
Happy Reading...
____
Malam semakin larut, namun Rico belum juga tidur. Dia masih berdiri di depan rumah dengan bersedekap dada mengangkat wajahnya menatap langit. Rico ikut sedih dengan apa yang terjadi dengan Iqbal juga Shelvia, kenapa nasib mereka berdua tak jauh-jauh seperti dirinya.
Memang semua butuh pengorbanan, tapi kenapa harus mereka juga, "kenapa apa yang terjadi padaku harus terjadi kepada mereka juga. Kenapa ujian berat harus terjadi kepada cucumu ya lain, Tuan Fahmi. Kenapa? bukankah anda bilang kalau semuanya akan berakhir di pernikahan Aisyah? Kenapa ujian ini masih saja ada," ucapnya bingung.
Mungkin yang di maksud berakhir adalah ujian di setiap datangnya hari pernikahan untuk keluarga Fahmi tapi bukan berarti ujian yang lain akan berhenti begitu juga kan?
"Apakah mereka akan kuat, Ya Allah. Apakah mereka akan bersatu seperti aku juga Aisyah? " ucapan Rico terhenti saat ada tangan kecil yang menarik-narik celananya.
Rico yang terkejut langsung menunduk dia melihat anak kecil penghuni bengkel Rico yang telah dia jual beberapa hari yang lalu.
"Kamu!?" Rico menoleh ke arah pintu, dia takut saja kalau sampai tiba-tiba ada yang keluar saat dia bicara dengan makhluk kecil yang kasat mata. Setelah di pastikan tak ada orang yang datang Rico baru melanjutkan bicara ya dengan anak itu, "kenapa? apa ada masalah?"
"Kenapa kakak tidak pernah datang lagi menjenguk kami, kami sangat kesepian tak ada kakak," ucapnya sedih.
"Maaf, kakak tak bisa ke sana lagi,"
"Tapi, Kak. Kami sangat membutuhkan kakak," ucapnya.
"Hem.., bagaimana kalau kamu tinggal di sini saja. Karena kakak tak akan mungkin bisa datang lagi ke sana. Kamu mau kan? ya kalau kamu benar-benar membutuhkan kakak sih," jawab Rico.
Baru saja Rico berhenti bicara Aisyah datang, dia mengernyit karena Rico terlihat asyik bicara sendiri, "Bang, Bang Rico bicara dengan siapa?" tanyanya, matanya langsung mengedar ke segala arah namun tak ada siapapun di sana.
Rico menoleh dia terlihat gugup tapi dia berusaha untuk tenang supaya Aisyah tidak curiga, "tidak, tadi hanya...? hem.. bukan apa-apa kok! oh iya, kamu ngapain ke sini juga, apakah kamu merindukanku," ucapnya dengan mata yang berkedip genit ke arah Aisyah.
Aisyah menganga, bukan seperti itu juga kan kenapa Aisyah datang, tapi Aisyah ke sana karena ini sudah sangat malam tak baik juga berada di luar. Angin malam tidak akan baik untuk kesehatan.
Rico berjalan mendekat, dan berhenti tepat di hadapan Aisyah, "tak masalah kamu tak merindukanku, tapi apakah aku boleh jika aku yang merindukanmu? aku sangat merindukan mu, Sayang." ucap Rico membuat Aisyah tersipu karena perkataan Rico barusan.
Setiap hari mereka bertemu bahkan mereka tak pernah terpisah bagaimana mungkin Rico merindukannya? pasti yang di rindukan oleh Rico adalah hal yang lain kan.
__ADS_1
"Kenapa dengan pipimu, apakah aku membuat mu malu," tanya Rico lagi.
Aisyah bertambah malu bisa-bisanya Rico mengatakan itu, ya jelas Rico telah membuatnya malu dan itu tidak perlu di tanyakan lagi.
"Apa sih, Bang." jawab Aisyah dengan tersipu juga dengan wajah yang terus menunduk tak berani memandangi Rico yang kini malah terlihat senang.
Tiba-tiba Rico merangkul Aisyah menuntunnya untuk masuk dan Aisyah hanya diam dan menurut saja apa yang di lakukan oleh Rico padanya.
"Sudah malam, tidak baik berada di luar," ucapan yang seharusnya Aisyah yang mengatakan kini jadi Rico yang mengatakannya dan dia juga mengatakan dengan begitu santai seperti bukan dia yang tadi ada di luar.
"Bukannya seharusnya Aisyah yang mengatakan itu ya, Bang? " tanya Aisyah dengan mengernyit dan kali ini dia berani menoleh ke arah Rico yang terkekeh mendengar Aisyah yang protes padanya.
Hal itu membuat Aisyah kesal namun sangat gemas juga hingga akhirnya Aisyah mencubit perut Rico dengan kuat.
"Awww..! kok di cubit sih! di cium aja dong! " ucapnya membuat Aisyah semakin menganga saja, "sebentar, tutup pintu dan kunci dulu, takut ada yang mengganggu," imbuhnya.
Sebelum berhasil menutup pintu Rico kembali melirik pada anak kecil itu yang masih di sana, Rico tersenyum dan dia pun juga sama.
"Aku akan ke sini ya, Kak! aku akan ajak kakak juga," ucapnya dan Rico hanya mengedipkan mata sebagai persetujuannya.
Pelan-pelan Rico menutup pintu, si kecil itu masih setia di sana setelah pintu benar-benar tertutup baru Si kecil itu pergi.
"Yuk, sudah malam. Nanti semakin malam lagi," cepat Rico kembali merangkul Aisyah, namun kini tidak pada bahunya melainkan merangkul pinggangnya.
Tangan Rico mulai nakal bukan sekedar merangkul saja namun jari-jarinya mulai menggelitiki pinggang Aisyah.
"Geli, Bang! " protes Aisyah. Badannya sesekali bergerak kayak cacing kepanasan dan itu karena perbuatan suaminya.
Rico semakin terkekeh, dia begitu senang menggoda Aisyah apalagi dia berhasil membuat pipi istrinya itu bersemu merah, menggemaskan sekali bukan?
"Ihh..., Bang Rico kok malah ketawa sih!? " seru Aisyah lagi.
"Stt..., jangan teriak-teriak, nanti Ayah dan Bunda bangun. Bisa-bisa gagal kita bikinin mereka cucu,"
__ADS_1
Mata Aisyah semakin membulat dia memandangi Rico yang terus saja menggodanya, "ihh.., dasar mesum! " Aisyah melepaskan diri dan berlalu lebih dahulu meninggal Rico.
Rico cepat mengejar dia tak mau sampai Aisyah benar-benar tidur tanpa mereka melakukan sunah malam dulu. Apalagi malam jum'at pahalanya akan berlipat kan.
"Sayang, jangan tinggalkan aku... " ucap Rico dengan nada seperti orang yang sedang membaca puisi.
"Hadeh... " Aisyah hanya bisa geleng-geleng kepala karena kelakuan suaminya itu.
Rico menutup pintu setelah mereka berdua masuk ke kamar tak lupa dia juga menguncinya siapa tau nanti ada orang masuk saat mereka tengah asik bercinta kan nggak banget.
Rico menyusul Aisyah yang hendak melepaskan hijabnya di depan meja rias, Rico menyingkirkan tangan Aisyah perlahan dan menggantikan posisinya untuk melepaskan hijab Aisyah, "biar aku saja yang melakukannya," ucapnya.
Lagi-lagi Aisyah gugup bukan main, mereka pernah melakukan hubungan yang semestinya kemarin tapi kenapa sekarang Aisyah masih saja gugup? begitu besar kah pengaruhnya untuk Aisyah.
Rico melepaskan begitu pelan, setelah berhasil melepaskan hijabnya Rico juga melepaskan rambut Aisyah yang di gelung, "aku sangat menyukai ini," ucapnya.
Sepertinya tangan Rico tak berhenti sampai di situ saja, Rico memeluk Aisyah dari belakang namun tangannya juga mulai membuka satu persatu kancing di baju gamis bagian depan milik Aisyah.
"Bang," mata Aisyah terbelalak, dan itu bisa di lihat oleh Rico dari pantulan cermin.
Rico tak peduli dan terus membukanya, setelah semuanya terbuka baru Rico mengangkat tubuh Aisyah dan membawanya ke kasur.
Aisyah benar-benar sangat malu, meskipun baru terbuka kancingnya saja tapi bisa di pastikan akan langsung terlihat di balik baju itu setelah Rico menyibak nya.
Pelan-pelan Rico menurunkan Aisyah di atas ranjang sepertinya dia juga sudah mulai tidak sabar untuk mendapatkan jatah malam kali ini. Rico menarik selimut menutupi keduanya dan percintaan mereka pun di mulai.
"Bang!! "
"Tenang, Sayang. ini tidak akan sesakit kemarin ini akan enak aku yakin itu."
"Bang, geli! " teriak Aisyah entah apa yang Rico lakukan di balik selimut itu.
"""""""
__ADS_1
Bersambung...
_______