
Happy Reading...
_______
Tiga hari Iqbal mencari jawaban di kota lain. Dan kini dia pulang membawa hasil yang sangat menyenangkan. Akhirnya dia bisa mengetahui alasannya kenapa mamanya sangat membenci orang tua Shelvia, semua itu hanya di karenakan cinta yang tak terbalas, sungguh miris memang nasib mamanya.
Iqbal terus tersenyum, setelah mengatakan semua mamanya tidak akan bisa berbelit-belit lagi, dan dia pasti akan mendapatkan restu darinya, tapi kalau tidak? jangan salahkan Iqbal jika dia akan tetap menikahi Shelvia tanpa restunya.
"Aku akan ke rumah Shelvia dulu. Aku sangat merindukan gadisku itu," ucapnya tidak sabaran.
Mobil baru saja keluar dari jalan tol. Dia sangat buru-buru untuk bisa sampai di rumah Shelvia dengan cepat.
Wajah Shelvia yang tengah tersenyum sudah selalu ada di hadapannya, semua ini adalah efek dari tiga hari tak melihatnya. Dia sangat ingin cepat bertemu.
"Aku datang, Via. Aku datang," ucapnya.
Wajahnya sungguh berbinar begitu cerah, tak ada kabut hitam yang menghalanginya.
"Ya Allah. Terima kasih karena telah memudahkan jalan ku. Aku yakin Shelvia memang jodohku, terima kasih," ucapnya yang terus penuh syukur.
____
"Assalamu'alaikum, Via..! " seru pria tampan yang kini mulai memasuki pelataran rumah Shelvia. Kedatangannya sangat mengejutkan karena tak ada kabar kalau mau datang dan kini sudah langsung ada di depan rumah.
Pria itu Alfian, dia datang seorang diri. Tak ada siapapun yang menemaninya. Kebetulan Shelvia tengah duduk di kursi di emperan rumah jadi langsung bisa melihat kedatangannya.
"Wa'alaikumsalam.. " seketika Shelvia menoleh, dia juga langsung beranjak dari tempat dia duduk.
"Gimana kaki kamu, udah sembuh?" tanya Alfian. Matanya melirik ke bawah meski dia sadar tidak akan bisa melihat yang dia tanyakan karena kaki Shelvia tertutup rapat.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik. Yuk masuk Kak! ada papa di dalam. Papa sudah pulang kok," ajak Shelvia.
Alfian mengangguk, memang kedatangannya untuk bertemu dengan papanya Shelvia kalau bisa juga dengan mamanya. Sudah lama juga tidak pernah bertemu juga tidak ngobrol kangen juga rasanya.
Alfian masuk mengikuti Shelvia, keduanya juga mengucapkan salam meski dengan pelan.
Sesampainya di ruang tengah Shelvia meminta Alfian untuk duduk di sofa, dan Via pamit untuk memanggil David yang ada di kamar. Mungkin sedang istirahat.
"Duduk dulu, Kak. Via panggilin papa dulu," ucap Shelvia.
"Hem.. " jawab Alfian yang juga langsung mendudukkan bokongnya di sofa sesuai arahan Shelvia.
Shelvia bergegas pergi, menaiki tangga dan menuju kamar David. Semua itu tak lepas dari pandangannya Alfian, karena memang sangat terlihat jelas setiap liku yang di lalui.
Shelvia mengetuk pintu kamar David juga memanggilnya, tak lama langsung mendapatkan jawaban dari dalam.
__ADS_1
"Pa, ada tamu! " suara Shelvia sedikit berteriak, tangannya juga terus bergerak mengetuk pintu.
"Iya! " jawab David. Tak lama David keluar hanya mengenakan kaus rumahan juga celana hitam panjang. Tubuhnya belum keluar sempurna tapi sudah setengahnya.
"Siapa? " tanya David, matanya melirik ke bawah. Matanya mengernyit sepertinya David melupakan siapa yang ada di bawah itu.
"Dia kak Alfian, Pa. Anaknya tante Mitha juga om Rico, masak sama anak sahabat sendiri lupa," Shelvia menggeleng, tak mungkin kan papanya sudah mulai pikun sekarang.
"Astaghfirullah hal 'azim.. " David menepuk jidatnya sendiri, sungguh tak percaya kalau ternyata dia bisa sampai lupa seperti sekarang, "benar-benar sudah tua nih papa," imbuhnya.
Shelvia hanya terkekeh geli saat David menyadari bahwa dia sudah tua, ya tapi masih terlihat sangat tampan sih, bahkan rambutnya satupun belum ada yang ganti warna.
David menutup pintu, dia juga mengajak Shelvia untuk turun bersamanya.
Setelah sampai di bawah David menghampiri Alfian, sementara Shelvia pergi ke dapur untuk membuatkan minum untuk tamunya.
"Assalamu'alaikum, Alfian! sudah lama sekali tidak bertemu. Sekarang sudah besar dan semakin tampan kayak papamu," puji David.
David langsung menghampiri Alfian yang langsung berdiri setelah mendengar seruan dari David.
"Wa'alaikumsalam, Om," jawab Alfian. Tangannya mengulur untuk menyambut tangan David. Setelah keduanya saling berjabat tangan David mengganti posisinya untuk memeluk hangat Alfian selayaknya anaknya sendiri, sama seperti dia masih kecil dulu.
"Bagaimana kabarmu," tanya David. Tangannya sudah mulai merenggangkan pelukan lalu benar-benar melepaskan dan sedikit menjauh.
David duduk dan Alfian pun juga ikut duduk di samping David.
"Benarkah!? " pekik David. Alfian mengangguk dengan cepat sembari tersenyum kecil.
Senang rasanya bisa kembali bertemu dengan teman lama yang sudah seperti saudara sendiri. Entah sudah berapa tahun mereka berpisah.
David sudah tak sabar ingin secepatnya bertemu dengan teman yang sama reseknya dan sama eror nya. Ya, ingin sekali bisa mengulang masa lalu meski sudah dengan cara yang berbeda.
"Benar, Om." jawaban Alfian sungguh membuat David senang. Bahkan dia tak berhenti tersenyum.
Baru saja beberapa saat mereka mengobrol Shelvia datang dari dapur dengan membawa nampan yang berisi dua gelas juga piring berisi kue.
Dengan pelan Shelvia menaruhnya di meja, menyimpan nampan itu di bawah meja lalu ikut bergabung duduk di sisi lain David.
"Di minum tehnya, Kak! Lllmumpung masih anget," ucap Shelvia.
"Di minum," imbuh David juga menawarkan pada Alfian.
"Terima kasih, Om." suara pria tampan itu begitu sopan. Sama sekali tak seperti papanya dulu yang cewawakan dan asal ceplas-ceplos seperti dirinya.
Ternyata anak tak mungkin benar-benar sama seperti orang tuanya ada sih yang sama tapi tak banyak. Karena anak juga orang tuanya pasti akan mempunyai karakter dan ciri khas masing-masing.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum... " belum juga gelas mereka taruh kembali Airin masuk. Sepertinya dia baru pulang dari rumah sakit.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka bertiga serentak.
Airin tersenyum, dia menyambut baik kedatangan Alfian. Airin langsung menghampirinya dan mengulurkan tangan.
"Sudah dari tadi? " tanya Airin.
"Belum kok, Tan." jawab Alfian. Tangannya sudah menerima salaman dari Airin.
"Silakan di teruskan, tante mau bersih-bersih dulu," Airin langsung pamit setelah dia juga menyalami suami juga anaknya.
Semuanya mengangguk juga menjawab hampir bersamaan, "Ya."
Airin kembali tersenyum, perempuan berhijab yang masih terlihat sangat cantik itu masih saja murah senyum.
David juga Alfian kembali berbincang-bincang dengan hangat, sementara Shelvia hanya mendengarkan saja.
"Alfian, katanya mau kenalin gadis pujaan mu pada kami," ucap Airin yang sudah kembali turun dan sudah mengganti bajunya dengan baju rumahan.
"Benarkah, siapa gadis itu, Kak?! " Shelvia juga penasaran, siapa sebenarnya yang menjadi gadis pujaan Alfian.
Alfian tersenyum malu, wajahnya juga menunduk.
"Maka dari itu, Tan. Alfian ke sini," jawab Alfian.
Semuanya semakin tak sabar ingin mendengar jawaban dari Alfian, sebenarnya siapa.
"Siapa, apa kami mengenalnya? " tanya David.
"Kalian semua mengenalnya," jawabnya.
"Siapa? " tanya Shelvia.
Dan saat itu pandangan mata Alfian tertuju pada Shelvia bahkan dia juga tersenyum melihat ekspresinya.
Sepasang mata yang melihat merasa sakit saat melihat Alfian menatap gadisnya dengan tersenyum, bahkan Shelvia juga sedikit tersenyum kepadanya, bukankah itu sebuah kode?
"Ja- jadi selama aku pergi..." ucap Iqbal.
Semuanya menoleh kearah Iqbal. Bahkan mereka terkejut karena kedatangannya dan keberadaannya yang tidak mereka sadari, lagian Iqbal juga tidak mengucapkan salam saat masuk.
__
Bersambung....
__ADS_1
"""""'