Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
139.Mereka Tak Pantas


__ADS_3

Happy Reading..


___


Semua sudah Airin persiapkan, menu makan malam, beberapa camilan juga minuman hangat juga sudah dia sediakan.


Kedatangan Iqbal beserta orang tuanya sudah sangat mereka nantikan. Airin, David juga Shelvia terlihat sangat bahagia.


Senyum Shelvia terus terpancar apalagi saat David dengan iseng selalu menggodanya. Meskipun cinta yang besar belum tumbuh pada Shelvia seutuhnya namun dia sangat bahagia, bahkan dia sangat senang karena Iqbal akan datang melamarnya.


"Cie cie cie..., yang mau di lamar. Dari tadi senyum mulu, mana manisnya mengalahkan cake buatan Mama lagi?" gurau David yang sangat senang menggoda anaknya itu.


Shelvia semakin tertunduk malu, wajahnya terus memandangi lantai tak siap melihat wajah David yang masih terus menggodanya.


"Lihat, Ma! Anak kita malu-malu kucing. Tuh lihat, bahkan pipinya sudah kayak tomat matang, hahaha...!" tawa David begitu lepas, tangannya memeluk Airin dari belakang dan dagunya dia letakan di atas bahu istrinya.


"Sudah lah, Pa. Jangan kau ganggu anakmu terus, kasihan," ucap Airin.


Namun biru tak membuat David diam dia malah semakin senang menggoda Shelvia, "Via sayang, besok kalau kamu sudah menikah harus seperti Mama dan Papa begini, lengket terus. Jadi rumah tangga kalian akan harmonis. Iya kan, Ma,"


"Hemm," meskipun tak suka karena David terlalu cerewet namun Airin tetap membenarkan apa yang kini doa katakan. Berbagai ujian keduanya jalani bersama-sama hingga sekarang mereka berdua masih terlihat sangat romantis.


"Tuh kan bener, muach..., muach... " David mengecup singkat kedua pipi Airin dengan bergantian dan tentunya itu juga dia lakukan di depan Shelvia.


"Pa, jangan begitu lah, tidak baik di depan anak," ucap Airin


"Tidak apa-apa dong, Ma! Itung-itung memberikan ilmu pada Shelvia. Setelah dia menikah dia juga akan mendapatkannya dari suaminya, jadi dia harus belajar bagaimana menghadapinya," jawab David.


"Bagaimana, Via sayang. Apa kamu membutuhkannya ilmu yang lebih lagi dari Mama juga Papa? mumpung Papa menawarkan gratis ini," Mata David terus berkedip genit dia masih sangat senang menggoda Shelvia, kapan lagi dia akan lakukan ini kalau Shelvia benar-benar akan menikah dalam waktu yang cepat, pastilah tak akan ada waktu lagi kan?


"Sudah dong, Pa. Lebih baik sekarang Papa pergi saja ke ruang tengah, siapa tau mereka sudah datang dan kita tidak mendengarnya," usir Airin dengan cara halus.


"Mana mungkin tidak mendengarnya, Ma. Apa sirine di rumah ini mati, tidak kan?" tanya David, sebenarnya bukan sirine melainkan sebuah bel yang di pasang di rumah itu, supaya mereka bisa dengar kalau ada tamu.


"Bukan begitu, Pa. Tapi kalau mereka datang Papa bukain pintunya," jawab Airin.


"Iya deh, iya. Aku pergi sekarang, jangan kangen ya kangen itu tidak enak, "


"Jelas tidak enak dong, Pa. Kan tidak di makan? Papa ini ada-ada saja, " Airin menggeleng tak habis pikir.


Tinggallah Airin juga Shelvia yang ada di sana. keduanya kembali sibuk menata makanan di atas meja.


Menghadapi hari yang akan menjadi sejarah untuknya, kini Shelvia begitu gugup, dia juga sangat takut tapi entah kenapa dia takut. Jantungnya terus berdetak sesuka hatinya membuat Shelvia seakan sesak dan susah untuk bernafas.


"Ma, kenapa Shelvia takut ya?" tanya Shelvia. Tangannya langsung menghentikan aktivitasnya dia juga langsung duduk.

__ADS_1


Airin tersenyum semua wanita akan mengalami pasti akan merasa gugup juga merasa takut bahkan Airin pun juga sama seperti anak gadisnya yang kini terlihat sangat gugup juga gelisah.


"Tidak perlu ditakutkan semua itu wajar bagi semua gadis yang ingin dilamar oleh seorang, " jawab Airin.


"Tapi Mah! Shelvia benar-benar sangat takut jawab Shelvia dengan penuh gelisah.


"Sudah sudah, semua pasti akan baik-baik saja," ucap Airin yang berusaha meyakinkan.


####


Dengan mobil hitamnya Iqbal mulai berangkat untuk ke rumah Shelvia bersama sang Mama, semua keperluan sudah dia bawa, ya bukan muluk-muluk hanya sebuah buah tangan sebagai tanda perkenalan.


Iqbal terlihat sangat senang, dia juga sangat tampan dengan hem berwarna abu-abu yang di padukan dengan celana hitam, rambutnya di sisir rapi membuat dia semakin terlihat lebih tampan dari biasanya.


Iqbal sudah sangat mempersiapkan semua ini, senyumnya juga terus mengembang sempurna membuat sang Mama yang melihat merasa sangat bahagia.


"Anak Mama sudah besar sekarang, kamu juga sangat tampan," pujinya dengan mata yang melirik penuh hinar-binar kebahagiaan.


"Iqbal kan memang tampan sejak lahir, Ma. Masak Mama melupakan itu," jawabnya membuat mereka berdua terkekeh bersamaan.


"Tak sabar ingin bertemu dengan calon besan, semoga saja mereka orang baik-baik," ucapnya penuh harap.


"Mereka orang baik, Ma. Mama pasti akan sangat senang berkenalan dengan mereka," Iqbal begitu percaya diri, ya karena di mata Iqbal keluarga Shelvia memang sangat baik, mereka sangat menerima Iqbal apa adanya.


"Semoga apa yang kamu katakan benar, Nak," Matanya kembali melirik ke arah Iqbal, kembali tersenyum simpul.


Sejenak keduanya terdiam, mereka terus fokus dengan arah depan mengamati mobil-mobil yang saling berebut untuk menjadi yang terdepan.


Namun tidak dengan Iqbal, dia lebih mencari aman dan melajukan nya dengan hati-hati dan juga waspada.


"Ma, jika semuanya lancar. Iqbal bisa secepatnya menikahi Shelvia kan?" Kini Iqbal yang melirik ke arah Mamanya, dan betapa bahagianya saat dia langsung mendapatkan anggukan sebagai tanda persetujuan, "Terima kasih, Ma."


"Iya, Sayang. Semua demi kebahagiaan kamu,"


Setelah melalui perjalanan panjang mobil sampai di kompleks di mana rumah Shelvia berada. Iqbal begitu gugup, hatinya terus berdesir tidak karuan.


Setelah masuk beberapa meter akhirnya mobil benar-benar berhenti di depan rumah Shelvia, "Ma, kok Iqbal jadi gugup begini ya?" tanyanya.


Namun sang Mama seperti tak mendengar perkataan Iqbal, dia begitu fokus depan rumah yang ada di hadapannya sekarang, "Nak, apakah benar ini rumahnya? apa kamu tidak salah?" tanyanya.


"Tidak, Ma. Ini beneran rumah Shelvia. Mama kenapa? apa Mama mengenal rumah ini?" tanya balik Iqbal.


"Sepertinya Mama mengingat sesuatu, tapi Mama tidak yakin. Semoga Mama salah," ucapnya.


"Yuk, Ma. Kita pasti sudah di tunggu," Iqbal segera turun mengajak sang Mama.

__ADS_1


Mata terus memastikan, pikirannya terus mengingat kejadian bertahun-tahun silam, "𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩, " Batinnya.


Iqbal menghampirinya, menggandeng sang Mama yang membawa sedikit buah tangan untuk calon besan. Sementara satu tangan Iqbal juga sama.


"Yuk,Ma," ajak Iqbal.


"Hem.. " jawabnya sembari mengangguk.


Iqbal melepaskan tangan sang Mama setelah mereka sampai di depan pintu, tangannya harus dia pergunakan untuk mengetuknya supaya sang pemilik rumah tau akan kedatangannya.


𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬...


"Assalamu'alaikum...! " serunya.


"Wa'alaikumsalam..! " terdengar dengan jelas jawaban dari dalam. Langkah sang tuan rumah semakin lama semakin mendekat. Hingga pintu terbuka, namun bukan sang tuan rumah yang datang, melainkan asisten rumah tangga yang terlihat masih sangat muda.


"Eh, Den Iqbal. Mari Den," ucapnya dan mempersilahkan Iqbal juga sang Mama masuk.


Mbaknya menuntun keduanya untuk menuju ruang tengah dan tentunya keduanya ikut dan nurut begitu saja.


Dua netra hitam saling bertubrukan, kisah lama kini muncul kembali. Buah tangan yang di bawa seketika jatuh di lantai dan berhamburan menyebar.


"Siska? " pekik Airin tak percaya.


"Ka-kalian...?"


Iqbal juga Shelvia yang melihat terlihat sangat bingung, kenapa mereka berdua seperti sudah sangat lama saling mengenal.


"Ma, ada apa, Ma?" tanya Iqbal.


"Kita pulang sekarang, Bal. Kita sekarang pulang." Siska langsung ngotot, mengajak Iqbal untuk segera pulang.


"Tapi kenapa, Ma. Kita baru saja sampai,"


"Kita pulang, Bal. Kita pulang! Kita tak perlu menjalin hubungan dengan mereka! "


"Tapi kenapa, Ma. Apa masalahnya!? "


"Masalahnya, kamu mau tau apa masalahnya! Masalahnya karena mereka tak pantas untuk kita. Mereka yang hampir membuat kita jadi gelandangan! Mereka yang telah menghancurkan kehidupan kita!" seru Siska, "sekarang kita pulang! "


"Tapi, Ma?! "


"Pulang, Bal! Pulang! "


___

__ADS_1


Bersambung...


_____


__ADS_2