Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
172.Tidak mungkin


__ADS_3

Happy Reading..


Aisyah ataupun Rico terpaku saat mendengar apa yang di alami Shelvia sekarang. Baru saja mereka berdua masuk dan langsung mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan tentang keadaan sepupunya itu.



"Via," air mata Aisyah tak mampu bertahan hingga akhirnya ikut terjatuh mengiringi langkahnya mendekati Shelvia yang masih ada di pelukan Siska.



Sementara Rico hanya diam, dia tak bisa berpikir jernih sekarang. Biasanya dia akan tau segalanya tapi kenapa sekarang tidak? apa yang sebenarnya terjadi, apa mungkin kelebihan Rico itu telah hilang sekarang? itu tidak mungkin kan?



Rico juga mengikuti Aisyah di belakangnya, menghampiri Shelvia yang terus menangis, dia sangat terpukul dengan keadaannya sekarang. Dia lumpuh.



"Syah, ini tidak benar kan? dokter pasti salah kan?" di tariknya tangan Aisyah setelah sampai di hadapannya, Shelvia menggeleng, dia tak percaya.



Shelvia yang seperti ini membuat Aisyah semakin menangis, dia ikut terpukul dengan apa yang menimpa sepupunya.



Di saat Shelvia sudah beralih memegangi Aisyah Siska mulai menjauh, dia menangis karena merasa sangat bersalah. Bahkan Siska kini berlari keluar karena tak sanggup melihat penderitaan Shelvia yang di sebabkan karena menolongnya.



Rico yang tau langsung mengejarnya, Rico butuh penjelasan dari Siska kenapa semuanya bisa terjadi seperti sekarang ini.



"Tante, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Shelvia bisa seperti ini," tanya Rico setelah mereka berdua sudah ada di depan ruangan Shelvia.



Siska terduduk lemas di kursi tunggu, dia juga sangat bingung sekarang. Jika Iqbal tau maka dia akan semakin membencinya kan?



"Tante, katakan. apa yang sebenarnya terjadinya," Rico ikut duduk di sebelah Siska terus bertanya pada Siska.



"Dia, dia mengalami kecelakaan ini karena menolong saya. Seharusnya sekarang saya yang ada di posisinya, tapi dia? dia malah mengorbankan dirinya sendiri untuk menolongku," jawab Siska jujur.



"Apa tante Airin juga om David sudah tau?" Siska menggeleng, "lalu, dengan Iqbal?" Siska kembali menggeleng.



Rico mulai merogoh saku celananya sepertinya ingin mengambil ponsel dan ternyata benar. ponsel sudah dia keluarkan.


__ADS_1


"Apa yang mau kamu lakukan!" Siska terlihat panik saat tangan Rico sudah mengangkat ponsel dan menempelkan pada telinganya.



"Saya harus memberitahu orang tuanya, Tante. Begitu juga dengan Iqbal, dia harus tau keadaan Shelvia."



"Tidak tidak! Ini tidak boleh. Nanti mereka akan membenciku!" Siska semakin panik. Tangannya berusaha untuk menghentikan Rico tapi dia malah menjauhkannya.



"Tidak tante, mereka semua harus tau. Mereka pasti khawatir sekarang."



"Tapi bagaimana dengan saya, mereka akan membenci saya!"



"Tante tidak usah takut, tante ceritakan kebenarannya aku yakin mereka tidak akan marah sama tante, termasuk Iqbal."



"Tapi..?"



"Percaya dengan kata-kata saya."




Sementara Siska dia diam tapi dalam ketakutan, dia sangat takut akan di benci oleh semua orang, terlebih lagi di benci oleh anaknya sendiri.



Setelah mendapat kabar dari Rico Airin juga David langsung datang, begitu juga dengan Iqbal yang kebetulan pas ada di rumah Shelvia karena dia mencari Shelvia.


Mereka bertiga begitu panik sekaligus khawatir, Rico hanya memberitahu Shelvia yang di rawat di rumah sakit tapi tidak mengatakan bagaimana keadaannya sekarang membuat semuanya menjadi berpikir yang tidak-tidak.


Setelah sampai mereka bertiga langsung menuju ke ruangan Shelvia, mereka bertiga begitu cepat menghampiri saat melihat Shelvia yang duduk dan masih terus di peluk oleh Aisyah dengan keadaan yang masih menangis.


"Sayang, bagaimana keadaanmu. Kamu tidak ada yang serius_kan?" ucapan Airin tercekat saat tiba-tiba Shelvia berganti memeluknya.


"Sayang, apa yang terjadi. Katakan sama mama, tidak ada yang serius kan?" tanya Airin lagi.


"Shelvia, Shelvia lumpuh_Ma, Shelvia tidak akan bisa jalan lagi."


Jederrr...


Airin, David juga Iqbal lemas seketika saat mendengar kata-kata Shelvia di tengah-tengah tangisnya.


Mereka tak kuasa, hingga akhirnya air mata mereka perlahan-lahan juga menemani kesedihan Shelvia.


"Tidak mungkin, kamu pasti bercanda kan Via? kamu hanya nge-prank Mama dan Papa lagi kan seperti biasanya?" David sama sekali tak percaya.

__ADS_1


Tak mungkin anaknya mengalami hal yang sangat mengerikan seperti sekarang ini.


Shelvia menggeleng, dia tak mampu lagi untuk berbicara.


"Tidak mungkin, ini tidak mungkin," gumam Iqbal.


Iqbal menoleh dan ternyata Mamanya ada di sana juga. Siska duduk tak berdaya di sofa melihat kedatangan mereka bertiga, bahkan Siska juga terus menangis.


Iqbal berlari menghampiri.


"Ma, kenapa Mama di sini. Atau jangan-jangan? apa yang terjadi pada Shelvia juga karena Mama!" asumsi Iqbal langsung mengarah seperti itu.


Semua ada alasannya, karena kebencian Siska lah yang membuat Iqbal langsung berpikir seperti itu.


Siska masih diam tapi Iqbal sudah tak sabar ingin mendengar penjelasannya.


"Ma! katakan! apa ini semua gara-gara Mama!"


Mendengar Iqbal yang mulai emosi Rico langsung mendekatinya. Menenangkannya dengan merangkul pundaknya dan menepuk-nepuknya hingga berkali-kali.


"Sabar Iqbal. Semua ini kecelakaan. Mamamu tidak salah, ini murni kecelakaan," ucap Rico.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Ric! kenapa Shelvia bisa seperti ini, dan kenapa Mama juga ada di sini!" Iqbal menoleh ke arah Rico.


"Ini terjadi karena Shelvia menolong Mamamu. Dia menggantikan posisi Mamamu yang hampir ketabrak truk," jawab Rico.


Lemas dan semakin lemas Iqbal sekarang. Gadisnya bertaruh nyawa demi Mamanya yang sangat membenci dirinya.


Iqbal mendekati Shelvia dalam tangis. Berdiri tepat di sebelah Shelvia.


"Shelvia," panggil Iqbal dengan sangat lirih. Suaranya sungguh tak kuasa untuk lebih keras lagi.


Shelvia menoleh, memandangi Iqbal yang juga menangis. Shelvia sudah pasrah sekarang, jika Iqbal akan pergi menjauhinya tak menjadi masalah karena sekarang dia juga tak sempurna.


"Kak, sekarang Shelvia lumpuh. Kalau kak Iqbal tidak mau berhubungan dengan Shelvia, Shelvia tidak apa-apa. Shelvia juga takut tak bisa membahagiakan kakak dan akan selalu merepotkan kakak," ucap Shelvia dalam sedu.


Tangis semakin pecah, bukan hanya Shelvia saja tapi semuanya.


"Tidak Via, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu menjagamu dan akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu."


"Tante, Om... Saya minta izin untuk menikahi Shelvia... Besok," tekat Iqbal sudah bulat. Dengan kekurangan Shelvia dia tidak akan mempermasalahkannya dan dia akan lebih serius dengan membuat ikatan kepada Shelvia dengan ikatan pernikahan.


"Besok?"


Semuanya melongo, besok? itu sangat cepat.


"Iya, saya akan menikahi Shelvia besok. Meski ada orang yang tidak menyetujuinya tapi Iqbal akan tetap menikahinya besok. Iqbal akan urus semuanya."


Iqbal memandangi Siska saat mengatakan itu, entah Mamanya setuju atau tidak dia akan tetap menikahi Shelvia besok.


Iqbal menghapus air matanya dengan kasar.


"Saya pamit dulu. Saya akan


siapkan segalanya. Saya janji akan datang secepatnya," Iqbal bergegas pergi.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2