
Happy Reading...
_________
"Ja- jadi selama aku pergi..." ucap Iqbal.
Semuanya menoleh kearah Iqbal. Bahkan mereka terkejut karena kedatangannya dan keberadaannya yang tidak mereka sadari, lagian Iqbal juga tidak mengucapkan salam saat masuk.
"Kak Iqbal," Shelvia langsung berdiri, dia berjalan menghampiri pria yang selama tiga hari ini juga dia rindukan.
Ada kesalahpahaman saat ini, Iqbal mengira kedatangan Alfian di rumah Shelvia karena ingin mempererat hubungan mereka. Apalagi masa lalu orang tua mereka berhubungan baik tidak sama seperti dirinya yang hanya anak dari wanita yang ingin menghancurkan rumah tangga orang tuanya Shelvia, bahkan juga yang menyebabkan Airin keguguran dan sulit untuk hamil lagi.
Ingin sekali rasanya Shelvia memeluk erat Iqbal saat ini, tapi jarak mahram masih menjadi penghalang untuk mereka berdua. Shelvia harus bersabar, bukankah Iqbal sedang berusaha untuk menghapus jarak haram itu.
"Via, apakah kamu juga pria itu mempunyai hubungan?" tanya Iqbal lirih, dia tak mampu untuk bertanya dengan suara yang keras hatinya begitu menggebu karena rasa cemburu.
"Apa sih, Kak! Via dan kak Alfian tidak ada hubungan apapun," jawab Shelvia mulai menjelaskan.
Mendengar namanya di sebut Alfian datang menghampiri, ini tidak seperti yang Iqbal pikir ini hanya salah paham saja. Gadis pujaan Alfian bukanlah Shelvia tapi orang lain.
"Maaf, sepertinya kamu salah paham dengan saya. Saya juga Shelvia tidak ada hubungan apapun, saya sudah menganggapnya seperti adik saya sendiri jadi mana mungkin saya akan menyukai adik saya sendiri," ucap Alfian menjelaskan.
"Apa itu benar?" tanya Iqbal.
"Kamu bisa mempercayai saya. Saya datang ke sini karena ingin minta bantuan Shelvia untuk memilihkan cincin yang akan saya gunakan untuk melamar calon saya." terang Alfian.
Benar-benar sebuah salah paham. Iqbal merasa lega alhamdulillah ternyata dia salah mengira. Kalau sampai perkiraannya benar mungkin Iqbal bisa gila karena kehilangan Shelvia.
"Saya janji akan mengenalkan gadis itu pada kalian semua jika sudah jelas." ucap Alfian lagi.
Iqbal sungguh-sungguh pencemburu berat. Mungkin ini karma untuk dirinya yang dulu adalah playboy cap badak.
________
Gadis berhijab pasmina tengah bejalan sendiri di depan sebuah toko. Dia begitu tenang saat ini.
Tak ada gangguan dalam setiap langkahnya, bahkan batu kerikil saja tidak ada yang menghalanginya. Dia adalah Aira, gadis itu baru pulang dari kampus.
__ADS_1
Karena ada sesuatu yang harus dia beli di toko yang ada di depannya kali ini makanya di jalan kaki dari kampus.
Ketenangannya harus terganggu, ketenangannya seketika hilang karena ada copet yang menyambar tas kecilnya yang hanya dia gantung di bahunya.
"Copet... Copet... Copet...! " teriak Aira begitu keras. Dia terus teriak wajahnya juga tolah-toleh untuk meminta bantuan tapi tak ada yang mendekatinya.
Terpaksa Aira berlari sendiri mengejar copet itu meski dia sadar tidak mempunyai daya untuk bisa melawannya nanti.
Aira terkejut saat melihat copet itu tiba-tiba terjungkal karena ada yang menjegal kakinya. Tas Aira terpental agak jauh darinya.
Seorang gadis berambut panjang, dengan topi bergambar tengkorak, juga celana dan jaket jins yang bolong-bolong itulah yang membuat copet itu terjatuh.
"Berani loh ya, nyopet di tempat kekuasaan gue! mau cari mati, hahh!! " teriak gadis itu memaki.
Copet itu berdiri dengan susah payah, matanya melotot tak bersahabat dengan gadis itu.
"Kenapa, mau marah! marah saja silahkan. Atau mau mukul, pukul sekarang, pukul! Berani maju gue patahkan kaki loh biar tidak bisa jalan sekalian! " ucapnya lagi penuh dengan menantang.
"Argghhh..., dasar cewek sialan! beraninya ikut campur urusanku! "kesal copet itu.
"Dasar! tampan-tampan kenapa harus jadi copet! apa otot-otot kekar loh itu tidak kuat untuk bekerja keras, hah! nggak malu tuh sama kakek-kakek tua itu yang seorang pemulung! dia sudah tua tapi tetap mencari rezeki yang halal meski dengan menjadi pemulung! gunakan kekuatan loh untuk kebaikan! Atau gue patahkan tulang-tulang loh! " ancamnya.
"Tidak tidak..., saya minta maaf, saya janji tidak akan ulangi lagi."
"Awas saja kalau hanya tobat sambel, pergi sana! " usirnya.
Tangannya mengambil tas yang ada di tanah. Matanya masih melotot ke arah copet itu yang sudah lari terbirit-birit.
Aira sudah sampai di depan gadis itu, "i-itu tas saya," ucapan Aira begitu gugup.
"Ini punya lo!? lain kali hati-hati di sini banyak orang jahat." ucapnya. Tangannya langsung terulur untuk memberikan tas milik Aira.
"Terima kasih, kenalin saya Aira. Kamu?" meski penampilannya nggak banget tapi Aira tau dia anak baik, dia tetap menolong orang lain.
"Gue, Ana. Anastasya," tangan mereka sama-sama terulur untuk saling berkenalan.
"Aira, kamu tidak apa-apa! tadi saya lihat kamu di copet," Pria datang dengan nafas yang terengah-engah sepertinya dia juga mengejar Aira yang berlari tadi.
__ADS_1
"Kak Alfian," Aira terkejut dengan kedatangan Alfian.
"Mas, jaga pacarnya baik-baik kalau di sini. Jangan tinggalin sembarang gitu saja, bahaya." ucap Ana.
"Iya," jawab Alfian mengiyakan begitu saja.
"Sudah, gue pamit ada urusan. Assalamu'alaikum.. " Ana melambaikan tangannya dengan acuh bin malas. Dia langsung berpaling dan melaju pergi begitu saja.
"Wa'alaikumsalam.. " jawab Alfian juga Aira bersamaan.
"Ana...!" teriak Aira dan Ana juga langsung menoleh, "terima kasih! " imbuhnya.
Ana hanya menarik kedua ujung bibirnya dengan terpaksa. Dia agak malas sebenarnya untuk berurusan dengan orang asing, tapi dia tetap tersenyum ya meski terpaksa.
Penampilan memang tak menjamin baik juga buruknya seseorang. Ana yang terlihat buruk karena penampilan juga perilakunya yang tak henti-hentinya mengunyah permen karet tapi ternyata dia sangat baik.
Alfian juga Aira masih saja memandangi punggung Ana yang penampilannya sungguh seperti anak jalanan yang tidak jelas.
"Dia baik ya, Kak," tanya Aira, namun sama sekali belum melihat Alfian yang kini sudah beralih menatapnya.
"Iya, dia sangat baik," jawab Alfian matanya tak berkedip memandangi wajah Aira.
"Aira, ada yang mau bertemu dengan mu, apa kamu bisa ikut dengan ku? " tanya Alfian.
Aira menoleh, dia mengangguk entah siapa yang ingin bertemu dengan Aira sekarang.
Mereka melangkah dengan berdampingan menuju salah satu rumah makan. Di sanalah ada orang yang ingin bertemu dengan Aira.
Kedatangan Aira sangat di tunggu oleh kedua orang, yaitu Shelvia juga Iqbal.
"Kak Aira! " pekik Shelvia. Benar-benar mereka semua sudah mengenal siapa yang menjadi gadis incaran Alfian.
___
Bersambung...
______
__ADS_1