Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
101.Menolong Felisha


__ADS_3

Happy Reading....


__________


Sudah sangat malam dan kerjaan Farel baru saja selesai. Pekerjaan yang begitu banyak dan juga meeting yang harus di pimpin oleh dirinya sendiri membuat Farel harus pulang terlambat.


Para staf- staf sudah banyak yang pulang hanya beberapa saja yang masih tertahan bersamanya karena meeting, dan kali ini mereka semua sudah keluar dari perusahaan Farel untuk pulang ke rumah masing-masing termasuk Farel sendiri.


Meskipun menjadi seorang bos besar namun Farel tak mau menggunakan jasa sopir pribadi untuknya dia lebih memilih untuk menyetir sendiri mobilnya ke mana dia mau pergi.


Perlahan-lahan mobil meninggalkan kawasan perusahaannya, Farel begitu fokus karena di tak mau ada hal buruk.


Lampu-lampu pinggir jalan sudah menyala, para pedagang asongan pun sudah menjajakan dagangan mereka, riuh pada pejalan malam pun sudah mulai keluar dan memadati setiap trotoar untuk mereka melakukan wisata kuliner di malam hari.


Jalan raya pun juga semakin ramai dengan kendaraan yang lalu lalang, entah mereka pulang dari kerja atau mungkin mereka yang keluar dari rumah untuk memanjakan mata dan perut mereka.


Mobil Farel terus melaju, matanya terus fokus dan sesekali menoleh karena menikmati indahnya malam.


Mata yang sudah lelah tiba-tiba membulat sempurna saat melihat seorang gadis yang tengah berdiri di depan sebuah 𝘊𝘭𝘢𝘱 dengan keadaan mabuk dan juga kedua lengannya di pegang oleh dua orang pria.


"Bukannya itu Felisha? Astaghfirullah, sepertinya anak itu dalam bahaya, kedua orang itu bukanlah orang baik-baik. "


Mata Farel terus melihat gadis itu yang masih terus memaksa untuk kembali masuk namun kedua pria itu juga tak kehilangan akal untuk membawanya pergi.


Dalam keadaan mabuk Felisha di bawa menuju mobil berwarna putih lalu di paksa untuk masuk, mungkin itu adalah mobil salah satu dari mereka.


"Astaghfirullah, mau di bawa ke mana Felisha?" Pekik Farel.


Meskipun lelah namun tak membuat Farel tega begitu saja dengan Felisha, dia memutuskan untuk mengejar mobil putih itu dan ingin menyelamatkan Felisha dari laki-laki hidung belang yang mungkin akan memangsa Felisha.


Semakin lama mobil itu melaju di tempat yang sangat sepi, Farel heran kenapa harus ke tempat sepi kalau mereka tidak memiliki niat yang buruk pasti mereka ingin mengambil sesuatu yang Felisha miliki tanpa mereka bisa ketahuan oleh orang lain yang akan menggagalkannya.


"Gubuk? "


Ya, mobil itu berhenti tepat di depan sebuah gubuk yang ada di sekitar perkebunan. Mobil Farel pun berhenti tak jauh dari sana dengan lebih dahulu mematikan lampu supaya keberadaannya tidak di ketahui oleh mereka.


Felisha di paksa untuk keluar, di tariknya meskipun Felisha terus menolaknya.


"Ayo sayang, kita singgah dulu sebentar di gubuk itu. Kita akan bersenang-senang sebentar. Aku yakin kamu akan bisa melupakan semua masalahmu setelah ini." Ucap salah satu dari mereka yang sudah tak sabar ingin menjamah tubuh Felisha yang putih.


Matanya terus melihat berapa mulusnya kulit Felisha, baru melihat sedikit saja sudah bisa membuatnya kelabakan ingin segera mencicipi nya apalagi kalau tubuh itu sudah polos tanpa sehelai benang pun pasti dia akan langsung menerkamnya tanpa ampun.


"Aku tidak punya masalah apapun, aku hanya ingin kembali ke tempat tadi. " Kicau Felisha yang masih saja tak sadar.


"Ayo sayang," Di tariknya kedua lengan Felisha oleh kedua laki-laki itu.


Mulut keduanya terus berkecamuk ingin segera melahap semua di balik baju itu, dengan susah payah mereka juga menelan saliva nya sendiri saat leher Felisha tersentuh tangan.


"Benar-benar makanan yang lezat." Senyum menyeringai.


Felisha yang tak sadar hanya mengikuti saja kemana mereka membawanya, bahkan dia tidak menolak sama sekali saat keduanya membawanya masuk ke dalam gubuk sempit dan juga gelap.

__ADS_1


Namun salah satu dari mereka membawa sebuah senter besar dan dibawanya masuk jadi mereka bisa puas menikmati tubuh Felisha dengan mata dan juga dengan semuanya.


"Ini tempat apa om, kenapa gelap sekali." Sadar juga Felisha kalau tempat itu sangat gelap.


"Duduklah sayang, " Pintanya,


Felisha nurut karena dia memang benar-benar kehilangan akal pikirannya karena pengaruh minuman keras. Felisha duduk di tempat istirahat para petani saat mereka lelah beraktivitas.


Kedua lelaki itu langsung melepaskan jaket yang mereka kenakan, mereka sudah sangat gerah, tak sabar ingin menikmati tubuh Felisha.


Keduanya duduk di kedua sisi Felisha, tangannya mulai bekerja untuk meraba-raba leher Felisha yang terbuka.


"Jangan Om." Felisha mengibaskan tangannya menolak sentuhan dari mereka berdua. Mungkin dia mulai sadar.


Tak mau aktifitas mereka terganggu keduanya memegangi tangan Felisha dengan erat, mendorong Felisha hingga tubuhnya jatuh terlentang.


"Akk..., apa yang mau om lakukan! " Teriaknya, antara sadar dan tidak.


"Apa kamu bawa obatnya? " Tanya salah satu dari mereka pada temannya.


"Tenang, aku membawanya." Jawabnya yang langsung menyeringai.


Di ambilnya sebuah obat yang ada di dalam sakunya. Tanpa rasa kasihan dia langsung memasukkannya ke dalam mulut Felisha yang sudah terlebih dahulu di buka oleh teman yang satunya.


Obat itu dalam bentuk cair jadi gampang untuk bisa di telan oleh Felisha.


"Akk..," Felisha menggeleng ingin menolak namun itu tak berarti lagi untuknya, kekuatannya tak sebanding dari kedua laki-laki itu.


"Tunggu saja beberapa saat, dan dia sendiri yang akan melayani kita. Kita tidak usah susah-susah bekerja keras untuk mengambil apa yang kita mau karena dia sendiri yang akan memberikannya." Ujarnya.


Keduanya kini melepaskan tangan Felisha membiarkan obat itu bekerja dengan sendirinya. Hanya dalam hitungan detik saja obat itu sudah bekerja, awalnya Felisha merasa mulai pusing namun setelahnya dia mulai merasakan hawa panas keluar dari tubuhnya.


"Panas, panas.. "


Melihat Felisha yang sudah mulai kepanasan mereka berdua tersenyum bahagia, sebentar lagi apa yang mereka inginkan akan mereka dapatkan.


Felisha kelabakan karena rasa panas itu, dia terus mengibaskan tangannya namun tak berguna sama sekali. Felisha ingin berlari keluar namun tangannya langsung di tarik oleh salah satu dari mereka hingga akhirnya Felisha berhasil duduk di pangkuannya.


"Panas panas! " Teriaknya.


Tubuh Felisha tak lagi bisa bergerak dalam pangkuan orang itu, satu tangannya sudah melingkar menahan di perut Felisha , satu tangannya mulai beraksi untuk membuat baju bagian belakang Felisha sementara orang yang satunya membukanya dari depan.


"Wow,, amazing.. " Celetuknya saat berhasil membukanya.


Felisha terus berontak, mungkin obat itu belum sepenuhnya bekerja jadi dia masih bisa melakukan perlawanan. Namun itu tak menjadi masalah untuk keduanya, itu seperti sebuah tantangan tak akan lezat kalau mereka hanya menikmati tanpa sedikitpun paksaan.


"Akk.... " Teriak Felisha.


Farel yang mendengar langsung berlari, dia sudah tadi turun dari mereka mobil hanya saja dia mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk melawan kedua laki-laki itu.


Sebuah kayu Farel ambil dari sebelah gubuk itu, dia berjalan perlahan tanpa menghasilkan suara dari langkahnya. Keduanya yang sudah terlena akan tubuh Felisha yang menggoda tak menyadari akan kedatangan Farel.

__ADS_1


π˜‰π˜Άπ˜¨π˜©...


Satu pukulan di tengkuk orang yang ada di depan Felisha berhasil Farel layangkan dengan sempurna. Orang itu langsung tersungkur akibat pukulan yang keras.


Satunya langsung terkejut, matanya melotot ke arah Farel dengan kesal.


"Lepaskan dia! " Teriak Farel.


"Tidak usah menjadi pahlawan kesiangan, lebih baik ikutlah dengan kami. Lihat, ini barang bagus, masih tersegel rapat. Aku akan izinkan kamu yang membobol nya lebih dulu, ayolah sobat.. " Jawabnya basa-basi.


"Lepaskan dia! " Teriak Farel lagi.


Orang itu langsung terbawa emosi begitu saja, dia memindahkan Felisha untuk duduk di tempat yang tadi sementara dia sudah berdiri untuk melawan Farel, kesenangannya tak boleh terganggu karena kedatangan orang asing.


Tak ada aba-aba dan kata-kata terlebih dahulu orang itu langsung melawan Farel hingga keduanya saling beradu otot. Farel yang beberapa hari ini sudah mempelajari ilmu bela diri membuatnya lebih mudah untuk melawan orang itu.


Tak butuh waktu lama orang itu sudah tersungkur dan meringis kesakitan.


"Feli, ayo lari! Kita harus pergi sebelum mereka kembali bangun! " Teriak Farel.


Namun itu tak ada artinya bagi Felisha, dia sudah sibuk karena merasakan kepanasan pada tubuhnya.


"Felisha! Ayoo! " Teriak nya lagi, namun tetap saja Felisha tidak berkutik sama sekali.


Farel menoleh dan salah satu dari mereka ingin beranjak, Farel langsung panik dia mendekati Felisha dan langsung menarik pergelangan tangan Felisha untuk membawanya lari.


"Heyy... Jangan lari! " Teriak orang itu namun Farel juga Felisha sudah berlari.


Farel membuka pintu mobil di sebelah pengemudi, meminta Felisha untuk masuk di sana setelah berhasil dia menutupnya dan dia masuk juga di tempat pengemudi.


Mobil langsung berjalan setelah Farel masuk, dia harus bisa pergi dari sana dengan secepatnya dan jangan sampai tertangkap jika orang itu mengejarnya.


Farel menoleh sejenak, melihat tempat kedua orang itu berada dan ternyata mereka tengah uring-uringan karena gagal mendapatkan mangsa.


"Alhamdulillah." Seru Farel, " Feli kamu tidak apa-ap...., astaghfirullah hal 'azim! " Seketika Farel memalingkan wajah saat di menoleh ke arah Felisha dan ternyata gadis itu mulai membuka bajunya sendiri.


"Feli, apa yang kamu lakukan! Kamu jangan seperti itu! " Teriak Farel tak berani menoleh lagi.


"Panas panas! " Hanya itu yang menjadi kicauannya sembari terus berusaha membuka satu persatu kancing bajunya.


Felisha menoleh ke arah Farel, entah mengapa melihat bibir Farel yang bergerak membuatnya ingin sekali menyentuhnya. Felisha menggeser duduknya lebih dekat dengan Farel, tangannya mulai menggapai wajah Farel dan ingin bisa menyentuh bibir Farel.


"Felisha! Apa yang kamu lakukan! " Teriak Farel setelah tangan Felisha berhasil menyentuh wajahnya. "Feli, lepas! "


Berkali-kali Farel berteriak namun itu malah membuat Felisha lebih bersemangat, mungkin saat ini obat yang di berikan orang tadi benar-benar telah bekerja.


"Tolong aku, panas.. " Kicaunya lagi.


"Ada apa dengan Felisha, apa jangan-jangan dia?... , Felisha!! "


__

__ADS_1


Bersambung...


__________


__ADS_2