Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
49.Dante dan Felisha


__ADS_3

____


Happy Reading..


__________


Shelvia, Keisha dan juga Rayyan terlihat bingung saat melihat Aisyah yang terus celingukan mencari seseorang, mereka pun ikut juga seolah mencari apa yang Aisyah cari juga meski mereka tidak tau apa yang Aisyah cari.


Semua merasakan heran, berjam-jam Aisyah tak sadarkan diri, dia senyum-senyum di bawah sadarnya dan sekarang setelah bangun? Itu sangat membingungkan untuk mereka.


"Aisyah, kamu mencari siapa?. " Tanya Keisha yang kini berdiri tepat di sampingnya membelai lembut pundak anak gadisnya itu.


Seorang ibu mana yang tidak khawatir melihat keadaan putrinya yang seperti itu, apalagi ini adalah kali pertamanya dia melihat putrinya seperti sekarang ini.


"Ma, apakah sedari tadi hanya ada kalian bertiga di sini? Apa tidak ada orang lain lagi?. " Tanya Aisyah yang menoleh kecil ke arah sang Mama.


"Tadi ada bang Faisal, bang Hasan dan kak Farel, dan... Aunty Airin. "Jelas Keisha.


Aisyah berkedut sepertinya bukan di antara mereka yang dia cari saat ini, tapi siapa?. Apa mungkin Rico? Dewa penolong Aisyah yang selalu menyelamatkannya di setiap dirinya dalam bahaya.


" Kalau bang Rico?. " Tanya Aisyah.


Rayyan yang tengah tenang langsung tersentak, menatap Aisyah dengan tak suka. Jangankan anaknya sendiri yang membicarakannya, orang lain saja Rayyan tak ingin mendengarkannya.


"Kenapa kamu mencarinya? Apa kamu merasa hutang budi sekarang? Dan kamu akan membayarnya? Tidak usah kamu sibuk memikirkan hutang budi mu biar semua Papa yang menyelesaikan nya. " Ucap Rayyan.


Jika hanya tentang hutang budi saja Aisyah bisa membayarnya sendiri dengan caranya sendiri, dan jika harus membayarnya dengan sejumlah uang dia pasti tidak akan meminta atau mengemis kepada Papanya. Karena saat ini bagi Aisyah dia lebih takut hutang budi dengan Papanya dari pada Rico yang bukan siapa-siapanya. Rico selalu membantunya dengan tulus, sedangkan Rayyan selalu ber manis-manis kepadanya karena dia tengah menginginkan sesuatu dari Aisyah.


"Papa tidak usah repot-repot, biar Aisyah sendiri yang menyelesaikannya. " Jawab Aisyah.


"Dengan apa kau akan menyelesaikannya? Dengan berhubungan dengannya! Tidak Aisyah, Papa tidak setuju. "


"Itu terserah Papa. Yang penting Aisyah tidak mau berhutang budi pada Papa " Jawab Aisyah lagi.


Wajah Rayyan terlihat bersungut-sungut ingin marah, namun dia mencoba menahannya supaya tidak meledak saat itu juga. Rayyan tidak mau hubungannya dengan Aisyah akan semakin jauh.


Ternyata masih ada sedikit hati di dalam dadanya Rayyan. Padahal Aisyah sempat takut kalau Rayyan akan kembali menyerukan kekecewaan nya dan membuat kegaduhan di rumah sakit.


"Mana ada orang tua yang keras di rugikan oleh anaknya sendiri, bahkan apapun yang di minta anak pada orang tuanya akan dia usahakan untuk bisa mewujudkannya. " Ucap Rayyan kesal dan tak percaya Aisyah akan mengatakan itu padanya.


"Itu jika orang lain, tapi tidak dengan Papa. " Jawab Aisyah yang sama sekali tak merasa takut jika berdebat dengan Rayyan.


Baru saja Aisyah tenang karena Rayyan berhenti bicara tapi ternyata itu hanya sesaat saja, hanya untuk Rayyan yang seolah mengumpulkan kata-kata.


Inilah yang membuat Rayyan selalu kesal dengan Aisyah, dan semakin lama hiburan mereka semakin jauh karena mereka sama-sama keras kepala dan tak ada yang mau mengalah, mereka memiliki pendapat dan pendirian yang tak sama.

__ADS_1


____


Rico terdiam, dia hanya menjadi mendengar ocehan dari Dante yang sedari dia pulang tak berhenti bercuit seperti burung pipit.


"Astaga, bos. Aku tuh heran deh sama kamu itu, belum juga lukanya sembuh udah tambah lagi, dan semua itu kamu lakukan hanya karena satu orang saja. Sebegitu spesial kah dia sampai-sampai bos seakan tidak menghargai hidup bos sendiri. " Oceh Dante.


Bukan hanya pusing yang melihat kearah Rico yang semakin parah, tapi juga karena Rico pulang dengan tangan kosong saja tanpa membawa sedikit saja belanjaan yang sudah dia janjikan.


Dante terpaksa harus pergi sendiri dan dengan motor milik Rico, karena mobilnya di bawa oleh Rico ke rumah sakit untuk mengantarkan Aisyah tadi.


Semula yang berdiri sekarang Dante beralih duduk di sebelah Rico, dia menatap wajah tampan Rico yang kini begitu banyak luka lebam karena perkelahiannya tadi dengan para brandal.


"Bos mau jadi superhero?." Tanya Dante.


"Kamu bisa diam nggak? Kamu menambah aku pusing saja, keluar sana!. " Usir Rico dengan sadis.


"Astaga Bos, segitu bencinya bos padaku? Aku ini sahabat terbaik loh! Bos tidak akan mendapatkan yang sama seperti ku dimana pun. Ini sahabat yang limited edition." Jawab Dante begitu bangga dengan dirinya sendiri.


"Terserah! Capek aku ngomong sama kamu! " Rico semakin kesal.


"Astaga! Kak Rico kenapa?. " Gadis dengan gaun oren bunga-bunga kecil dengan rambut di gerai itu langsung masuk dia ternganga melihat keadaan Rico sekarang, siapa lagi kalau bukan Felisha.


Rico langsung lesu melihat kedatangan Felisha, melihatnya seakan menghilangkan semua mood baiknya.


" Astaga. " Felisha duduk dengan cepat di satu sisinya Rico dan hendak menyentuh wajah Rico yang begitu banyak cap tangan para brandal itu.


"Kak, jangan menghindar napa sih, emangnya aku sampah yang harus di jauhi. " Ucap Felisha dengan wajah suram.


"Aku tuh udah semangat banget loh kesini nya, Kak. Aku juga sudah mandi dan sudah menghabiskan lulur satu botol supaya wangi saat di hadapan Kak Rico. " Heboh Felisha yang kini membuat Dante ternganga.


Tak habis pikir si Dante, Felisha kayak gadis pemalu tapi nyatanya ceplas-ceplos juga masalah seperti itu. Tapi karena itu juga kulit Felisha begitu mengkilap mungkin karena sang empu pintar memelihara nya. ( 🙈🙈)


"Terus apa lagi yang kamu lakukan sebelum kesini?" Tanya Dante terus memanasi Felisha untuk bercerita jauh dan lebih lagi.


"Ya.. Semuanya. Coba kak Dante hirup, wangi kan? Aku lagi coba handbody baru kemarin beli dari online. Katanya bisa bikin kulit semakin glowing." Dengan pede nya Felisha mengarahkan tangannya pada hidung Dante.


Meskipun tak mau menghirup tetap saja aroma itu sampai juga di hidung Dante membuat Dante klepek-klepek dengan aromanya.


"Gila. " Ucap Dante dengan wajah terperangah.


" Kok gila sih!. " Sewot Felisha.


Mendengar pembicaraan keduanya Rico menjadi pusing, kepalanya terasa cenat-cenut seperti tertusuk-tusuk jarum. Rico putuskan untuk berdiri dan pergi dari sana, pergi ke kamar pribadinya dan menguncinya.


Kedua sejoli itu sama sekali tak sadar dengan kepergian Rico mereka berdua tengah heboh dengan.

__ADS_1


Dante menggeleng mendengar kata Felisha, bukan itu maksudnya, sepertinya Felisha salah mengartikan kata gila dari Dante.


"Maksudnya, gila karena wangi banget. Meskipun aku tak suka dengan segala yang berbau-bau make-up untuk cewek tapi ini enak baunya, aku suka. " Jawab Dante menjelaskan.


Wushhh.... Felisha seakan-akan terbang melayang ke awan karena pujian dari Dante, pipinya merona dia tersenyum malu-malu lalu menunduk.


"Kak Dante bohong ya. " Ucapnya.


" Tidak, ini bener-bener enak baunya. Cocok untuk mu. " Jelas Dante.


Sejenak Felisha hanyut dalam pujian Dante, sedangkan Dante juga terdiam melihat wajah merona dari Felisha.


"𝘉𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘤𝘶𝘣𝘪𝘵 𝘱𝘪𝘱𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘺𝘢,, 𝘢𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘨𝘢𝘵𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘶𝘣𝘪𝘵𝘯𝘺𝘢, 𝘐𝘩𝘩... " Batin Dante begitu gemas.


Tak lama terbuai Felisha tersadar karena tak melihat Rico di sebelah nya, dia langsung bingung celingukan mencari Rico yang sudah tidak ada di sana.


"Cari siapa?" Tanya Dante.


"Kak Rico dimana?. " Jawab Felisha.


Lah iya, Dante pun juga langsung tersadar bahwa Rico sudah pergi ternyata meninggalkan mereka berdua di sana. Saking asyiknya sampai-sampai Dante tak melihat kepergian Rico sama sekali.


"Sudah kayak dedemit aja tuh orang, pergi saja nggak terlihat. " Ngomel Dante.


"Kak Rico bukan dedemit, dia cogan Felisha!. " Protes keras dari Felisha.


"Idihh... Kepedean neng! " Dante menoyor kening Felisha dan berhasil membuat kepalanya terhuyung ke belakang beberapa centi.


"Kak! Dasar tangan lucknut!. " Felisha tak tinggal diam memukuli tangan Dante yang masih menggantung di depan wajahnya.


"Oh.. Tidak bisa, tidak akan bisa kau memukul ku. " Dante terus menghindarkan tangannya memutar-mutar di depan Felisha membuat Felisha jengkel dan langsung berdiri ingin memukul Dante.


Felisha yang buru-buru malah membuat kakinya sendiri kesrimpet kaki satunya dan berakhir dia jatuh di atas tubuh Dante.


Dante yang terkejut tangannya langsung memeluk tubuh Felisha. Pipi Felisha menempel manis di dada bidang Dante bahkan dia bisa merasakan bahwa detak jantung Dante terpacu begitu cepat.


Pipi Felisha kembali merona mendengar alunan melodi dari Dante tersebut terdengar begitu merdu. Felisha mengangkat wajahnya menatap wajah Dante yang terdiam menatapnya.


Tatapan itu, membuat jantung Felisha juga ikutan berdetak, hatinya berdesir gimana gitu kayak ada yang aneh.


"Cantik." Celetuk Dante.


____


Bersambung..

__ADS_1


___________


__ADS_2