Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
65.Serahkan pada Sang Pencipta


__ADS_3

____


Happy Reading...


___________________


Tak akan selamanya Tuhan memberikan sebuah luka, begitu juga sebaliknya. Dunia akan berputar sesuai dengan yang sudah di garis kan, begitu pula dengan kebahagiaan dan juga kesedihan.


Kata yang mudah di ingat namun tak jarang akan berjalan dengan cepat sebagaimana semestinya. Seorang hamba hanya bisa berencana dan keputusan akhirnya ada pada Allah semata, begitu lah dengan rencana dari seorang Rayyan yang akan menjodohkan Aisyah dan juga Farel dan juga rencana Aisyah juga Rico untuk bisa menyatukan cinta mereka, dan membawanya ke jenjang yang lebih serius lagi.


Aisyah hanya bisa pasrah, apa yang akan terjadi padanya kelak. Meskipun dia terus berusaha namun dia sendiri ragu kalau dia akan bisa mewujudkannya. Dia benar-benar menginginkan Rico seorang yang akan menjadi imam nya. Namun, mungkin benar apa yang di katakan oleh Rico, kebahagiaan seorang anak berada di doa dan restu dari orang tuanya, terus bagaimana dengan kabar cintanya kalau seperti itu?.


Melamun seorang diri di tengah kegelapan malam, hembusan angin seolah terus berdesis menemani di dalam kehidupan yang seakan penuh dengan duri ini.


Aisyah terdiam seorang diri, duduk di antara bangku-bangku kosong yang ada di belakang rumahnya. Membahayakan masa depannya membuat dia benar-benar sangat pusing, dia ingin namun kenapa sangat susah untuk dia wujudkan. Padahal dalam prinsip seorang Aisyah tak akan ada kata menyerah.


"Aku harus bagaimana? Apakah aku harus menerima perjodohan dari papa dan mengorbankan cinta sejati ku? Tapi apakah aku bisa bahagia setelah itu? Apakah aku bisa." Gumam Aisyah.


Aisyah seakan berada di antara dua benua yang memiliki aturan dan masalah yang berbeda. Kedua benua yang menjanjikan sebuah kebahagiaan yang belum pasti akan dia dapatkan, dua benua yang keduanya sama-sama menarik dan memperebutkan nya. Aisyah bingung, dia bimbang harus memilih kemana ya dia akan menginjakkan kakinya dan bisa benar-benar mendapatkan kebahagiaan di antara salah satunya.


Satu terdapat doa dan restu yang akan menjadi pondasi kuat untuk masa depannya. Tapi cinta? Itu adalah dasarnya juga untuk bisa mendapatkan kebahagiaan. Tanpa keduanya tak akan Aisyah dapatkan dan dia rasakan apa itu kebahagiaan, tak akan bisa dia wujudkan sebuah rumah tangga yang seperti surga.


"Kenapa aku tak bisa mendapatkan keduanya, kenapa? Apakah karena aku memang tak pantas. Hidupku terlihat sangat sempurna, semua hal dalam materi yang aku inginkan bisa aku dapatkan, tapi kenapa aku tak bisa mendapatkan hal yang menjadi tujuan dalam hidup. Doa, restu, Cinta, kenapa itu tak bisa aku dapatkan dan aku tak bisa menggenggam dalam satu tangan saja. " Rintih Aisyah begitu menyedihkan.


"Aku hanya ingin bahagia, Ya Allah. Aku ingin bisa seperti kedua abang kembar yang bisa bahagia dengan orang yang benar-benar dia cintai. Hanya itu saja. Hanya itu. Apakah aku tidak bisa bersatu dengan seorang yang sudah aku menjadi pilihan hatiku? "


π˜—π˜Άπ˜¬π˜¬...


Aisyah menoleh, tangan putih menyentuhnya dari belakang dan tubuhnya kini memutar, mengambil posisi untuk duduk di sebelahnya dan menghadap kearahnya.


"Serahkan semuanya pada sang Pencipta Syah. Adukan semua keluh dan kesah mu Pada-Nya, kasih sayangnya nyata, keadilannya pun tak akan bisa di ragukan. Mendekat lah sedekat-dekatnya Kepada-Nya hingga Allah takkan bisa meninggalkan mu dan tak akan membiarkan mu dalam kebimbangan seperti ini. Hemm. " Shelvia mengangguk kecil senyumnya pun tak bisa lepas meskipun dia sudah berusaha.


"Kak...., aku.. "


"Ikhlaskan semuanya. Jika cintamu mendapatkan Ridho-Nya dia akan bisa kamu dapatkan. Pasrahkan semuanya, letakkan semua beban mu di bawah Kaki-Nya. Allah yang akan membantumu, bukan kamu, kak Rico atau siapapun. Dialah yang akan menunjukkan semuanya. " Jari telunjuk Shelvia menunjuk ke arah langit.


"Kak.. " Ingin rasanya Aisyah kembali menangis, tapi kenapa harus menangis kalau dia bisa menghadapi semuanya dengan senyuman. Meskipun hanya senyuman yang penuh pilu dan kepalsuan namun itu akan menjadi kekuatannya kan?.

__ADS_1


Bibir Aisyah terangkat tersenyum namun matanya tetap berkaca-kaca.


Shelvia tak tega melihat ini dan langsung merengkuh tubuh Aisyah ke dalam pelukannya. Inilah alasannya Shelvia tak mau menjadi bucin budak cinta, karena dia tak mau lemah dan tak mau hatinya di kendalikan begitu saja oleh cinta.


Tapi cinta tak pernah salah, hati pun juga tak salah, keduanya saling berhubungan. Mungkin hati Aisyah sudah memilih hati dari seseorang, mungkin hati Aisyah sudah menemukan satu bagian dari hatinya yang belum terpisah. Sementara Shelvia? Hatinya belum juga bisa menemukan bagian dari hati itu. Mungkin jika sudah saling bertemu Shelvia akan sama seperti dirinya.


"Jalani semuanya dengan ikhlas, perbaiki hatimu, perbaiki ibadahmu, mendekat lah Pada-Nya, aku yakin jalan takdir baik akan segera kamu dapatkan." Ucap Shelvia.


Mata yang penuh dengan gejolak air namun tetap saja Aisyah menahannya, dia tak mau lagi menangis dia ingin menjadi lebih kuat dan harus kuat.


Shelvia benar, mungkin yang harus Aisyah lakukan hanyalah berserah diri pada Allah, menyerahkan semuanya. Dia tak akan bisa memilih dua hati yang berbeda dengan benar, meskipun separuh hatinya sudah di miliki oleh orang yang paling nyaman saat dia bersamanya, namun ketentuan Allah lah yang paling terbaik.


"Menangis lah jika kamu memang mau menangis. Tapi setelah ini, jangan biarkan hatimu selalu dalam duka. Kamu harus bahagia, Syah. Kamu berhak bahagia." Ucap Shelvia.


Begitu dewasa pemikiran Shelvia saat ini, berbeda jauh di saat-saat tertentu.


Aisyah memang membutuhkan seseorang yang bisa memberikan kekuatan, dan kini dia dapatkan dari Shelvia.


"Terima kasih, Kak. " Ucap Aisyah, dia melepaskan diri dari Shelvia, dia tersenyum kecil.


Aisyah mengernyit, "kenapa harus menangis kalau aku bisa tersenyum? " Bingung Aisyah saat ini.


"Ya, ya karena aku mau lihat kamu yang cengeng. Kapan lagi aku bisa melihatmu menangis. Aku mengatakan itu tadi karena berharap kamu akan menangis, tapi kenapa malah kamu tersenyum? Kamu membuat ku kecewa, Syah! Ihh..., kamu nggak asik. " Keluh Shelvia.


Aisyah menggaruk kepalanya yang tak gatal, baru saja dia memuji kedewasaan Shelvia di dalam hatinya dan akan segera mengatakannya tapi sekarang? Hadeuh.., Aisyah salah memahami Shelvia.


"Jangan seperti itu, aku benar-benar ingin melihat kamu menangis, dan setelah itu akan aku foto atau aku video dan akan aku kirimkan pada Pak Jon. Dia pasti senang melihat itu, dia akan senang akhirnya orang yang selalu melindasnya menangis. " Ucap Shelvia lagi.


Aisyah menganga, bagaimana mungkin Shelvia bisa melakukan itu padanya, untung dia tidak menangis, kalau sampai rencana Shelvia berhasil maka hancur lebur wibawa Aisyah di hadapan pada anak buahnya.


"Kakak tak akan pernah berhasil melakukan itu padaku, tapi beda kalau aku yang melakukannya pada, kakak."


"Masak..., tapi tadi hampir saja berhasil."


Hatiku sekeras baja jadi mana mungkin akan bisa luluh hanya karena kakak saja. "


"Ya, ya.., bukan aku yang bisa meluluhkan baja itu, tapi kak Rico yang bisa. " Shelvia terkekeh.

__ADS_1


"Jangan bawa-bawa bang Rico dong. "


"Kenapa, masalah? "


"Ihh..., Kak Via!" Aisyah merajuk.


"Apa kak Rico?" Shelvia semakin terkekeh.


"Awas ya, aku yakin Kak Via juga akan segera merasakan itu. Tunggu saja, waktu itu akan segera datang. "


"Ogahh!, aku nggak mau jadi budak cinta. Nggak mau mewek aku, bisa-bisa kurus kayak kamu. "


"Mana ada, berisi begini di bilang kurus! "


"Berisi dari mananya, Nona Aisyah. Depan belakang rata semua gitu di bilang berisi. Aku jadi ragu, Jangan-jangan mata kak Rico itu bermasalah ya? Sampai-sampai suka sama yang rata-rata kek gini. " Sinis Shelvia.


"Ihh..., kak Via! " Aisyah ingin menangkap Shelvia dan memberinya pelajaran tapi itu tak bisa.


"Kabuuurr! " Shelvia langsung beranjak, dia berlari dan Aisyah pun mengejarnya.


Seperti anak kecil keduanya terus berlarian memutari bangku yang tadi dia duduki. Bintang malam terus berkedip seolah menertawakan mereka berdua di atas sana.


"Hahaha..., kamu tak akan bisa menangkap ku."


"Awas kalau kena, Ya! " Aisyah semakin mempercepat lajunya.


"Coba saha kalau bisa. Wek.. " Shelvia menoleh dan menjulurkan lidahnya panjang.


"Kak Via! " Geram Aisyah.


"Hahaha! "


____


Bersambung....


_________________

__ADS_1


__ADS_2