Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
165.Di temukan


__ADS_3


Semuanya tampak bingung, mereka terus bergerak mencari para orang tua yang di sekap oleh Ateez. Jika saja mereka sudah tiada pastilah mereka akan menemukan jasat mereka tapi sampai beberapa jam mereka semua mencari satupun tidak ada yang berhasil di temukan.



Semua juga sudah di kerahkan dari anak buah abang kembar juga anak buah Aisyah yang datang diam-diam untuk membantu mengatasnamakan sebagai relawan. Semua anak buah Aisyah sudah datang tapi entah ketuanya sendiri belum juga terlihat padahal mereka berangkat hampir bersamaan.



"Bagaimana ini, Bang! Mereka semua tidak di temukan. Apa itu artinya, ledakan tadi hanya untuk melabuhi kita semua?" Faisal begitu bingung. Dia begitu sangat takut.



"Kita pasti menemukan mereka, Dek. Dibawa kemanapun mereka kita pasti akan menemukan mereka. Abang yakin, mereka pasti akan di temukan." Akhsan angkat bicara.



Sementara Ikhsan kini mengangguk sembari mengelus punggung Faisal. Menenangkan adiknya yang terlihat sangat gelisah.



"Tapi Faisal takut, Bang?"



"Serahkan semuanya pada Allah. Allah akan selalu bersama orang-orang baik." jawab Ikhsan sekarang.



Rico melangkah menghampiri, tak seperti biasanya dia yang selalu tenang tapi kini wajahnya terlihat sangat berbeda ada ketakutan yang terselip di wajahnya yang dia usahakan untuk terlihat baik-baik saja.



"Kamu kenapa, Ric?" tanya Ikhsan, dia tentunya akan langsung mengetahui Rico yang terlihat berbeda.



"Rico belum tau, Bang? tapi aku sangat gelisah." ucap Rico.



Di saat mereka berempat berkumpul menjadi satu ada seorang yang datang menghampiri dengan tergesa-gesa. Mereka sama sekali tidak mengenalnya dan kini mereka terlihat sangat waspada.



"Apakah ada yang namanya Akhsan?" tanya orang itu yang tak lain adalah Bimo, teman Anastasya.



"Ya, saya sendiri."



Bukan hanya Akhsan yang datang menghampiri Bimo, tapi juga ketiga laki-laki yang tadi bersamanya.

__ADS_1



"Semua orang tua kalian ada bersama kami, teman kami yang menyelamatkan mereka."



"Dimana mereka sekarang?"



"Ikutlah dengan ku, dan kalian akan menemukan mereka." ucap Bimo.



Tak mudah percaya begitu saja mereka bertiga tapi tidak dengan Rico dia sangat percaya dengan apa yang di katakan oleh orang asing itu.



Mereka bertiga mengikuti dengan penuh waspada, mereka tidak ingin ambil resiko kalau ternyata ini adalah jebakan.



Beberapa anak buah juga di ajak untuk berjaga-jaga. Namun kali ini Rico belum ikut dengan mereka, hatinya tengah gusar tanpa sebab.



"Rico, kamu tidak ikut?" tanya Akhsan dan Rico menggeleng.




"Baik, Bang!" jawab Rico sedikit berteriak.



Setelah kepergian mereka Rico menghampiri Jon, kenapa sedari tadi Aisyah selalu saja seperti di hadapannya padahal Aisyah tidak datang.



"Pak Jon, apakah Aisyah masih di markas?" tanyanya.



Jon terdiam, dia langsung tersadar kalau tadi ada anak buahnya yang mengatakan kalau Aisyah juga datang.



"Tadi, saya dapat kabar kalau Nona, Nona ikut datang kesini, Tuan. Seharusnya dia sudah sampai tapi...?" Jon mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Aisyah yang tetap tidak dia temukan.



"Astaghfirullah hal 'azim! Kenapa dia tidak menuruti perintahku?" Rico semakin khawatir.


__ADS_1


"Ada apa, Tuan?" Jon juga bingung.



"Pak Jon, ikut aku sekarang!" Rico berlari meskipun belum menyelesaikan kata-katanya. Dengan cepat Jon pun juga langsung mengikutinya, di susul dengan anak buah yang dia bawa juga yang menyusulnya.



Tidak lama untuk sampai di tempat dimana para orang tua berada, Akhsan, Ikhsan juga Faisal turun dari mobil. Mereka mulai melangkah mengikuti kemana Bimo menunjukkan tempatnya.


Mereka hanya diam dalam langkah mereka. Sesekali mereka saling lempar pandang memberi kode-kode mata untuk terus berhati-hati juga penuh waspada.


"Mereka ada di sana," tangan Bimo menunjukkan tempat yang di tutup dengan tatanan kardus namun kakinya masih terus melangkah.


Langkah mereka semua semakin cepat setelah mendapat arahan dari Bimo akan keberadaan orang tua mereka.


Disaat hampir sampai Anastasya keluar dari tempat itu yang jelas ketiganya langsung melihat gadis yang bajunya benar-benar mengisyaratkan anak jalanan itu.


"Mereka sudah datang, syukurlah. Berarti hutang ku lunas pada pria itu. Dia sempat membantuku jadi inilah balasannya dengan aku membantunya menyelamatkan keluarganya." batin Anastasya.


Mata Faisal berhasil melihat Anastasya, meski dia sedikit menunduk dan menutupi wajahnya dengan topi tapi tetap saja Faisal bisa mengenalinya.


Saat Akhsan dan Ikhsan masuk Faisal malah berhenti setelah melihat Anastasya yang ingin pergi begitu saja. Bukankah tugasnya sudah selesai sekarang?


"Tunggu!" cegah Faisal.


"Sial, kenapa harus mengenaliku sih?" batin Anastasya lagi. Rupanya panggilan Faisal sama sekali tidak di inginkan oleh Anastasya.


Anastasya berhenti tanpa membalik, sementara Faisal beralih melangkah mendekatinya dan urung untuk menemui keluarganya.


"Apakah kamu yang menyelamatkan orang tuaku?" tanya Faisal setelah berhasil berhenti di hadapan Anastasya.


Anastasya mengangguk tak semangat ekspresinya pun juga tidak terlihat senang.


"Terimakasih," ucap Faisal.


"Hem..." Hanya itu saja yang menjadi jawaban Anastasya, bahkan mulutnya sama sekali tidak terbuka dan masih setia dengan permen karetnya.


"Saya...? Saya Faisal, kamu?" Faisal ingin berkenalan meski tangannya juga tidak terulur.


Anastasya masih enggan untuk menjawab, tapi matanya langsung menubruk songong ke arah wajah Faisal.


Faisal yang memang tidak pernah berpikir untuk berkenalan dengan wanita manapun menjadi canggung karena tatapan mata dari Anastasya. Dia seorang cewek, tapi terlihat lebih mengerikan daripada Faisal yang seorang laki-laki.


"Maaf," ucap Faisal menyesal.


"Sekali lagi terimakasih." imbuh Faisal.


"Apa sudah bicaranya? kalau sudah saya harus pergi sekarang." baru kali ini Anastasya bicara panjang.


"Su-sudah." Faisal sampai gelagapan untuk menjawab, ada-ada saja Faisal bertemu dengan gadis yang jutek dan dinginnya minta ampun.


Tanpa mengatakan apapun lagi Anastasya berlalu pergi sementara Faisal masih setia memandangi punggungnya.


__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2