Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
102. Di buat pingsan


__ADS_3

Happy Reading...


________


Farel sungguh di buat pusing dengan kelakuan Felisha yang begitu ganas karena pengaruh obat. Karena tak mau sampai Felisha melakukan hal yang lebih padanya Farel terpaksa membuat Felisha pingsan dengan memukul bagian tengkuknya.


"Astaghfirullah hal 'azim.. " Serunya berkali-kali setelah anak orang itu telah berhasil pingsan karena perbuatannya.


Farel melepaskan jasnya lalu dia gunakan untuk menutupi tubuh Felisha yang terbuka karena perbuatannya sendiri, tak mungkin juga di akan membenarkan baju Felisha dengan tangannya dan akan melihat hal yang tak patut dia lihat.


Farel juga mengambil sebuah sorban panjang di dalam tasnya, dia tutupinya paha Felisha dengan sorban itu supaya dia tak melihat dengan nyata yang tak seharusnya dia lihat.


"Maafkan aku Felisha, mungkin ini yang terbaik untuk mu sekarang daripada kamu sampai melakukan hal yang melanggar agama dan akan menumbuhkan dosa yang sangat besar untuk kita. " Ucap Farel yang benar-benar sangat menyesalkan dengan apa yang di lakukan, tapi mau bagaimana lagi dia tidak akan mungkin membiarkan Felisha melakukan apa yang ada di dalam akalnya yang tidak sehat.


Sekarang hanya satu yang membuat Farel pusing, mau di bawa ke mana Felisha dalam keadaan yang seperti sekarang. Dia tidak tau di mana rumah Felisha, dan tidak mungkin juga dia akan membawa Felisha ke pesantren, apa kata semua orang nanti kepadanya meskipun dia hanya menolongnya saja.


"Harus aku bawa kemana? " Pikirnya, sejenak mobilnya berhenti karena dia harus berpikir terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.


"Ke rumah kak Marco saja, yah! Aku bisa membawanya ke sana. Di sana ada kak Nara yang bisa membantu Felisha, " gumamnya.


Mobil kembali berjalan menuju kediaman Marco. Tak butuh waktu lama mobil sampai juga di tempat yang menjadi tujuannya, Rumah Marco.


Farel turun dari mobil dia masuk terlebih dahulu untuk memastikan ada orang di dalam atau tidak.


"Assalamu'alaikum.. " Salam pun Farel ucapkan sembari tangannya mengetuk pintu.


Marco juga Nara yang tengah bermain dengan Ara langsung saja terdiam, keduanya saling memandang dengan mengernyit. "Siapa yang datang jam begini? " Ucap Marco.


"Coba di lihat dulu, Pa." ujar Nara.


Marco mengangguk juga langsung berdiri dan melangkah ke arah pintu.


"Assalamu'alaikum... " terdengar suara salam sekali lagi.


"Wa'alaikumsalam! " Jawab Marco.


Pintu berhasil di buka oleh Marco, terlihat wajah bingung dari Farel yang seketika membuat Marco juga bingung. "Farel, kamu! Yuk masuk! Nggak usah sungkan ini rumah kamu juga, yuk! " Ujar Marco.

__ADS_1


"Kak..," Farel menoleh ke arah mobil membuat Marco juga mengikuti arah pandang darinya.


"Ada apa? Kenapa kamu takut seperti itu apa kamu melakukan kesalahan! " Tebak Marco yang masih mencoba menerawang kaca mobil Farel dari jauh, "Dia temanmu? Kenapa nggak di ajak masuk. " Marco semakin mengernyit bingung dengan apa yang terjadi dengan Farel adiknya itu.


Marco berjalan menuju mobil Farel, ingin dia menyapa orang yang ada di dalam mobilnya sekalian mau mengajaknya singgah, "kamu itu, kalau pulang bawa teman itu di ajak masuk! Bukan malah di diemin di dalam mobil." omel Marco.


"Bukan begitu, Kak! Tapi? " Farel mengikuti langkah Marco yang akhirnya sampai juga di tempat mobil Farel terparkir.


𝘛𝘰𝘬... 𝘵𝘰𝘬... 𝘵𝘰𝘬...


Tangan Marco langsung mengetuk kaca mobil, menunggu sesaat untuk orang itu keluar namun tak kunjung juga dia keluar, bahkan kaca mobil pun tak terbuka sama sekali.


Marco menoleh kearah Farel yang terdiam, "Apa ada masalah? " Tanyanya.


"Dia... Dia...., aku menolongnya tadi, Kak." Jawab Farel.


"Terus kenapa dia diam saja. " Marco menerawang ke kaca dan dia bisa melihat dengan jelas bahwa itu adalah seorang wanita, "Apa kamu melakukan kesalahan? " Tanyanya lagi.


"Tidak, Kak. Nanti saya jelaskan yang penting dia harus di bawa masuk dulu, dia..., dia pingsan. "


"Ish..., kau ini kenapa tidak mengatakan dari tadi kalau dia pingsan. " Marco membuat pintu mobil, gadis cantik itu langsung bisa dia lihat dengan jelas. "Kenapa kamu tidak bawa dia pulang ke rumahnya sendiri? Kenapa malah di bawa kemari? "


"Huufff.. " Nafas berat Marco keluarkan,"Apa kamu tidak berniat mengangkatnya? " Farel menggeleng, tidak mungkin kan di akan mengangkat tubuh Felisha yang tertutup jas nya juga sorbannya padahal kalau itu terbuka kedua kain itu akan terlihat jelas apa yang ada padanya.


Marco hendak membuka jas pada Felisha namun dengan cepat Farel melarangnya, "Jangan, Kak! "


"Kenapa?" Marco mengernyit.


"Pokoknya jangan, nanti akan Farel jelaskan tapi jangan pernah membukanya, biar kak Nara yang melakukannya,"


Marco langsung mengikuti apa yang dikatakan oleh Farel, dia mengangkat Felisha membawanya masuk tanpa membuka jas maupun sorban milik Farel.


____


Nara begitu telaten mengganti baju milik Felisha, hanya baju gamis saja yang ada di sana jadi Nara menggantikan bajunya kepada Felisha.


"Entah apa yang terjadi padamu, entah masalah apa juga yang membuat mu nekat melakukan ini hingga kamu berada dalam bahaya."

__ADS_1


"Jika saja tidak ada Farel entah apa yang akan terjadi padamu. Tak semua gadis bisa beruntung setelah mahkotanya di renggut dengan paksa." Gumam Nara.


Memang tak semua gadis bisa seberuntung seperti dirinya setelah mahkotanya di renggut dengan cara paksa, namun akhirnya Nara bisa mendapatkan kebahagiaan dan cinta sepenuhnya dari orang yang telah merenggut semuanya.


Tapi jika tadi apa yang pernah terjadi padanya terjadi pada Felisha sudah bisa di pastikan dia akan sangat hancur karena tak mendapatkan apa yang seperti dia dapatkan, yang ada Farel lah yang akan menjadi tersangka meskipun dia tidak melakukan apapun.


Selesai mengganti baju Felisha Nara keluar dari kamar itu, menuju ruang tengah di mana Farel juga Marco berada. Sementara Farel masih saja bermain dengan Ara.


"Kenapa Ara belum bobok, inikan sudah malam, Sayang." Ucapnya dan gadis kecil itu berada dalam pangkuannya.


"Ara tidak ngantuk, Om." Jawabnya.


"Farel, kamu beneran tidak melakukan apapun pada gadis itu kan? Bagaimanapun kamu laki-laki normal, bisa saja kamu tidak tahan saat dia terus mendekati mu? " Tanya Marco memastikan.


"Astaghfirullah, Kak! Berani sumpah, Farel tidak melakukan apapun, Kak! Karena tidak mau dia lebih ganas lagi makanya Farel bikin dia pingsan." Jawab Farel.


"Beneran? "


"Iya, Kak. Memang Farel laki-laki normal tapi Farel masih punya moral. Farel juga tau batasan, Kak." Jawab Farel.


"Syukurlah kalau begitu. Kalau kamu sampai melakukan itu entah masalah apa yang akan datang padamu. Apalagi kalau sampai om Rayyan mengetahuinya. "


"Alhamdulillah, Kak. Alhamdulillah karena Allah masih menjaga kehormatan Farel." Jawab Farel dengan termenung.


Di saat mereka berdua masih berbincang-bincang Nara datang langsung duduk di sebelah Marco. Melihat Nara datang Ara langsung turun dari pangkuan Farel dan berlari ke arah Nara juga berpindah naik ke pangkuan Nara.


"Bagaimana, Kak. Apa sudah..? "


"Kamu tenang saja, kakak sudah mengurusnya dengan baik. " Jawab Nara.


"Kak, Farel titip dia di sini ya. Farel harus segera kembali ke pesantren karena besok Farel harus tetap mengajar para santri." Pinta Farel.


"Kamu tenang, biarkan dia ada di sini." Jawab Marco.


___


Bersambung..

__ADS_1


_______________


__ADS_2