
Happy Reading...
______
Perbincangan antara Marco juga Rayyan seketika berhenti saat Aisyah datang dengan digandeng oleh Keisha.
Aisyah terlihat sangat lemas, wajahnya sedikit pucat juga terdapat kantung mata yang terlihat menghitam mengelilingi mata indahnya.
Tasya yang melihat langsung meraih tangan Aisyah dan memintanya duduk di sebelahnya.
"Aisyah, kamu baik-baik saja kan? " Seketika Tasya langsung khawatir melihat cucunya yang terlihat tidak sehat. Tasya terus memandangi Aisyah yang hanya diam dan membalas dengan senyum kecilnya.
"Aisyah tidak apa-apa, Oma. Aisyah hanya sedikit pusing." Jawabnya dengan jujur.
"Jaga kesehatanmu, Nak. Jangan biarkan sakit masuk ke tubuhmu." ucap Tasya menasehati.
"Hem.. " Aisyah tersenyum simpul,
Aisyah tidak akan membiarkan sakit masuk ke dalam tubuhnya namun dia yang tak semangat seperti sekarang dan tak menjaga diri dengan baik bisa saja penyakit akan mudah masuk.
"Aisyah, pergilah dengan Farel. Kalian harus bicara tentang hubungan kalian." Ucapan Rayyan seketika membuat Aisyah terbelalak, jangankan untuk bicara berdua saja sekedar dekat seperti sekarang saja dia sama sekali tak enak.
"Tapi, Pa." Aisyah mencoba untuk negosiasi supaya dia tidak pergi dengan Farel, entah kemana Farel akan membawanya pergi nantinya.
"Jangan membantah, Syah. Pergilah! " Kekeuh Rayyan yang tak bisa di ajak kompromi sama sekali.
"Kalau Aisyah tidak enak badan nggak usah nggak apa-apa, Om. Farel akan menunggu besok." ucap Farel yang tak tega melihat Aisyah yang pucat.
"Tidak bisa, Rel. Kalian harus secepatnya bicara, lebih cepat akan lebih baik." Rayyan tetap tak mau di bantah meskipun oleh Farel sekalipun, dia sudah tak sabar untuk secepatnya mewujudkan semua yang menjadi keinginannya.
Aisyah menoleh ke arah Tasya yang hanya mendapatkan anggukan kecil sebagai tanda setuju, lalu menoleh lagi ke arah Keisha dan yang dia dapatkan pun sama hanya anggukan dan juga senyuman tulus dari seorang ibu.
Hanya pasrah itulah yang bisa Aisyah lakukan sekarang, dia beranjak dengan pelang berjalan keluar dan langsung di ikuti oleh Farel juga di belakangnya.
__ADS_1
"Setelah mereka berdua berbicara aku yakin kita bisa secepatnya menjalankan perjodohan ini." ucap Rayyan setelah keduanya benar-benar sudah hilang dari bangkrut mata mereka semuanya.
"𝘠𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬. 𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘣𝘪..., 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘈𝘣𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘯𝘥𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪." Batin Tasya yang benar-benar tak berdaya.
Tasya hanya terus diam dalam ketidakberdayaan, kini dia berdiri dan bergegas pergi ke kamarnya, berada di tempat itu membuat dirinya sakit karena melihat keegoisan Rayyan yang semakin besar.
"Oma, oma mau ke kamar?" Faisal yang melihat Tasya beranjak dengan sedikit susah membuat dirinya langsung ikut beranjak juga, membantu Tasya berdiri dan hendak mengantarkan Tasya ke kamar. "Biar Faisal antar." Imbuhnya.
"Iya.. " Tasya hanya bisa mengangguk pasrah karena untuk jalan saja memang sudah semakin susah.
________
Farel bersama Aisyah tidak pergi keluar, mereka hanya pergi di taman pesantren. Bangku putih menjadi pilihan mereka berdua, lebih tepatnya pilihan Farel yang menunjukkannya kepada Aisyah.
Aisyah hanya mengangguk nurut dengan Farel, dia sudah tak bisa apa-apa kecuali pasrah dan mungkin menerima apa yang menjadi takdirnya meskipun akan sangat susah untuknya.
"Duduk di sini saja," ujar Farel.
Tanpa menjawab Aisyah hanya menurut dan langsung duduk di salah satu bangku yang berwarna putih. Sementara Farel juga duduk di bangku putih namun di bangku yang berbeda.
Sejenak keduanya diam, mereka masih asyik dengan angan-angan mereka sendiri juga tatapan mereka yang menerawang jauh ke arah yang tak sama.
"A.-Aisyah.." Suara Farel terdengar sangat gugup, mengawali pembicaraan mereka dan memecah keheningan malam yang begitu sunyi.
"Heem.. " jawab Aisyah singkat.
Keraguan di hati Farel harus secepatnya dia hilangkan, dia tak bisa lama-lama selalu dalam kegelisahan seperti sekarang.
"Aisyah.., mungkin di hatimu sudah ada seseorang yang telah mengisinya, dan aku yakin itu bukan aku, kan? Apakah suatu saat kamu bisa menempatkan ku di hatimu meskipun itu hanya di bagian yang terkecil sekaligus? "
"Aku tau itu tidak akan mudah untuk mu, namun bisakah kamu sedikit berusaha untuk itu. Aku tidak masalah kalau kamu belum bisa menerimaku, karena aku akan menunggu sampai kamu bisa menerimaku."
"Aku yakin kita bisa memulainya dari awal dan dengan seiring berjalannya waktu kita juga akan bahagia."
__ADS_1
"Aisyah, aku benar-benar bertanya padamu saat ini, apakah kamu benar-benar ikhlas menerima perjodohan ini? Apakah kamu benar-benar mau merajut tali rumah tangga denganku? " Tanya Farel yang kini terfokus kepada Aisyah.
Air bingung, dia harus jawab apa dengan pertanyaan yang Farel lontarkan jika dia menjawab ya, namun hatinya sangat menolaknya, tapi kalau dia mengatakan tidak, apakah dia bisa menjamin kalau Rico benar-benar akan datang untuknya?.
Bukan hanya Farel yang ragu akan hubungan ini, tapi Aisyah pun juga sama. Keduanya masih butuh sesuatu yang bisa membuat mereka benar-benar bisa menerima perjodohan itu, dan sesuatu itu belum mereka dapatkan.
"Semua akan bisa berjalan dengan mudah jika kamu ikhlas, namun sebaliknya jika kamu tidak bisa ikhlas dan terkesan terpaksa, maka semuanya pasti akan sulit dan bisa jadi akan putus di tengah jalan. Saya tidak mau itu terjadi, Syah. Bagiku, hidup sekali, jatuh cinta sekali, menikah sekali dan mati pun juga sekali."
Ucapan yang sungguh membuat Aisyah terkesima dan penuh haru tapi kenapa rasanya masih saja tetap sama? Hatinya masih belum bisa menerima Farel sama sekali.
"Apakah kak Farel mencintai Aisyah? " tanya Aisyah yang akhirnya mengeluarkan kata-katanya.
"Saya rasa belum, mungkin yang ada sekarang baru sebatas kekaguman. Karena mencintai itu lebih baik tumbuh setelah halal."
Aisyah memejamkan mata, Aisyah tau akan hal itu tapi dia tidak bisa melakukan itu, melakukan hal yang sama seperti Farel mungkin itulah yang membuat masalah ini menjadi sangat rumit.
"Mungkin dengan ikatan suci itulah kita bisa mulai bersama-sama untuk saling menerima dan saling belajar mencintai," jawab Aisyah.
Begitu teguh Farel dengan apa yang menjadi pedomannya, rasa yang ada di dalam hatinya saat ini masih dia bilang sebagai kekaguman, padahal jelas-jelas Farel begitu menginginkan Aisyah menjadi pendamping untuk hidupnya hingga tua nanti.
"Apa jawabanmu? Apakah kamu mau memulainya, berjuang bersama dengan ku untuk bisa merajut kasih,"
"Hem..., bagaimana jika Aisyah sudah berusaha namun tetap tidak bisa? Bagaimana jika sampai suatu saat nanti Aisyah tidak bisa mencintai Kak Farel? " ujar Aisyah tak berani memandangi Farel.
"Aku yakin suatu saat kamu pasti bisa. Tak ada yang tak mungkin jika kita berusaha," jawab Farel.
"Tapi..., Aisyah tidak yakin. " Lirih Aisyah bahkan hampir tak terdengar.
"𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘬 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭? 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘫𝘪𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢. 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘬 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭? 𝘒𝘢𝘬 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢, " Batin Aisyah.
___
Bersambung...
__ADS_1
_________