Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
97. Cemburu


__ADS_3

Happy Reading..


__________________


"Assalamu'alaikum.. " Sapa Rico setelah sampai di sebelah tempat duduk ketiga gadis berhijab itu dengan begitu lembut.


Seketika mereka bertiga menoleh, senyum kecil namun sangat manis Rico keluarkan untuk menyambut pandangan mereka bertiga.


"Wa'alaikumsalam, Kak.. " Jawab Shelvia juga Meyka bersamaan.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Aisyah acuh, mungkin karena di dalam hatinya sekarang tengah mengalami gundah gulana karena sempat melihat Rico dan juga Felisha yang terlihat sedikit mesra untuknya.


"Boleh gabung duduk? " Tanya Rico seraya meminta Izin.


"Boleh, Kak." Jawab Shelvia antusias, senyumnya mengambang namun matanya melirik ke arah Aisyah yang terdiam bahkan wajahnya sudah melengos.


Kursi yang hanya empat kini habis karena Rico ikutan duduk di sana, dan tentunya kursi itu ada dua sebelah Aisyah dan juga Meyka.


"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘦 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘍𝘦𝘭𝘪𝘴𝘩𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘨𝘢𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢? " Batin Aisyah, ya ternyata hati Aisyah tengah di terjang badai kecemburuan karena Rico dan Felisha.


Mendengar itu Rico hanya bisa tersenyum gadisnya tengah cemburu kepadanya, tanpa dia berani mengatakan padanya. "Kamu kenapa, Syah? " Tanya Rico dengan sengaja, ingin sekali melihat ekspresi seperti apa yang akan Aisyah keluarkan.


"Kenapa emang? Nggak ada apa-apa juga! " Jawab Aisyah dengan ketus, wajahnya kembali melengos setelah sejenak melirik ke arah Rico tadi.


Rico mencondongkan wajahnya lebih dekat ke sisi telinga Aisyah dan berbisik di sana. "Oh, tidak ada apa-apa. Hemm...? Apakah hatimu baik-baik saja? Apakah sungguh sakit? Atau mungkin ada goresan kecil yang sangat melukainya? " Goda Rico.


Wajah Aisyah kembali menoleh ke arah Rico dengan cepat, matanya membulat karena pertanyaan Rico, "Tidak, " elak Aisyah.


"Alhamdulillah kalau begitu, jangan sampai hatimu sakit karena itu akan berdampak buruk pada semuanya, hem. " Senyum kembali keluar dari Rico, wajah Aisyah yang bertekuk kusut malah terlihat lucu di matanya.


"Apa peduli, bang Rico?"


"Bukannya kamu sangat tau seberapa besar kepedulian ku terhadapmu?" Ucap Rico.


"Mey, sepertinya keberadaan kita di sini hanya sebagai nyamuk saja deh? Bagaimana kalau kita pindah saja. Takut ganggu rumah tangga mereka yang tengah retak." celetuk Shelvia.


"He'em, yuk kita pindah saja. Moh jadi pengganggu." Jawab Meyka.


Shelvia dan Meyka benar-benar beranjak dari sana, mulai berjalan menjauh dari tempat itu.


Aisyah yang melihatnya begitu terperangah tak percaya, lagi-lagi dia di tinggalkan. Ya, memang ada Rico di sana jadi dia tidak sendiri tapi karena ada Rico itu yang membuat Aisyah merasa sedikit minder karena hanya berdua saja.


"Kak, mau kemana?" Tanya Aisyah.


Shelvia kembali menoleh, "Nggak kemana-mana, hanya ke situ sebentar. " Jawab Shelvia dam kembali berjalan.


"Kebiasaan! " Sungut Aisyah.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka berdua saka denganku?" Tanya Rico.

__ADS_1


"Bukan begitu, Bang. Tapi..?"


"Kita tidak hanya berdua saja di sini, ada banyak orang jadi jangan berpikir kita hanya berduaan saja." Rico menggeser kursinya supaya lebih dekat dengan Aisyah, melipat tangannya di atas meja lalu menatap intens wajah Aisyah yang seperti kebingungan.


"Kenapa? " Tanya Rico lagi.


Aisyah yang tadinya memandangi depan kini menoleh ke arah Rico, dia sangat terkejut melihat Rico yang sangat dekat dengan dirinya. "Jangan deket-deket dong, Kak! Nanti bisa terjadi fitnah! " Ucap Aisyah dengan nada yang sedikit tinggi.


Suara Aisyah yang keras membuat semua pengunjung langsung menoleh ke arahnya dengan sekejap dia menjadi bahan tontonan karena ucapannya sendiri.


Aisyah langsung menundukkan wajahnya karena malu, tubuhnya seakan membatu tak kuasa untuk bergerak.


"Makanya jangan teriak-teriak, malu sendiri kan? heemm.. " Rico tersenyum.


"Gara-gara Bang Rico sih. " Jawab Aisyah namun tetap menunduk malu-malu.


"Kenapa jadi aku? Padahal aku nggak ngapa-ngapain loh, " Rico mengganti posisi tangannya, tangannya sudah menjadi tiang untuk pipinya dan dia lebih intens memandangi Aisyah.


Tingkah Rico itu membuat Aisyah sangat malu, kini wajahnya terus menunduk di tambah dengan pipinya yang sudah merah seperti tomat matang.


Rico semakin terkekeh melihat itu, lucu sekali. Tak susah untuk bisa membuat pipi Aisyah bersemu-semu hanya memandanginya saja wajah yang seperti itu sudah bisa dia lihat dengan jelas.


"Jangan lihat seperti itu dong, Bang! " Aisyah semakin malu.


"Tidak," jawab Rico yang akhirnya mengalihkan pandangannya, sedikit tau juga kalau dia tidak boleh melihat seorang wanita yang bukan mahram lama-lama.


Melihat Felisha duduk di sana kini benar-benar membuat Aisyah terganggu, bahkan bukan hanya itu saja namun amarah Aisyah langsung muncul begitu saja.


Aisyah menghela nafas, mengontrol emosinya supaya tidak meledak begitu saja sekarang. "𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘰𝘯𝘨𝘬𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘨𝘢? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘉𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘪𝘤𝘰 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢? 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘉𝘢𝘯𝘨 𝘙𝘪𝘤𝘰 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘪𝘬, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯, 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴. " Batin Aisyah.


Rico mengernyit bingung, apa yang harus dia ketahui sekarang, apa yang harus terbongkar. Dan siapa yang tidak baik untuk nya.


"𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩? " Rico benar-benar bingung.


Rico memandangi kedua gadis itu bergantian, keduanya sama-sama tak saling melihat dan terlihat dengan jelas ada aura permusuhan dari mereka berdua.


"𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘦𝘣𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶? 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘱𝘢? " Batin Rico tak sadar kalau yang jadi bahan perebutan mereka adalah dirinya sendiri.


"Bang Rico, sebaiknya bang Rico jauhi dia deh, dia tidak baik, bang." Ucap Aisyah mendahului.


Kata-kata Aisyah mampu membuat Rico dan juga Felisha terkejut, bagaimana bisa Aisyah meminta itu padanya. "Kenapa? " Tanya Rico.


"Ya, ya tidak baik saja." Jawab Aisyah yang masih menutupi nya.


Yang jelas itu akan memancing amarah dari Felisha, dia tidak bisa jauh dari Rico bagaimana dia harus di jauhi?.


"Sebenarnya apa masalah mu! Aku tidak pernah melarang mu untuk dekat dengan kak Rico, tapi kenapa kamu melarang Kak Rico untuk dekat dengan ku! Apa kamu takut kalah! Apa kamu takut kalau Kak Rico lebih memilih ku! Heemmm..., tak bisa di percaya kalau cewek sepertimu ternyata seorang yang licik. " Felisha menyunggingkan bibirnya tak percaya.


"Sebelum bicara lebih baik kamu ngaca terlebih dahulu, siapa yang licik sebenarnya aku, atau kamu dan ayahmu itu! Demi bisa mendapatkan apa yang kalian, kalian tega melakukan segala cara, sekarang siapa yang licik! " Jawab Aisyah.

__ADS_1


"Emangnya apa yang aku dan Deddy ku lakukan! Kami tidak melakukan apapun! " Felisha semakin marah.


Rico hanya bingung sebenarnya apa yang mereka bicarakan, mata Rico terus menatap bergantian ke arah mereka, siapa yang bicara maka dia lah yang Rico tatap.


"Apakah kamu sudah pikun? " Tanya Aisyah.


"Tidak! Saya tidak pikun sama sekali! "


"Berarti kamu hanya berlagak sok tidak tau apa-apa kalau begitu. "


"Aisyah, sebenarnya ada apa ini? Apa yang Felisha dan Deddy nya lakukan? " Tanya Rico mengernyit.


𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨... 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨... 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨...


Belum juga Aisyah menjawab pertanyaan Rico ponselnya berbunyi dan dengan cepat Aisyah mengambilnya dari saku lalu mengangkatnya bahkan Aisyah juga membesarkan bunyi dari suara ponselnya.


"Bang Rico bisa mendengarnya. " Ucapnya.


Rico juga Felisha semakin mengernyit, sebenarnya apa yang akan dia dengar dari ponselnya Aisyah, dan siapa yang menghubunginya.


"Assalamu'alaikum,,, bagaimana? Apa semua lancar? " Tanya Aisyah.


"𝘞𝘢'𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘕𝘰𝘯𝘢. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘴𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘔𝘦𝘴𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘰𝘭𝘪𝘴𝘪 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘯𝘺𝘢. " Jawab orang di seberang.


"Bagus, pastikan dia tidak bisa mengepak lagi, dia harus di hukum. "


"𝘉𝘢𝘪𝘬 𝘕𝘰𝘯𝘢. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘙𝘦𝘴𝘵𝘰 𝘕𝘶𝘴𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢. "


"Bagus.. "


𝘛𝘶𝘵.. 𝘛𝘶𝘵.. 𝘛𝘶𝘵..


Rico terperangah tak percaya, sementara Felisha langsung lemas, dia begitu syok mendengar sendiri apa yang telah terjadi dengan Deddy nya.


"Bagaimana, sekarang bang Rico sudah mendengar kan? Apa alasannya?" Ucap Aisyah.


"Ini tidak mungkin kan, Syah? "


"Inilah kenyataannya, Bang. Deddy nya Felisha yang melakukan itu. Aku yakin Felisha juga tau itu? Atau jangan-jangan dia yang memintanya?" Ucap Aisyah.


Rico langsung menatap Felisha, sementara yang di tatap sudah mengeluarkan air matanya sembari terus menggeleng kasar.


"Ini tidak benar, dia pasti bohong." Racau Felisha.


__


Bersambung...


________________

__ADS_1


__ADS_2