Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
58.Mak Jam


__ADS_3

____


Hello hello...


Kembali lagi ke dunia halu ku, jangan lupa tinggalkan jejak jempolnya, dan juga jangan lupakan komen nya.. Panjang atau pendek akan sangat membantu.. Yuk capcus, budayakan like dan komen...


I love you all readers....


Happy Reading....


_________________


Felisha mengayunkan kakinya dengan buru-buru saat netra coklatnya melihat Rico yang keluar rumah dengan rapi dan siap untuk pergi ke kampus. Felisha begitu semangat menghampiri Rico dan memutuskan untuk berangkat bersama dengan Rico meskipun belum tentu Rico sendiri akan setuju padanya.


"Pagi, Kak Rico! " Seru Felisha dengan di hiasi senyum manis dan semangat empat lima yang begitu membara.


"Pagi." Jawab Rico begitu datar menoleh Felisha yang sudah berdiri tepat di hadapannya. "Kenapa kamu kesini? Bukannya kamu harus ke kampus? " Tanya Rico mengernyit.


Felisha mengangguk, "Iya."


"Lah.. Terus, kenapa kamu malah kesini? " Tanya Rico bingung.


"Aku mau nebeng Kak Rico saja, mobil ku lagi di bengkel, terus motorku juga bannya kempes, deddy sudah berangkat ke kantor sementara mommy...,? Dia sudah ke pasar. " Jawab Felisha begitu panjang.


Rico menghela nafas panjangnya di hadapan Felisha, bukannya dia tidak boleh masalahnya Rico sendiri juga akan ke kampus dengan jalan kaki karena jaraknya kan tidak terlalu jauh juga lagian sekalian mau jalan-jalan pagi dan mengendurkan otot-otot yang terasa kaku.


"Tapi, tapi aku mau jalan kaki, Feli. Emang kamu nggak apa-apa jalan kaki? Terus kalau kaki kamu sakit nantinya gimana? Kamu kan nggak pernah jalan kaki. " Ucap Rico.


"Hemm.. Jalan kaki ya? Kenapa nggak naik motor aja si Kak! Kan lebih enak. " Sebenarnya malas untuk jalan kaki bagi Felisha, di samping takut pegal kakinya tapi dia juga takut kepanasan dan akan berdampak buruk pada kulitnya yang begitu mulus.


Mahal-mahal Felisha menjalani perawatan, dan semua barang-barang kecantikannya juga dari brand ternama kalau dia kepanasan percuma saja dong semua yang selama ini dia lakukan.


"Nggak bisa Felisha..., aku maunya jalan kaki. Kalau kamu nggak mau bagaimana kalau kamu pesan taksi sekarang, atau mungkin nunggu Dante lewat, sepertinya sebentar lagi dia sampai. " Terang Rico.


Mendengar nama Dante Felisha langsung bermuka masam, dia tak mau berurusan dengan orang itu. Setiap kali mereka bertemu mereka pasti akan selalu berdebat dari sesuatu yang tidak penting, lagian Felisha hanya mau sama Rico bukan sama Dante.


π˜›π˜ͺ𝘯... 𝘡π˜ͺ𝘯...


Baru saja di bicarakan Dante sudah datang di depan mata mereka berdua dengan tak lupa membunyikan klakson begitu keras. Rico dan Dante tersenyum sedang Felisha semakin masam saja wajahnya, bahkan dia sama sekali tak mau melihat Dante dan selalu memalingkan wajahnya.


"Dante! Felisha nebeng kamu, Ya! Aku mau jalan kaki sedangkan Felisha takut kepanasan jadi dia bareng kamu nggak apa-apa kan? " Tanya Rico.


Keduanya langsung menganga, menatap Rico bersamaan lalu saling tubruk pandang setelah itu. Keduanya saling pandang memandang dengan sinis mereka benar-benar tak bisa berteman baik sepertinya.

__ADS_1


"Ogah!! " Kompak keduanya.


"Idihhh... Kayak paduan suara, kompak banget." Ledek Rico. "Kalian berdua memang sudah sangat klop, cucok binggo... "


"Cucok cucok pala lu! " Sungut Dante tak terima di bilang cocok dengan Felisha.


"Mana ada cucok sama pria kayak Tarsan seperti dia, yang ada Feli itu cucoknya sama Kak Rico seorang. "Saut Felisha di langsungkan dengan senyum-senyum sendiri.


" Idihhh..., pede sekali neng! Ehh.. Kalau aku tampan tampan gini seperti Tarsan berarti situ kayak mak Jam... " Sinis Dante.


"Mak Jam, siapa? Penjual gado-gado di seberang. Enggak banget keles.. "


"Keenakan jadi Mak Jam gado-gado yang ada mak Jambr*ng! Hahaha... " Tawa Dante terpingkal.


Mendengar perdebatan mereka tak akan pernah ada habisnya, mereka tak akan ada yang mengalah salah satunya mereka pasti akan saling berebut kemenangan meskipun itu dalam perdebatan. Suara mereka sudah seperti kedua pengacara yang berselisih paham di tengah-tengah persidangan, semua bersungut-sungut merebutkan kemenangan.


Rico lebih memilih untuk pergi dari sana, meninggalkan keduanya berdebat dengan sesuka hati mereka. Rico semakin jauh namun perdebatan mereka belum juga berujung usai tapi malah semakin keras dan saling jutek dan saling nyolot.


"Dasar Dante dan Felisha, kalau udah berdebat saja udah lupa waktu. Awas kamu Dan, kalau sampai telat buka Resto aku potong gaji lima bulan ke depan. "


Sementara mereka berdua masih asik dengan adu mulut mereka, layaknya emak-emak komplek yang sedang berebut satu sayur.


"Dasar mak Jam..! "


"Dasar Tarsan! "


"Kak Rico! Lah..., kak Rico sudah pergi kan! Ini semua gara-gara Kak Dante. " Kesal Felisha setelah tersadar.


"Lah.. Kok jadi nyalahin aku sih! Situ yang mulai duluan, kenapa sekarang jadi aku yang salah, dasar mak Jam! " Sinis Dante.


"Enak saja.. Pokoknya situ yang salah!"


"Situ lah! "


"Situ! "


"Udah ah.. Aku mau berangkat, kalau tidak gaji ku pasti di potong lima bulan oleh bos, pepaya mak Jam.. " Dante melambaikan tangannya senang mulai menjalankan mobilnya dengan perlahan.


"Kak Tarsan!"


" Dada Mak Jam.. Selamat berjalan kaki sendiri.. " Ledek Dante begitu senang.


Felisha tak mau kalah begitu saja, dia tak terima jika harus berjalan kaki sendirian, semua ini gara-gara Dante dan dia harus membayarnya. Felisha lari tunggang langgang mengejar mobil Dante yang masih dekat dengannya. Dengan cepat Felisha masuk di tempat penumpang depan.

__ADS_1


"Ehh..., siapa yang mengizinkanmu naik! Turun nggak sekarang! "


"Nggak! "


"Turun! Kalau nggak turun aku teriak maling nih sekarang! "


"Teriak saja, kalau Kak Dante berani teriak maling, aku juga bisa teriak ada pria mesum yang mau melecehkan ku. " Ucap Felisha tak mau kalah.


"Dasar nggak waras! " Sungut Dante, namun akhirnya dia menyerah dan menjalankan mobilnya.


Felisha tersenyum penuh kemenangan, akhirnya dia bisa juga mengalahkan Dante si mulut emak-emak. "𝘍𝘦𝘭π˜ͺ𝘴𝘩𝘒 π˜₯π˜ͺ 𝘭𝘒𝘸𝘒𝘯! π˜•π˜¨π˜¨π˜’π˜¬ 𝘒𝘬𝘒𝘯 𝘣π˜ͺ𝘴𝘒 𝘭𝘒𝘩. " Batin Felisha percaya diri.


_____


Sampai di depan gerbang Rico dan juga Aisyah sampai secara bersamaan, Rico jalan kaki sementara Aisyah dengan mengendarai motornya.


Mereka saling tersenyum, dan juga menatap sejenak, Aisyah menundukkan wajahnya tak maut berlama-lama saling tatap dengan Rico bagaimana pun juga hubungan dengan mereka belum resmi dan belum sah jadi tak baik kalau saling pandang dalam waktu yang lama.


"Assalamu'alaikum." Sapa Rico mendahului.


"Wa'alaikumsalam.. " Jawab Aisyah dengan malu-malu.


Baru semalam mereka bertemu dan kini mereka juga bertemu kembali namun rasanya tak ingin kembali terpisah meskipun hanya sebentar saja, mereka ingin selalu bersama setiap waktu dan setiap saat. Dan tentunya dalam keadaan apapun.


Hati keduanya berbunga-bunga sekarang, saling melihat wajah yang penuh dengan pancaran cinta yang tidak sampai mereka ucapkan. Mereka hanya bisa diam, tak banyak kata yang keluar.


Karena tak mau menjadi tontonan di pagi hari Rico meminta Aisyah untuk lebih dahulu masuk sementara dia ada di belakangnya, mereka tetap terpisah setelah sampai di dalam Aisyah pergi ke kelas sementara Rico pergi ke perpustakaan.


Namun ternyata di saat mereka baru mau masuk, ada dua pasang mata yang fokus menatap keduanya. Satu pria dan satu seorang gadis, mereka adalah Farel yang baru datang dengan mengendarai mobilnya dan juga Felisha yang baru turun dari mobil Dante.


"Ada hubungan apa Kak Rico dengan Aisyah? " Tanya Felisha pada dirinya sendiri.


Felisha menatap curiga dengan kedekatan Rico dan Aisyah. Kedekatan mereka bukanlah kedekatan yang biasa selayaknya mentor dan juga mahasiswa melainkan seperti sepasang kekasih yang baru bertemu setelah keduanya terpisah.


"Aku harus cari tau apa sebenarnya hubungan mereka. " Gumamnya lagi.


Sementara Farel masih terus melihat mereka Btw dia yang sudah berjalan masuk ke kampus dan hampir bersamaan, ada rasa panas di hati Farel, kenapa senyum manis dari Aisyah hanya selalu bisa keluar saat di hadapan Rico? Kenapa tidak saat dia berada di hadapannya.


Tapi Farel masih akan tetap berusaha lebih keras lagi. Tak ada cinta mungkin hanya sekarang tidak berarti untuk selamanya. Hati bisa saja berubah dan itu juga bisa dengan hati Aisyah. Farel sudah mendapatkan semua syaratnya untuk bisa bersama Aisyah namun hanya satu saja yang belum bisa dia miliki yaitu cinta dan hati Aisyah.


"Aku akan berusaha, Syah. Tidak sekarang mungkin bisa nanti kamu akan memandang ku dan menerima ketulusanku. " gumam Farel.


___

__ADS_1


Bersambung..


_______________


__ADS_2