Izinkan Hati Yang Memilih

Izinkan Hati Yang Memilih
128.Makan Malam Pertama


__ADS_3

Happy Reading


_____


Perjalanan yang tak begitu jauh untuk Rico juga Aisyah, hanya dengan waktu tempuh dua puluh menit mereka sudah sampai di tempat tinggal mereka yang baru.


Mobil yang di setir sendiri oleh Rico itu sudah berhenti di depan rumah mereka, di salah satu rumah di komplek perumahan yang memang cukup banyak juga warganya.


"Alhamdulillah, kita sudah sampai," Rico menoleh ke arah Aisyah tersenyum padanya sembari tangan melepaskan 𝘴𝘪𝘵𝘣𝘦𝘢𝘭𝘴 yang mengikat dirinya dengan kursi mobil, "yuk kita turun! ayah dan bunda pasti sudah menunggu kita, " imbuh Rico.


Bukan hanya Aisyah yang masih mengamati rumah di hadapannya itu, tapi ada Shelvia juga Meyka yang duduk di kursi belakang juga masih terdiam mengamati.


"kalian nggak mau turun? kalian mau di sini saja?" tanya Rico yang akhirnya membuat mereka bertiga tersadar.


Aisyah tersenyum kecil lalu bergegas membuka pintu mobil sendiri, sementara kedua sepupunya itu kini sedang cengengesan karena mendapatkan tatapan dari Rico.


"hehehe..., jangan garang-garang, Kak. Nanti Aisyah kabur loh," ucapan Shelvia berhasil membuat Rico geleng-geleng.


Cepat-cepat Shelvia juga Meyka turun begitu pula dengan Rico yang akhirnya juga turun setelah semuanya turun lebih dahulu.


"Wah, keren ini mah..., kak Rico tidak tanggung-tanggung dalam membeli rumah. Ini sungguh 𝘱𝘦𝘳𝘧𝘦𝘤𝘵. Kau sangat beruntung, Syah. Semoga saja jika ada pria yang mau menyunting ku dia sebaik kak Rico," ucap Shelvia. Shelvia tersenyum dengan mata menatap lurus ke arah rumah namun pikirannya tengah berkhayal memikirkan pria yang dia inginkan yang katanya sama seperti Rico.


"Eh.., ada calon bini juga!" celetuk Iqbal yang tiba-tiba keluar dari rumah. Benar-benar seperti mendapatkan panggilan hati hingga dia tiba-tiba keluar dan langsung menyapa sang pujaan hatinya.


Shelvia mengeluarkan smirk campur aduk, antara kesal juga heran juga tak mengerti. Kenapa Iqbal tiba-tiba nongol begitu saja saat dia berkhayal tentang pria masa depannya.


Rico tersenyum, Meyka, Aisyah juga sama. Mereka sangat kompak bahkan tatapannya juga sama mengarah kepada dirinya. Salah tingkah mulailah terjadi pada Shelvia, kenapa dia menjadi tontonan sekarang, apa yang salah pada dirinya?


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" bingung Shelvia. Bingung meskipun dia tau apa masalah nya.


Dua langkah Meyka maju mendekati Shelvia merangkulnya dan meringis di sebelahnya, "pangeran cinta sudah datang Via. Apa kamu tidak mau menyapanya?" tanya Meyka iseng.


"Pangeran? siapa pangeran! jangan mengada-ada deh, Mey. Aku gibeng baru tau rasa kamu! " jawab Shelvia sengit.


"Astaga, jangan galak-galak gitu dong, Via. Nanti jauh dari jodoh loh kalau galak-galak."


Baru saja Meyka diam Dante juga menyusul keluar, Dante juga sama langsung merangkul Iqbal sama seperti Meyka merangkul Shelvia, "Cie cie cie..., sang pujangga cinta sudah menentukan pelabuhan hatinya nih sepertinya," celetuk Dante.


"jangan resek deh loh, Dan! " seru Iqbal kesal. Dengan cepat Iqbal juga menyingkirkan tangan Dante yang bertengger di pundaknya. Tak mau lah Dante menyentuhnya, "minggir! jangan sentuh-sentuh! aku masih normal! " imbuhnya dan langsung berjalan meninggal Dante untuk menyambut Rico dan Aisyah, eh lebih tepatnya menyambut kedatangan Shelvia.


Sementara Rico menurunkan semua barang-barang yang ada di bagasi dan kini sudah selesai mengeluarkan semuanya. "Dan, bantu bawa dong! " pintanya.

__ADS_1


Dengan senang hati Dante langsung bergegas, mendekati Rico dan membawa sebagian barang-barang yang di bawa. Sementara yang lain ada Iqbal juga yang membantunya.


"Putri-putri, silahkan masuk," pinta Dante dan hendak menggiring ketiga perempuan yang masih diam menunggu mereka bertiga.


Tanpa menjawab mereka berjalan dulu lalu masuk tanpa membawa apapun barang-barang yang Aisyah bawa. Hanya tas yang menggantung di bahu mereka sajalah yang mereka bawa.


"Assalamu'alaikum...!" seru semua bersamaan.


"Wa'alaikumsalam..!" Susan juga Sumarno yang sudah menunggu langsung menghampiri, menyambut kedatangan Aisyah yang resmi menjadi menantunya dari kemarin.


"Selamat datang, Nak," ucap Susan. Susan langsung menghadang Aisyah dan juga seketika mendapat salam takzim darinya. Tersenyum namun juga mengeluarkan air mata bahagia Susan sekarang. Dia tau betapa besar pengorbanan Rico untuk mendapatkan Aisyah dan sekarang semua telah terwujud.


"Selamat datang, Nak," ucapnya mengulang. Tak sanggup mengatakan apapun lagi Susan kini memilih untuk merengkuh tubuh Aisyah, memeluknya dengan hangat.


Dengan senyum kebahagiaan Aisyah pun membalas pelukan itu, dia juga merasa terharu hingga akhirnya dia juga tak bisa menahan air matanya.


"Sudah sudah, sekarang jangan menangis lagi. Ini adalah hari bahagia tidak cocok jika menangis," Susan melepaskan pelukannya, menghapus air mata Aisyah selayaknya seorang ibu yang tak mau melihat anaknya menangis.


Aisyah tersenyum namun masih sesenggukan, tangannya juga ikut menghapus air matanya sendiri lalu beralih mengusap milik Susan, "Bun-Bunda juga tidak boleh menangis," ucapnya.


"Tidak, Bunda tidak akan menangis," jawab Susan dengan cepat, dan tersenyum semakin lebar.


____


Di mulai dari Susan yang mengambilkan untuk Sumarno, lalu Aisyah untuk Rico dan setelah itu malah terjadi perdebatan antara Shelvia juga Iqbal. Iqbal meminta Shelvia yang mengambilkan namun Shelvia tidak bersedia.


"Ayolah, Via. Ambilkan untuk ku, ya ya ya!! " ucap Iqbal dengan sangat memohon.


"Tidak kak Iqbal, Shelvia bukan siapa-siapa kakak jadi tidak patut jika melayani kakak," jawab Shelvia.


"Jangan gitu lah, cepat atau lambat aku akan jadi siapa-siapa. Karena apa? karena secepatnya aku akan melamar kamu dan akan aku boyong kamu sebagai nyonya Iqbal Ardiansyah! " seru Iqbal yang begitu percaya diri.


"Yakin di terima, Bal? kok aku nggak yakin ya," celetuk Dante menyela perdebatan merupakan berdua.


"Seratus persen, di terima." jawab Iqbal.


Shelvia mulai jengah dengan Iqbal dan semua kepedean nya. Karena tak mau ada perdebatan lagi akhirnya Shelvia menyerah dan mengambil begitu banyak untuk Iqbal, bahkan piringnya penuh dengan nasi juga lauk pauknya.


"Harus di habisin," ucap Shelvia dengan ketus.


Iqbal hanya bisa menganga lalu menelan ludahnya sendiri, bagaimana mungkin dia akan menghabiskan makanan yang begitu banyak? yang jelas perutnya tak akan muat. Belum apa-apa Iqbal sudah mengelus perutnya sendiri, rasanya sudah langsung kenyang gitu saja.

__ADS_1


"Kita mau makan satu piring berdua, Via? oke deh kalau begitu," ucapnya.


"ogah! " jawab Shelvia.


"hahaha..., terima saja rizki yang melimpah itu, Bal. Harus habis kalau tidak nanti mubazir. Mubazir itu temannya set*an," senang dan puas Dante menertawakan Iqbal. Kepedean nya akhirnya menjerumuskan dirinya sendiri.


Dante kembali terdiam, memandangi piringnya yang ada di hadapannya masih kosong. Emang nasib jomblo yang lain makan di ambilin dia? siapa yang mau berbaik hati sekarang.


"Sini biar sekalian Meyka ambilin," tangan Meyka langsung meraih piring yang ada di hadapan Dante membuat sang pemilik piring itu terdiam dan hanya mengamati setiap pergerakan Meyka.


"Awas, copot tuh mata! " sinis Iqbal, sepertinya dia mulai membalas Dante yang tadi resek padanya.


"Kalau copot tinggal ganti saja dengan punyamu, gitu saja kok rempong,"


"Repot! "


"Aku maunya rempong," nyinyir Dante.


"Kalau bertengkar terus gitu kapan makannya? sana kalian berdua pulang saja daripada merusak suasana! " hardik Rico dongkol.


"Maaf, ngga akan ulangi lagi," ucap keduanya kompak. Sudah sama persis seperti anak yang di bentak ibunya langsung diem gitu saja.


"Sudah lah, Bang. Jangan galak-galak, mereka masih anak-anak. Kasian, nanti mentalnya rusak, hehehe..., " ucap Aisyah di sambung dengan kekehan khasnya.


"Astaga, Syah. Kamu kalau ngomong..... suka bener," jawab Dante.


"Hahaha...," tawa mereka semua kompak.


"Ini kak," ucap Meyka sembari menyodorkan piring pada Dante.


"Uhuk..., uhuk... uhuk..."


"Kenapa, Bos?" tanya Dante.


"Aku tunggu traktirannya, Dan."


"Maksudnya? "


"Sudah lah, makan dulu nanti sambung lagi." jawab Rico.


____

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2