
Happy Reading...
___________________
Air mata terus mengalir dari mata Seorang Felisha, bagaimana tidak? Dia harus menerima kenyataan bahwa di balik kebakaran di Resto Nusantara adalah Ari, ayahnya sendiri.
Antara percaya dan tidak namun hati Felisha terasa sangat sesak, di dalam hatinya tersirat jelas akan cinta untuk Rico, namun sekarang apa yang masih menjadi harapannya itu seketika di hancurkan oleh ayahnya sendiri karena perbuatan yang di anggapnya sangat bodoh bagi Felisha.
Dengan sebuah taksi Felisha di antar untuk sampai ke kantor polisi, dia ingin memastikan sendiri bahwa apa yang dia dengar itu salah, kabar itu pasti hanya rekayasa Aisyah saja supaya Rico membencinya, pikirnya?.
"Deddy tidak mungkin melakukan itu? Hanya orang bodoh lah yang bisa melakukan hal yang hina seperti itu." Ucap Felisha dengan suara yang sangat parau, dia sangat sedih, belum juga benar seratus persen saja Felisha sudah sesakit ini bagaimana kalau memang benar Deddy nya yang telah melakukan.
Berkali-kali Felisha menghapus air matanya namun tetap saja itu tak bisa menghentikan air yang terus memaksa keluar dari matanya yang indah.
"Tolong cepat sedikit, Pak." Pinta Felisha.
Supir itu hanya menganggukkan kepalanya, iba rasanya melihat gadis cantik yang menangis di dalam mobilnya. Dengan sengaja sang sopir itu memberikan kotak tisu yang ada di hadapannya.
"Maaf, mungkin Nona butuh tisu?" Tangan yang tidak terlalu putih itu menyodorkan tisu untuk Felisha, ya meskipun wajahnya tak menoleh sempurna namun hanya matanya saja yang melirik kecil.
Di raihnya satu lembar tisu, meskipun tak dapat tersenyum namun Felisha tetap mengucapkan terimakasih pada pengemudi yang berbaik hati mau memberikan tisu kepadanya. "Terima kasih. " Ucapannya terdengar sangat parau dan sangat menyakitkan, mungkin karena sakitnya begitu dalam untuk Felisha.
"Sama-sama, Nona." Pengemudi itu kembali fokus ke arah jalan, dan membiarkan Felisha terus dalam kesedihannya.
Selang beberapa saat taksi berhasil berhenti di parkiran kantor polisi yang begitu sangat luas Felisha turun setelah membayar ongkos.
***
"Ded," Panggil Felisha.
Air matanya kembali deras saat melihat Ari dengan kemeja putihnya yang di lapisi dengan rompi oren di luarnya. Antara kesal, sedih dan kasihan menjadi satu di dalam hati Felisha.
Tangisan Felisha membuat Ari juga merasa sangat sedih, dia mengaku salah, dia hanya ingin melihat anaknya itu bahagia bisa bersanding dengan pria yang dia cintai namun ternyata caranya itu salah.
"Ded, apa semua itu benar? Apakah Deddy yang melakukannya?" tanya Felisha.
"Maaf." Hanya satu kata itu yang berhasil lolos dari bibir Ari, wajahnya mengisyaratkan penyesalan yang sangat mendalam , dia tidak mengira kalau semua akan terbongkar begitu cepat.
Kecewa, itu sangat Felisha rasakan. Gara-gara Ari kini hubungannya dengan Rico pasti tidak akan seperti sebelumnya, Rico pasti akan menjaga jarak bahkan mungkin akan menjauh darinya.
"Kenapa, Ded. Kenapa harus dengan cara ini!" Teriak Felisha frustasi.
__ADS_1
"Maaf, Feli. Deddy juga tidak mau melakukan itu, tapi..?"
"Tapi apa, Ded! Tapi apa! Meskipun Deddy tidak mau melakukan itu, tapi Deddy tetap melakukannya kan!" Kekecewaan Felisha begitu besar untuk Ari. Karena kebodohannya dia akan kehilangan kesempatan untuk bisa dekat dengan Rico, apalagi untuk bisa hidup dengannya?.
Diraihnya kedua lengan Felisha dengan tangan yang sudah sedikit keriput termakan usia. Ari sangat menyesal, dia tak bermaksud untuk membuat anaknya itu menjadi sedih seperti ini.
Belum juga tangan Ari berhasil menyentuh lengan Felisha, Felisha sudah lebih dahulu melangkah mundur menjauh darinya. Dengan kekeuh Ari berusaha mengejarnya, dia ingin meminta maaf dengan putrinya.
"Jangan sentuh Feli, Feli kecewa dengan Deddy! " Tolak Felisha dengan sangat keras.
"Maaf, Sayang. Deddy minta maaf," Ari terus mengejar Felisha, namun yang dikejar terus menjauh dan menghindar.
"Apa dengan minta maaf akan mengembalikan semuanya! Tidak kan, Ded! Kak Rico akan tetap membenci Feli! Kak Rico tidak akan mau dekat dengan, Feli! " Teriak Felisha.
"Maafkan Deddy, Sayang. Maafkan Deddy." Hanya kata maaflah yang terus keluar dari bibir Ari, dia benar-benar menyesali perbuatannya.
Tangisan Felisha kembali pecah, punggungnya bersandar di dinding dengan lemas."Felisha benci sama, Deddy. Feli benci.." Rintihnya.
"Deddy minta maaf, Sayang. Deddy minta maaf.. " Diraihnya tubuh Felisha, di peluknya dengan sangat hangat.
Felisha semakin terisak di dalam dekapan Ari, dia sadar seberapa besarnya kebencian kepada Ari tidak akan bisa mengubah segalanya. Rico akan tetap menjaga jarak kepadanya.
"Maafkan, Deddy." Hanya itu yang bisa Ari ungkapkan.
__
Ketiga gadis dan juga ketiga pria tengah nobar di Resto Nusantara, sembari menikmati nikmatnya menu spesial yang baru.
Hanya ada perbincangan kecil saja setelah dari tadi mereka sibuk membicarakan apa yang telah dilakukan oleh Ari pada Resto Nusantara. Tak bisa di percaya, Ari yang baik-baik kemarin, menawarkan bantuan kepada Rico ternyata dia sendiri yang telah melakukannya.
Rico masih saja diam, dia masih terlalu tak percaya kalau Ari yang telah melakukan semua itu padanya. Apa kesalahannya, atau apa tujuan yang sebenarnya.
"Sudah lah, Bos. Jangan sedih seperti itu, bukan hanya bos yang tidak percaya tapi saya pun juga tidak, tapi mau bagaimana lagi itu memang kebenarannya." Ucap Dante.
"Iya, Ric. Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, yang terpenting sekarang bagaimana kamu bisa mengembalikan semuanya seperti kemarin. Kamu harus ikhlas, " Imbuh Iqbal.
Meyka juga Shelvia mengangguk. Membenarkan semua yang di katakan oleh kedua pria itu.
Sementara Aisyah, dia terdiam dia merasa sedih, menyesal juga tak enak hati kepada Rico. Mungkin Rico tidak akan sedih jika bukan karenanya. Tapi ini bukan kesalahannya? Meskipun sangat menyakitkan tapi semuanya tetap harus di ungkapkan, dan pelaku harus mendapatkan hukuman yang pantas.
"Bang, maafkan Aisyah? Jika Aisyah tidak.. " Seketika ucapan Aisyah terhenti karena Rico sudah menjawabnya.
__ADS_1
"Kamu tidak salah, Syah. Jika bukan karena kamu aku juga belum tentu tau sampai sekarang. Aku hanya tidak habis pikir saja kalau ternyata yang melakukannya adalah Om Ari." Saut Rico.
"Justru aku berterima kasih padamu, Syah. Kamu telah membongkar semuanya, dan telah membuka mataku kalau om Ari tidak sebaik yang saya kira." Imbuh Rico.
Rico tersenyum manis saat menatap Aisyah, begitu pun Aisyah, dia juga membalas dengan hal yang sama.
"Cie cie cie..., beneran kawin nih dua minggu lagi?" Goda Dante.
Astaga, sepertinya kedua sejoli itu melupakan satu masalah yang itu. Bagaimana mungkin mereka akan bisa mendapatkan restu kalau sampai sekarang saja Rico tidak punya apapun untuk mewujudkan permintaan Rayyan.
Jangankan memenuhi syarat? Bahkan untuk melunasi hutang yang begitu banyak aja sangat mustahil untuk Rico dalam jangka waktu dua minggu saja.
Keduanya yang langsung membulatkan mata membuat Dante dan yang lain juga sadar akan masalah mereka.
"Astaghfirullah, kenapa aku bisa lupa begini? Maaf, Bos." Ucap Dante menyesal.
"Aku kasih saran yang bagus ya, Ric. Kalau om Rayyan tetap tidak merestui hubungan kalian lebih baik kalian kawin lari saja. Ya, meskipun sedikit melelahkan sih, tapi mau bagaimana lagi. Terus ya, kalian kembali setelah kalian sudah punya anak, aku jamin tuh Om Rayyan itu tak bisa berkata-kata lagi. "
"Astaghfirullah!! " Seru semuanya kompak.
"Kenapa? Salah ya? " Ucap Iqbal dengan tampang tak berdosa nya.
"SALAH!! " teriak Dante.
"Jangan ngegas gitu dong! Itu kan hanya saran saja. Emang kalian punya saran yang lebih bagus apa? Aku pastikan tidak ada, iya kan? " ucap Iqbal merasa bangga karena dia sendiri yang punya ide, tapi ide gila.
"Amit-amit..., Via, lebih baik kamu jauhin orang nggak waras ini deh. Takutnya kamu di bawa kabur sama nih anak."
"Nggak lah, calon mertua ku kan baik hati. Dia sudah mengibarkan bendera hijau untuk ku, iya kan Via." Dengan senangnya Iqbal mengedipkan dua matanya bergantian yang mana berhasil membuat Shelvia bergidik ngeri.
"Kalau kamu, Dan! Kamu bagaimana? Dengan siapa? Kamu nggak jelas kan? Tuh sama itu itu, masih nganggur. " Ledek Iqbal dengan mengarahkan pandangannya ke arah Meyka.
"Bac*t luh! " Kesal Dante.
"Hahaha.... " Tawa menggelegar berhasil memadati tempat itu dari Iqbal. Dia telah berhasil membuat Dante tersungut-sungut karena perkataannya.
__
Bersambung...
_______________
__ADS_1