Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
92.Rayyan yang mulai perhatian


__ADS_3

____


Happy Reading..


_________________


Seperti biasa setelah selesai dari kampus Rico bergegas pergi ke Resto Nusantara untuk membantu para pekerja yang memperbaiki Resto nya.


Belum juga Rico sampai di tempat parkir ketiga gadis yang selalu ada di Resto juga datang menghampirinya, membuat Rico berhenti sejenak.


"Kak Rico, Kak Rico mau ke Resto, Ya? " tanya Shelvia.


"Iya, ada apa? " tanya balik Rico.


Ketiganya begitu semangat, senyum mereka bertiga mengembang membuat Rico mengernyit bingung. Apakah mereka bertiga tengah merencanakan sesuatu sekarang?.


"Nggak ada apa-apa, Bang. Nanti kami juga akan ke sana tapi nanti." jawab Aisyah.


Rico manggut-manggut, sudah seperti biasa mereka bertiga juga akan datang meskipun di sana hanya sekedar menjadi seorang mandor yang hanya berdiri diam mengamati pekerja namun Rico tetap senang dengan kedatangan mereka.


Bukan hanya Rico saja yang semangat, namun ada Iqbal juga Dante yang lebih semangat dan datang tepat waktu.


Kalau Iqbal, Rico tau alasannya karena dia sangat tergila-gila dengan Shelvia, tapi kalau Dante? Entah apa yang dia pikirkan.


"Ya sudah, kalau begitu saya pergi dulu, " ucap Rico, "Assalamu'alaikum.. " Imbuhnya.


"Wa'alaikumsalam.. " Jawab mereka bertiga dengan kompak.


Setelah kepergian Rico ketiga gadis itu langsung pergi juga, tujuan mereka bukan Resto Nusantara melainkan supermarket yang dekat dengan Resto Nusantara.


Aisyah juga Shelvia berencana untuk membelanjakan semua keperluan Resto, termasuk semua peralatan masak yang sudah hancur kemarin. Aisyah begitu semangat ingin bisa membantu usaha Rico, entah semua akan di terima dengan senang hati atau tidak yang terpenting niat Aisyah bisa terpaksa.


Tak butuh waktu lama mereka bertiga sudah sampai di supermarket yang sangat luas dan besar. Tempat urusan sangat ramai akan pengunjung dari berbagai tempat dan berbagai kalangan.


Satu persatu Aisyah mulai memilih perlengkapan dapur mulai dari gelas, piring, mangkuk kecil dan lain sebagainya. Tak mengubah begitu banyak dari yang sebelumnya Aisyah hanya memilih barang-barang yang lebih menarik saja, dan warnanya sama serba putih kecuali gelas tinggi untuk berbagai macam jus.


Sementara Shelvia belanja barang yang lain yaitu seperti kebutuhan sembako dan semacamnya, dan tentunya di temani oleh Meyka.


Dua jam mereka bertiga sibuk memilih di supermarket itu, hingga akhirnya semua yang dia pilih sudah di hitung semua oleh Mbak kasir.


"Totalnya dua puluh enam juta tiga ratus enam puluh lima ribu rupiah, Kak." Ucap Mbak kasir.


Belanja yang super besar untuk mereka bertiga, ini adalah pertama kalinya mereka belanjakan bahan-bahan untuk Resto, meskipun baru beberapa kali saja mereka datang ke sana namun mereka tetap tau, semua itu dia dapatkan bocoran dari Dante tentunya.


Belanja sebanyak itu belum termasuk bahan-bahan basah juga segar, itu hanya bahan-bahan kering yang bisa tahan lama.


"Pakai ini saja, Mbak, " Aisyah menyodorkan kartu ATM berwarna hitam, ya itu adalah Black cart milik Aisyah sendiri.


Sejenak Meyka terperangah melihat kartu itu, Aisyah hanya gadis biasa yang hanya mengandalkan pemasukan dari uang jajan dari orang tuanya juga sesekali dari abang-abangnya, bagaimana bisa Aisyah memiliki kartu itu?.


Kartu yang ada di tangan mbak kasir langsung dia gesek begitu saja Aisyah juga Shelvia terus menunggu sementara Meyka masih tetap dalam kebingungannya.


"Ini, Kak. Terima kasih sudah berbelanja di tempat kami. " ucap mbak kasir dengan sangat ramah.

__ADS_1


"Sama-sama, Kak." Jawab Aisyah seraya menerima kartunya kembali.


Mereka tidak akan mungkin membawa semua barang-barang itu dengan menggunakan motor saja, terpaksa Aisyah harus menyewa mobil pick-up untuk membawanya.


______


Melihat Ari yang begitu dekat dengan Rico kini membuat Pikiran Rayyan terganggu, bahkan selama dua hari ini dia tidak mudah untuk bisa tidur. Rayyan yang begitu mengenal bagaimana sifat dan kelicikan Ari, membuat Rayyan benar-benar kepikiran akan hal itu.


Tanpa mengatakan apapun pada Aisyah dan juga yang lain kini Rayyan menuju ke Resto Nusantara dengan mobilnya yang dia setir sendiri. Rayyan hanya ingin memastikan kalau Rico benar-benar tidak menerima bantuan dalam bentuk apapun dari Ari.


Apa yang dilakukan oleh Rayyan ini pasti akan membuat semua orang terheran-heran, pasalnya Rayyan sangat tidak menyukai Rico tapi kenapa kalian ini dia sangat perhatian dengannya, bahkan Rayyan takut kalau sampai Rico menerima bantuan dari Ari.


Tak butuh waktu lama, hanya dengan waktu tempuh sepuluh menit saja Rayyan sudah sampai di depan Resto Nusantara yang tengah dalam pembangunan.


Rayyan memarkirkan mobilnya lalu turun dengan cepat. Rayyan berdiri sejenak, matanya menerawang jauh hingga ke ujung jauh sana. Di lihatlah Rico yang ikutan membantu para pekerja melakukan pekerjaan, sejenak ujung bibir Rayyan terangkat untuk tersenyum kecil.


"Benar-benar pekerja keras," Gumamnya.


Namun itu tidak berlangsung lama karena Rayyan kembali tersadar akan rasa tidak sukanya dengan Rico, "Semua orang juga pekerja keras. Semua juga bisa melakukan apapun yang Rico lakukan."


Rayyan berjalan untuk menghampiri Rico, dan ternyata Iqbal juga Dante belum juga datang ke sana. Langkah-langkahnya yang pelan namun pasti akhirnya sampai juga di sisi Rico yang tengah mengangkat sesuatu di kursi baru di sana.


"Assalamu'alaikum.. " ucap Rayyan dengan dingin tentunya.


Rico yang hendak berjalan dia kembali berhenti, seketika dia menoleh sembari menjawab salam dari Rayyan. "Wa'alaikumsalam." jawab Rico, "Om.."


"Cepat juga pembangunannya, baru dua hari saja sudah hampir selesai, "Ucap Rayyan memuji.


"Ya beginilah, Om. Karena banyak pekerja jadi lebih cepat selesai." Ucapnya.


Rico tersenyum kecut mengingat dari mana dia bisa mendapatkan uang untuk membangun lagi Resto Nusantara itu.


"Kamu tidak menerima bantuan dari Ari, Kan?! "


Rico menggeleng cepat, dia tidak ada menerima bantuan uang dari siapapun termasuk Ari, Rayyan sendiri atau dari semua sahabat-sahabatnya, karena Rico tidak mau sampai berhutang budi dan tidak bisa membayarnya.


"Terus?" Rayyan mengernyit.


"Apakah Om akan menghinaku setelah Om mendengarnya?" tanya Rico.


"Kenapa kamu selalu su'udzon padaku, apa apakah aku suka menertawakan mu, enggak kan? " jawab Rayyan yang sama sekali tidak sadar dengan apa yang dia lakukan dulu-dulu pada Rico.


"Ya bisa saja kan, Om akan menertawakan ku."


"Hadeh, apa kamu tidak bisa bicara dengan sopan dengan orang tua? Aku hanya bertanya satu saja tapi kamu malah berputar-putar mengelak nya, bilang saja kalau kamu emang tidak mau mengatakan padaku, "


Apakah ini mimpi? Bagaimana mungkin Rayyan tiba-tiba berubah menjadi lebih hangat seperti sekarang? Apakah Rayyan tengah mengigau sekarang?.


Tak dapat di percaya kalau Rayyan akan berubah seperti sekarang hanya karena kemarin bertemu dengan Ari, sebenarnya apa masalah mereka berdua sampai-sampai mempengaruhi otak Rayyan.


"Rico menggadaikan surat rumah, Om." Jawab Rico yang akhirnya tak bisa lagu untuk tidak mengatakan pada Rayyan.


"Oh, syukurlah kalau begitu. Saya kira kamu akan menerima bantuan dari Ari. Sekali lagi baku peringatkan padamu, jauhi Ari dan jangan pernah menerima bantuannya dalam bentuk apapun."

__ADS_1


"Emang kenapa, Om? "


"Kalau orang tua yang mengatakan itu tugasmu hanya mentaati nya saja, jangan banyak bertanya, kamu paham kan! "


"Iya, Om." Jawab Rico yang akhirnya pasrah.


Belum selesai Rico juga Rayyan berbicara tiga gadis dan dua pria datang dengan membawa barang-barang di tangan mereka.


"Ini ditaruh mana dulu, Kak? Cepat katakan, ini sangat berat." ucap Meyka.


Rico terperangah dengan semua yang mereka bawa, bukan hanya itu saja melainkan mobil pick-up yang terparkir manis di depan Resto dengan membawa semua barang-barang dan sangat penuh.


"Apa-apaan ini? Apa yang kalian bawa! " Pelik Rico.


"Ini semua barang-barang kebutuhan Resto, Kak. Tapi saya rasa masih ada yang kurang deh, nanti Kak Rico sendiri yang periksa masih kurang apa." Jawab Shelvia.


"Astaghfirullah,, bukannya aku sudah melarang kalian! Kenapa kalian malah seperti ini! "


"Sudah lah, Bos! Anggap saja ini rezeki dari Allah. Jadi jangan banyak kata apalagi ngomel kayak emak-emak. Tapi kalau Bos nggak mau menerimanya, lebih baik Bos sendiri yang mengembalikannya." Celetuk Dante.


"Iya, Ric. Terima saja, ini adalah wujud dari cinta." Imbuh Iqbal.


Mereka mengatakan itu sembari mereka melangkah melalui Rico juga Rayyan, mereka berniat membawanya masuk dan menatanya di dalam.


Dan yang terakhir adalah Aisyah, kedua tangannya juga membawa kresek besar berwarna hitam. Aisyah begitu pelan berjalan karena barang yang dia bawa sangatlah berat.


Rico yang melihat Aisyah merasa keberatan langsung berlari menghampiri Aisyah tanpa pamit dengan Rayyan terlebih dahulu, Rico langsung merebut dua kresek itu dari tangan Aisyah.


"Astaghfirullah, Aisyah! Apa yang kamu lakukan! Kalau berat jangan di paksakan! Kalau sampai kamu jatuh bagaimana? Kalau kamu sakit gimana? Kalau kamu luka bagaimana?" ucap Rico yang sangat khawatir.


"Nggak kok, Bang. Ini ringan kok." Jawabnya, mulutnya mengatakan ringan namun berbeda dengan aura wajahnya yang mengatakan lain.


"Sini, biar aku yang bawa! " Rico langsung merebutnya.


Perhatian dari Rico tentunya tidak terlepas dari mata Rayyan. Rayyan diam tak berkomentar apapun, namun hanya wajah datar saja yang terpampang dengan jelas.


Setelah meletakkan barang-barang ke dapur Rico masih setia berdiri di sana, mengamati kelima pemuda-pemudi yang kini juga menatapnya dengan bingung.


"Kenapa, Bos? " Tanya Dante.


"Nota belanja, mana!" Tangan Rico terangkat.


"Untuk apa, Kak? " tanya Shelvia.


"Mana nota nya." Kekeuh Rico.


Mata yang tajam dari Rico membuat mereka semua bergidik ngeri, kalau lagi marah ternyata Rico sangat menakutkan.


Pelan-pelan Aisyah mengeluarkan beberapa Nota yang ada di dalam tas nya, menyesal dia tidak langsung membuangnya. "Ini, Bang. "


"Meskipun tidak sekarang, aku janji akan mengembalikannya." Ucapnya.


___

__ADS_1


Bersambung....


__________


__ADS_2