
Happy Reading..
Wajah Aisyah tampak sangat lesu, dengan di gandeng Rico langkahnya masuk ke dalam rumah dengan sejuta rasa bersalah. Seharusnya dia tidak mengikuti kata hatinya sendiri, seharusnya dia lebih mendengar apa yang suaminya katakan.
Berkali-kali Aisyah juga meminta maaf pada Rico, tapi dengan begitu sabarnya Rico terus tersenyum dan terus membelai lembut kepala belakang Aisyah dan kadang-kadang berganti di punggung istrinya.
"Bang, maafin Aisyah. Seandainya Aisyah ikut kata Abang semua ini tidak akan pernah terjadi kan?" beribu-ribu sesal tidak akan pernah mengubah segalanya lagi, tapi bisa membuat orang menyadari akan semua kesalahannya. Dan itu yang Aisyah rasakan sekarang, dia sangat menyesal.
"Sudah Aisyah sayang, jangan terus meminta maaf, aku sudah maafkan mu. Dan semua juga sudah berlalu kan? semua akan baik-baik saja, tenanglah, sekarang lebih baik kamu istirahat," ucapan Rico begitu lembut membuat Aisyah merasa semakin bersalah.
Sifat Aisyah yang terlalu grusa-grusu inilah yang di sesalkan, niatnya memang baik tapi dia belum bisa berpikir logis bagaimana dampaknya.
"Kalian sudah pulang, loh! kamu kenapa, Nak?!" Bu Susan begitu panik melihat kearah menantunya yang sangat lemah juga terdapat beberapa luka di bagian wajahnya, hanya beberapa saja yang terlihat tapi mungkin lebih banyak di bagian yang lain yang tertutup.
"Aisyah jatuh, Bun," jawab Rico berbohong. Seharusnya memang harus jujur, tapi Rico juga tidak mau membuat Bundanya khawatir berlebihan itu tidak akan baik untuk kesehatannya.
"Astaghfirullah hal 'azim, kok bisa sih," Bu Susan menghadang Aisyah yang di tuntun oleh Rico, mengamati dengan jelas apa yang telah terjadi pada menantu kesayangannya.
"Bawa istrimu ke kamar, Rico. Biar dia istirahat, bunda akan buatkan jamu supaya dia cepat pulih," pintanya yang masih setia berdiri mengamati dengan rasa iba.
Aisyah hanya menunduk, mendengarkan celoteh bu Susan yang begitu mengkhawatirkannya. Rasa sesal itu kembali bertambah semakin besar, dia merasa begitu menyusahkan semua orang kalau begini termasuk Rico.
__ADS_1
"Baik, Bun," Seketika Rico kembali berjalan membawa Aisyah masuk ke kamar mereka. Rico begitu setia menuntun Aisyah, tak akan pernah dia tinggalkan meski hanya sesaat.
"Bang, Aisyah minta maaf," Lagi-lagi kata itu keluar.
"Sudah sudah, sekarang istirahat yang benar," ucap Rico dengan membantu Aisyah naik ke ranjang. Membenarkan rebahan Aisyah dan juga menyelimutinya.
Rico tidak langsung meninggalkan Aisyah, tapi dia langsung duduk di sebelahnya. Tangannya terus memegangi tangan Aisyah dengan sesekali mengelus dan mengecupnya.
Tidak ada rasa kesal dalam hatinya melainkan rasa takut dan rasa gagal menjaga wanitanya, jika saja dia tidak meninggalkannya pasti Aisyah tidak akan seperti sekarang. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan keselamatan semua orang dari keluarga Aisyah.
Rico begitu takut jika sesuatu terjadi pada istrinya itu, bagaimana jika Ateez berhasil menodai atau menyakiti Aisyah yang lebih parah lagi mung Rico akan begitu menyesal.
"Bang, maaf," melihat ada suka yang begitu dalam dari mata Rico membuat Aisyah kembali mengatakan itu, rasa bersalahnya tak akan hilang begitu saja meski Rico terus mengatakan sudah memaafkan.
Terlihat warnanya coklat tua, terlihat begitu kental, entah seperti apa rasanya.
Aisyah yang hendak kembali duduk langsung di bantu oleh Rico hingga Aisyah berhasil duduk bersandar dengan bantal.
"Terimakasih, Bun," ucap Rico. Tangannya menerima cangkir yang di berikan oleh Bu Susan, membantu Aisyah meminumnya, "di minum dulu, Sayang."
Menghirup aromanya sudah membuat Aisyah merasa nek, entah bagaimana rasanya. Tapi meski dengan mengernyit Aisyah tetap berusaha meminumnya dan menahan rasa yang sangat tak enak.
__ADS_1
Ingin sekali Aisyah muntahkan tapi melihat Bu Susan yang begitu antusias menunggu sampai habis membuat Aisyah terpaksa menelannya.
"Astaghfirullah, ini minuman apa? pahit banget," batin Aisyah.
"Alhamdulillah," seru Bu Susan begitu senang. Meski dia sempat ragi kalau Aisyah akan menerimanya karena rasanya juga sangat tidak enak tapi akhirnya dia menyeru syukur karena buatannya di terima oleh Aisyah.
"Sekarang istirahat lah, bunda keluar dulu biar bunda bikinin bubur," ucapnya.
"Iya, Bun. Terimakasih," jawab Rico.
Sementara Aisyah hanya tersenyum kecil, begitu hangat dia saat ini. Limpahan kasih sayang selalu dia dapatkan dan tak ada kekurangan sana sekali.
Setelah Bu Susan keluar Rico ikut naik ke ranjang, duduk bersandar sama persis dengan Aisyah. Direngkuhnya kepala Aisyah dan di bawanya ke dada bidangnya.
"Apakah pahit sekali?" tanya Rico, seraya terus mengelus kepala Aisyah.
"Pahit banget, Bang. Bahkan Aisyah mau muntah sampai sekarang," jawabnya.
"Hhhh.., tidak apa-apa bantu juga hilang sendiri. Sekarang tidurlah. Aku akan selalu di sini menemanimu," ucapnya lembut. Dihujaninya puncak kepala Aisyah dengan kecupan.
Begitu nyaman di posisi ini membuat Aisyah semakin merasa tenang hingga akhirnya matanya mulai terpejam dengan perlahan.
__ADS_1
Bersambung...