iqbal ngadi-adi.


Sontak Shelvia menggeleng dengan satu bibir terangkat dengan sinis. Iqbal memang luar biasa, dia seolah tak berfikir dahulu sebelum melakukan itu. "𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘴𝘵𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘣𝘳𝘰... 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯. " Batin Shelvia.


"Hem... Dasar...! " Ujar Shelvia.


Shelvia tak mau tau lagi apapun yang Iqbal lakukan bodo amat, dia sudah di kejar waktu sekarang dan dia harus segera sampai di kampus sepuluh menit lagi, kalau tidak... Matilah kau Shelvia, kau akan mendapatkan peringatan dari Dosen Killer.


"Nggak mau hanya berjabat tangan dan mencium nya ya? Bagaimana kalau aku cium kening saja? Itung-itung latihan jadi pasangan sah gitu. " Ucap Iqbal dengan alisnya yang naik turun dengan genit.


Shelvia semakin tak habis pikir, Iqbal benar-benar sudah kehilangan akal atau mungkin emang tidak punya akal? Shelvia harus pergi ke toko onderdil sepertinya, siapa tau ada otak cadangan untuk Iqbal pakai.


Wajah datar terus Shelvia tampilkan di hadapan Iqbal yang terus berwajah berbinar dengan segudang rayuan yang sama sekali belum mempan, maklum lah mantan playboy pasti banyak cara untuk meluluhkan hati seorang gadis yang menjadi idamannya.


"Assalamu'alaikum! " Seru Shelvia dan melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Iqbal sang pengacau di pagi harinya ini.


"Wa'alaikumsalam! Loh, aku belum cium! Kau juga harus belajar menjadi istri yang baik dan sholehah! " Teriak Iqbal tak tau malu.


"Dasar tak tau malu." Sungut Shelvia yang sudah tancap gas dengan kecepatan tinggi.


Iqbal tersenyum tipis, uh.. Senengnya pagi-pagi bertemu dengan Shelvia, seolah dia meminum vitamin sekarang hingga dia begitu semangat untuk menjalani harinya.


______


Kekecewaan Aisyah tak sampai di kampus, setelah dia menanyakan kepada Rayyan apa tujuannya kini dia kembali lagi ke kampus. Tak mungkin juga akan menggerutu, dan memasang wajah masam di sana juga, ini bukan tempat yang pas untuknya.

__ADS_1


Meskipun hatinya kacau balau tak beraturan namun dia tak bisa membawa masalah pribadinya di manapun juga.


Tak seperti biasanya yang ada di perpus sendirian saat istirahat, Aisyah lebih ke kantin mengisi perut bersama dengan Shelvia dan juga Meyka. Meskipun otak lagi bunek.. Perut tak harus merasakan dampaknya dan akan berakibat lambungnya yang akan menderita.


"Syah, tumben tadi kamu telat. Mentang-mentang bawa motor sendiri, belok kemana saja tadi? " Tanya Shelvia kepo tingkat tinggi.


Aisyah tetap memasukkan satu persatu kentang goreng ke mulutnya, dan tentunya dengan wajah datar yang menjadi primadonanya yang tak pernah luntur.


"Nggak ada kemana-mana. " Jawab Aisyah acuh.


"Mana mungkin? Ayolah, kita kan sehati, sejantung, separu tapi tidak seusus ya kan aku makanya banyak. " Ucap Shelvia di sambung dengan tangan mengambil satu potong kentang dan melahapnya.


"Ngaku ternyata. "


"Aku kan jujur apa adanya, jadi apa sih yang tidak aku katakan. Sok atuh cerita, nanti aku aku yang traktir deh. " Kekeuh Shelvia.


"Hanya kentang goreng aku masih bisa bayar kali. " Sinis Aisyah.


Meyka yang sedari tadi diam akhirnya mulai menggelengkan kepalanya beberapa kali, kedua sepupunya ini kapan bisa diam saat bersama pasti mereka akan selalu berdebat dengan obrolan yang tidak penting menurutnya ya karena dia memang tidak tau.


"Kalian ini pada ngomongin apa sih? Pusing ya aku lama-lama. " Celetuk Meyka angkat bicara.


"Tidak ngomong apa-apa. " Jawab Aisyah.


"Ngomong tokek mencari kandang untuk makan, dan dapatnya kandang sapi,mooo..." Gurau Shelvia.


"Permisi... "


Senyum seorang gadis yang seumuran dengan mereka begitu terpancar begitu cerah, matanya berbinar begitu indah baru yang melihat.


Mereka bertugas langsung menoleh secara bersamaan, memandang siapa yang datang menyapa dengan begitu ramah.


"Ya." Ucap Shelvia.


"𝘋𝘪𝘢! 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢...? " Pekik Aisyah yang sangat mengenali gadis itu.


"Felisha ya? " Tanya Aisyah dan gadis itu tersenyum sembari mengangguk pelan.


"Boleh saya gabung? " Tanya Felisha yang benar-benar penuh sopan santun dan tak terlihat Felisha yang bar-bar dan begitu cerewet.


"Hem." Aisyah mengangguk begitu juga dengan Shelvia dan Meyka yang belum mengenal Felisha.


Dengan perlahan Felisha duduk, dia juga terus tersenyum begitu manis seandainya mereka bertiga adalah seorang pria mungkin mereka akan klepek-klepek karena senyumnya, tapi itu tidak akan terjadi kan? Karena mereka sama-sama seorang wanita.


Baru beberapa saat Felisha duduk pesanan Felisha datang, Spagetti dan juga jus jeruk. Sembari menerima Felisha pun terus tersenyum. Uhh.. Bisa diabetes para cowok yang terus melihatnya.


Meyka dan Shelvia saling tubruk pandang mereka tidak mengenal gadis yang ada di hadapannya itu tapi kenapa dia begitu percaya diri untuk bergabung dengan mereka.


"Aisyah, apakah sepupunya Kak Rico? Felisha dengar kak Rico punya sepupu seorang cewek juga. " Tanya Felisha spontan.

__ADS_1


"𝘚𝘦𝘱𝘶𝘱𝘶? 𝘏𝘦𝘭𝘭𝘰... 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘨𝘦𝘣𝘦𝘵𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘒𝘢𝘬 𝘙𝘪𝘤𝘰, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢, 𝘭𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘪𝘳𝘪𝘱-𝘮𝘪𝘳𝘪𝘱𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢. " Sinis Shelvia yang hanya mampu di dalam hatinya saja.


"𝘚𝘦𝘱𝘶𝘱𝘶..? " Aisyah pun tak kalah terkejutnya. "Bukan, kamu salah. Aku teman Bang Rico. " Jawab Aisyah.


"Lebih tepatnya, temen dekat Kak Rico! Iya kan Mey? " Saut Shelvia.


"Iya, temen deket. " Jawab Meyka cepat.


Aisyah melirik kecil ke arah dua sepupunya tersebut, kenapa mereka selalu saja ember kalau urusan seperti ini. Aisyah benar-benar tak habis pikir.


"Hehehe... Matamu kenapa, Syah? Sakit ya? Atau kelilipan? Sini aku tiupin. " Ucap Shelvia terkekeh namun terkesan tak ikhlas.


Aisyah tak menjadi dia hanya menggeleng tak habis pikir saja.


"Oh... Temannya Kak Rico, saya kira sepupunya. " Ucap Felisha sedikit kecewa karena perkiraannya salah, dan apa tadi? Temen dekat? Itu artinya nggak mungkin lah.


Mana mungkin Felisha akan percaya begitu saja, dia daja yang kenal dan terus mengejar Rico sama sekali di acuhkan dan tak di lirik, bagaimana mungkin gadis yang baru saja datang langsung mendapatkan tempat spesial itu di hatinya, mustahil.


"Aisyah beneran teman dekat Kak Rico? " Tanya Felisha yang harus tau.


"Belum, tapi akan segera. Iya kan, Syah!. " Lagi-lagi Shelvia yang berbicara.


Aisyah kembali melirik dan kalo ini lirikan matanya begitu menakutkan.


"𝘠𝘢 𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘯𝘪𝘩 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢-𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘒𝘢𝘬 𝘙𝘪𝘤𝘰 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘱𝘦𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘯𝘪𝘩 𝘤𝘦𝘸𝘦𝘬. " Batin Shelvia.


"Maaf, itu adalah hal pribadi saya sama bang Rico. Apapun hubungan kita tidak akan ada sangkut pautnya pada kamu. " Jawab Aisyah dingin.


Felisha terdiam, dia termangu dengan ucapan Aisyah yang begitu cepat. Kenapa dia tidak boleh tau? Apa mungkin benar apa yang Shelvia katakan barusan?. Setumpuk tanya mulai bersarang di benak Felisha.


"Saya permisi, saya harus ke perpus. " Aisyah beranjak dengan begitu cepat melangkah meninggalkan tempat itu.


"Lah! Main tinggal saja tuh anak. Aisyah! Tunggu!. " Shelvia pun ikut belanja. "Pergi dulu ya, Fel.. "


"Felisha."


"Ya, itu maksud saya. " Jawab Shelvia.


"Saya juga permisi ya, Assalamu'alaikum. " Tak ketinggalan Meyka, mereka bertiga sudah seperti satu paket yang tak bisa di pisahkan, harus selalu bersama.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Felisha pelan.


"Sebenarnya hubungan seperti apa yang mereka jalin? Kenapa seperti tak ada pemberitaan apapun juga kalau met kenapa benar-benar dekat. " Batin Felisha.


______


Bersambung...


_______________

__ADS_1


__ADS_2