Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
132.Tak Berani Mengungkapkan


__ADS_3

Happy Reading.....


_____


Farel akan pulang ke rumahnya sebelum dia akan menuju ke perusahaannya untuk bekerja namun belum juga sampai tempat parkir mobil dia di hadang oleh Felisha. Felisha terlihat sangat buru-buru menghampiri Farel entah apa yang ingin dia katakan kepadanya.


Kedatangan Felisha membuat Farel berhenti dan mengurungkan niatnya untuk kembali melaju ke tempat parkir.


"Kak Farel, Felisha minta maaf karena kemarin. Mungkin Felisha sudah sangat keterlaluan karena marah-marah dengan Kak Farel. Tapi saat itu Felisha benar-benar sangat pusing," ucap Felisha dengan sangat menyesal.


Farel senang karena Felisha bisa menyadari kesalahannya, Farel tahu semua itu tidak mudah karena dia juga mengalami hal yang sama tapi semua itu bukan berarti mereka berdua harus bersedih apalagi sampai melakukan hal yang tidak benar.


Farel tersenyum ramah, dia sudah memaafkan semua yang dilakukan oleh Felisha kepadanya.


"Saya sudah memaafkan kamu, jauh sebelum kamu meminta maaf. Saya harap kamu tidak akan melakukan hal yang seperti kemarin lagi kamu harus bisa ikhlas. Hidup, mati, jodoh, rizki semua sudah ditentukan oleh Allah bahkan semua yang terjadi kepada kita sudah dicatat jauh sebelum kita dilahirkan ke dunia."


"Jadi Ikhlas adalah jalan satu-satunya untuk kita bisa menggapai kebahagiaan kita sendiri serta mendapatkan ridha-Nya," ucap Farel yang memberikan sedikit petuah untuk Felisha dan dia berharap dalam hatinya bahwa Felisha bisa menerima dengan baik apa yang dia katakan barusan.


"Kak Farel benar, tapi Felisha tetap belum bisa ikhlas karena rasanya sangat susah untuk Felisha, "jawab Felisha tertunduk sedih karena dia belum bisa melakukan apa yang Farel katakan.


" Semua tidak ada yang instan semua akan berjalan perlahan dan saya yakin kamu pasti bisa melakukan itu," ucap Farel lagi yang tetap memberikan semangat untuk Felisha untuk berjuang demi sebuah keikhlasan.


Felisha tersenyum kecil dia merasa senang karena ada seseorang yang begitu memperhatikannya Felisha juga berasa nyaman mendengar semua kata-kata yang keluar dari bibir Farel meskipun dia sendiri belum bisa melakukannya.


"Terima kasih Kak Farel, Felisha akan berusaha Felisha pasti bisa, bukan begitu kan? " ucap Felisa meyakinkan dirinya sendiri.


Farel mengangguk dia membalas senyum yang manis juga kepada Felisha dan saat itulah ada gadis berhijab yang melihat mereka berdua dari jauh.


Dia adalah Meyka saat ini terus memandangi keduanya tanpa berkedip tatapannya terlihat sangat begitu sakit mungkin dia cemburu atau sejenisnya.


"Kak Farel, " ucap Meyka begitu lirih.


Memang sakit jika mencintai seorang dalam diam, apalagi sampai cintanya begitu besar namun tetap tak terbalaskan pasti akan sangat menyakitkan. Namun cinta di hati Meyka belum sampai di ditahap itu, masih sekedar berharap. Meyka sendiri juga tau kalau cinta tak akan mungkin dia pupuk terus menerus kepada orang yang belum tentu akan menjadi miliknya.


"Assalamu'alaikum,"

__ADS_1


Meyka menoleh dengan cepat saat mendengar suaranya yang mengucapkan salam kepadanya, bahkan suara itu sangat dekat. Dan benar saja sangat dekat karena orang itu adalah Dante yang kini tepat di depan Meyka setelah dia membalikkan tubuhnya.


"Wa'alaikumsalam, Kak Dante! Kakak ngapain ke sini? apa ada kerjaan atau mungkin Kak Dante mau ke mana dan mampir ke sini? " tanya Meyka mengernyit.


Meyka mencoba untuk benar-benar rileks, dia tak mau sampai siapapun tau akan apa yang kini terjadi pada hatinya sendiri. Padahal di tutupi sekaligus Dante sudah mengetahuinya tadi kalau Meyka tengah memandangi Farel dengan tatapan yang berbeda.


"Tidak ada kerjaan juga tidak mau kemana-mana, aku memang sengaja datang ke sini," jawab Dante.


Meskipun Dante tau dia akan sedikit susah untuk mendapatkan hati seorang gadis yang sudah memiliki orang lain di hatinya namun Dante akan tetap berusaha, dia masih yakin kalau dirinya belum terlambat. Masih ada kesempatan untuk mendapatkannya sebelum mereka benar-benar belum sah.


"Terus?" tanya Meyka.


"Aku... aku... aku mau menjemputmu. Kalau kamu tidak keberatan aku akan mengantarkan mu pulang," jawab Dante menjelaskan.


Meyka diam, tak seperti biasanya Dante datang ke kampusnya secara khusus untuk menjemputnya, tak seperti biasanya juga Dante berbicara dengan gugup seperti ada hal yang telah membuatnya seperti itu.


Meyka tak menerima begitu saja tawaran dari Dante, dia masih diam dan berfikir kemungkinan apa yang akan terjadi jika dia menerima tawaran Dante.


Meyka takut jika nanti Abi atau Umi nya marah atau mungkin akan mengusir Dante seperti apa yang dulu dia lihat dari Om nya Rayyan.


"Tapi, Kak? " jawab Meyka ragu. Biar bagaimanapun juga Meyka juga takut akan ada omongan buruk yang terucap dari semua orang nantinya jika melihat Meyka berdua saja dengan Dante.


"Bukan itu, Kak. Tapi...? " Meyka masih sangat ragu.


Meyka kembali diam, dia masih terus berfikir. Matanya kembali melirik ke arah Farel juga Felisha yang ternyata tengah berjalan saling berdampingan.


Ini benar-benar tidak akan mudah untuk Dante. Hati Meyka sepertinya sudah ada Farel di sana.


Meyka masih mengamati mereka, hingga akhirnya Meyka merasa kecewa saat keduanya masuk ke dalam mobil Farel.


"Mey, " panggil Dante.


"Ya! " sontak Meyka menoleh.


"Kalau kamu tidak mau saya juga tidak akan maksa kamu. Aku akan menunggu kamu di sini sampai ada taksi yang lewat," ucap Dante. Senyum Dante pudar, dari tadi dia berusaha untuk tersenyum manis di hadapan Meyka dan sekarang hanya senyum hambar yang keluar.

__ADS_1


"Saya..., saya mau kok, Kak," jawab Meyka.


Dante yang tadi sempat membuang jauh pandangannya dari Meyka kini kembali menatapnya. Hampir tak percaya kalau Meyka akan menerima tawarannya.


"Hem..., ayo! " Dante berjalan berdampingan dengan Meyka, setelah sampai di mobilnya dia membukakan pintu di samping pengemudi untuk Meyka.


Meyka tersenyum kecil, merasa canggung saat mendapatkan perlakuan yang seperti sekarang. Ini adalah hal yang pertama kalinya untuk Meyka. Dulu dia hanya bisa melihat Rico yang melakukan itu pada Aisyah tapi sekarang dia mengalami sendiri.


Meyka kembali berfikir, kenapa Dante memperlakukannya spesial seperti ini, "𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘒𝘢𝘬 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦...? "


"Kita berangkat," Dante menoleh sekejap ke arah Meyka, mengembangkan senyum lalu mulai melajukan mobilnya dengan pelan.


Keduanya diam saat ada di dalam mobil, Dante sendiri juga bingung dengan keadaannya. Tadi dia begitu semangat juga senang saat ingin bertemu dengan Meyka. Tapi sekarang? Dante seperti kehilangan nyalinya.


"Mey, Hmm...?" ucapan Dante berhenti sejenak, dia kembali ragu untuk menyapa,"bagaimana kuliahmu? " tanyanya yang akhirnya keluar namun berbeda dengan apa yang tadi dia rencanakan.


"Alhamdulillah, semua baik juga lancar," jawab Meyka.


"Alhamdulillah kalau begini," Dante menoleh canggung, hingga akhirnya dia kembali fokus dengan jalan raya. "𝘈𝘱𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦. A𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯? 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘭𝘰𝘬 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯, " 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦.


Dante kembali melirik, Subhanallah..., gadisnya itu terlihat sangat berbeda di matanya kali ini. Begitu cantik dan sangat menawan, apa mungkin karena Dante sudah ada rasa padanya? jadi semua yang dia lihat sangat berbeda dari biasanya? ya mungkin memang benar seperti itu.


Lirikan mata Dante tak sengaja di sadari oleh Meyka seketika membuat nya gugup dan menundukkan wajahnya.


"Kak Dante kenapa menatap Meyka seperti itu? " tanyanya dengan tak berani melihat.


"Hahh! " Dante gelagapan lalu kembali fokus.


"Tidak apa-apa, ka-kamu tidak salah paham kan? " tanya Dante dengan gugup.


Meyka menggeleng, dia tidak akan salah paham karena dia juga tak berani berfikir sejauh itu.


"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘫𝘶𝘳 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢? 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘺𝘢𝘭𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢? 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘮𝘣𝘢𝘳 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘥𝘶𝘭𝘶? " 𝘣𝘪𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘋𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘳𝘪.


""""'""

__ADS_1


𝘉𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘣𝘶𝘯𝘨...


_______


__ADS_2