
Happy Reading...
********
Rico juga Dante terus bergelut di dapur resto. Memaksakan satu persatu pesanan dari semua pengunjung yang datang.
Tak ada lelah meski sudah seharian mereka terus di sana dan hanya istirahat beberapa saat saja saat istirahat siang. Itupun hanya bisa terpakai untuk makan siang juga shalat dhuhur. Selebihnya mereka kembali ke dapur lagi karena pas siang hari juga banyak pengunjung yang memang datang untuk makan siang.
Sesekali mereka berdua berbincang, bergurau hingga berhasil tertawa bersama-sama. Semua itu hanya sebatas wajar seperti biasa. Tetapi hari ini Dante terlihat begitu bahagia, entah apa yang membuat dia begitu bahagia seperti sekarang ini.
"Dan, tumben kamu begitu bahagia banget, ada apa?" Rico menoleh sebentar dan langsung mendapati Dante yang tersenyum semakin manis.
Dante tak menjawab, membuat rasa penasaran Rico semakin besar saja. Tapi tidak juga sih, Rico malah ikut tersenyum setelah beberapa saat.
"Cie cie cie... Yang mau naik ke pelaminan," Goda Rico.
"Hah! Tau dari mana kamu kalau aku mau naik ke pelaminan?" Pekik Dante.
"Berarti benar kan. Ih kamu ini ya, karena bahagia sampai melupakan teman sendiri. Apa mungkin kamu juga tidak akan mengundangku saat pernikahanmu?!" Rico menggeleng tak habis pikir. Biasanya Dante akan selalu cerita apapun tapi saat ini? Hadeh.
"Ya nggak gitu juga kali, Ric. Mana mungkin aku tidak mengundangmu. Kamu adalah orang pertama yang akan mendapatkan undangan dariku, memang belum saatnya saja jadi ya belum cerita juga."
__ADS_1
"Halah, alasan mu, Dan. Basi!" Rico semakin menggeleng.
"Beneran, Ric. Itu di undangan nama kamu yang sudah tertulis. Yang lain belum sama sekali. Karena apa? Karena kamu adalah orang yang paling spesial untuk ku."
"Lebay!" Sungut Rico.
"Serah kamu deh kalau tidak percaya."
"Iya, aku percaya. Apa sih yang tidak. Kamu tidak mungkin akan melangsungkan pernikahan jika aku tak datang, iya kan?"
"Hahaha! Emang siapa kamu bicara seperti itu. Kamu bukan wali ku, Ric. Bukan saksi juga. Apalagi penghulu." Kini Dante yang geleng-geleng kepala.
"Hadeuh, pada asyik banget. Lagi ngomongin apa sih!" Keduanya menoleh dan mendapati Iqbal yang datang.
"Mau pesen ayam geprek buatan mu, Ric."
"Idih, tumben. Ngidam kamu, Bal?" Celetuk Dante.
"Mana ada. Hanya ingin saja, Dan. Emang kalau orang mau makan harus pas ngidam aja, tidak kan?"
"Lah, siapa tau begitu. Kalau iya kan alhamdulilah. Nanti anaknya Rico ada temen nya. Kalau gede bisa lah jadi best friend seperti kita-kita."
__ADS_1
"Terus kamu sendiri?" Iqbal mengernyit.
"Tenang, Bal. Dante juga akan nyusul juga. Bentar lagi nikah dia lalu kawin. Hahaha!" Tawa Rico menggelegar, tangannya terus bergerak dengan olahannya.
"Wih, kapan nih? Sama siapa, Meyka?"
"Siapa lagi. Dia kan udah cinta mati sama Meyka. Mana bisa di gantikan. Padahal dulu aja bilang bukan tipenya, tapi nyatanya? Kena kata-katanya sendiri dia karena Allah malah menjadikan dia jodohnya." Rico menyela.
"Selamat deh. Akhirnya sang pujangga cinta nggak jomblo lagi. Bentar lagi laku jadi tampannya benar-benar berguna." Iqbal pun ikut terkekeh.
"Kamu tuh yang pujangga. Pujangga yang berganti profesi jadi pria bucin karat." Sungut Dante.
Tawa menggelegar terdengar dari mereka bertiga. Ruangan yang begitu besar ternyata mampu di penuhi oleh suara dari tawa mereka bertiga.
Banyak para karyawan Rico yang melihat ketiganya, bahkan mereka juga ikut tersenyum karena mendengar obrolan dari para pria tampan yang semuanya akan sempurna dengan statusnya sebagai suami. Meski Dante belum sah tapi hari sudah di tentukan jadi bisa kan di bilang seperti itu?
"Mau berapa porsi, Bal?" Tanya Rico mengalihkan.
"Tiga. Yang pedes ya." Pinta Iqbal.
"Siap." Rico langsung menyiapkan semua bahan-bahan dan langsung mengeksekusinya.
__ADS_1
*******
Bersambung.....