
Happy Reading...
...****************...
Semakin hari bukan Aisyah yang semakin manja, melainkan Rico yang begitu manja dengan Aisyah. Apalagi ketika ada yang tidak enak dia rasakan bawaannya pengen di temenin mulu sama istri tercinta.
Sudah beberapa bulan ini Rico terus seperti itu. Yang hamil siapa tapi yang ngidam juga yang manja siapa. Seperti terbalik di antara keduanya.
Seperti saat ini, Rico begitu lemas hanya karena pusing saja. Aisyah mau pergi sebentar hanya sebatas ke dapur saja tidak di izinkan. Rico hanya pengen nempel mulu kayak prangko.
"Sebentar saja, Bang. Hanya mau ambil minum hangat untuk Bang Rico," rayu Aisyah dengan lembut. Tapi Rico mana peduli, dia terus tidur di pangkuan Aisyah dan memeluk perutnya yang buncit.
Bahkan bibir Rico juga terus memberikan kecupan di sana.
"Bang, ayolah. Hanya sebentar saja," katanya lagi dengan segenap jiwa membujuk Rico yang tetap bergeming di tempat.
Posisi yang sangat nyaman untuk Rico, dari tadi dia hanya bolak-balik terus sebelum Aisyah pulang dari kampus tapi setelah pulang langsung di tempel mulu.
Tadi pas Aisyah berangkat Rico belum kenapa-napa tapi entah apa yang terjadi dan sejak kapan pas Aisyah pulang Rico sudah malas-malasan di atas ranjang dengan wajah yang sangat pucat.
__ADS_1
"Tetaplah seperti ini, Sayangku. Ini sangat nyaman sekali," katanya di sambung dengan tangan semakin erat memeluk Aisyah juga bibir yang kini sudah menempel di perutnya.
"Assalamu'alaikum, anak ayah. Bagaimana hari ini, kalian tidak nakal kan? kalian jadi anak penurut kan? sip, harus seperti itu jadi anak penurut dan jangan bikin bunda kelelahan," katanya yang seolah berbicara dengan anaknya.
Ingin Aisyah terpingkal, Suaminya sangat lucu, dia yang bertanya, jawab sendiri pula. Lucu banget kan?
"Wa'alaikumsalam, Ayah. Adek jadi anak baik kok hari ini. Juga tidak nakal dan nurut sama Bunda tidak seperti ayah," Aisyah terkikik mengatakan itu.
Benar kan? Rico yang tidak nurut sama Aisyah jadi siapa yang nakal. Anaknya atau Ayahnya? jelas itu ayahnya.
Rico mengangkat wajahnya. Dia melihat wajah Aisyah yang begitu manis saat tersenyum lepas seperti itu.
Rico menarik senyum dan juga memperlihatkan giginya yang putih. Tapi tidak sepenuhnya putih karena Aisyah langsung berkomentar setelah itu.
"Ih! abang makan apa, itu giginya kok merah," Aisyah menatap lekat gigi Rico yang langsung terbuka tangannya cepat meraih kaca kecil yang ada di nakas.
"Hahaha! ada cabenya!" tawa Aisyah lepas. Ternyata ada kulit cabe yang tertinggal.
Malu Rico langsung berlari ke kamar mandi tentu untuk membersihkan giginya yang terdapat noda merah dari cabe.
__ADS_1
"Seharusnya yang merah itu jangan hanya kecil segini. Tapi semua yang atas merah dan yang bawah putih. Kan pas itu, tandanya pecinta bangsa. Merah putih," gumamnya di depan kaca kamar mandi.
Sementara Aisyah masih tertawa lepas mengingat itu. Setelahnya dia beranjak lalu keluar untuk mengambil minum hangat untuk Rico.
Kesempatan yang sangat baik. Kapan lagi bisa bebas dari Rico kalau pas tidak seperti ini. Noda cabe membawa berkah.
Tak lama Aisyah kembali masuk dengan membawa cangkir sementara Rico juga sudah ada di atas ranjang dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
"Jangan ketawa_in terus dong, Sayang ku," protes Rico yang melihat Aisyah masih saja tersenyum.
"Tidak, hanya saja tidak kuat menahannya. Jadi terlepas deh," Aisyah duduk di samping Rico seraya memberikan minum pada Rico. "Silakan di minum, Bang. Mumpung masih hangat."
"Terima kasih, Sayang ku. Maaf ya, jadi ngerepotin kan?"
"Tidak, hanya kerjaan kecil nggak masalah." Kini Rico tersenyum manis begitu juga dengan Aisyah yang membalas perlakuan yang sama.
...****************...
Bersambung...
__ADS_1