
______
Happy Reading....
__________________
Baru saja melepaskan tangannya ponsel Rico berdering, "Sebentar." Rico mengambil ponselnya dan langsung mengangkatnya meskipun dia tau itu nomor yang tak ada namanya.
"Assalamu'alaikum..., dengan siapa? " tanya Rico begitu formal.
"..... "
"Ke-kebakaran... " Seketika tubuh Rico menjadi lemas, dia begitu syok dengan berita yang menambah ujiannya menjadi semakin berat.
Tatapan Rico kosong dalam sejenak namun ada butir-butir bening yang seketika mulai keluar dengan begitu bebas. Tangan yang semula terangkat di samping pipinya kini sudah luruh seakan tenaganya telah hilang, bahkan memegang ponsel saja rasanya sangat susah hingga akhirnya ponsel Rico terjatuh di lantai dan mengejutkan Susan dan juga Marno.
Melihat anaknya yang begitu sedih membuat Susan langsung penasaran, dia beranjak mendekati Rico yang memang mengambil jarak dari mereka sebelumnya.
"Nak, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Susan begitu lirih tangannya sudah menyentuh lengan Rico dan menyadarkannya.
"Bun... " Dukanya kini begitu sangat besar, ujiannya begitu membuat dirinya rapuh.
Rico langsung menubruk Susan, memeluknya begitu erat, hanya di pelukan sang Bunda lah semua bisa dia lalui.
"Nak, cerita sama Bunda. Apa yang terjadi." Susan melepaskan pelukan Rico, menatap matanya yang menahan semua duka yang akhirnya tak bisa dia bendung lagi, hingga akhirnya tumpah dengan sendirinya.
"Resto, Bun.. " Ucapan Rico terhenti rasanya sangat tak kuasa untuk mengatakan pada Susan bahwa Resto kebanggaannya yang di bangun dengan kerja kerasnya kini telah hancur di lalap si jago merah.
"Ada apa dengan Resto! " Susan semakin mendesak di sudah tidak sabar ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.
Bukannya mengatakannya, kini Rico malah semakin terisak. Takdirnya sungguh sangat malang, belum juga satu ujiannya usai kini harus di tambah lagi.
"Nak! Apa yang sebenarnya terjadi dengan Resto mu! " Susan terus saja mendesak dan membuat air mata Rico semakin deras.
"Bun, Rico harus pergi. Rico harus melihat kearah Resto milik Rico." Rico menghapus air mata nya dengan kasar.
"Iya, tapi ada apa dengan Resto mu! "
"Resto..., Resto kebakaran, Bun! " Ucapnya.
Susan terperangah gak percaya seketika menutup mulutnya seiring Rico yang menyalami satu tangannya dan beralih ke arah Marno.
"Astaghfirullahalazim... " Air mata pun juga mengalir dari sudut mata Susan, kenapa ujian untuk anaknya begitu bertubi-tubi.
"Assalamu'alaikum, Yah, Bun! " Rico berlari dengan cepat, dia sudah tidak sabar lagi ingin melihat keadaan Restonya yang di bilang telah terbakar seratus persen.
"Wa'alaikumsalam... " Tangan Marno masih menggantung dia sama sekali gak mendengar dengan jelas apa yang sebenarnya telah terjadi pada anaknya.
__ADS_1
"Bun, ada apa? Kenapa Rico buru-buru pergi." tanya Marno dengan suara yang begitu lemah.
Susan mendekati Marno meskipun air matanya sudah dia sapu bersih namun tetap saja keluar lagi dan lagi. "Yah," Susan duduk di samping Marno, yang pasti Marno pun langsung mengamatinya.
"Ada apa, Bun. Apa yang terjadi?"
Ingin sekali Susan menyembunyikan kejadian yang menimpa Resto milik Rico, namun Marno adalah ayahnya dia harus tau. Meskipun kini dia sedang sakit tapi dia harus tetap mengetahuinya.
"Bun.. " Panggil Marno begitu lirih, tangannya mengusap bahu Susan yang tak jauh darinya.
"Resto milik Rico, Yah. Resto Rico kebakaran.." ucap Susan yang kembali terisak dengan derai air mata yang semakin deras.
"Astaghfirullahalazim... " Marno beralih memandangi langit-langit, kenapa ujian Rico datang dengan jarak yang hampir bersamaan.
______
Bangunan yang berbahan utama dari kayu yang tadinya masih sangat kokoh dan begitu gagah berdiri, kini sudah tak berbentuk lagi, semuanya menjadi hitam karena telah menjadi abu dan juga arang, semua telah hancur tak tersisa.
Meskipun api sudah dapat di padamkan tapi semuanya sudah terlambat karena semuanya sudah habis dan terbakar begitu cepat.
Orang-orang masih berkerumun, begitu banyak juga yang masih memegangi ember karena ingin membantu memadamkan api, dan juga terdapat satu mobil pemadam kebakaran yang akhirnya bisa menjinakkan si jago merah yang begitu ganas.
"Astaghfirullahalazim, kok bisa terbakar seperti ini ya? Apa karena korsleting listrik atau gas yang bocor? "
"Tidak tau juga, tadi lihat-lihat apinya sudah membesar.. "
"Kasian mas Rico ya, kita sendiri kan tau bagaimana mas Rico berjuang hingga sampai seperti ini. "
"Iya, ya semoga saja mas Rico sabar dan semoga Allah menggantikannya yang lebih baik."
Begitu banyak orang-orang yang berkata-kata di sana. Semua yang ada di sana adalah orang yang tau bahkan mengenal Rico dari awal perjuangan membangun Resto Nusantara tersebut, mereka juga adalah langganan setia dari Rico.
Rico yang baru datang langsung memarkirkan motornya, dia turun sembari melepaskan helmnya dan menaruhnya dengan asal, bahkan helmnya kini jatuh di paving karena Rico begitu buru-buru menaruhnya.
"Astaghfirullah hal'azim..."
Habis sudah semua yang Rico bangun dari nol, semuanya sudah menghitam tak ada lagi yang tersisa, bahkan meja dan kursi semuanya juga ludes.
Rico berjalan gontai, matanya menatap lurus ke depan di mana semuanya telah hancur. Rico berjalan menuju tempat yang benar-benar sudah menghitam di sana. Apinya sudah padam namun hawa panas masih sangat kuat menyentuh tubuh Rico.
Mata Rico memandangi semua, berputar untuk memastikan semuanya yang ternyata memang tak ada yang tersisa.
Air mata yang sesaat dia tahan kini kembali luruh bersamaan dengan tubuh Rico yang luruh ke atas lantai yang masih basah.
Tubuh Rico membungkuk, kedua telapak tangannya menutup wajahnya berusaha menyembunyikan dukanya yang ternyata dia tak sanggup untuk itu.
Rico tak peduli lagi dengan mata-mata yang terus memandangi dirinya, biarkan semua berkata apapun tentang dirinya. Rico memang sangat rapuh sekarang, hatinya tak sekuat beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Rico tersedu di sana, seperti seorang gadis yang rapuh itulah hari Rico sekarang. Berkali-kali Rico menghapus air matanya namun setelah itu tetap saja masih kembali mengalir.
"Apa ini Ya Allah, kenapa Engkau masih mengujiku lagi." ucap Rico begitu rapuh.
Berkali-kali Rico juga mengusap mengusap rambutnya kasar, dia sangat frustasi dengan keadaan akhir-akhir ini. Kenapa semuanya seperti memang susah di rencanakan dan berjalan dengan cantik secara berurutan.
Sekarang apa yang harus Rico lakukan, bagaimana dia akan mendapatkan rupiah feni rupiah untuk bisa membayar pengobatan dari Marno, darimana dia bisa mencukupi kebutuhan keluarganya sehari-hari, Rico seakan kehilangan arah untuk sekarang.
Padahal semua uang belanja untuk keperluan Resto baru tadi dia belanjakan, semuanya bahan-bahan telah penuh untuk satu minggu ke depan, dan sekarang semuanya ikutan hangus.
Dan sekarang tak ada lagi sisa uang belanja, hanya beberapa saja yang ada di tangannya hasil dari hari ini. Bagaimana juga Rico akan membayar para karyawannya yang sebentar lagi harus di bagikan. Rico benar-benar frustasi sekarang.
"Arghh!! " Teriak Rico histeris.
Semua orang yang ada di sana begitu sangat iba, namun mereka juga tidak berani mendekat semua hanya memandangi Rico dari kejauhan.
Hanya satu sosok arwah saja yang mendekati Rico, memeluknya meskipun tak bisa menghangatkannya. Menenangkannya meskipun tak bisa membuat hati Rico tenang.
"Sabar, Ric. Semua sudah takdir." Ucapnya.
"Kenapa, Tuan. Kenapa ini harus terjadi pada ku. Apa salahku.. "
"Kamu tidak bersalah, Ric. Ini adalah ujian untukmu, ujian yang akan meninggikan derajat mu. Kamu bersabarlah, semua akan berakhir dengan baik. "
"Tapi kenapa, kenapa harus sekarang! "
"Kita hanya seorang hamba, Ric. Kita tidak bisa menentukan dan menghalangi kapan ujian itu datang, kita hanya bisa menghadapinya dan menerimanya."
Rico terdiam, yang di katakan Fahmi adalah benar, ini adalah ujian untuknya.
"Ricooo!! " Teriak seorang yang datang, orang itu adalah Dante yang kini berlari menghampiri Rico.
"Rico, bagaimana ini bisa terjadi! " Dante juga sangat terkejut, bagaimana semuanya bisa terjadi begitu cepat, padahal belum genap satu jam Dante menutup resto itu.
"Saya tidak tau,Dan. Setelah dikabari saya langsung datang, namun semuanya sudah hancur seperti ini, semuanya telah habis, Dan. Semua sudah habis. " Duka Rico kembali menyayat hatinya.
"Kamu yang sabar, Ric, ada aku di sini kita akan membangun lagi bersama-sama. Aku akan selalu ada untukmu, Ric." ucap Dante.
Rico hendak berdiri, namun belum juga itu terjadi matanya melihat sesuatu yang tidak jauh di sana.
"Korek api? "
Baru saja tangan Rico mengambil korek api itu, ada polisi yang datang, salah satu polisi menghampiri Rico dan yang lain memasang garis kuning di sana.
___
Bersambung...
__ADS_1
________________