
Happy Reading...
____
Menyambut kedatangan Aisyah sang menantu juga Rico anaknya membuat Susan juga Sumarno harus mempersiapkan segalanya. Yang pasti mereka tidak hanya berdua saja, ada Dante juga Iqbal yang selalu setia membantu.
Dante bertugas di dapur di bantu Susan untuk menyiapkan semua makanan, sementara Iqbal di banti Sumarno membenahi dan bersih-bersih semua ruangan di rumah baru yang Rico beli beberapa hari yang lalu.
"Nak Iqbal, usiamu juga sudah pas untuk menikah, apa kamu tidak ada niatan untuk menyusul Rico dalam waktu dekat? " tanya Sumarno.
Seketika Iqbal menoleh, siapa yang nggak kau secepatnya melepas masa lajangnya jika ada mempelainya hari ini juga oke, tapi masalah gadis yang Iqbal kejar-kejar belum juga memberikan kepastian, bahkan belum merespon apalagi membalas cintanya.
"Mau sih, Yah. Tapi masalahnya calonnya belum ada. Ada sih, tapi masalahnya dia belum respek sama Iqbal," jawab Iqbal.
"Oh..., kamu yang sabar ya, kesabaran pasti akan selalu berbuah manis. Contohnya Rico, semua ujian dan hinaan dia lalu dan dia dapatkan tapi alhamdulillah sekali semua itu sudah berlalu, dan berakhir dengan baik," ujar Sumarno menasehati Iqbal.
Iqbal hanya tersenyum samar-samar, semua yang di katakan Sumarno memang benar. Perjuangannya belum ada apa-apa di bandingkan dengan perjuangan Rico. Semoga saja tak akan ada hal yang akan menyulitkan dia untuk bisa bersatu dengan gadisnya.
Sumarno menepuk pundak Iqbal, memberikan dukungan meskipun sebisanya. Iqbal pun sudah menganggap Sumarno seperti ayahnya sendiri, sejak kecil dia tak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya dan akhirnya dia dapatkan dari Sumarno.
Melihat Iqbal yang tersenyum Sumarno juga ikut tersenyum, dan setelah itu mereka kembali lagi membenahi semuanya.
Sementara Dante juga Susan juga sibuk mengolah menu makan malam untuk menyambut Rico juga Aisyah. Dari minuman spesial, makanan berat juga makanan ringan satu persatu keduanya siapkan ini adalah makan malam pertama setelah Rico juga Aisyah menikah.
"Wah-wah! kamu itu sama persis kayak Rico, bisa mengolah semua menu makanan. Hem..., siapapun yang akan menjadi istrimu kelak pasti akan sangat beruntung karena dia nggak perlu susah-susah masakin. Karena kamu lah yang akan memanjakannya dengan masakan mu," ucapan Susan seraya tersenyum manis memberikan pujian pada Dante.
"Hehehe..., ya nggak begitu juga lah, Bun? meskipun suami bisa masak tapi seorang suami pasti akan sangat senang jika merasakan masakan istrinya. Ya meskipun masakannya tak seenak yang suaminya masak tapi itu akan menjadi sebuah kepuasan kan, Bun. Terasa sangat di perhatikan begitu," jawab Dante.
"Kamu benar, Nak."
"Oh iya! apa kamu sudah punya pacar? kok Bunda nggak tau? kalau sudah ada kenalin lah sama Bunda,"
Rasanya ingin sekali Dante tertawa, jangankan pacar? teman dekat saja Dante tak punya. Lagian semua gadis yang dekat dengannya belum bisa masuk ke kategorinya, alias belum pas saja di hati.
"Belum kok, Bun," jawab Dante yang akhirnya dia hanya tersenyum.
"Cepatlah cari yang pas, Nak. Di usiamu sekarang bukan hanya untuk mencari-cari untuk sekedar pacaran saja, tapi lebih pas jika mencari yang pas untuk di jadikan pendamping seumur hidup,"
"Iya, Bun. Dante akan mencari yang pas untuk menjadi istri dan bukan pacar,"
Jawaban dari Dante membuat Susan lebih tenang.
"Tolong ambilkan tomat di sebelah mu itu, Nak! " pinta Susan.
Dengan senang hati Dante langsung mengambilnya dan menyerahkan pada Susan, "nih, Bun! " tangannya langsung dia sodorkan dan memberikan apa yang di minta oleh Susan.
"Terima kasih, Nak."
__ADS_1
"Sama-sama, Bun. "
Dante juga Susan kembali sibuk dengan pekerjaan mereka, menyiapkan semua menu untuk menyambut kedatangan Aisyah juga Rico.
___
Kepindahan Rico juga Aisyah sudah di persiapkan oleh semua keluarga Aisyah termasuk Rayyan sendiri. Berat rasanya harus di tinggalkan putri satu-satunya yang sangat dia sayang. Tapi mau bagaimana lagi? itulah proses kehidupan dan Rayyan tak bisa menolak jalannya semua proses itu.
Semua barang-barang Aisyah sudah ada di luar, bahkan tinggal di masukkan saja ke mobil yang akan mengantarkannya ke tempat tinggalnya yang baru.
Semua tampak sedih dengan kepergian Aisyah termasuk semua para santri yang sangat dekat dengannya. Meyka juga Shelvia masih tak mau berpisah dengan Aisyah hingga akhirnya mereka berdua putuskan untuk menemani Aisyah sampai ke rumah barunya, dan itu di setujui oleh semuanya.
"Ma, Aisyah pamit ya. Jaga kesehatan mama, jangan sampai sakit. Aisyah akan sering-sering datang untuk menjenguk Mama," ucap Aisyah yang kini berdiri di hadapan sang mama yang tersenyum bahagia namun juga menangis terharu.
Keisha mengangguk dalam diam, dia pasti akan sangat merindukan Aisyah setelah ini. Setiap hari Keisha akan bertemu dengan Aisyah tapi setelah ini hanya akan sesekali saja bertemu dalam satu minggu atau mungkin satu bulan.
"Mama jangan menangis, kalau Mama nangis Aisyah sedih," ucap Aisyah lagi. Tangan Aisyah menghapus air mata Keisha yang terus mengalir hingga akhirnya Aisyah sendiri gak bisa menahannya dan akhirnya dia juga menangis.
"Tidak, Sayang. Ini adalah tangis kebahagiaan," jawab Keisha yang menghapus air mata Aisyah juga. Senyum Keisha keluarkan, dia tak mau sampai Aisyah benar-benar menganggapnya sedih atau mungkin tidak rela dengan kepergiannya.
"Sekarang Aisyah sudah menjadi istri, jadi Aisyah harus patuh dah taat pada bang Rico. Jangan pernah membuatnya kecewa ya, Sayang. Ingat, surga Aisyah sekarang terletak pada ridho nya bang Rico. Aisyah tau itu kan?"
Aisyah mengangguk, dia sangat paham akan hal itu. dia juga akan berusaha untuk menjadi istri yang baik juga berusaha untuk membangun surga di keluarga kecilnya.
"Iya, Ma. Aisyah akan selalu ingat pesan Mama." jawab Aisyah.
Keisha merengkuh tubuh Aisyah menariknya dan memeluknya dengan erat. Meskipun Aisyah adalah anaknya tapi sekarang dia tidak akan ada tanggung jawab yang lebih seperti kemarin. Sekarang semua tanggung jawabnya sudah berpindah pada Rico tentunya.
"Pasti, Ma."
Keisha melepaskan pelukannya pada Aisyah pandangan menoleh ke arah Rayyan yang duduk di kursi dengan tak semangat. Bukan karena apa-apa tapi karena Rayyan merasa bersalah dan juga merasa gagal menjadi ayah yang baik untuk Aisyah.
Selama ini Rayyan selalu egois, mementingkan keinginannya sendiri tanpa peduli dengan kebahagiaan Aisyah.
"Pamitan sama, Papa," pinta Keisha. Aisyah mulai berjalan mendekati Rayyan meskipun sempat kecewa tapi Aisyah bahagia sekarang, akhirnya Rayyan merestui hubungannya dengan Rico bahkan Rayyan sendiri yang menuntun Rico dalam ijab qobul kemarin.
"Pa," panggil Aisyah lirih.
Rayyan masih enggan untuk bergerak, dia tetap dalam posisi yang sama bahkan tidak juga menoleh.
Bruk...
Aisyah duduk bersimpuh di hadapan Rayyan, mendongak memandangi Rayyan yang belum melihatnya.
"Pa, maafin Aisyah yang selalu nakal ya, Pa. Maafin Aisyah." ucapan Aisyah terus bersua namun di iringi dengan isakan yang bebarengan.
"Pa, izinkan Aisyah pergi ya, Pa. Aisyah janji akan selalu menjenguk mama juga papa. Aisyah janji."
__ADS_1
"Kalau, kalau perlu Aisyah akan setiap hari datang ke sini untuk memastikan keadaan Mama dan Papa. Rumah bang Rico kan dekat dari sini, Aisyah akan sangat mudah datang ke sini kapanpun juga,"
"Izinkan Aisyah ya, Pa."
Kini Rayyan begitu rapuh dia bahkan tak sanggup untuk menahan air matanya.
Rayyan menunduk memandangi wajah Aisyah yang terlihat sangat memohon padanya. Rayyan sedih, karena dia lah yang menjadi penghambat kebahagiaan Aisyah, jika dia tidak terlalu egois mungkin sekarang Aisyah sudah sangat bahagia.
Rayyan menghapus air mata Aisyah, wajahnya menggeleng pertanda tak mengizinkan Aisyah menangis lagi. Rayyan langsung memeluk Aisyah setelah itu, memeluknya dengan sang erat.
Semua yang ada di sana ikut menangis dengan haru, batu kali ini Rayyan menangis di hadapan semua orang, jika saja pantas, maka kejadian ini bisa di abadikan, namun sayangnya Rayyan gak akan mengizinkan itu.
"Papa yang minta maaf, Syah. Papa yang seharusnya minta maaf," ucap Rayyan.
"Papa yang selalu membuat kamu menangis, Papa yang selalu mementingkan keinginan papa sendiri, Papa minta maaf,"
Begini banyak kesalahan Rayyan, jika di tulis mungkin akan menghabiskan buku tebal yang begitu banyak..
"Tidak, Pa. Papa tidak pernah salah. Aisyah yang salah, Pa. Aisyah.. "
"Maafin papa, Syah. Maafin papa."
Hanya kata-kata itulah yang selalu keluar dari Rayyan dia benar-benar menyesal bahkan berkali-kali dia minta maaf pun tak akan menghilangkan rasa bersalahnya.
Rayyan berdiri dan tangannya menarik Aisyah juga.
Rayyan berjalan mendekati Rico, di raih nya tangan Rico lalu di letakanlah tangan Aisyah di atasnya, "saya titip Aisyah, tolong bahagiakan dia dan lindungi dia. Maafkan kesalahan papa selama ini."
"Pergilah, wujudkan mimpi kalian berdua, gapailah surga kalian."
Rayyan melepaskan tangan kedua, membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
"Pa..," Panggil Aisyah dengan lirih namun Rayyan sama sekali tak menggubrisnya. Aisyah ingin berlari mengejar Rayyan, tapi terhenti karena di halangi oleh Keisha.
"Aisyah ingin memeluk papa, Ma." ucapnya.
"Sudah, mungkin papa ingin sendiri dulu,"
"Ma, apa papa tidak bahagia dengan pernikahan Aisyah?" tanya Aisyah yang kembali melow.
"Tidak sayang, papa sangat bahagia. Papa hanya ingin sendiri dulu sebentar. Pergilah, keluarga barumu sudah menunggumu di sana, hemm.. "
"Ma, Aisyah sayang Mama."
Sekali lagi Aisyah memeluk Keisha sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan rumah itu.
__
__ADS_1
Bersambung..
________